Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Merindukanmu


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang serba putih kini Lia tengah berbaring dengan mata yang masih terpejam.


Lia mengerjapkan perlahan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.


" Euh.." Lia melenguh pelan, dengan perlahan matanya pun mengerjap mulai terbuka . Lia menatap kesekeliling ruangan, di dalam hati Lia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, kini dirinya tengah berada di mana, apakah dia sudah mati pikirnya.? lalu tiba-tiba ia ingat akan sesuatu membuatnya tersentak kaget


" Mario!" pekik Lia yang langsung beranjak dari tidurnya setelah mengingat tentang keadaan sang kekasih.


Seorang wanita paruh baya yang tengah tertidur karena kelelahan sampai ketiduran disisi ranjang Lia tersentak kaget saat mendengar suara teriakan Lia yang memanggil nama Mario.


" Sayang kamu sudah sadar nak?" tanya mama Maria dengan wajah cemas


" Ma.. mama!" ucap Lia dengan suara yang sangat pelan, Lia pun sedikit terkejut karena melihat mama Maria berada di hadapannya lalu dimana Mario tanya Lia dalam hati.


" Sayang, bagaimana keadaan kamu nak, apa yang kamu rasakan? mana yang sakit nak?" tanya mama Maria menelisik penuh kecemasan dengan keadaan putrinya yang masih terlihat diam saja malah celingak-celinguk melihat kesekeliling ruangan.


" Sayang!" panggil mama Maria dengan lembut


" Mama!" panggil Lia dengan wajah sendu dan sedikit pucat.


" Iya sayang" mama Maria mengusap pucuk kepala Lia dengan lembut.


" Ada apa sayang, apa ada yang terasa sakit? bilang sama mama sayang!" ucap mama Maria sedikit cemas karena melihat Lia yang nampak sedih


Ceklekk


Pintu terbuka dari luar dan menyembulah seorang pria dan wanita dengan raut wajah khawatir.


" Lia!" pekiknya dan langsung berhambur memeluk Lia dengan mata yang sudah berkaca-kaca..


" loe gak apa-apakan Li?" tanya Zaira khawatir setelah mengurai pelukannya dan Lia menggeleng pelan.


" Apa gue masih hidup Za?" tanya Lia dengan wajah datar dan nampak terlihat bingung membuat Zaira, mama Maria dan Azka yang berada di ruangan tersebut saling melempar pandangannya.


" Loe kenapa bertanya kayak gitu sih Li? ya iyalah loe masih hidup, nih kalau loe gak percaya" Zaira menyentil kening Lia.


Pletakk


" Awww, sakit Za!" pekik Lia saat keningnya mendapat sentilan dari Zaira, Lia pun mengusap keningnya yang terkena sentilan dari Zaira.


" Nah tuh loe tau sakit, berarti loe itu masih hidup" ucap Zaira geleng-geleng kepala.


" Gue masih hidup? bagaimana bisa gue ada disini Za, dimana Mario Za, dimana Za? jawab Za!" tanya Lia antusias setelah dia teringat kembali dengan keadaan Mario yang terakhir bersamanya, Mario bahkan dalam keadaan tidak baik-baik saja.


" Li loe tenang dulu ya, loe juga kan baru aja sadar. loe jangan terlalu banyak pikiran dulu ya Li" ucap Zaira mencoba menenangkan Lia.


" Za cepat katakan bagaimana keadaan Mario Za, katakan Za?" sentak Lia yang dengan tidak sabar ingin segera beranjak dari tempat tidurnya mencari tahu keadaan Mario.


" Li loe mau kemana?"


" Kamu mau kemana sayang?"


Tanya mama Maria dan Zaira bersamaan lalu menahan tubuh Lia yang ingin memberingsut turun dari tempat tidur.


" Ma tolong katakan ma, dimana Mario sekarang ma? bagaimana keadaannya ma, tolong mah katakan sama Mel mah!" ucap Lia memegang lengan mama Maria dan mengguncang-guncangnya.


"Za tolong jawab Za, beritahu gue Za, dimana Mario sekarang Za?" tanya Lia dengan rasa khawatir yang teramat sangat.


Zaira menunduk sekilas dan raut wajahnya sulit untuk ditebak namun nampak ada goresan kesedihan yang terpancar dari sudut matanya.


" Lia loe...!" Zaira menjeda ucapannya dia bingung bagaimana mengatakan semuanya kepada Lia. Dia tidak ingin Lia bersedih dan terluka tapi walau bagaimanapun Lia juga harus tahu kenyataan yang sebenarnya.


Zaira tanpa bisa berkata apa-apa lagi langsung memeluk tubuh Lia yang nampak diam mematung.


" Loe harus sabar ya Li, ini mungkin yang terbaik untuk Mario. loe harus kuat ya Li!" ucap Zaira disela pelukannya menenangkan hati Lia yang ia tahu pasti sedang tidak baik-baik saja.


melihat Zaira yang menangis begitu juga dengan mama Maria membuat Lia bisa menyimpulkan apa sebenarnya yang telah terjadi, Lia kembali teringat dengan kejadian waktu dimana mereka tengah berada di ruang bawah tanah yang gelap dan pengap dengan kondisi tubuh Mario yang terluka bahkan sampai demam tinggi yang mengakibatkan Mario hilang kesadaran dan tidak lagi bergerak didalam pelukannya.


" Tidak ini tidak mungkin terjadi, tidak!" Lia menggelengkan kepalanya berkali-kali lalu berteriak histeris.

__ADS_1


" Ini tidak mungkin!" teriaknya lalu tangis Lia pun pecah


" Mario tidak mungkin ninggalin gue Za, gak mungkin dia sudah janji Za akan selamanya bersama sampai menua. gak Mario gak boleh pergi ninggalin gue Za, Marioooo!" lirih Lia


" Ma, Io tidak akan ninggalin Meli kan ma?" tanya Lia kepada sang mama


" Tidak sayang, Mario tidak akan meninggalkan kamu sayang!" ucap mama Maria lirih dengan air mata yang sudah mengalir deras.


" Li loe tenang dulu ya" ucap Zaira yang ikut menangis karena tidak sanggup melihat Lia rapuh seperti ini.


" Sayang kamu jangan seperti ini ya nak, tenangkan diri kamu ya sayang!" kata mama Maria yang sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya itu.


" Ma, Mario ma!" ucap Lia sambil terisak


" Lia loe tenangkan diri loe dulu. Kalau loe kayak gini Mario pasti tidak akan tenang meninggalkan loe disini" ucap Zaira ambigu


" Mel, biarkan Mario tenang menjalani semuanya disana. kamu harus sembuh dan sehat demi Mario Mel. jika dia tahu kamu seperti ini dia pasti sedih. apa kamu mau dia bersedih?" ucap Azka bergantian dengan Zaira memeluk adik kesayangannya itu.


" Hiks... hiks..." Lia menangis di dalam pelukan sang kakak.


" Sabar ya Mel, kamu ini wanita yang kuat dan hebat. tunjukkan pada Mario kalau kamu bisa hidup dalam keadaan baik-baik saja meskipun dia berada jauh disana. namun cinta kalian akan selalu dekat" ucap Azka mengusap kepala Lia dengan penuh kasih sayang.


Papa Sam yang baru saja tiba langsung menghampiri putrinya itu.


" Sayang!" ucap papa Sam


" Pah!" Lia melepaskan pelukan sang kakak dan beralih memeluk papa Sam lalu menangis di dalam pelukan sang papa.


" Kamu tidak apa-apa nak?" tanya papa Sam cemas


Lia menggeleng masih berada di dalam pelukan sang papa. " Pah, Mario pah. Mario?" ucap Lia kembali terisak.


papa Sam mengelus punggung putrinya dengan penuh cinta " Sabar ya sayang, kita berdo'a saja untuknya ya nak. dia anak yang baik papa yakin dia akan mendapatkan yang terbaik" ucap papa Sam menenangkan putrinya.


" Mario tidak akan pernah meninggalkan kamu sayang, walaupun saat ini dia berada jauh di sana tapi hatinya tetap ada disini untuk kamu sayang!" papa Sam menunjuk dada Lia seraya tersenyum.


" Sudah jangan bersedih lagi, biarkan Mario tenang menjalani semuanya ya sayang. kita berdo'a saja untuknya sayang, jika dia tahu kamu seperti ini dia juga pasti akan sedih" ucap papa Sam dengan nada selembut mungkin.


" Putri papa adalah wanita yang hebat dan kuat. kamu pasti bisa melewati ini semua sayang. " ucap papa Sam dan Lia pun mengangguk pelan.


...☄️☄️☄️☄️☄️☄️...


Dua bulan berlalu


Lia duduk di bawah pohon tempat biasa Mario menghabiskan waktu pada jam istirahatnya.


Lagi-lagi air mata itupun mengalir begitu saja dengan sendirinya.


Hampir setiap hari Lia datang ketempat itu, menyendiri tanpa ingin ada yang menemaninya. bagi Lia saat ia sendirian di tempat itu maka seperti ia tengah berdua dengan Mario. jadi ia selalu menolak setiap kali sahabatnya ingin menemaninya duduk di tempat itu.


Lia tersenyum menatap ke arah langit yang nampak cerah di pagi itu. " Io kamu jahat!" lirihnya walaupun bibirnya menyunggingkan senyum tapi airmatanya sudah mengalir begitu saja.


Lia beranjak dari duduknya dan menghampiri sahabat-sahabatnya yang tengah duduk tidak jauh dari tempat dia berada.


Mita tersenyum lalu merangkul pundak Lia.


" Duduk!" Mita menarik Lia supaya duduk lalu menyodorkan makanan ke hadapannya.


" Makan!" perintah Mita


Lia mengernyitkan keningnya " Gue masih kenyang!" tolak Lia mendorong makanannya.


" Gue tahu loe belum makan dari kemarin dan Za juga bilang loe tadi gak sempat sarapan. makanya dia minta gue buat beliin loe ini!" ucap Mita menyodorkan semangkuk bakso untuk Lia.


" Dasar ya tuh anak!" Lia mendengus kesal


Zaira kini usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan dan dia sekarang mengikuti homeschooling karena untuk pergi kesekolah itu sudah tidak memungkinkan.


" Loe jangan bersikap seperti ini Li, gue yakin kalau Mario tahu dia pasti bakalan marah sama loe dan pastinya sedih melihat loe jadi kurus begini!" ucap Mona membuat Lia menghela napasnya panjang.

__ADS_1


" Gue rela jika di marahin sama dia bahkan setiap hari dimarahin juga gak apa-apa, asalkan dia ada disini!" ucap Lia sendu membuat Mona, Mita, Mia dan Indah saling melempar pandang dan merasa sangat sedih melihat Sahabatnya begitu rapuh.


" Li loe yang sabar ya, cinta kalian pasti akan mengisahkan cerita yang indah nantinya" ucap Mia membuat Lia tersenyum getir.


" Cerita yang Indah? cerita yang berakhir dengan airmata?" lirihnya. Mia mendengar ucapan Lia tidak sanggup lagi menahan air matanya la pun langsung berhambur memeluk Lia lalu tidak lama di ikuti oleh ke Mita, Mona dan Indah.


" Loe jangan sedih lagi Li, masih ada kita !" ucap Mita membuat Lia tersenyum tipis.


" Thanks ya semuanya!" ucap Lia


" udah yuk ke kelas!" ajak Lia.


" Bakso loe belum dimakan Li!" ucap Mona


" kan gue udah bilang gue udah kenyang!" sahut Lia


" Kenyang dari mananya loe aja belum makan apa-apa" ucap Mia


" Cuma ngeliat tuh bakso aja, udah bikin gue kenyang, kenyang menahan rindu " ucap Lia santai namun tersirat kesedihan dibaliknya.


" Yaudah terserah loe aja dah!" ucap Mona menimpali.


Lia dan kawan-kawannya masuk ke dalam kelas, dia pun belajar seperti biasa.


Jam pulang sekolah


Lia seperti biasa di jemput oleh mang Ujang. semenjak kejadian beberapa bulan lalu papa Sam melarang Lia pergi sendirian dan memang kebetulan juga Lia memang sedang enggan menyetir mobilnya.


Disepanjang perjalanan pulang Lia terus saja menatap ke arah jalan. meskipun bibirnya menyunggingkan senyum tapi hati kecilnya tengah menangis merindukan seseorang yang sangat ia cintai.


Rasa rindunya yang begitu besar membuat Lia merasa sangat ingin pergi ke danau tempat dimana dirinya dan Mario sering datang bersama.


" Mang tolong antar saya ke danau yang ada di taman pinggir kota ya mang!" pinta Lia kepada mang Ujang


" Iya non, tapi non Meli sudah bilang tuan besar belum non, saya takut dimarahi non!" ucap mang Ujang


" Tenang aja mang, papa gak bakalan marah kok mang!" ucap Lia


" Baiklah kalau begitu non!" ucap mang Ujang.


Mobil yang dikemudikan mang Ujang sampai di sebuah danau yang berada di taman pinggir kota. Lia membuka pintu mobil lalu berjalan perlahan melangkah menuju danau yang berada di taman tersebut.


Setiap derap langkahnya Lia seakan tengah kembali dimasa dirinya dan Mario tengah berjalan bersama. satu persatu kenangan itu seperti rol film yang tengah diputar berkali-kali. rasanya sungguh sesak bahkan kaki Lia pun terasa tak bertulang seperti tak kuasa lagi menahan beban tubuhnya.


Lia kini duduk di tepi danau tempat saksi cintanya dengan Mario bersemi. Lia tak kuasa lagi menahan tangisnya, tubuhnya bergetar dengan hebat. ini sungguh menyakitkan bagi Lia. rasa rindunya sudah tidak terbendung lagi.


Dua bulan ini Lia sudah berusaha untuk kuat menjalani hari-harinya, Lia selalu tersenyum setiap kali berada di hadapan sahabat dan keluarganya namun ketika sendiri Lia tak kuasa lagi menahan sesak di dadanya. merindukan Mario membuat hatinya terasa sakit.


Hampir satu jam Lia berada di ditepi danau tersebut. tangisnya pun sudah berkurang. Lia beranjak dari duduknya dan memutar tubuhnya untuk berjalan pulang melangkah meninggalkan danau tersebut. langkah demi langkah Lia pijakkan kakinya yang terasa berat dan tiba-tiba langit berubah mendung, setetes demi setetes air hujan menetes membasahi wajah Lia yang mendongak ke langit yang nampak mendung. Gerimis perlahan mulai menyapa Lia tersenyum tipis merentangkan tangannya merasakan setetes demi setetes air hujan yang jatuh mengenai telapak tangannya.


" Langit pun ikut menangis bersamaku Io, merasakan betapa besarnya rinduku ini untukmu" ucap Lia lirih.


Hujan semakin deras namun Lia tidak ingin beranjak dari tempatnya. ia merasakan kehadiran Mario disetiap tetes demi tetes air hujan yang membasahi tubuhnya.


" Aku terlalu mencintaimu Io, malaikat penolong ku. selamanya kau akan selalu ada di hatiku. kau tahu, aku ingin sekali mengatakan iya aku mau menikah dengan mu io, aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu, aku mau mengatakan itu padamu, tapi rasa Maluku membuat ku tak berani mengatakannya padamu my io". ucap Lia lirih .


" Dan kini disaat aku berani dengan lantang mengatakan jika aku mencintaimu io, kau berada sangat jauh dari ku. kau jahat Io jahat... kau tega meninggalkan aku sendiri disini, kenapa kau tidak membawaku pergi saja bersamamu Io, kenapa?" ucap Lia sesenggukan tubuhnya lemas dan melorot jatuh ke tanah.


Lia menangis pilu, hujan pun semakin mengguyur lebat Lia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, rasa dingin pun semakin menusuk hingga ketulang tubuh Lia pun semakin bergetar hebat.


" Aku ingin bersamamu Io, aku merindukanmu Io. aku ingin menikah dengan mu io aku_" ucap Lia lirih .


Tiba-tiba air hujan yang turun begitu derasnya tidak lagi Lia rasakan. dengan tubuh yang sudah bergetar karena menggigil kedinginan Lia perlahan mendongak saat melihat kaki jenjang berdiri tepat di hadapannya.


Tiba-tiba tubuh Lia membeku, matanya membulat sempurna jantungnya berdegup kencang, tubuhnya terasa lemas seakan tidak bertulang.


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


__ADS_2