Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Malam semakin larut saat ini hanya tinggal Aldy yang tengah menemani sang mama di rumah sakit, sesekali ekor mata Aldy menatap kearah pintu berharap sosok wanita yang baru tadi pagi ia nikahi menyembul dari balik pintu tersebut namun sampai jam 9 malam gadis itu benar-benar tidak muncul. Aldy menghela napasnya berat mengingat kembali kata-katanya yang mungkin sedikit keterlaluan.


" Apa dia benar-benar marah ya?" gumam Aldy


Kondisi kesehatan mamanya kini sudah jauh lebih baik, Aldy bisa bernafas lega karena sang mama sudah sadar dan mau menjalankan pengobatannya dengan benar.


Aldy sempat dibuat gundah saat mamanya menanyakan keberadaan Khanza, untung saja mama Maria bantu menjawabnya yang mengatakan Khanza ada urusan mendadak dan harus pulang ke penginapan sebentar.


Terpancar kesedihan di raut wajah sang mama ketika menantu yang sudah berhasil mencuri perhatiannya tidak ada di ruangannya.


" Mah, mama kenapa?" tanya Aldy pelan karena melihat mamanya yang nampak murung saat terjaga dari tidurnya.


" Apa menantu mama akan kembali lagi kesini atau mungkin dia sudah tau kalau mama ini seorang penjahat makanya dia pergi?" tanya mama Aldy sendu


" Khanza bukan orang seperti itu mah, dia pasti akan kembali datang untuk menemui mama" Aldy berusaha meyakinkan mamanya


" Tapi apakah istrimu bisa menerima masa lalu mama, apalagi jelas terlihat kalau dia dari keluarga baik-baik"


"Khanza dan ibunya sudah tahu semuanya mah , mereka sudah tahu sebelum kami menikah. Aldy pernah memintanya untuk membatalkan pernikahan ini namun dia bilang dia tidak mau mengecewakan ibu, mama Maria dan juga mama. Khanza ingin melihat orang-orang yang dia sayangi bahagia meskipun itu mengorbankan masa depan dan cita-citanya mah" terang Aldy


" Khanza adalah gadis yang baik mah, dia itu salah satu murid Aldy disekolah. anaknya pintar dan selalu mendapat bea siswa" lanjutnya


" Apa, murid? jadi Khanza itu masih sekolah?" tanya mama Aldy yang nampak terkejut


" Iya mah"


" Lalu bagaimana dengan sekolahnya jika dia harus menikah dengan kamu?"


" Untuk masalah sekolah itu tidak jadi persoalan mah karena kami menikah secara tertutup dan SMA Darma Bangsa itu juga milik papa Sam" jawab Aldy


" Sungguh gadis yang baik, terang saja mama begitu menyukainya saat pertama kali mama melihatnya. dia sungguh gadis yang menyenangkan " ucap mama Aldy dengan berbinar


" Aldy, mama harap kamu bisa melindungi dan menyayangi gadis itu dengan baik, jangan sakiti dia" pesan mama Aldy


" Iya mah!" jawab Aldy


Mama Aldy sudah kembali tertidur sedangkan Aldy masih terjaga dan kembali menoleh ke arah pintu berharap akan dibuka.


" Kenapa dia tidak juga datang, apa dia sudah kembali ke kota" batin Aldy yang kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke sofa.


Karena merasa lelah akhirnya laki-laki itu pun tertidur juga.


Ceklekk


Pintu ruangan akhirnya terbuka dan dengan langkah perlahan seorang gadis melangkah masuk.


" Nak Khanza" panggil mama Titin yang terjaga dari tidurnya dan melihat Khanza yang baru saja datang.


" Iya tante _"


" Kok tante, panggil mama sayang" protes mama Titin


" I..iya mah" Khanza nampak sedikit canggung


" Emm.. bagaimana keadaan mamah sekarang? maaf kalau Khanza baru sempat kesini tadi ibu buru-buru pamit mau pulang ke kota jadi Khanza mengantar ibu dulu" ucap Khanza


" Iya tidak apa-apa sayang"


" Apa mama mau minum?" tanya Khanza menawarkan


" Boleh" sahutnya


Khanza mengambil air minum yang ada di atas nakas dan memberikannya kepada mama Titin


"Terima kasih sayang" ucap mama Titin menerima gelas tersebut lalu meminumnya hingga sisa setengahnya.


Khanza meletakkan gelas itu kembali diatas nakas setelah mama Titin selesai minum.


" Sebaiknya mama istirahat lagi ya sekarang biar cepat sembuh!" Khanza membantu mama Titin merebahkan diri di atas tempat tidurnya.


"Kamu juga sebaiknya istirahat, bangunkan saja Aldy dan pulanglah ke rumah. inikan malam pertama kalian masa malah berada di rumah sakit!" ucap mama Titin.


" Mama ini bicara apa sih mah, gak mungkinlah Khanza dan pak Aldy tega meninggalkan mama sendirian disini" sahut Khanza


" Tapi sayang?"


" Mah, sebaiknya mama sekarang istirahat saja ya mah dan jangan memikirkan hal yang lain cukup fokus dengan kesembuhan mama saja ya mah!" pinta Khanza seraya tersenyum dan dengan gerakan tangannya yang menyelimuti mama Titin sampai sedada.


" Terima kasih sayang, sungguh beruntung mama memiliki menantu seperti kamu, tolong jaga putra mamah ya jika mama sudah tiada" ucap mama Titin tersenyum bahagia

__ADS_1


" Mah... mama jangan bicara seperti itu, mamah harus sembuh dan hidup bahagia bersama pak Aldy yang sangat menyayangi mama" ucap Khanza yang tiba-tiba airmatanya sudah menggenang


" Waktu mama sudah tidak banyak lagi sayang, meninggalkan Aldy bersama gadis sebaik kamu mama sudah tenang jika memang harus pergi" ucap mama Titin membuat Khanza tidak kuasa lagi menahan tangisnya


" Ma, Khanza bukanlah gadis baik seperti yang mama pikirkan, Khanza bahkan sudah membuat ibu dan mama kecewa. mama harus sembuh mah mamah gak boleh pesimis. "


"Jangan menangis sayang, mama ini hanya seorang pendosa kamu pasti sudah tahu bukan kesalahan mama" mama Titin pun akhirnya ikut menangis


" Mama sudah melakukan dosa besar, setahun hidup di hantui rasa bersalah sungguh membuat mama hidup tersiksa. mama hanya berharap keluarga Alzaira mau memaafkan kesalahan mama, meskipun kecil harapan mama bisa mendapatkan maaf dari Alzaira. "


" Mah" lirih Khanza


" Maaf sayang kalau mama sudah bikin kamu sedih" Khanza menggeleng lalu berhambur memeluk mama Titin.


Khanza mengurai pelukannya dan mama Titin nampak tersenyum bahagia.


" Alzaira itu wanita yang sangat baik mah, Khanza yakin dia pasti mau memaafkan mama" ucapnya dengan senyum yang mengembang


"Semoga saja"


" Aldy sungguh beruntung mempunyai isteri seperti mu, semoga kalian selalu hidup bahagia selamanya sampai menua bersama" ucap mama Titin.


Khanza nampak diam saja bergeming dengan wajah yang tertunduk


"Ada apa sayang?" tanya mama Titin cemas


Khanza mendongak sedetik kemudian ia pun mengembangkan senyumnya. " Tidak ada apa-apa mah, mulai sekarang mamah harus semangat untuk sembuh ya mah. biar mamah bisa menemani Khanza dan juga pak Aldy" ucap Khanza dengan wajah yang selalu tersenyum


"Apa kalian sedang bertengkar?" tebak mama Titin membuat Khanza diam sejenak


"Tidak ada mah, kami baik-baik saja" jawab Khanza yang tidak ingin mertuanya itu menjadi tambah kepikiran


" Tapi kenapa kalian bersikap dingin? apa pernikahan ini karena adanya keterpaksaan. dan Aldy memaksamu untuk menikah?"


" Tidak mah itu tidak benar" Khanza menggeleng meyakinkan


" Mah kami baik-baik saja kok mah percaya sama Khanza, sikap dingin pak Aldy mungkin karena dia sedang lelah saja mah dan Khanza juga tidak ingin menambah beban pak Aldy. mamah adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya wajar jika dia bersikap seperti itu mah. Khanza tidak apa-apa mah. mamah jangan punya pikiran yang macam-macam, pikirkan kesembuhan mamah karena kasihan pak Aldy mah melihat mamah sakit pak Aldy sangat sedih" tutur Khanza dengan derai air mata yang sudah meluncur di pipinya.


" Kamu benar tidak Kenapa-napa sayang? Aldy tidak menyakiti kamu kan?" tanya mama Titin khawatir. dulu dia pernah mengalami kegagalan, pernikahannya dengan ayahnya Aldy kandas begitu saja akibat sikap kasar dan keras suaminya yang selalu menyakiti hati dan fisiknya dan suaminya yang kedua pun kini sudah meninggal dunia, oleh karena itu mama Titin sangat takut apa yang menimpanya juga menimpa Khanza.


" Mah!" panggil Khanza yang melihat mama Titin nampak termenung


Mama Titin terkesiap dari lamunannya.


" Mama kenapa?" tanya Khanza


" Tidak apa-apa sayang, mama hanya khawatir Aldy menyakiti kamu sayang" jawab mama Aldy tersenyum tipis


" Tidak mungkin mah, pak Aldy itu orang ya baik dan Khanza yakin pak Aldy adalah suami yang bertanggung jawab" ucap Khanza


" Masyallah, di usia kamu yang terbilang masih sangat muda tapi pikiran kamu sudah sangat dewasa , kamu begitu bijak menyikapi masalah" puji mama Titin


" Mah jangan terlalu banyak memuji nanti Khanza bisa terbang" seloroh Khanza seraya terkekeh


" Kamu ini bisa aja!" kedua wanita itupun tertawa bersama namun sedetik kemudian wajah mama Titin berubah pucat dan napasnya pun mulai sedikit tersengal-sengal.


Khanza yang melihat keadaan mama Titin nampak tidak baik-baik saja menjadi panik.


" Mah... mama kenapa mah?" tanya Khanza khawatir lalu langsung memencet tombol darurat


" Dokter tolong dokter...!" teriak Khanza


Aldy yang mendengar suara teriakan Khanza langsung terperanjat dari tidurnya.


" Mamah!" Aldy berlari ke arah brankar mamanya dengan panik


" Ada apa dengan mama?" bentak Aldy


" Apa yang sudah kau lakukan dengan mamaku?" tanya Aldy dengan tajam. Khanza menggeleng dengan air mata yang tiba-tiba langsung meluncur begitu saja


" Aku... aku tidak melakukan apa-apa" ucap Khanza dengan menggelengkan kepalanya disela tangisnya.


" Kamu.... kamu adalah teman Alzaira dan keluarganya begitu baik padamu, karena itu kamu tetap ingin menikah dengan ku karena kamu pasti sengaja ingin membalas dendam begitu kan, kau ingin membunuh mamahku iyakan?" tuduh Aldy yang sungguh tidak beralasan bagi Khanza. sakit tentu saja terasa sangat sakit dituduh oleh laki-laki yang baru saja berstatus suaminya beberapa jam yang lalu.


Entah apa yang terjadi pada Aldy kenapa tiba-tiba ia menuduh Khanza sesuatu yang bahkan dalam mimpipun Khanza tidak terbesit sedikitpun melakukan hal sekeji itu.


" Mah...mama tidak apa-apa mah?" tanya Aldy disela rasa paniknya


" Dokter!" teriak Aldy tanpa menghiraukan keberadaan Khanza

__ADS_1


Tidak berapa lama dokter pun masuk lalu memeriksa keadaan pasien. Setelah memastikan kondisi mama Titin sudah stabil dengan langkah perlahan Khanza melangkah mundur lalu keluar dan pergi dari ruangan tersebut dengan air mata yang masih mengalir di pipi.


Aldy terus berada di sisi mamanya, terjaga hingga pagi menyapa, Aldy nampak lega saat mata mamanya perlahan bergerak dan terbuka dengan sempurna.


" Mah... mamah sudah sadar, bagaimana keadaan mamah ? mana yang sakit mah?" tanya Aldy beruntun


" Khan... Za!" ucap mama Titin terdengar begitu lemah


Aldy terdiam dan membuang pandangannya ke sembarang arah.


" Di man...na...Khan.. Za, mama mau bica...ra dengannya?" tanya mama Titin yang mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Khanza dengan suara yang terbata-bata.


" Mah, mamah sebaiknya istirahat saja ya mah, jangan pikirkan Khanza dulu !" ucap Aldy membuat wajah mamanya berubah murung.


" Mah...!" bujuk Aldy


" Dimana Khanza, apa dia baik-baik saja?" tanya mama Titin membuat jantung Aldy bergemuruh hebat


" Mama tidak usah pikirkan gadis itu!" sahut Aldy dengan malas


" Apa maksud kamu Aldy?" tanya mama Titin menautkan kedua alisnya


" Dia pasti yang membuat penyakit mamah kambuhkan, karena dia dari pagi pergi lalu kembali disaat Aldy sudah terlelap. dia pasti ingin mencelakai mamah kan karena Aldy baru sadar Khanza adalah teman Alzaira dan dia juga cukup mengaguminya, ada kemungkinan besar kalau dia ingin membalas dendam atas kematian bundanya Alzaira atas dasar balas budi terhadap keluarga Alzaira" tutur Aldy membuat mama Titin sedikit tercengang dengan penuturan putranya itu


" Apa kamu sadar dengan ucapanmu itu? jika Khanza mendengarnya pasti dia sangat sedih" mama Titin nampak kecewa dengan Aldy yang tiba-tiba punya pikiran sampai sejauh itu.


" Khanza tidak berbuat apa-apa pada mama bahkan dia selalu memuji kamu dan mengerti dengan keadaan kamu yang sangat mengkhawatirkan mama."


" Dari mana kamu punya pikiran seburuk itu terhadap isterimu sendiri? mama justru sangat senang kamu bisa menikah dengannya, Khanza adalah gadis yang baik yang pernah kamu perkenalkan pada mamah" ungkap mama Titin


" Sudahlah mah jangan bicarakan dia lagi, jika dia memang menantu yang seperti mama bilang dia tidak akan pergi begitu saja disaat mamah dalam keadaan tidak baik-baik saja" tutur Aldy


" Aku tidak akan pergi begitu saja tanpa pamit, ibuku tidak pernah mengajarkan aku berprilaku tidak sopan" jawab seorang gadis yang muncul dari balik pintu


" Khanza!" wajah sendu mama Titin seketika berbinar


" Mah, bagaimana keadaan mamah?" tanya Khanza setelah menyalami punggung tangan mama Titin


" Alhamdulillah baik sayang, kamu sendiri kemana saja baru datang Hem?" tanya Mama Titin meraih tangan Khanza dengan menggenggamnya


Aldy sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi keduanya


" Khanza pulang untuk berkemas mah, hari ini Khanza pamit mau pulang ke kota" jawab Khanza


" Pulang ke kota?" tanya mama Titin yang nampak terkejut


" Iya mah, maaf Khanza tidak bisa menemani mama. Khanza harus pulang karena harus masuk sekolah" jawab Khanza


" Mamah harus cepat sembuh ya mah biar bisa ikut ke kota"


" Iya sayang, doakan mama ya"


" Itu pasti mah, yaudah Khanza pamit pulang ya mah. mamah yang semangat ya... cepat sembuh mah" pamit Khanza kembali salam takzim kepada mama Titin.


" Saya pamit izin pulang duluan pak, maaf saya tidak bisa menemani mamahnya pak Aldy" ucap Khanza menyodorkan tangannya


" Iya" jawab Aldy singkat dan datar


Khanza hanya bisa menghela nafasnya panjang setelah itu pergi keluar ruangan


" Kamu ini kenapa sih Aldy?" sentak mama Titin yang melihat sikap dingin Aldy terhadap Khanza


" Kenapa apanya si mah?" Aldy seperti orang bodoh


" Cepat sana kejar isteri kamu!" titah mama Titin


" Untuk apa mah?"


" Kamu ini_" kesal mama Titin yang tiba-tiba langsung memegang perutnya yang terasa sakit.


" Mah.. mama kenapa?" tanya Aldy panik


" Mama tidak apa-apa, cepat susul istri kamu nak" pinta mama Titin


" Tapi mamah"


" Mamah tidak apa-apa"


Aldy beranjak dari duduknya dan ingin mengejar Khanza namun baru saja berada di ambang pintu tiba-tiba mama Titin berteriak karena sakit yang ia rasakan, Aldy pun langsung menoleh dan betapa terkejutnya Aldy saat melihat mamanya sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2