
Sudah dua Minggu berlalu
Putri sudah mendapat hukuman dari pihak sekolah yaitu di skorsing selama dua pekan itupun karena Zaira mengatakan kalau Putri sempat melarang tindakan Rara dan Angel. Zaira berharap apa yang telah terjadi dengan dirinya sebagai sebuah pelajaran untuk Putri kedepannya jangan sampai berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirinya sendiri bahkan juga keluarganya.
Sama halnya Rara dan Angel, setelah pulang ke rumah yang Rara dan Angel dapatkan justru amarah dari kedua orang tua mereka masing-masing. pasalnya bukan hanya merugikan dirinya sendiri yang pada akhirnya kini mereka berdua sudah dikeluarkan dari sekolah, bahkan kebodohan yang mereka lakukan berimbas pula dengan perekonomian perusahaan kedua orang tua mereka tersebut.
Seperti halnya yang sudah Rara dan Angel perbuat. kejahatan yang mereka lakukan kepada Zaira sangat fatal dan tentu saja hal itu membuat Azka dan papa Samuel sangat murka karena Rara dan Angel sudah berani mengusik menantu kesayangannya. Dengan tanpa belas kasih Sam memutus kerja sama dengan keluarga Rara dan Juga Angel. Sam juga sudah menarik sahamnya dari perusahaan mereka dan jika itu sudah terjadi maka para investor lainnya pun sudah pasti akan menarik semua sahamnya dari perusahaan orang tua Rara dan juga Angel
Perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya mengalami kebangkrutan setelah Sam dan para investor lainnya menarik saham-saham milik mereka.
Orang tua Angel pasrah karena hal tersebut terjadi akibat dari kesalahan putri mereka sendiri. akhirnya Doni papa Angel memutuskan untuk membawa Angel dan keluarganya pindah ke kota S untuk memperbaiki keadaan perekonomian keluarga mereka.Doni sangat tahu telah berhadapan dengan siapa, keluarga Dinata bukanlah keluarga sembarangan jadi Doni pun memutuskan untuk lebih ketat lagi mengawasi pergaulan putrinya. karena dia tidak ingin kesalahan yang putrinya lakukan terulang untuk yang kedua kalinya.
Sementara keluarga Rara, pria paruh baya Tino Sebastian papa Rara merasa sangat geram dia sangat murka dan membenci Rara karena sudah membuat perusahaan yang ia dirikan bertahun-tahun dalam sekejap dihancurkan oleh perbuatan putrinya sendiri.
Tino akhirnya mengusir Rara dari rumah. mama Rara menangis karena putrinya diusir tapi dia pun tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan suaminya tidak bisa lagi diganggu gugat.
Rara merasa sangat geram, didalam hatinya timbul kebencian yang sangat besar terhadap Azka, Lia dan Juga Zaira. Rara tidak menyangka jika keluarga Dinata yang dia tahu adalah keluarga Lia sudah ikut campur sejauh itu hanya karena Zaira adalah sahabat baik putri dari keluarga Dinata tanpa tahu fakta yang sebenarnya kalau Zaira bukan hanya sahabat dari putri dari keluarga Dinata melainkan adalah menantu kesayangan keluarga Dinata.
Zaira saat ini tengah duduk di kantin sekolah bersama kelima Sahabatnya siapa lagi kalau bukan Lia, Mita indah, Mia dan Mona tentunya.
Mereka merasa lega karena Rara dan Angel sudah di keluarkan dari sekolah jadi tidak akan ada lagi yang berani mengganggu mereka apalagi mereka tahu siapa itu keluarga Dinata.
" Za loe yakin udah gak apa-apa?" tanya Mia seraya meminum jus jeruk kesukaannya.
" Gue udah gak apa-apa kok gaes. ini loe liat gue baik-baik aja kan?" Zaira berdiri dan memperlihatkan badannya yang nampak sehat.
" Za loe keliatan gemukan ya sekarang" ucap Mia ceplas-ceplos.
" Ya iyalah gemukan, wajarlah namanya juga bumil" sahut Mona yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zaira.
" Mon kebiasaan loe belum berubah juga sih, kalau ngomong tuh direm Napa sih!" ucap indah menepuk bahu Mona
" sorry, keceplosan" Mona menutup mulutnya sendiri.
" Kebiasaan" sahut Lia ketus.
" Loe kenapa sih Li dari tadi gue perhatiin aneh banget?" tanya Mia sedikit menyelidik.
" Patah hati kali" sahut Indah asal.
" Uhukk.. uhukk.."
Lia yang mendengar ucapan Indah langsung tersedak Salivanya sendiri.
Zaira dengan cepat langsung memberi Lia minum. dan Lia pun langsung meneguk minuman yang diberikan oleh Zaira sampai tinggal setengahnya.
" Loe kenapa sih Li, ada yang loe sembunyiin ya dari kita?" tanya Zaira kali ini dengan menyipitkan matanya.
" Apaan sih, gak ada!" sahut Lia dan kembali meminum minumannya sampai habis.
" Yakin loe gak patah hati?" ucap Mita menunjuk dengan ekor matanya kearah sepasang kekasih yang ternyata baru saja jadian.
" Gue denger mereka udah jadian loh" timpal Indah.
Lia yang merasa penasaran matanya mengikuti arah pandangan Mita dan Indah.
Degg
Hati Lia mencelos, sakit tentu tidak karena mereka memang tidak ada hubungan apa-apa tapi jika dibilang sedih itu sudah pasti. melihat seseorang yang disayangi ternyata sudah ada yang memiliki, terasa waktu seakan-akan berhenti.
Lia tidak ingin rasa sedihnya karena sebuah kesalahan dan kebodohannya sendiri diketahui oleh semua sahabatnya. Lia sebisa mungkin memformalkan rasa sedih yang menyelimuti hatinya. Lia menggeleng dan bersikap biasa saja tetap tersenyum walaupun sedikit dipaksakan.
" Loe cuek gitu Li Mereka udah jadian?" tanya Mona
" Ya emang gue harus ngapain Mona, harus bilang wow gitu atau ngucapin selamat kepada mereka,iya?" sahut Lia masih dengan senyum tipisnya.
" Ya loe gak pingin nyatain perasaan loe sama kak Rangga gitu? ya siapa tahu setelah dia tahu loe suka sama dia kali aja dia lebih memilih loe" ucap Mona
" Ngaco ya loe Mon, bisa-bisanya loe ngomong kayak gitu. loe mau gue jadi pepacor apa?" ketus Lia
" Pepacor?" tanya Zaira memincingkan alisnya
" Pepacor Za masa gak tau" ucap Mita seraya menepuk bahu Zaira dan Zaira menggeleng pelan.
" Pepacor ( Perebut pacar orang) Za" celetuk Indah memberitahu Zaira.
" Kamu mau jadi pepacor Li?" tanya Zaira polos.
" Jangan dengerin ucapan Mona yang gak jelas deh Za. dan ingat Za, loe jangan lupa bilang amit-amit kalau deket-deket Mona" ucap Lia mengingatkan
" Sia*an loe Li!" sarkas Mona yang tidak terima.
Sementara yang lainnya malah tertawa melihat tingkah Lia dan Mona.
__ADS_1
" Boleh duduk!" tanya seseorang yang tiba-tiba datang berdiri tepat di belakang Zaira.
Zaira yang sangat hafal dengan suara bariton yang berada di belakangnya langsung menoleh.
" loh ngapain kesini?" tanya Zaira yang merasa tidak enak jika menjadi pusat perhatian murid-murid yang lain.
Azka tidak menggubris ucapan Zaira dia malah duduk tepat di antara Zaira dan Lia.
" Ngapain sih kesini mau jadi pusat perhatian, noh lihat?" ucap Lia ketus menunjuk ke murid yang lain yang tengah melihat kearah mereka.
" Adik kakak yang cantik kenapa sih ketus gitu ngomongnya?" senggol Azka pada Lia.
" Biasa pak lagi patah hati" celetuk Mona
" Mon loe_" Lia melotot ke arah Mona dan Mona memeletkan lidahnya mengejek.
" Patah hati? memangnya kamu sudah punya pacar?" Azka menautkan alisnya
" Udah deh ah, sana bikin pengeng aja nih kuping". usir Mona ke sang kakak "Mon awas loe ya!" ucap Lia kesal dan memberengut.
" mau ngapain sih kesini tumben banget?" kali ini Zaira yang bicara karena dari tadi sang suami tidak menggubris ucapannya.
Azka menoleh ke Zaira dan tersenyum. " Kangen!" bisiknya.
blusshh
Wajah Zaira merona meskipun sudah sering digombali sang suami tetap saja masih malu-malu.
" Apaan sih!" Zaira yang merasa malu lalu meneguk minumannya menetralisir perasaannya.
" Sudah makan?" tanya Azka penuh perhatian
" Tuh!" tunjuk Zaira pada mangkok yang ada diatas meja
" Kamu makan bakso pedas lagi yang?" tanya Azka pada Zaira
" Jangan panggil gitu nanti ada yang dengar" ucap Zaira mengingatkan." iya sedikit doang kok pedasnya" lanjut Zaira
" yaudah iya, mas kesini karena kamu ditelpon susah banget"
" Iya maaf mas gak dengar di silent" ucap Zaira
" Memangnya ada apa mas?" tanyanya lagi
" yaudah, iya!" sahut Zaira
" Tapi ingat langsung pulang, jangan keluyuran" ucap Azka memperingatkan.
" Iya, bawel" ucap Zaira " tapi mas boleh gak kalau mereka main ke rumah kita?" tanya Zaira
" Aku kesepian kalau dirumah sendirian, mas pasti pulangnya sore kalau gak malam, iya kan?" Zaira memberengut
" Yaudah iya boleh, tapi ingat jangan capek-capek, kamu harus banyak istirahat!" ucap Azka pelan karena letak meja mereka yang juga berada dibelakang jadi ucapan mereka tidak terlalu terdengar dengan yang lain.
" yaudah aku pamit ya!" ucap Azka seraya bangkit dari duduknya
" Hati-hati ya!"
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Selepas pulang sekolah Zaira mengajak teman-temannya ke rumahnya.
Zaira mengajak mereka ke taman belakang. dasar bumil hobinya sekarang makan rujak. seperti saat ini Zaira membawa senampan rujak untuk dirinya dan juga teman-temannya, kali ini dia membuat rujak dengan berbagai macam buah, ada mangga sudah pasti ya itu kesukaan Zaira, jambu air, mentimun, kedondong, pepaya mengkel dan juga bengkuang. semua buah-buahan memang sudah disiapkan oleh Azka untuk Zaira bila sewaktu-waktu ingin makan rujak.
" Wahh, Za begini baru mantap!" ucap Mona melihat bermacam-macam buah yang menggiurkan.
" Iya kalau gue cuma pakai mangga yang ada gue ngerujak sindiran" sahut Zaira yang sedang mencocol sambal rujak.
" Za pak Bagaz emangnya bakal pulang jam berapa?" tanya Mona
" mungkin sore mungkin juga malam" sahut Zaira
" Gak akan pulang malam, tuh!" ucap Lia menunjuk ke arah seseorang yang sedang berjalan dibelakang Zaira dengan beberapa tentengan ditangannya.
Zaira langsung berdiri dan menghampiri Azka.
" Mas, kok tumben sudah pulang?" tanya Zaira seraya mengambil sebagian tentengan yang Azka bawa setelah itu menyalami tangannya.
" Iya kebetulan tadi klien papa tidak jadi datang katanya sih istrinya mengalami kecelakaan jadi pertemuannya di undur." ucap Azka.
" Terus ini apa?" Zaira mengangkat tentengan yang ada di tangannya.
" Itu ada susu hamil dan beberapa cemilan sehat lainnya, buat jaga-jaga jika sewaktu-waktu mommy merasa lapar tengah malam" ucap Azka lalu mengelus perut Zaira penuh cinta.
__ADS_1
" Ekhemm" Lia berdehem
Zaira langsung tersipu malu karena pandangan mata para sahabatnya mengarah ke padanya dan Azka hanya tersenyum tipis lalu menarik pinggang Zaira mengajaknya masuk ke dalam rumah.
" yuk, kamu itu harus banyak istirahat!" ajak Azka
Zaira menoleh ke teman-temannya merasa tidak enak
" Udah Za loe masuk gih, tenang aja ini makhluk-makhluk biar gue yang urus" ucap Lia
" Iya Za loe istrirahat aja!" ucap Mita
" Sorry ya gaess!" ucap Zaira
" Santai Za!" sahut Indah
Zaira dan Azka masuk ke dalam rumah dan mereka berdua langsung menunju lantai dua dimana letak kamarnya berada.
Zaira dan Azka kini sudah berada di dalam kamar, Zaira duduk di sofa dan mengeluarkan isi dari tentengan yang Azka bawa untuk dimasukkan ke dalam lemari es kecil yang ada di dalam kamarnya.
sementara Azka masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah beberapa menit Azka keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan tangan memegang handuk kecil yang digosokkan ke kepalanya.
" Mas, ini banyak banget makanannya aku bisa tambah gendut kalau begini caranya." ucap Zaira
Azka meletakkan handuk kecilnya dan duduk di samping Zaira.
" Mas pakai dulu gih bajunya!" suruh Zaira
" memangnya kenapa, Hem?" tanya Azka
" malu ihhh!" Zaira memalingkan wajahnya
" Malu apa mau?" goda Azka semakin mendekatkan tubuhnya ke Zaira.
" Mas sana ih!" Zaira mendorong bahu Azka yang menempel padanya
" Sudah sini mas aja yang masukin, kamu istirahat aja gih!" pinta Azka
" Mas pakai bajunya dulu!" ucap Azka
" Iya.. iya.. !" ucap Azka lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari pakaiannya.
Zaira tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Azka menghampiri Zaira setelah memakai pakaiannya dan tersenyum. Azka berjongkok di depan Zaira lalu mendekatkan wajahnya ke perut Zaira. Azka menaikkan baju Zaira hingga terlihat kulit putih nan mulus. Azka lalu mendaratkan kecupan disana, dielusnya lalu dikecupnya berulang kali.
" Anak Dedy apa kabarnya, baik-baik ya di dalam perut mommy. jangan rewel ya!" ucap Azka penuh kasih sayang.
Zaira mengelus kepala Azka lalu tersenyum mendengar ucapan dari sang calon dedy dari bayi yang dikandungnya.
" Anak dedy mau dijengukin, iya. bilang ya sama mommy jangan nolak Dedy ya yang mau jengukin kamu gitu ya!" ucap Azka membuat Zaira langsung mencubit gemas pipi Azka.
" Itu sih modus dedynya" ucap Zaira tertawa kecil
" Boleh ya?" rengek Azka
" Gak " tolak Zaira menggeleng
" Boleh ya please!" mohon Azka
Zaira menggeleng lagi " enggak" .
" Boleh dong, Deddy kan kangen sama dedek bayi" ucap Azka memelas
" Malu ih mas, di bawahkan masih ada teman-teman aku, mereka murid-murid kamu loh, gak malu emangnya kalau tahu gurunya yang tampan ini mesum " ucap Zaira menolak secara halus.
" Kenapa harus malu, mesum juga sama isteri sendiri" jawab Azka yang sudah membenamkan wajahnya diperut Zaira
" Ih mas geli" Zaira mendorong bahu Azka pelan sambil tertawa
" sebentar saja deh sayang!" rengek Azka seperti anak kecil yang minta dibelikan permen
" mas!" Zaira menggeleng lagi
" Ayo dong sayang, sebentar saja. pelan-pelan kok" rajuknya lagi.
Karena kasihan melihat Azka yang terus meminta haknya, akhirnya Zaira pun mengangguk pelan.
" Boleh?" tanya Azka lagi untuk memastikan dan Zaira tersenyum lalu mengangguk lagi.
Azka tersenyum lalu berdiri dan dengan cepat mengangkat tubuh mungil Zaira ke udara membawa Zaira ke tempat tidur.
__ADS_1
Akhirnya bukannya istrirahat, Zaira justru dibuat lelah oleh pak suami dan terjadilah olahraga panas disore hari.