
" Mas pulang ke rumah ibu ya, aku kangen rumah!" rengek Khanza saat mereka sedang berada di mobil selepas pulang sekolah.
" Apa tidak sebaiknya lusa saja saat hari libur?" tanya Aldy seraya menoleh sekilas
" Tapi aku pinginnya sekarang mas" Khanza mengerucutkan bibirnya
" Emmmm... iya deh iya, jangan cemberut gitu dong nanti mas khilaf bagaimana?" Aldy akhirnya memilih mengalah dari pada melihat isterinya merajuk dan ujung-ujungnya mendiamkannya.
" Benar mas? terima kasih ya mas" Khanza begitu senang saking senangnya membuat Aldy terkejut dengan tingkahnya
Cup
Khanza mendaratkan satu kecupan di pipi Aldy sampai membuat Aldy membeku di tempat dan menginjak rem dadakan.
Citttttt
" Astaghfirullah mas!" Khanza memegang dadanya saking terkejutnya
" Ada apaan sih kok pakai ngerem dadakan gitu?" kesal Khanza
Aldy menoleh ke Khanza dengan geleng-geleng kepala " Ini tuh karena kamu sayang, jadi isteri usil banget sih!" keluhnya
" Loh kok aku yang disalahin, emangnya aku kenapa?" tanya Khanza dengan polosnya
" Kamu tiba-tiba nyerang aku begitu, jantung aku hampir aja loncat!" Aldy kembali melajukan mobilnya
" Nyerang?" beo Khanza
" Ngecup aku yang... ngacup!"
" Oh itu... emmmm, maaf refleks aja tadi!" Khanza menundukkan wajahnya merasa malu atas tindakannya tadi.
" Tidak perlu minta maaf sayang, aku justru suka. hanya saja tempatnya kurang pas!" Aldy menaik turunkan alisnya
" Ih apaan sih" Khanza yang tersipu malu membuang pandangannya ke sembarang arah
" Yang, kamu kalau lagi kayak gitu bikin gemes tahu, mau dong yang kayak tadi" goda Aldy seraya meraih tangan Khanza lalu di kecupnya.
" Gak mau, gak ada siaran ulang" Khanza menarik tangannya yang digenggam Aldy namun semakin ditarik Aldy semakin kuat menggenggamnya.
" Mas lepas ih lagi nyetir juga!" protes Khanza
" Biarkan seperti ini, aku akan lepas jika kamu mau memberikan yang tadi" Aldy tersenyum tipis
" Ih ngeselin banget sih" Khanza cemberut
" Yaudah kalau enggak mau, kita pulang ke apartemen aja, gak jadi ke rumah ibunya"
Khanza menoleh dengan wajah memberengut
" Ihh kok gitu sih, mas ngeselin!"
" Makanya cepat dong kasih mood booster!" Aldy menepuk-nepuk pipinya sendiri
" Ish, nyebelin!" Walau pasang wajah cemberut Khanza perlahan mendekatkan wajahnya dan..
Cup
Khanza membulatkan matanya saat yang di kecupnya bukan pipi melainkan bibir Aldy yang sengaja menoleh.
Khanza yang tersadar langsung menjaga jarak, jangan di tanya lagi jantung nya kini berdegup sangat kencang.
Aldy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat Khanza yang diam saja dan membuang pandangannya ke samping.
" Sayang, maaf!" ucap Aldy yang merasa bersalah
" Hemm!" jawab Khanza tanpa menoleh
" Kamu marah?" tanya Aldy
" Tidak!" jawab Khanza datar
" Tapi-" Aldy tidak lagi melanjutkan kata-katanya karena melihat Khanza yang tengah memejamkan matanya bersandar di jok mobil.
__ADS_1
Aldy menghela napasnya berat dan kembali fokus menyetir.
Setelah 20 Menit perjalanan mereka akhirnya sampai di rumah bu Khodijah.
" Sayang, bangun. kita sudah sampai!" Aldy mengguncang bahu Khanza pelan
Khanza yang tadinya hanya memejamkan mata menghindari Aldy malah terlelap sungguhan.
" Hem..." Khanza mengerjapkan matanya lalu menggerakkan badannya melonggarkan otot-ototnya.
" Ayok turun!" ajak Aldy
Khanza masih pasang wajah datar lalu ikut turun.
" Sayang, kamu masih marah?" tanya Aldy saat keduanya berjalan menuju rumah Bu Khodijah
" Tidak"
" Tapi kenapa masih cemberut?" tanya Aldy
" Gak kenapa-napa!" jawab Khanza datar
" Ya ampun sayang, kalau kamu masih pasang wajah memberengut seperti itu yaudah kita pulang sajalah!" kesal Aldy
" Terserah, mas kalau mau pulang ya pulang aja aku mau di rumah ibu!' Khanza langsung pergi begitu saja masuk ke dalam rumah ibunya.
Aldy mengusap wajahnya kasar harus ekstra sabar menghadapi isteri kecilnya itu.
" Assalamu'alaikum!" ucap Khanza saat memasuki rumah ibunya
" Wa'alaikum salam, kamu sendiri?" tanya Bu Khodijah saat melihat Khanza hanya datang seorang diri
" Tadi diantar mas Aldy Bu" jawab Khanza
" Sekarang orangnya mana?" tanya Bu Khodijah
" Emmmm..." Khanza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Bagaimana kabar kalian?" tanya Bu Khodijah
" Alhamdulillah baik bu" jawab Aldy seraya tersenyum
" Syukurlah kalau begitu, apa kalian akan menginap?" tanya Bu Khodijah
" Iya bu, Khanza kangen sama ibu. bolehkah Bu Khanza menginap di sini?" tanya Khanza
" Tentu saja boleh dong sayang, yaudah sebaiknya ajak suami kamu untuk beristirahat!' titah bu Khodijah
" Iya Bu!"
" Ayok mas!" Khanza berjalan lebih dulu
" Saya pamit dulu bu" ucap Aldy sopan pada mertuanya.
Ceklekk
Khanza masuk ke dalam kamarnya dan Aldy mengekor di belakang.
" Sayang!" Aldy tidak mau berlama-lama dalam keadaan saling diam dengan gerakan cepat ia langsung menarik Khanza kedalam pelukannya
" Sudah dong sayang marahnya" ucap Aldy seraya memeluk Khanza erat
" Lepas mas aku gerah mau mandi" Khanza berusaha memberontak tapi Aldy tidak mau melepaskannya dan semakin erat memeluknya
" Kenapa kamu semarah itu hem? aku ini suami kamu jika aku meminta lebih dari itupun kamu seharusnya tidak boleh menolak karena itu merupakan ibadah untuk mu dan juga ladang ibadah"
Jlepp
Hati Khanza tersentil saat mendengar penuturan suaminya itu, benar yang dikatakan suaminya namun untuk hal itu tentu dia belum siap.
Khanza diam saja tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak lagi memberontak dan pasrah.
Aldy mengurai pelukannya dan menatap Khanza lekat.
__ADS_1
" Kamu harus terbiasa dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu biar proses menuju ke yang lebih besar tidak terlalu kaget lagi nantinya" ucap Aldy dengan tangannya yang mengusap lembut pipi Khanza yang sudah semerah kepiting rebus.
" Walau bagaimanapun aku ini laki-laki normal sayang, meskipun kamu belum siap tapi setidaknya belajarlah perlahan demi perlahan untuk mempersiapkan diri jika aku menginginkan hak ku"
Deg
Jantung Khanza berpacu sangat kencang, sungguh dia belum siap jika Aldy benar-benar meminta haknya.
" A..aku..!" Khanza terasa gugup dan salah tingkah karena Aldy terus menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
" Aku tahu kamu belum siap, aku tidak akan memaksamu tapi untuk hal sekedar cium dan peluk setidaknya kamu tidak lagi merasa terkejut dan marah. Karena aku ini suami mu sah dimata hukum dan agama. jadi apa yang ada pada diri mu itu adalah halal bagiku untuk menyentuhnya"
" Maaf!" ucap Khanza lirih
" Tidak apa-apa, tidak usah pikirkan itu!" Aldy melepaskan pelukannya dan pergi begitu saja
" Mas!" langkah Aldy terhenti saat suara lembut itu memanggilnya
Aldy tidak menoleh diam mematung seraya memegang hendle pintu menunggu kata yang keluar dari isterinya namun sedetik kemudian ia dikejutkan dengan tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya.
" Maafkan aku mas, tidak seharusnya aku menolak permintaan mu" ucap Khanza
" Kamu berhak atas diriku mas, sudah seharusnya aku menjalankan kewajiban ku dan memberikan mu atas hak mu terhadap ku mas"
Aldy memutar badannya dan keduanya saling menatap lekat, pandangan mereka bertemu saling bersirobok.
Deg
Deg
Deg
Detak jantung keduanya saling berdegup kencang mungkin jika terdengar seperti saling bersahutan.
Aldy begitu terkejut dengan ucapan Khanza rasanya sungguh angin segar untuk dirinya jika Khanza benar-benar sudah ikhlas dan bersedia untuk menunaikan kewajibannya.
" Apa boleh aku memintanya sekarang?" Aldy menatap lekat mata Khanza
Deg
Khanza deg-degan ingin rasanya menghindar tapi mengingat kata-kata Miska yang mengatakan suaminya ini cukup kuat juga membuat Khanza pun berpikir kembali.
Suaminya adalah pria normal yang pasti membutuhkan kebutuhan biologis dan itu sudah menjadi kewajibannya sebagai isteri untuk memenuhi kebutuhannya yang satu itu.
Khanza menatap lekat wajah suaminya yang terlihat tidak seperti biasanya akhirnya dengan gugup Khanza mengangguk pelan.
Tentu saja Aldy tidak mau membuang kesempatan yang ada, tanpa banyak kata Aldy langsung melingkarkan tangannya di kaki Khanza dan menggendongnya ala bridal style.
". Aaaaaaaaa...!" pekik Khanza terkejut
" Jangan berisik sayang, nanti ibu dengar!" Khanza spontan menutup mulutnya dan hal itu membuat Aldy tersenyum simpul melihat isterinya yang sungguh menggemaskan.
Aldy dengan hati-hati menurunkan Khanza diatas tempat tidur yang ukurannya lebih kecil dari ukuran kasur mereka.
" Mas..!'' Khanza gugup dan juga ada rasa takut yang menghantui pikirannya.
" Tenang sayang, aku akan melakukannya dengan lembut!" Aldy mengecup kening Khanza
" Boleh?" tanya Aldy sekali lagi dan Khanza pun mengangguk pasrah
Aldy mulai mendekat dan memulai aksinya namun tiba-tiba
Tok
Tok
Tok
" Kak.... kak Khanza!" teriak Izan dari luar
" Mas!" Khanza dan Aldy terkejut bukan main.
" Ish... merusak kesenangan saja!" kesal Aldy yang langsung beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1