
Dengan langkah cepat Azka berlari melewati koridor sekolah, Mia dan Indah yang saat itu berpapasan dengannya pun dibuat tercengang karena sapaannya tidak digubris.
" Pak Bagaz kenapa sih Ndah kayaknya panik gitu?" tanya Mia kepada Indah dan yang ditanya malah gak nyadar karena sedang asik berbalas pesan dengan pacarnya Dion.
" Indah!" panggil Mia setengah berteriak
" Apa sih loe Mia pake teriak-teriak segala, budek nih kuping gue!" gerutu indah seraya mengusap-usap kupingnya.
" Loe nya aja yang dari tadi diajak ngomong malah asik sendiri" kesal Mia yang langsung melanjutkan langkahnya meninggalkan Indah begitu saja.
" Deh ini anak malah ninggalin lagi, woy Mia tungguin gue!" indah setengah berlari mengejar Mia
" Loe kenapa sih Mi pagi-pagi udah sewot gitu?" tanya indah yang sudah berhasil mengejar Mia
" Gimana gue gak kesel loe gue tanya malah diam aja, malah cengar-cengir sendiri" sargah Mia meluapkan emosi
" Ya maaf, emang loe nanya apa sih Mi? tanya indah merangkul bahu Mia
" Loe gak liat tadi pak Bagaz kelihatan panik gitu, gue sapa juga gak ngejawab malah lari ke arah parkiran kayaknya sih?" ujar Mia memberitahu
" Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pak Bagaz sama Za?" tanya Indah menerka.
" Jangan ngomong gitu dong Ndah, ah loe bikin gue cemas aja" gumam Mia
" Yaudah yuk cepetan kita ke kelas, siapa tahu Za dan Lia udah datang" ajak Indah seraya menarik tangan Mia.
*
*
Di parkiran sekolah Azka langsung menghampiri mobil Lia adiknya yang terparkir tidak jauh dari pintu gerbang.
Mata Azka membola saat melihat wajah Zaira yang pucat dalam keadaan tidak sadarkan diri
" Za, sayang bangun dong sayang!" panggil Azka merengkuh tubuh Zaira yang terkulai lemas di jok mobil Lia.
" Ini sebenarnya ada apa Mel, kenapa Za bisa seperti ini, bukankah tadi dia baik-baik aja?" Azka mencecar Lia dengan pertanyaan-pertanyaannya.
" Aku Juga gak tau kak, tapi yang terpenting sekarang kita bawa Za ke rumah sakit dulu kak, karena tadi sebelum pingsan Za sempat bilang perutnya seperti kram" tutur Lia menjelaskan.
Azka dengan segera masuk ke dalam mobil Lia dan duduk dibelakang kemudi sementara Lia masuk dan duduk di bangku belakang.
" Za sadar dong Za!" Lia mengelus bahu Zaira dari belakang.
Azka sesekali menoleh ke arah Zaira, walaupun ia dalam keadaan panik, Azka berusaha untuk mengontrol dirinya agar lebih tenang dan bisa mengemudi dengan baik.
Setelah 25 Menit membelah jalan ibu kota yang cukup padat merayap akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit terdekat yang tidak begitu jauh dari sekolah.
Azka langsung turun dari mobil dan dengan cepat langsung menggendong Zaira masuk ke dalam rumah sakit bersama Lia yang mengekor dari belakang.
Seorang suster yang melihat Azka dengan langkah jenjangnya masuk kedalam rumah sakit dengan sigap langsung menghampiri Azka yang tengah menggendong Zaira.
" Maaf pak mari ikut saya!" ucap seorang suster yang menghampiri Azka dan dengan sopan menunjukkan arah kemana Azka harus membawa Zaira untuk segera ditangani.
" Silahkan pak!" suster tersebut mempersilahkan Azka masuk ke dalam ruangan yang di pintunya bertuliskan nama dokter Dinda.
Azka membaringkan tubuh Zaira dengan sangat hati-hati, dokter Dinda tersenyum ramah kepada Azka. " Gadis ini kenapa?" tanya dokter Dinda seraya mendekati Zaira
" Dia pingsan dokter dan sebelum pingsan dia bilang perutnya kram" Lia yang menjawab pertanyaan Dokter Dinda karena Azka tengah memandang sendu wajah pucat sang isteri tercinta.
" Cepat dokter periksa dia!" tegas Azka sampai membuat dokter Dinda terkejut.
Dengan teliti dokter Dinda memeriksa kondisi Zaira. " Anda siapanya pasien, apa anda gurunya atau wali kelas Pasien?" tanya dokter Dinda menebak karena melihat seragam yang Zaira dan Lia gunakan.
" Jika Anda gurunya tolong pinta orang tua pasien untuk datang karena ada hal yang harus saya sampaikan ke mereka" ucap dokter Dinda yang merasa ada yang aneh dengan gadis yang kini tengah berbaring lemas.
" Katakan saja pada saya dokter, dia kenapa?" cecar Azka
" Tidak bisa pak, gadis ini masih sekolah dan mungkin jika saya mengatakannya langsung kepada bapak tanpa ada persetujuan dari orangtuanya nanti kami dari pihak rumah sakit yang akan dipersalahkan pak!" sahut dokter Dinda yang sebenarnya sudah merasa sangat tegang berhadapan dengan Azka yang saat ini terlihat sangat dingin.
" Cepat dokter katakan saja, kenapa dia juga belum sadar hah!"
Brakkk
Azka menggebrak meja dokter Dinda yang tidak bisa lagi menahan emosinya karena menurutnya dokter yang ada di hadapannya saat ini sangat berbelit-belit dan juga lamban.
" Pasien tidak apa-apa pak, dia hanya butuh banyak istirahat dan tidak boleh kecapean. dan mengenai kram perutnya itu terjadi karena pasien terlalu tegang dan juga kelelahan." tutur dokter Dinda menerangkan kondisi Zaira dengan sedikit gemetar.
__ADS_1
" Lalu kenapa dokter menyuruh orang tuanya untuk datang menemui anda, memangnya pasien kenapa. cepat jelaskan jangan berbelit-belit jika tidak saya bisa menyuruh kepala rumah sakit untuk memecat anda dokter " ancam Azka yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan istri kecilnya.
" Ta.. tapi ini terlalu privasi pak untuk pasien tersebut kecuali pasien yang meminta!" sahut dokter Dinda yang semakin gemetar.
" Cepat katakan!" bentak Azka hingga membuat dokter Dinda dan Lia tersentak saking kagetnya.
" Dia Hamil!" ucap dokter Dinda dengan cepat lalu sepersekian detik menutup mulutnya sendiri.
" Ha.. hamil?" Azka tercengang dengan apa yang baru saja didengarnya.
" Tolong pak rahasiakan ini dulu pak, kasihan pasien ini masih sekolah dia pasti akan sangat syok, dan kram perutnya itu terpengaruh karena kehamilannya yang masih diusia muda." pinta dokter Dinda yang entah mengapa merasa kasihan dengan kondisi pasiennya yang tengah hamil di usia dini ditambah lagi dengan statusnya yang masih pelajar.
Lia pun masih tercengang dengan pernyataan dokter Dinda yang mengatakan sahabat sekaligus kakak iparnya ini akan segera memberikan dia keponakan.
" Za loe hamil?" cicitnya.
" Kamu Ha..hamil" lirih Azka tidak percaya langkahnya perlahan menghampiri Zaira yang masih setia memejamkan matanya.
" Pak jangan biarkan pasien mengalami syok karena itu akan sangat berpengaruh dengan kesehatan pasien dan juga janinnya. tolong dampingi dia untuk menghadapi orang tuanya. agar pasien tidak lebih jauh terguncang" pinta dokter Dinda.
"Ekhhhh" suara Zaira melenguh dan perlahan tersadar, Azka yang melihat Zaira tersadar langsung menitikkan air mata.
Zaira nampak bingung dengan apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba ia berada di tempat asing dan bersama suaminya.
Zaira berusaha untuk bangun dan Azka dengan cepat langsung membantunya.
mata Zaira mengedar ke seluruh ruangan dan setelah pandangannya menangkap seorang wanita cantik dengan seragam putihnya barulah ia sadar ada dimana dirinya saat ini.
" Pak kenapa kok saya ada disini, saya kenapa?" tanya Zaira
" Loe tadi pingsan di mobil gue!" sahut Lia
" Lia gue_" ucap Zaira menggantung
" Loe udah bikin gue panik tau gak untung aja gak kenapa-napa, tapi thanks Za!" ucap Lia yang kalimat akhirnya begitu ambigu buat Zaira
" Thanks buat apa?" tanya Zaira yang menatap Lia dengan raut wajah bingung
" untuk yang tadi kita bahas di mobil gue!" jawab Lia cengengesan.
Dokter Dinda menatap bingung dengan interaksi Lia dan Zaira begitu juga seseorang yang dokter Dinda pikir adalah guru mereka.
bukan hanya Zaira, dokter Dinda dan Lia juga dibuat heran dengan sikap Azka.
Azka menarik tubuh mungil Zaira kedalam pelukannya dan sontak saja hal itu membuat dokter Dinda yang melihatnya berpikir bahwa Azka yang telah menghamili muridnya sendiri walaupun pada kenyataannya benar adanya.
" Terima kasih sayang!" ucap Azka tersenyum bahagia dan mendaratkan kecupan singkat di kening, mata, pipi dan terakhir di bibir dan tentu saja apa yang Azka lakukan membuat dua cewek cantik dibelakangnya mengumpat kesal.
"Gak tau diri muridnya sendiri di embat" gumam dokter Dinda
" Ahh... mata gue ternodai, dasar bucin tingkat akut ini sih" batin Lia mengumpat
" Pak ada apa sih?" tanya Zaira dengan polosnya.
Takk
" Awww... sakit!" Zaira meringis sakit dan merengek manja.
" Siapa suruh dari tadi pak.. pak.. terus, emang aku ini bapak kamu apa?" kesal Azka melipat kedua tangannya di dada.
Zaira meraih tangan Azka dan senyum-senyum " maaf habisnya aku gemas melihat pak_" Zaira menghentikan ucapannya karena Azka sudah melototinya
" Tau ah pusing!" ucap Zaira kesal lalu turun dari tempat tidurnya dan menghampiri dokter Dinda yang masih dibuat bingung dengan pasien yang ada di hadapannya saat ini.
" Dokter saya tidak apa-apakan dok?" tanya Zaira pada dokter Dinda
Dokter Dinda menghela napasnya panjang
" Usia kamu berapa?" tanya dokter Dinda
" 17 tahun dok" jawab Zaira
" 17 tahun, ya tuhan!" pekik dokter Dinda
" Memangnya kenapa dokter, saya sakit apa?" tanya Zaira penasaran.
" Kamu... kamu.." ucap dokter Dinda yang entah kenapa jadi bingung sendiri menyampaikan langsung kepada Zaira
__ADS_1
" Kamu hamil Sayang!" ucap Azka seraya memegang kedua bahu Zaira.
Zaira sontak mendongak menatap wajah suaminya yang tersenyum bahagia.
" Ak... aku hamil?" tanya Zaira sedikit gemetar
menatap Azka dan dokter Dinda bergantian
" Iya kamu Hamil sayang" ucap Azka mengulang kata-katanya.
Zaira kembali bertanya kepada dokter Dinda.
" Ap.. apa itu benar dokter?" tanya Zaira dengan sedikit kepanikan dalam raut wajahnya.
Dokter Dinda mengangguk pelan.
jedaarrrrr
Zaira tidak percaya dengan refleks Zaira menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia belum siap untuk ini Zaira teringat dengan sekolahnya dan juga masa depannya.
" Dokter bercanda!" ucap Zaira sambil tertawa getir
" Kamu yang tenang ya, semua bisa di bicarakan dengan baik-baik. tenangkan dirimu ya kasihan dia yang tidak tahu apa-apa" ucap dokter Dinda mencoba menenangkan Zaira.
" Aku... aku hamil, lalu bagaimana dengan sekolah aku mas, masa depan aku?" tangis Zaira pun pecah. untung saja dokter Dinda tidak punya pasien lain karena memang jam praktek nya sudah habis.
" Sayang jangan seperti ini, apa kamu memang tidak ingin mengandung anak dariku?" ucap Azka yang juga jadi tersulut emosi dengan sikap penolakan Zaira.
" Bukan itu ta..tapi aku masih ingin sekolah mas" ucap Zaira dengan air mata yang mengalir begitu saja dipipinya
" kita bicarakan ini dirumah ya , sekarang kamu tenangkan dulu diri kamu ya sayang" ucap Azka lembut dan mencium kening Zaira penuh cinta.
tiba-tiba pintu ruang praktek dokter Dinda terbuka dan muncullah seorang dokter senior yang tidak tahu kalau ternyata dokter Dinda masih ada pasien.
" Maaf... maaf... saya kira sudah jam kosong!" ucap dokter tersebut.
" Tidak apa-apa dokter!" sahut dokter Dinda.
" Ada apa dokter mencari saya?" tanya dokter Dinda
" Ah tidak apa-apa, tadi cuma sekedar lewat saja" sahut sang dokter dan dokter Dinda hanya manggut-manggut.
" Kalau begitu saya permi_. nak Bagaz?" tanya dokter paruh baya yang tidak lain adalah dokter Malik
" Dokter Malik" sapa Azka
" Siapa yang sakit?" tanya dokter Malik dan terkejut dengan melihat Zaira yang tengah menangis.
" Ada apa?" tanya dokter Malik pelan pada Azka yang nampak bingung
" Za hamil dok!" ucap Azka lirih
" Wah selamat, kamu akan segera menjadi seorang ayah Bagaz, tidak aku sangka kamu tokcer juga" ucap dokter Malik dengan santai sementara dokter Dinda mengerutkan keningnya merasa bingung mencerna setiap ucapan dokter Malik.
" Kenapa dokter Malik bicara begitu, tidak mikir apa mereka ini sudah melakukan kesalahan besar" batin dokter Dinda
" Nak Za kenapa kamu menangis?" tanya dokter Malik yang kini berdiri di samping Zaira
" Jangan menangis, om tahu kamu pasti belum siap dengan semua ini. tapi dia adalah titipan yang sudah tuhan percayakan kepada kalian berdua. tapi saat ini siap tidak siap kamu harus menghapinya juga. memang kamu rela jika anak yang sudah dititipkan terus diambil lagi karena mamanya tidak menginginkan kehadirannya?" ucap dokter Malik menenangkan hati Zaira.
" Banyak yang menginginkan anak tapi sulit bahkan ada yang sampai menghabiskan harta mereka hanya ingin memiliki keturunan. nah saat ini kamu dan suamimu harusnya bersyukur diberi kemudahan mendapatkan anugerah yang besar ini" ucap dokter Malik meyakinkan Zaira
" Tapi dok, bagaimana dengan sekolahku?" tanya Zaira disela tangisnya
" Kamu kayak siapa aja, ingat suami kamu itu siapa dan mertua kamu itu hanya dengan menjentikkan jari saja sudah bisa memudahkan segala keinginan kamu apalagi hanya masalah sekolah" ucap dokter Malik mengingatkan namun dibalik pembicaraan dokter Malik ada seseorang yang masih tercengang dengan ucapan dokter Malik yang menyatakan suami kamu siapa dan mertua kamu siapa. ya siapa lagi kalau bukan dokter cantik dokter Dinda.
" Su.. suami?" tanya dokter Dinda terbata-bata
" Iya, apa kamu tidak tahu siapa mereka. ini adalah Alzaira putri Sahabat baikku Hendra dan ini Bagazkara putra sahabat baikku juga Samuel. mereka ini sepasang suami istri jadi jangan menatap mereka bingung lagi ya. wajar kalau kamu hamil Za, suami kamu pasti sama seperti papanya. mesum" ucap dokter Malik dan tanpa sadar kata-katanya membuat Zaira tersenyum.
" Nah gitu dong senyum, kasihan bayi kalian kalau mamanya cengeng begini" goda dokter Malik.
" Sudah jangan menangis lagi, soal sekolah itu bisa diurus oleh suamimu yang gak sabaran ini.
Mungkin saat ini ayahmu sedang tersenyum melihat putrinya tengah hamil, jadi berbahagialah demi kedua orang tuamu.!" ucap dokter Malik yang merasa turut senang dengan kebahagian pasutri ini.
" Terima kasih ya dokter!" ucap Azka
__ADS_1
" Terima kasih om dokter " ucap Zaira karena Zaira memang sempat dekat dengan dokter Malik semasa ayahnya masih hidup.