
Setelah menunggu hampir 3 jam akhirnya bola mata seorang gadis yang tengah terpejam itupun bergerak-gerak menandakan ia akan segera tersadar.
Mona membuka matanya dengan perlahan dan orang yang pertama kali di lihatnya adalah cowok tampan dengan wajah kusut dan berantakan akibat rasa cemasnya yang begitu besar.
" Loe sudah sadar?" tanya Yoga yang langsung beranjak dari duduknya dan mendekatkan diri pada brankar Mona.
Mata Mona melirik ke kanan dan ke kiri memperhatikan tempat dimana dia berada saat ini " Gue dimana?" tanya Mona dengan suara yang sangat lemah.
" Loe ada di rumah sakit" jawab Yoga.
" Rumah sakit?" Yoga mengangguk pelan lalu tersenyum
" Kenapa gue bisa ada di sini dan loe juga ngapain di sini?" tanya Mona yang berusaha untuk duduk dan dengan sigap Yoga membantu Mona untuk duduk bersandar.
" Gue yang membawa loe kesini, karena tadi loe pingsan" Jawab Yoga.
Ceklekk
terdengar suara pintu dibuka dan tidak berapa lama indah dan Mia menyembul dari, balik pintu.
Mia, Mita dan Indah baru saja dari kantin mereka merasa lapar tadi tidak jadi makan bakso di kedai milik Mario karena langsung mencari Mona . Sedangkan Lia sudah pulang lebih dulu karena Mario melarangnya berlama-lama berada di rumah sakit dengan kondisi Lia yang saat ini tengah hamil muda. Mario memang lebih posesif dan over protektif jika sudah berhubungan dengan Lia dan kandungannya karena dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan isteri dan juga calon bayinya.
Arta , Sendy dan Dion memilih menunggu di luar.
" Mona loe sudah sadar?" tanya Mita yang langsung berjalan menghampiri brankar Mona.
" Kalian ada disini juga?" tanya Mona
" Bukan cuma kita tapi tuh diluar juga ada para cowok"
" Siapa?" tanya Mona
" Biasa para bodyguard mereka" sahut Yoga seraya tertawa kecil
" Iya salah satunya loe Yo, yang sekarang kayaknya sudah jadi bodyguard nya Mona" ledek Mia.
" Apaan sih loe Mi" ucap Yoga dengan wajah yang bersemu merah.
" Yo?" tanya Mona dengan tatapan penuh tanya
Deg
Semuanya langsung saling melempar pandang dan Yoga menghela napasnya berat.
Mona tiba-tiba terlintas diingatannya tentang kejadian beberapa jam lalu di tepi jalan tempat dimana kecelakaan Yoga terjadi.
__ADS_1
" Loe... Yo... Yoga?" tanya Mona terbata-bata
" Maafin gue ya Mon karena gue udah gak jujur sama loe kalau gue sebenernya Yo_" belum selesai dengan kata-katanya Mona sudah memotong ucapannya.
" Bercanda loe gak lucu tau gak dan loe Mi apa-apaan sih loe mau ikut-ikutan ngerjain gue loe" ucap Mona seraya tertawa
" Mon gue_"
" Sudahlah Putra, loe gak usah pakai pura-pura bilang kalau loe itu Yoga segala. tenang aja gue gak akan melakukan hal bodoh itu lagi kok. loe juga Mia gak usah ikut-ikutan dia segala deh, kalian ini aneh tau gak sih masa putra dibilang Yoga sih padahal kalian juga tahu kalau Yoga sudah tenang disana" ucap Mona
" Mon gue gak akan bisa tenang kalau loe kayak gini" ucap yoga membuat Mona tertawa
" Eh Putra udah deh loe gak usah ngaku-ngaku jadi Yoga lagi gak lucu tau gak sih. lagian ya Putra loe itu beda jauh dengan Yoga" Mona geleng-geleng kepala merasa semuanya nampak konyol
" Mona takdir memang terkadang sulit untuk kita tebak, apa yang kita anggap itu tidak mungkin tapi jika tuhan sudah berkehendak apa mau dikata Mon. seperti halnya Yoga mungkin saat ini loe belum bisa menerima kenyataan kalau orang yang ada dihadapan loe yang mengaku bernama Putra ini adalah orang yang selama ini loe rindukan Mon" ucap Mita seraya menggenggam tangan Mona.
" Loe ngomong apa sih Mit gak jelas tau gak sih bikin gue pusing" Mona menatap bingung pada Mita.
" Mona orang yang ada di hadapan loe saat ini adalah Yoga, loe coba aja perhatiin baik-baik !" ucap Mita
Mona menatap lekat wajah Yoga satu persatu dia lihat dengan seksama dan pada saat tatapan mata mereka bertemu dan saling mengunci Mona baru merasakan kalau tatapan mata Putra sama persis dengan tatapan mata Yoga.
" Tidak mungkin... ini tidak mungkin kalian pasti berbohong!" teriak Mona histeris membuat Mita dan yang lainnya nampak terkejut dengan perubahan sikap Mona yang tiba-tiba menjadi histeris.
" Mon... Mona tenang dulu Mon." ucap Mita dan juga Yoga pada saat berusaha untuk menenangkan Mona
" Jangan bohongi gue dan jangan bodohi gue" ucap Mona dengan tatapan tajam menatap Mita dan yang lainnya secara bergantian terutama kepada Yoga.
Ceklekk
pinta terbuka Arta, Dion dan Sendy dengan cepat bergegas masuk karena mendengar teriakkan Mona yang begitu keras.
" Ada apa?" tanya Arta kepada Mita
" Mona sepertinya tidak bisa menerima kenyataan kalau Putra sebenarnya adalah Yoga." sahut Arta
" Beritahunya seharusnya pelan-pelan saja, Mona pasti syok dan belum bisa percaya dengan perubahan yang terjadi dengan Yoga" ucap Arta
" Maaf, aku yang salah karena terlalu gegabah dengan mengatakan ini semua kepadanya " ucap Mita
" Mona tenanglah dulu!" ucap Yoga yang terus berusaha untuk menenangkannya
" Kalian semua pembohong!" teriak Mona
" Mona!" suara Arta sedikit keras membuat Mona langsung diam seketika.
__ADS_1
" Maaf, tapi tenanglah Mona, dengarkanlah dulu penjelasan dari Yoga" tutur Arta
" Tidak ada yang perlu dijelaskan, sebaiknya kalian pergi dan biarkan aku sendiri" ucap Mona
" Mona!" cicit Mita
" Sudahlah Mit sebaiknya loe pergi!" pinta Mona
" Baiklah gue akan pergi tapi setidaknya loe dengarkan dulu penjelasan Yoga, dia juga sama seperti loe merasa terluka dan kecewa tapi mau bagaimana lagi jika ini adalah takdir yang tuhan berikan, apa kita bisa menolak,?" ucap Mita.
" Jangan sampai penyesalan datang untuk kedua kalinya Mon!" ucap Mita lalu beranjak pergi diikuti yang lainnya.
Mia sedari tadi tidak bisa berkata apa-apa melihat Mona begitu histeris membuat hatinya begitu terenyuh.
Mia menangis sesenggukan di pelukan Indah dan mereka pun ikut keluar menyusul Mita dan yang lainnya.
Saat ini di dalam ruangan hanya tinggal Mona dan Yoga.
Mona hanya diam menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Yoga merasa sangat bersalah melihat Mona yang hanya diam saja seperti itu, Yoga meraih tangan Mona tapi dengan cepat Mona menepis tangan Yoga dengan kasar.
Sakit itulah yang Yoga rasakan tapi dia tidak akan menyerah untuk terus berusaha untuk mendapatkan hati seorang Monalisa.
Yoga memilih untuk duduk di tepi kasur berangkat Mona dengan duduk membelakanginya.
Yoga menghela napasnya berat melirik sekilas ke arah Mona yang tetap diam seribu bahasa.
" Mona maafin gue, walaupun gue tau kata maaf gue mungkin tidak akan pernah bisa menyembuhkan rasa kecewa loe saat ini tapi jujur gak ada niat sedikitpun gue untuk membohongi loe Mon. ini murni mengalir begitu saja. awalnya gue memang sedikit ragu dan juga takut untuk kembali kesekolah apalagi bertemu sama loe, gue takut mereka termasuk loe tidak akan percaya kalau gue adalah Yoga yang loe kenal dengan kondisi gue yang sekarang Mon!" terdengar suara Yoga bergetar dan Isak tangis yang semakin kuat.
" Gue gak berniat membohongi loe dan gue juga datang dengan nama Putra, loe tahu Putra itu juga nama gue kan Prayoga putra Pratama?" tanya Yoga
" Jangankan loe Mon, pertama gue melihat wajah gue sendiri aja gue kaget dan sama seperti loe gak bisa menerimanya, karena apa Mon karena gue takut loe semakin jauh dari gue dan loe semakin membenci gue" Yoga semakin terisak.
Mona menoleh ke arah Yoga dan dia melihat punggung Yoga yang bergetar hebat Mona pun menitikkan airmatanya.
" Gue gak memaksa loe untuk percaya kalau gue adalah Yoga tapi satu yang harus loe tau Mon gue gak akan pernah ingkar akan janji-janji gue, gue tetap sayang sama loe meskipun seperti yang loe bilang loe akan menolak gue berkali-kali gue gak akan pernah menyerah Mon" lanjut Yoga
" Kalau loe sudah menemukan orang yang loe sayang dan kalian benar-benar hidup bahagia baru gue akan menyerah Monalisa" ucap Yoga beranjak dari duduknya.
" Gue keluar sekarang, tapi gue akan pergi dari sini gue akan jaga loe di luar. gue sudah menghubungi kedua orang tua loe tapi mereka lagi di luar kota jadi gue akan menemani loe sampai loe sembuh. jangan usir gue Mona setidaknya sampai loe kembali sehat!" ucap Yoga yang sudah menghapus air matanya dan menoleh ke arah Mona dengan tersenyum yang dipaksakan.
" Jangan pernah bersedih lagi, dan sekali lagi gue minta maaf karena sudah membuat loe kecewa jadilah Mona yang gue kenal dulu kuat dan selalu ceria karena senyum loe adalah matahari gue yang selalu menghangatkan dan menerangi hati gue yang kosong" tutur Yoga sebelum beranjak pergi.
Mona hanya diam dengan segala pikirannya, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya lalu menutup matanya.
__ADS_1
Yoga menyelimuti tubuh Mona sampai ke dada lalu ia beranjak pergi keluar setelah melihat Mona memejamkan matanya.