Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Rambu-rambu Cinta


__ADS_3

Saat ini Mita tengah berada di dalam mobil bersama dokter Ariel, semenjak tadi Mita hanya diam saja tidak seperti biasanya yang selalu banyak pertanyaan yang muncul kerap kali bersama dengan dokter Ariel.


Melihat ada perubahan akhir-akhir ini terhadap sikap Mita membuat dokter Ariel merasa sedikit aneh dan penasaran. Dokter Ariel lalu mengajak Mita kesebuah taman tempat dulu mereka sering bertemu.


Mita merasa terkejut karena tiba-tiba dokter Ariel membawanya ke taman bukannya pulang ke rumah.


" Ayok turun!" ajak dokter Ariel kepada Mita yang nampak sedikit bingung


" Kenapa kita kesini mas?" tanya Mita menatap kesekeliling


" Ikut saja, ada yang mas ingin mas bicarakan sama kamu" sahut dokter Ariel


Tanpa berlama-lama dokter Ariel mengajak Mita duduk di bawah pohon tempat dulu mereka bertemu.


" Duduklah!" ucap dokter Ariel kepada Mita dan Mita mau tidak mau akhirnya duduk juga.


" Ada apa mas?" tanya Mita yang merasa enggan berbasa-basi


" Mas justru yang seharusnya bertanya, kamu kenapa?" ucap dokter Ariel yang balik bertanya.


" Aku, kenapa? aku gak Kenapa-napa kok mas" sahut Mita berusaha untuk bersikap tenang walaupun sebenarnya hatinya merasa sangat bergemuruh.


" Beberapa hari ini mas perhatikan sikap kamu sedikit berubah, sebenarnya ada apa ?" tanya dokter Ariel


" Berubah bagaimana mas, biasanya juga memang aku seperti ini kan" sahut Mita


" Tidak, biasanya kamu banyak bicara dan ada aja yang bisa kamu jadikan bahan pertanyaan setiap kali mas jemput kamu kesekolah tapi akhir-akhir ini kamu lebih sering banyak diamnya."


" Itu perasaan mas saja, aku hanya sedikit merasa capek mas"


" Capek kenapa?"


" Capek belajar dan mempersiapkan diri untuk ulangan"


" Tidak, mas yakin ada hal yang kamu sembunyikan dari mas iyakan?"


" Tidak ada mas, aku hanya kecapean aja kok mas."


" Ya sudah kalau kamu memang belum bisa berkata jujur sama mas, tapi yang jelas apapun yang kamu pikirkan sekarang ataupun apapun masalah yang tengah hadapi saat ini mas mau kamu berkata jujur sama mas, kita ini akan menikah jadi kejujuran dan rasa percaya satu sama lain sangatlah dibutuhkan sayang" ucap dokter Ariel membuat Mita tersenyum kecut.


" Andai kau yang jujur dari awal mas, mungkin aku tidak akan merasa ragu" batin Mita.


" Apa aku boleh tahu bagaimana kehidupan mas sebelum kita bertemu?" ucap Mita yang tiba-tiba bertanya tentang masa lalu dokter Ariel membuat dokter Ariel menatap Mita lekat seakan ingin mengatakan sesuatu namun tercekat.


" Bukankah kamu sudah tahu sayang jika aku ini adalah kakak angkatnya Zaira dan kami dibesarkan bersama" jawab dokter Ariel dengan santai.


" Hanya itu?" tanya Mita berharap dokter Ariel berkata jujur apa adanya.


" Iya, hanya itu, aku pergi dari keluarga Zaira lalu melanjutkan kuliah dari hasil bekerja keras sampai akhirnya sekarang bergelar dokter" tutur dokter Ariel


" Tidak ada yang lain?" tanya Mita terus menyelidik.


" Tentu saja tidak ada" ucap dokter Ariel lagi


" Baguslah,Aku harap kita memang harus belajar untuk saling memahami dan bersikap jujur satu sama lain dengan begitu hubungan yang akan kita jalani akan berjalan dengan baik, bukan begitu mas?" tanya Mita memastikan.


" Iya kau benar"


" Mas, aku berharap kita memang saling jujur satu sama lain, tidak ada kebohongan atau apapun yang ditutup-tutupi" ujar Mita


" Iya sayang" sahut dokter Ariel.


" Terima kasih atas kejujuran mas!" ucap Mita yang sebenarnya didalam hatinya menahan rasa sesak di dadanya karena dokter Ariel belum juga mau berkata jujur.


" Iya, Mas juga berharap kita sama-sama saling jujur satu sama lain"


" Iya mas" sahut Mita walaupun sebenarnya hatinya ingin sekali berteriak sekeras mungkin.


...☄️☄️☄️☄️☄️...


Sementara di tempat lain sepasang suami istri baru itu tengah duduk di sebuah restoran menunggu kedatangan rekan bisnis yang tidak lain adalah kakaknya sendiri.


Beberapa menit menunggu akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang.


Mario yang ditemani sang isteri dan juga kakak sepupu yang merangkap asisten pribadinya langsung menyambut kedatangan Azka yang datang bersama Sendy.


" Ya ampun Mel sampai segitunya kamu, suami kerja pakai acara ikut menempelinya terus" ledek Azka yang melihat Lia ada di restoran tersebut.


" Apa sih kak, memang kenapa kalau aku ikut suamiku kerja gak masalah kan ya siapa tahu dengan begini aku tuh bisa belajar dari suamiku tentang bisnis jadi suatu hari nanti aku bisa menggantikan kakak bekerja di perusahaan papa." sahut Lia dengan percaya dirinya.

__ADS_1


" Bagus kalau begitu" ucap Azka menimpali


" Oiya, bagaimana semuanya sudah beres?" tanya Azka langsung pada topik pembicaraan


" Oh iya tuan Azka sudah, ini!" sahut Arta lalu memberikan laporan kerja sama tersebut.


Azka memeriksa dengan teliti dan hasilnya ternyata cukup memuaskan. " Mario kau bisa menjelaskannya?" tanya Azka


" Iya pak" ucap Mario yang langsung menjelaskan isi dari laporan tersebut secara detail, lugas dan mudah untuk dipahami. Azka pun salut dengan kemampuan Mario di usianya yang terbilang masih sangat muda tapi begitu mudahnya dia belajar tentang dunia bisnis.


Arta tersenyum bangga dengan Mario yang dengan cepat bisa menguasai materi dalam laporan tersebut walaupun terbilang dalam waktu yang cukup singkat.


Setelah selesai dengan semua penuturannya Arta menepuk bahu Mario lalu tersenyum bangga begitu juga dengan Azka.


" Aku bangga punya adik ipar seperti mu Mario, meskipun masih seorang pelajar tapi kemampuan kamu dalam berbisnis bisa diacungkan jempol dan untuk menghadapi Mr. Albert Minggu depan aku rasa Mario adalah orang yang sangat cocok" ucap Azka membuat Mario begitu terkejut.


" Maaf pak saya rasa itu terlalu beresiko untuk kerja sama kita dengan Mr Albert. beliau itu orang yang termasuk disegani dan saya hanyalah baru pemula di bidang ini, resikonya terlalu besar pak saya takut hasilnya tidak memuaskan" ucap Mario menolak secara halus karena dia sadar posisinya yang baru belajar di dunia bisnis. dan bagaimana bisa Azka mempercayai begitu saja proyek yang terbilang besar ini kepada dirinya.


" Mario, papa tadi yang berpesan kepadaku jika persentasi mu kali ini hasilnya bagus maka papa ingin kau yang mewakili DINATA grup dan Alexander Grup dalam menjamu kedatangan Mr Albert serta meyakinkannya kalau dua perusahaan ini layak bekerja sama dengan perusahaannya!" tutur Azka.


" Tapi pak saya_" ucap Mario terpotong.


" Kau pasti bisa Mario, papa yakin dengan kemampuan kamu. meskipun kamu masih terbilang masih remaja tapi cara berpikir kamu yang cepat, insting yang kuat papa yakin kamu pasti bisa meyakinkan Mr Albert" ucap papa Sam yang tiba-tiba muncul di restoran tersebut.


" Papa!" pekik Mario terkejut dengan kedatangan sang mertua


" Iya Io aku yakin kamu bisa" ucap Lia memberi semangat


" Tapi pa aku_"


" Yakinkanlah diri kamu sendiri Rio, kalau kamu pasti bisa. sejauh ini yang papa lihat hasil kerjamu tidak ada yang mengecewakan semuanya sungguh memuaskan" ucap papa Sam dengan bangga.


" Kamu tenang saja Rio, aku akan membantumu dan aku rasa tuan Azka juga pasti akan membantumu" ucap Arta.


" Baiklah aku akan berusaha semampuku pa" ucap Mario


" Tenang saja, apapun hasilnya papa tidak akan mempermasalahkannya yang terpenting kau sudah berusaha semampu yang kau bisa" ucap papa Sam


Pertemuan mereka yang awalnya membicarakan hal yang serius kini berujung dengan obrolan hangat yang menggelitik.


Azka tidak henti-hentinya menggoda adik dan adik iparnya membuat Arta pun tidak mau kalah untuk menggoda keduanya.


Azka yang tengah asik dengan segala kejahilannya terhadap adik kesayangannya itu harus terhenti karena mendapat panggilan dari sang isteri tercinta dan memenuhi keinginannya yang meminta Azka untuk segera pulang.


Arta dan Sendy pun memutuskan untuk pergi karena merasa jengah dengan sikap pasangan suami istri yang masih berstatus pelajar itu.


Setelah semuanya sudah pergi kini hanya tinggal Mario dan Lia.


" Yang pulang aja yuk aku capek banget hari ini" ajak Mario


" Yaudah ayok" Lia pun langsung beranjak dari duduknya.


Baru beberapa langkah Lia berjalan sepertinya dia melihat sosok pria yang menurutnya tidak asing dimatanya.


Mario yang melihat wajah Lia yang nampak sedikit menegang langsung mengikuti arah pandangan mata Lia yang mengarah pada sosok pria yang duduk tidak jauh dari tempat mereka hanya terhalang satu pilar.


" Sayang!" panggil Mario kepada Lia yang begitu fokus dengan apa yang dilihatnya.


" Ah iya kenapa?" tanya Lia yang terkesiap


" Kamu kenapa?" tanya Mario seolah tidak tahu


" Io itu!" tunjuk Lia dengan ekor matanya dan Mario pun mengikuti arah pandangan Lia walaupun sebenarnya dia sudah mengetahuinya.


" Itukan_?" ucap Mario yang diangguki oleh Lia paham dengan apa yang akan dikatakan Mario.


" Io, bolehkan kita disini sebentar lagi?" tanya Lia yang jiwa kekepoannya muncul.


" Iya!" ucap Mario yang kembali duduk di tempatnya semula.


" Apa kau tahu, Mita belakangan ini sikapnya berubah? Mita lebih banyak diam dan menyendiri, inilah penyebab atas perubahan yang Mita alami.


" Jangan mengambil kesimpulan tentang apa yang kamu lihat sebelum kamu tahu hal yang sebenarnya karena itu bisa menjadi fitnah. sebelum mengambil kesimpulan dan keputusan alangkah baiknya cari tahu terlebih dahulu fakta yang sebenarnya" ucap Mario yang mengingatkan sang isteri.


" Iya maaf, aku hanya tidak tega saja dengan Mita" ucap Lia.


" Iya aku paham soal itu, tenang saja nanti akan aku minta kak Arta untuk mencari tahu soal ini" ucap Mario.


" Kak Arta?" Lia mengerutkan keningnya

__ADS_1


" Iya, kak Arta itu untuk mencari informasi tentang seseorang itu bisa dibilang juaranya deh. makanya kamu tidak usah khawatir aku yakin kak Arta pasti mau membantu kok" ucap Mario.


Lia tersenyum bangga kepada Mario yang selalu tahu apa yang tengah ia pikirkan.


" Terima kasih ya sayang!" ucap Lia dengan senyum manisnya


" Sama-sama sayang" Mario langsung mengajak Lia untuk pulang karena hari ini Mario merasa sangat lelah.


Setelah keluar dari restoran tersebut Mario dan Lia kini tengah berada di tengah jalan ibu kota yang masih setia dengan kemacetannya.


Mario nampak meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dengan menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri ditengah kemacetan.


Lia nampak tak tega melihat Mario yang sepertinya terlihat sangat kelelahan.


" io kamu gak apa-apa?" tanya Lia dari balik punggung Mario.


" Gak apa-apa, cuma rada pegal saja sedikit tapi udah gak apa-apa kok" sahut Mario yang sudah kembali mengendarai motor kesayangannya itu.


Akhirnya rasa lelahnya terobati ketika mereka sudah sampai di kediaman Dinata. Mario langsung masuk ke dalam kamarnya setelah menyalami punggung tangan kedua mertuanya.


Lia masuk ke dalam kamar namun tidak melihat sosok yang di cari, Lia duduk di tepi tempat tidur dan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi itu menandakan Mario tengah mandi.


Lia menyiapkan baju ganti untuk Mario setelah itu dia turun kebawah mencari bi Sum.


" Bi!" panggil Lia kepada bi Sum yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.


" Iya non" sahut bi Sum menoleh ke arah Lia


" Bi, bibi bisa membuatkan minuman untuk penghilang badan pegal-pegal gak bi?" tanya Lia kepada bi Sum.


" Wihhhh hebat, main berapa episode Li sampai pegal-pegal gitu?" goda Zaira yang tiba-tiba muncul di belakang, membuat Lia tersentak kaget.


" Dasar ya ini bumil kurang cuka, selalu aja bikin kaget orang" ucap Lia mendengus kesal


" Cihh, segitu aja marah. ngatain orang kurang cuka lagi emangnya gue kuah asinan pakai cuka?"


" Iya tuh tahu, loe itu sama kayak kuah asinan sama-sama kurang asem"


" Si*l*n loe!" Zaira menepuk bahu Lia membuat Lia terkekeh.


" Lagian sih loe punya pikiran otaknya kesitu mulu "


" Ya kebanyakan pengantin baru itu biasanya selalu berbau hal begituan kan?" ucap Zaira


" Ya gak juga, buktinya sampai sekarang gue ini masih resmi di segel" ucap Lia santai namun membuat Zaira melotot seketika.


Ya walaupun pada awal pernikahan Zaira dan Azka pun sama tidak langsung tancap gas tapi itukan kondisinya berbeda, Zaira dan Azka menikah karena dipaksa oleh keadaan jadi butuh waktu untuk mengarah ke arah sana sedangkan Lia dan Mario mereka menikah atas dasar suka sama suka, bagaimana bisa Mario menahan dirinya.


"Loe serius?" tanya Zaira yang muncul jiwa keponya


" Seriuslah" jawab Lia santai


" Kok bisa?" tanya Zaira yang penasaran


" Ya bisalah, Mario itu laki-laki super keren ya. dia itu gak seperti kak Azka yang Omes" cibir Lia


" Ya gak apa-apa Omes sama isteri sendiri ini" jawab Zaira. " Justru Mario tuh yang aneh masa bisa-bisanya gitu dia gak beraksi" ucap Zaira yang balas mencibir


" Ya bisalah, orang gue lagi lampu merah masa dia main terobos aja, ya gak mungkinlah, dia juga tahu dengan baik dan benar tentang rambu-rambu dalam percintaan" ucap Lia membuat Zaira mendengus, bilang dari awal kalau sedang datang bulan sudah bicara panjang lebar tau-taunya gangguan alam batin Zaira menggerutu.


" Jangan menggerutu nanti anak loe mirip gue aja loh" ucap Lia


" Dih, bisa begitu siapa yang hamil miripnya kesiapa" ucap Zaira


" Bisa nanti anak loe ya"


" Gak mau ya"


" Non ini obat pegal-pegalnya" ucap bi Sum setelah membuat ramuan herbal yang Lia pinta.


" Oke bi, terima kasih banyak ya bi." ucap Lia dengan sumringah.


" Sama-sama non" ucap bi Sum lalu kembali fokus dengan masakannya.


Lia kembali ke kamarnya membawa segelas jamu racikan bi Sum.


Ceklekk


Lia membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan pada saat yang bersamaan Lia membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya Lia terperanjat keget dengan apa yang dilihatnya. Lia berdiri mematung begitu juga dengan Mario yang nampak melotot ke arah pintu.

__ADS_1


" Oh My god" batin Lia


__ADS_2