Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Roni langsung menggendong Miska dan membawanya ke ruang UGD sesuai dengan arahan salah seorang suster yang mendampinginya.


" Sebaiknya mas nya keluar dulu ya, biar mbanya diperiksa dokter" ucap suster tersebut setelah Roni meletakkan Miska di atas brankar


" Tapi_!"


" Silahkan tunggu diluar dulu ya !" ucap dokter yang menangani Miska


Roni keluar dari ruangan dengan langkah gontai lalu bersandar di dinding


" Loe yang tenang ya, semoga Miska enggak kenapa-kenapa!" ucap Billy menepuk bahu Roni


" Gue takut dia dan kandungannya kenapa-napa Bill" Roni memberingsut ke lantai


" Loe yang sabar Ron, gue yakin Miska itu ibu yang kuat" Roni mengangguk


Billy tertegun melihat perubahan pada Roni, dia berubah menjadi sosok laki-laki yang rapuh ketika belahan jiwanya berada dalam bahaya, Billy tidak pernah melihat sisi Roni yang lemah seperti saat ini, bahkan tanpa malu matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.


" Loe memang pantas Ron mendampingi Miska" batin Billy


Ceklek


Pintu ruangan terbuka dengan cepat Roni beranjak berdiri dan langsung menghampiri dokter yang keluar dari ruangan tersebut


" Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Roni dibalik kekhawatirannya


" Kamu ini_?" dokter menggantung kata-katanya


" Iya dokter, saya suaminya" jawab Roni tegas


" Suami?" beo sang dokter nampak terkejut


" Bukankah kalian masih sekolah?" tanya dokter yang bernama dokter Nuri


Salah seorang dokter yang melintas dan melihat pemandangan yang membuat dahinya berkerut menghampirinya.


" Ada apa dokter Nuri?" tanya dokter Dinda yang kebetulan lewat


" Dokter Dinda!" sapa Roni saat melihat dokter yang datang menghampirinya


" Roni" dokter Dinda terkejut melihat Roni berada di depan ruang UGD


" siapa yang sakit?" tanya dokter Dinda


" Miska dok, dia pingsan terkena lemparan bola" jawab Roni


" Oh ya ampun, lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Roni menggeleng


" Belum tahu dok" jawab Roni seraya menoleh ke arah dokter Nuri


" Kalian sudah saling kenal?" tanya dokter Nuri yang melihat keduanya nampak akrab


" Iya, kami memang sudah saling kenal. Bagaimana keadaan pasien dokter Nuri apa ada yang membahayakan?" tanya dokter Dinda yang juga ikut khawatir


" Alhamdulillah, tidak ada dokter, Pasien hanya mengalami syok saja. apa pasien di dalam itu salah satu pasien dokter Dinda?" tanya dokter Nuri


Dokter Dinda tersenyum " Iya, dan jangan berpikir Negatif dulu dokter, mereka sudah menikah sebelum gadis itu hamil" sahut dokter Dinda yang tahu akan pikiran negatif pada pasangan tersebut


" Dokter Dinda tahu?" tanya dokter Nuri


" Tentu saja dokter, Miska adalah pasien saya jadi kurang lebihnya saya tahu tentang pasien saya sendiri" jawab dokter Dinda


" Apa saya boleh menemuinya dokter?" tanya Roni


" Boleh, silahkan!" Roni langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan menghampirinya.


" Sayang!" panggil Roni saat Miska hendak turun dari brankar


Miska bergeming dan tidak menghiraukan panggilan Roni


" Sayang, kamu mau kemana?" tanya Roni yang langsung mencegah pergerakan Miska yang hendak turun


" Lepas!" sentak Miska kasar membuat Roni tertegun


" Kamu kenapa sayang?" tanya Roni yang nampak bingung dengan sikap jutek Miska


" Apa pedulimu!" Miska sudah turun dari ranjang dan ingin berjalan keluar


" Apa maksudmu, jelas aku peduli kamu itu isteriku" tegas Roni


" Bukankah hari ini kau terus mendiami aku dan mengacuhkan ku. lalu untuk apa kamu peduli?" ketus Miska


" Sayang, jangan seperti ini, iya aku minta maaf tapi aku mohon sekarang istirahat lah dulu!" pinta Roni


" Aku mau pulang, aku bosan selalu saja masuk rumah sakit" sahut Miska


" Oke, kita pulang tapi sebelum itu kita temui dokter Dinda dulu oke, kita periksakan kondisi kandungan mu dulu" ucap Roni


" Aku mau pulang?"kekeh Miska


" Kita pulang setelah memeriksa kondisi kandungan mu terlebih dulu, aku tidak mau mengambil resiko. karena yang terpenting saat ini adalah kesehatan kamu dan juga bayi didalam kandunganmu" tegas Roni tidak mau dibantah


Roni memapah Miska yang masih bersikap dingin untuk menemui dokter Dinda sebelum pulang.


" Dokter maaf, isteri saya minta pulang apa tidak apa-apa dokter?" tanya Roni pada dokter Nuri


Dokter Nuri geli sendiri melihat pasangan suami istri tapi masih mengunakan seragam sekolah.


" Untuk lebih jelasnya sebaiknya kalian konsultasi kan dulu pada dokter Dinda, dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar terhindar dari resiko yang membahayakan ibu dan bayinya" jawab dokter Nuri

__ADS_1


" Baiklah dokter, terima kasih!"


" Sama-sama, kalian bisa langsung menemui dokter Dinda bilang saja atas rujukan dokter Nuri!" Roni mengangguk mengerti


" Baik dokter, kalau begitu kami pamit permisi!" ucap Roni


" Terima kasih dokter!" ucap Miska


" Sama-sama dek Miska!" dokter Nuri tersenyum ramah


" Semoga ibu dan bayinya sehat ya!"


" Amin, terima kasih dokter" jawab Miska


Dokter Nuri mengangguk pelan dan tersenyum ramah


Roni dan Miska pun melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Miska nampak terkejut saat membuka pintu dan ingin ke ruangan dokter Dinda yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruang UGD.


" Loe_?" Miska menatap Billy dengan banyak pertanyaan di pikirannya


" Udah jangan mikir yang macam-macam sayang, Billy sudah tahu status kita bahkan dia juga tahu kalau kamu sekarang sedang mengandung benihku!" ucap Roni bangga


" Tenang Ka rahasia loe aman sama gue!" ucap Billy tersenyum


" Bill, gue ke ruangan dokter Dinda dulu ya!" pamit Roni sementara Miska kembali diam


" Iya, gue tunggu di kantin aja ya, lapar. kalau udah selesai loe telpon gue aja!" ucap Billy


" Oke, makasih ya Bill"


" Santai aja, yang terpenting sekarang jaga kesehatan sahabat gue dan juga calon keponakan gue baik-baik !" pesan Billy


Roni mengangguk dan Miska tersenyum pada Billy membuat Roni memutar bola matanya jengah


" Udah senyumnya, jangan banyak-banyak!" protes Roni setelah Billy sudah tidak nampak


" Apaan si, gak jelas!" kesal Miska yang langsung berjalan mendahului Roni menuju ruangan dokter Dinda


" Kamu udah dong marahnya!" bujuk Roni sambil melangkah disamping Miska


" Tau ah, udah sana jangan dekat-dekat aku, bukannya kamu dari tadi sengaja ngejauhin aku dan nyuekin aku" sindir Miska ketus


" Bukan aku sengaja sayang, aku cuma enggak suka aja kalau kamu itu dekat-dekat sama Nicko, karena aku tahu dia itu menaruh perasaan sama kamu" jujur Roni


" Ya biarin aja yang penting aku nya kan enggak" Miska berhenti saat sudah berada di depan pintu ruangan dokter Dinda


" Udah jangan bahas apapun, cukup oke!" tegas Miska saat Roni hendak bicara lagi


" Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan dokter Dinda


" Sebentar ya dek, maaf kalau boleh tahu atas nama siapa ya?" tanya suster ramah


" Miska sus!" jawab Miska menyebutkan namanya sendiri


" Baik, kalau begitu silahkan tunggu dulu sebentar ya!" ucap suster yang langsung masuk ke ruangan dokter Dinda beberapa menit kemudian suster tersebut kembali membuka pintu ruangan.


" Silahkan masuk, dokter Dinda sudah menunggu!" ucap suster tersebut lalu pamit undur diri.


Roni dan Miska langsung masuk ke dalam ruangan dokter Dinda.


" Selamat siang dokter!" sapa Miska pada dokter Dinda


" Siang, silahkan duduk !" dokter Dinda tersenyum


" Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Dinda ramah


" Begini dokter, isteri saya ngotot ingin pulang tapi saya khawatir dengan kondisinya saat ini dokter dan dokter Nuri juga menyarankan agar Miska diperiksa terlebih dahulu sebelum pulang!" ucap Roni menjelaskan


Dokter Dinda mengangguk dan mengerti akan kecemasan Roni terhadap Miska


" Apa tidak sebaiknya Miska kamu menginap sehari disini untuk memantau kondisi kesehatan kamu!" saran dokter Dinda


" Tidak dok, saya bosan kalau harus menginap terus di rumah sakit, sesekali di hotel ke dok, bukannya di rumah sakit terus!" ungkap Miska apa adanya


Dokter Dinda terkekeh mendengar jawaban Miska, " Kamu ini ada-ada saja, kalau enggak mau masuk rumah sakit terus makanya jaga kondisi kesehatan!"


" Sudah dokter, tapi bolanya aja yang enggak punya mata main nubruk aja, kan sakit!" keluh Miska membuat dokter Dinda tidak bisa menahan tawanya


" Kamu ini ada-ada aja, ya udah ayok kita periksa dulu!" ucap dokter Dinda


Setelah melakukan pemeriksaan melalui USG Roni tidak bisa menahan rasa harunya setelah dokter Dinda memperlihatkan calon bayi mereka melalui layar monitor .


" Loh dari tadi kok calon ayah diam aja?" goda dokter Dinda yang tahu kalau Roni pasti sangat terharu setelah melihat calon bayinya, dokter Dinda sudah hafal bagaimana reaksi calon ayah yang melihat kondisi calon bayi mereka melalui layar monitor.


Miska menoleh ke arah Roni dan mendapatkan Roni yang buru-buru menghapus cairan bening yang tiba-tiba meluncur begitu saja


" Roni kamu menangis?" tanya Miska saat Roni memalingkan wajahnya


" Si.. siapa yang menangis" bantah Roni


Miska mengulum senyumnya, tidak menyangka Roni sampai menangis seperti itu.


Roni berusaha untuk mengendalikan dirinya dan bersikap setenang mungkin


" Dokter bagaimana kondisinya?" tanya Roni mengalihkan pandangannya dari tatapan Miska


" Alhamdulillah, kondisinya semua baik, tapi tetap harus dijaga pola makan, tidur yang cukup jangan terlalu banyak aktivitas dan juga jangan terlalu banyak pikiran!" pesan dokter Dinda

__ADS_1


" Syukurlah kalau kondisinya baik-baik saja dokter" Roni nampak lega


" Saya akan berusaha menjaganya dokter" lanjutnya


" Itu bagus!" timpal dokter Dinda


Setelah berkonsultasi berbagai hal dengan dokter Dinda sepasang suami isteri itu pun pamit pulang, karena Miska pun memang sudah di izinkan pulang tapi harus kembali kontrol Minggu depan.


Roni sudah memesan taksi online karena takut menunggu terlalu lama Roni menyuruh Billy kembali ke sekolah dan meminta tolong kepadanya untuk membawa tas Miska dan tasnya ke bengkel Lukman.


" Billy mana?" tanya Miska


" Sudah aku suruh kembali ke sekolah" jawab Roni sambil menatap ke layar ponselnya


" Lalu kita pulang naik apa?" tanya Miska


" Naik taksi online, aku sudah memesannya sebentar lagi akan sampai, kamu tunggu aja disini, nanti kalau sudah datang aku panggil" Roni menyuruh Miska duduk di bangku tunggu yang ada di depan rumah sakit tersebut


Tidak berapa lama taksi yang dipesan pun datang, Roni menghampiri Miska lalu menggandeng tangan berjalan menuju taksi yang sudah menunggu di depan rumah sakit


" Kita ke bengkel Lukman dulu ya sebentar!" ucap Roni saat keduanya sudah berada di dalam taksi


" Untuk apa ke sana?" tanya Miska mengerutkan keningnya


" Mengambil tas kita" jawab Roni membuat Miska bertambah bingung


" Tas?"


" Iya, tadi aku meminta tolong Billy untuk mengantarkan tas kita ke bengkel Lukman, karena Billy tidak tahu rumah kita jadi aku memintanya mengantarnya ke sana" jawab Roni dan Miska mengangguk mengerti


Setelah 20 menit perjalanan akhirnya taksi yang mereka tumpangi sampai di depan bengkel milik Lukman


" Mau ikut turun atau tetap di sini?" tanya Roni sebelum membuka pintu taksi yang mereka tumpangi


" Tunggu di sini aja, tapi kamu jangan lama-lama!" pinta Miska


" Iya cuma sebentar aja kok!" ucap Roni sebelum turun dari dalam mobil dan meninggalkan Miska disana


Roni langsung bergegas masuk ke dalam bengkel Lukman menuju ruangannya.


Ceklek


Pintu ruangan tersebut di buka oleh Roni dan nampaklah laki-laki yang sedang sibuk dengan laptopnya karena beberapa hari ini disibukkan dengan pekerjaan yang seharusnya Roni kerjakan


" Assalamualaikum!" ucap Roni membuat Lukman terkesiap dan lepas dari kesibukannya


" Aduh bro dari mana aja loe, udah berapa hari gak muncul!" Lukman berdiri dan langsung menghampiri Roni


" Sorry, karena gue gak bisa masuk kerja loe jadi sibuk banget ya!" ucap Roni tak enak hati


" Gak masalah, gue masih bisa atasi apalagi loe juga kan masih bisa kerja di rumah, segitu juga udah cukup membantu pekerjaan gue" ucap Lukman


" Tapi, beneran loe itu udah nikah dan isteri loe saat ini sedang hamil?" tanya Lukman yang masih tetap tidak percaya


" Iya, karena itu gue enggak bisa lama-lama gue mau mengambil tas yang tadi di titip sama Billy" ucap Roni yang langsung mengambil tasnya dan tas Miska yang ada di atas meja kerjanya.


" Jadi loe serius, gak bercanda?" Tanya Lukman


" Buat apa gue bercanda" Roni berjalan ke arah pintu


" Thanks ya, sorry gak bisa lama isteri gue lagi nunggu di taksi!" pamit Roni


" Loe ke sini sama isteri loe?" tanya Lukman


" Iya, tadi habis dari rumah sakit langsung ke sini"


" Ya udah ayok, gue penasaran pingin kenalan sama cewek yang luar biasa udah bisa bikin temen gue ini insyaf" ucap Lukman seraya merangkul bahu Roni


" Boleh, tapi ingat ya di larang keras jatuh cinta!" peringatan Roni membuat Lukman tertawa


" Santai bro, tenang aja gue enggak bakalan nikung temen sendiri apalagi udah sah jadi isteri loe, bisa di penggal gue sama nyokap gue kalau jadi pebinor" sahut Lukman seraya tertawa


" Syukurlah kalau loe sadar diri" Roni tergelak


" Si*LaN loe!" Lukman pun ikut tergelak


Roni dan Lukman berjalan beriringan menuju taksi yang terparkir di depan bengkel.


Setelah sampai tepat di depan taksi tersebut, Roni membuka pintunya dan nampaklah gadis cantik yang sedang bersedekap tangan didada dengan wajah yang kurang bersahabat.


Roni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya menyengir


" Sebentar ya?" ketus Miska


" Maaf sayang, tadi Lukman banyak tanya jadi kelamaan deh" sahut Roni dengan rasa sedikit bersalah


" Terus mau nunggu apalagi? ayok cepat kita pulang!" Sentak Miska membuat Lukman yang berdiri di belakang Roni menahan tawanya


" Pantas aja Roni bertekuk lutut dan nurut ceweknya galak gitu!" batin Lukman


" Tapi sayang, Lukman ingin kenalan sama kamu, bisa kan turun sebentar aja, ya!" pinta Roni


Miska menghela napasnya panjang, mau tidak mau Miska pun keluar dari mobil


" Lukman ini kenalin isteri gue, Miska!" ucap Roni memperkenalkan Miska pada sahabatnya


Lukman yang berdiri menyamping menoleh dan betapa terkejutnya Lukman melihat gadis yang berdiri di hadapannya saat ini.


Deg

__ADS_1


__ADS_2