Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Ungkapan


__ADS_3

Acara tahlilan 40 hari bunda Aryani berjalan dengan lancar, jamaah yang hadir pun cukup banyak untung saja persiapan makanan mencukupi bahkan lebih.


Zaira bernapas lega karena acara berjalan dengan lancar dan khidmat. Makanan yang lebih dibagikan kepada tetangga terdekat Mita, Indah dan yang lainnya membantu Zaira membagi-bagikannya.


" Hufhh!" Mona menghela napasnya karena merasa lelah duduk selonjoran kaki


" Kenapa loe Mon?" tanya Indah yang mendudukan dirinya di samping Mona


" Capek gue!" sahut Mona


" Kalau bantu itu yang ikhlas gak pakai ngeluh" bukan indah yang menanggainya, melainkan Yoga yang baru pulang mengantarkan pak ustadz karena jemputan pak ustadz tidak bisa datang dikarenakan mobilnya mogok.


" Gue iklhas, enak aja gak. itukan Indah nanya ya gue jawab capek!' protes Mona gak terima


" Sayang kamu capek ya?" tanya Arta yang saat Mita menghampiri selesai membagikan besek ketetangga.


" Capek sedikit tapi gak apa-apa aku senang kok bisa bantu-bantu" sahut Mita


" ini minum dulu!" Arta menyodorkan segelas minuman dingin untuk Mita


" Duh so sweet banget sih kalian berdua, gak kayak yang ini orang capek bukan dikasih minum malah diceramahin!" cerocos Mona


" Ada yang iri rupanya" Indah ikut menimpali


" Gue gak iri cuma kesel" sahut Mona


" Pada bahas apaan sih?" tanya Mita yang kurang paham


" Itu tadi Mona ngeluh capek tapi Yoga malah meledeknya. ngambek deh tuh Mona" sahut Mia.


" Tumben banget loe baperan?" ucap Mita


" Siapa yang baperan?" tanya Zaira yang tiba-tiba muncul bersama Azka


" Itu si Mona" sahut Indah


" Bohong Za, biasa aja gue" protes Mona


"Terima kasih ya semuanya sudah banyak banget ngebantu acara ini, Kalau gak ada kalian gak tau deh bagaimana jadinya" ucap Zaira


" Terima kasih atas bantuan kalian semua ya, acara berjalan lancar tidak lebih dari bantuan kalian semua, sekali lagi terima kasih" Azka menambahi


" Sama-sama Za, pak Bagaz. justru kita senang bisa membantu" ucap Mita


" Betul itu, kita senang bisa ikut partisipasi dalam acara ini" timpal Arta


" Alhamdulillah ya acaranya berjalan lancar, walaupun awalnya sedikit cemas karena gak nyangka aja yang datang banyak" Ucap Mona


"Iya Mon, gue juga sempat deg degan, dan Alhamdulillah bukan cuma cukup tapi lebih" sahut Mia


" Ekhemm!" suara deheman dari arah belakang mereka membuat semuanya menoleh.


" Maaf, bisa bicara dengan Alza?" ucap pak Aldy terang-terangan


Azka mengerutkan keningnya saat mendengar nama Alza, sementara Zaira sendiri bingung ditengah kondisi seperti itu.


" Mau bicara apa ya pak, sebaiknya bicara disini saja pak!" ucap Zaira takut Azka marah.


"Ada yang saya ingin bicarakan berdua sama kamu" ucap pak Aldy


Zaira menoleh ke arah Azka takut jika suaminya itu marah dan salah paham. Azka mengangguk pelan untuk memberi kesempatan pak Aldy berbicara dengan Zaira dan dia berusaha untuk percaya dengan Zaira.


" Ya sudah kalau begitu kita bicara disana saja!" tunjuk Zaira ke tempat yang sedikit menjauh dari yang lain.


" Bapak mau bicara apa?" tanya Zaira langsung pada intinya


" Emmmm.... saya turut berdukacita ya Alza, maaf karena saya baru sempat datang ke rumah kamu!" ucapnya


" Maaf pak jangan panggil saya Alza saya lebih suka dipanggil Za seperti yang lainnya!" ucap Zaira yang tidak suka pak Aldy memanggilnya Alza


" Tapi nama itu juga bagus dan cocok buat kamu, anggap saja nama Alza itu panggilan special dari saya" Ucap pak Aldy seraya tertawa.


" Terus yang mau pak Aldy bicarakan apa?" tanya Zaira lagi karena Pak Aldy belum menjawab pertanyaannya.


" Emmm... Sekarang kamu tinggal dengan siapa?" tanya pak Aldy membuat Zaira mengerutkan keningnya


" Maaf sebelumnya, maksud pak Aldy bertanya seperti itu apa ya?" Zaira bukan menjawab malah balik bertanya


" Seperti yang saya tahu kalau kamu ini sekarang sudah menjadi yatim piatu dan kamu tidak memiliki saudara lain karena paman kamu yang berada di kota x juga sudah meninggal sehari setelah kepergian bunda kamu" jawab pak Aldy dan membuat Zaira begitu terkejut.


" Mak... maksud bapak apa ya, paman siapa yang pak Aldy maksud?" tanya Zaira yang tiba-tiba menjadi gugup


" Paman kamu Doni"


Deg


Zaira termangku mendengar nama pamannya Doni, Zaira tidak tahu sama sekali perihal meninggalnya paman Doni. Air mata Zaira menetes begitu saja, Zaira memang jarang bertemu dengan pamannya karena Zaira memang hanya sesekali pergi ke kota x itupun sewaktu masih kecil, dan setiap kali pamannya datang menemui ayahnya semasa hidup, pamannya selalu membawakan oleh-oleh untuk Zaira.


Azka yang sedari tadi pandangannya tertuju pada Zaira nampak terkejut saat melihat Zaira menangis. Dan semakin menguatkan kepalan tangannya saat netranya menangkap pemandangan laki-laki yang berstatus guru matematika itu hendak merangkul Zaira dan membawanya ke dalam pelukannya namun dengan refleks Zaira menepisnya kasar.


"Za, maafkan saya jika yang saya katakan sudah membuat kamu sedih, saya tidak bermaksud untuk_" tangan pak Aldy berusaha untuk menyentuh bahu Zaira berniat menenangkannya namun Zaira dengan cepat langsung mundur.


"Apa maksud pak Aldy sebenarnya mengatakan semua ini sama saya, dan bagaimana bapak tahu kalau paman saya sudah meninggal,?"


" Karena saya putranya" jawab pak Aldy

__ADS_1


Jlepp


Zaira menautkan kedua alisnya "Putra paman Doni?" pak Aldy mengangguk


" Paman Doni setahu saya tidak mempunyai anak" jawab Zaira. karena setahu Zaira pamannya itu menikah dan belum mempunyai anak.


"Aku anak dari isterinya papa!" jawab pak Aldy yang tahu akan kebingungan Zaira.


" Papa menikah dengan ibuku yang berstatus janda anak dua, aku anak pertamanya dan Toni adikku. meskipun papa bukan orang tua kandungku tapi dia selalu memperlakukan aku seperti anaknya sendiri." tutur pak Aldy


" Tidak mungkin bapak mungkin salah orang" Zaira hendak pergi namun tangannya dicekal


" Papa sangat menyayangi kamu aku tahu itu, mendengar bunda kamu meninggal papa terkejut dan terkena serangan jantung lalu meninggal" ucapnya


"Bohong bapak pasti bohong" Zaira dengan kasar menghempaskan tangan pak Aldy kasar


" Aku tidak bohong, aku datang kesini justru ingin kau tinggal bersamaku karena hanya aku keluarga mu yang masih ada" ucapnya penuh percaya diri


Zaira tersenyum getir bisa-bisanya guru dihadapannya itu berbicara seenak jidatnya.


" Apa bapak sadar dengan ucapan yang barusan bapak katakan?" tanya Zaira dengan senyum kecutnya


" Alza, aku tahu kita tidak ada hubungan darah. aku hanya ingin menjaga dan melindungi mu menggantikan orangtuamu dan juga papa" ucapnya dengan penuh harap


Zaira semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran gurunya yang satu ini. dengan percaya dirinya dia ingin mengajak Zaira tinggal bersama tanpa mencari terlebih dahulu kehidupan Zaira yang sebenarnya.


" Maaf pak saya harus pergi, saya rasa pembicaraan ini cukup sampai di sini. saya permisi!" ucap Zaira berlalu pergi


" Alza tunggu dulu!" ucap pak Aldy ingin menghentikan langkah Zaira namun Azka keburu datang dan langsung merangkul pinggang isterinya posesif.


" Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Azka dan Zaira menggeleng tersenyum tipis


" Kita menginap atau mau pulang. yang lain mencari mu mereka mau pamit pulang" tutur Azka


" Pulang saja ya mas!"


" Baiklah!" Azka mengusap lembut pucuk kepala Zaira.


Dan semua perlakuan lembut Azka terhadap Zaira tidak lepas dari tatapan tajam pak Aldy yang masih berdiri mematung di tempatnya.


Azka dan Zaira masuk ke dalam kamar setelah para sahabatnya berpamitan.


Pak Aldy pun sudah pulang setelah Zaira dan Azka masuk ke dalam rumah.


Diperjalanan pulang Zaira hanya diam saja tidak banyak bicara.


" Kamu kenapa sih dari tadi diam aja?" tanya Azka yang merasa khawatir dengan keadaan Zaira


" Tidak ada apa-apa mas" sahut Zaira dengan pandangan lurus ke depan


" Apa yang dikatakan pak Aldy sama kamu? mas yakin kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja" ucap Azka terdengar dingin


" Mas sebenarnya apa yang terjadi dengan bunda?" tanya Zaira pelan


Deg


Azka langsung mengerem mendadak untung saja mobil tidak dalam keadaan cepat.


Zaira memang belum tahu mengenai penyebab bundanya meninggal, dia hanya berpikir bundanya terkena serangan jantung atau yang lainnya tidak terpikir kalau bundanya meninggal karena dibunuh oleh adik kakak iparnya sendiri. Azka dan papa Sam sengaja tidak menceritakan hal yang sebenarnya kepada Zaira karena mereka takut kondisi mental Zaira akan terganggu jika mengetahui perbuatan jahat bibinya sendiri. dan mengenai paman Sam yang meninggal sehari setelah kepergian bunda Aryani papa Sam pun tidak memberitahu Zaira.


Azka duduk menghadap Zaira dengan tatapan sendu "Sayang jangan ungkit tentang kepergian bunda lagi ya, bunda sudah tenang disana "


" Tapi apa sebenarnya yang terjadi dengan bunda mas, kenapa bunda meninggal begitu mendadak dan paman Doni_?" Zaira tidak kuasa menahan tangisnya.


Bi Ningsih yang berada di bangku belakang bersama baby Zia yang tengah tertidur hanya diam menatap iba kepada Zaira.


Jlepp


Azka tidak kuasa melihat Zaira yang nampak kembali terpukul " Apa dia yang memberitahu mu tentang pamanmu ?" tanya Azka


" Iya mas, ternyata pak Aldy adalah putra dari isterinya paman Doni"


" Apa? jadi dia putra dari wanita itu?" Azka tidak bisa mengendalikan emosinya saat teringat kembali dengan wanita yang sudah menghancurkan kebahagiaan isterinya.


" Wanita itu? maksud mas apa?" tanya Zaira bingung


" Tidak apa-apa sayang, maksud mas wanita itu ya bibi mu" Azka berusaha bersikap tenang


" Mas tidak menyangka saja kalau guru itu adalah sepupumu"


" Bukan sepupuku mas, karena dia bukan anak paman Doni"


" Iya kau benar!"


" Dan mulai sekarang sebaiknya kamu jaga jarak dengan dia, mas takut dia akan bersikap nekat seperti mamanya" ucap Azka yang keceplosan


" Seperti mamanya? apa mas kenal dekat dengan bi Titin?" tanya Zaira penuh selidik


" Ah tidak , mas hanya tau sedikit saja tentang bibimu itu yang terlalu gila harta menghalalkan segala cara.


Flashback on


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Bunda Aryani yang ingin beristirahat merasa terganggu dengan ketukan pintu yang diketuk begitu keras seperti orang yang tidak punya etika.


Ceklekk


Bunda Aryani membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat seorang wanita paruh baya bersama seorang pemuda tengah berdiri di depan pintu.


" Mbak Titin, ada apa ya datang mencariku?" tanya bunda dengan ramah.


" Cih, jangan berlaga bodoh dan pura-pura tidak tahu apa-apa" sarkas Titin yang langsung menerobos masuk ke dalam kamar hotel bunda Aryani diikuti oleh Toni.


" Mba Tini mau apa?"


" Aku mau kamu menolak pengembalian perusahaan mas Doni!"


Deg


" Apa maksud mba?"


" Kau jangan berlaga bodoh, aku tahu kau datang ke kota ini karena ingin mengambil alih perusahaan mas Doni iyakan?"


" Mba, saya hanya ingin mengurus perusahaan yang dimiliki mas Hendra bukan milik mas Doni"


" Perusahaan Hendra tidak akan seperti sekarang jika tidak ada suamiku yang sudah bekerja keras untuk mengembangkannya." sentaknya


" Tapi mbak, mas Doni sendiri yang dulu menawarkan diri untuk membantu mengelola perusahaan mas Hendra"


" Ya karena dia tidak tega melihat mu sengsara, dia itu laki-laki bodoh, setelah perusahaan Hendra berkembang pesat dengan santainya dia ingin mengembalikannya kepada mu, kau pikir bisa semudah itu?"


" Maksud mba apa ya!"


" Aku tidak akan membiarkan perusahaan itu jatuh ketanganmu wanita sialan!" makinya


" Mba" Bunda Aryani sudah menitikkan airmatanya.


" Kau harus mati Aryani" ucap Tini tertawa jahat


" Toni, kerjakan!"


" Baik mah!" ucap Toni yang berjalan semakin mendekat ke arah bunda Aryani.


" Kamu mau apa, jangan mendekat!" teriak bunda Aryani panik.


" Aku akan mempertemukan mu dengan om Hendra" Toni menyeringai jahat


" Jangan lakukan ini aku mohon" bunda Aryani memelas.


" Kita bisa bicarakan ini baik-baik, jika memang kamu ingin perusahaan itu akan aku berikan tapi aku mohon bebaskan aku" ucap bunda Aryani yang sudah sangat tegang.


" Kau pikir bisa semudah itu, hah?"


Deg


Degup jantung bunda Aryani berdetak dengan cepat saat Titin melangkah semakin mendekat.


" Aku mohon jangan lakukan ini padaku, jika kamu ingin uang dan perusahaan silahkan ambil tapi aku mohon jangan sakiti aku, kasihan Zaira putriku jika kau membunuhku "


" Apa peduliku, kau sudah merusak rencana ku dan kau juga yang sudah menghancurkan impianku selama ini hah!" ucap Titin berteriak


" Impianmu, apa maksudmu?" tanya bunda Aryani


" Ha.. ha... " Titin tertawa terbahak-bahak lalu menyeringai jahat


" Kau sudah merebut Hendra dari ku wanita si**n!" teriak Titin seraya menyerang bunda Aryani yang tiba-tiba dikejutkan dengan rasa sakit yang teramat sangat pada bagian perutnya. dan seketika memori tentang kebersamaan dirinya dengan Zaira dan juga almarhum suaminya melintas seperti roll film yang tengah diputar.


" Aaa...., kau !" pikik bunda Aryani


Dan dengan santainya Titin langsung menarik pisau buah yang dipegangnya.


" Mah, mamah be... beneran me..me.. melakukannya mah!" tubuh Toni bergetar hebat awalnya dia hanya berencana menggertak saja dan tidak ada niat untuk menghabisi bunda Aryani namun diluar dugaannya mamanya selain ingin menguasai harta bunda Aryani dia juga memiliki dendam yang sangat besar terhadap bunda Aryani.


" Kita harus pergi sekarang, siapkan semuanya kita akan berangkat ke luar negeri" ucap Titin santai


" Ta ...tapi mah in.. ini... " Toni sudah berkeringat dingin melihat apa yang sudah terjadi dihadapannya.


Toni memang pengangguran dan hobinya keluar masuk club tapi untuk masalah kejahatan dia Juga masih merasa takut dengan polisi


Toni dan Titin dengan cepat melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan kamar bunda Aryani begitu saja.


Tapi belum sempat mereka pergi polisi sudah lebih dulu membekuknya.


Flashback off


" Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. bunda sudah tenang disana" Azka mengusap air mata Zaira dengan lembut.


" Lalu bagaimana dengan paman Doni?" tanya Zaira membuat Azka menghela napasnya berat


" Sayang, sudah ya jangan bahas masalah itu lagi, masalah pamanmu biar mas cari tahu dulu kebenarannya" tutur Azka mengacak-acak rambut Zaira


" Kita pulang jadi bersiaplah!" ucap Azka


Zaira hanya bisa pasrah dan berusaha untuk tersenyum.


Azka pun melajukan kembali mobilnya dan menuju pulang ke rumah mereka. Azka melirik kebelakang ternyata bi Ningsih dan baby sudah tertidur.

__ADS_1


Azka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang Zaira pun yang merasa lelah akhirnya tertidur juga.


Azka hanya tersenyum tipis melihat wajah polos sang isteri yang tengah tertidur pulas.


__ADS_2