
Pagi ini Zaira sudah rapih dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Zaira menghampiri pak suami yang tengah berdiri memandang sang isteri yang nampak lebih berisi dan lebih cantik.
" Sayang kamu kok semakin hari semakin cantik aja sih?" goda Azka saat Zaira tengah berada di hadapannya.
" Bisa aja ngegombalnya!" ucap Zaira seraya mencubit pinggang Azka.
" Aww sakit yang, kok nyubit sih?" Azka mengusap perutnya yang dicubit Zaira.
" Gombal terus" ucap Zaira bergelayut di lengan Azka dan keduanya pun terkekeh
" Yang, nanti siang selepas pulang sekolah kita periksa kandungan kamu ya yang" ajak Azka
" Owh iya yang aku lupa kalau hari ini jadwal kontral dedek bayi" ucap Zaira yang langsung mengelus perutnya yang nampak sudah membuncit. tapi karena Zaira memakai seragam sekolah yang sedikit besar jadi perut buncit Zaira tidak terlalu ketara.
Azka hanya tersenyum lalu mengusap kepala Zaira dengan lembut. " Yaudah yuk turun. sarapan dulu biar dedek bayinya tumbuh sehat dan kuat ya sayang" ucap Azka mengelus perut Zaira
" Ayuk!" Zaira menarik tangan Azka dan tertawa riang.
saat menuruni anak tangga Azka tidak henti-hentinya menggoda Zaira. " Senang banget kayaknya yang semalam habis bertemu dengan kakak tapi cinta" goda Azka yang malah membuat Zaira tertawa
" Kalimat macam apa itu kakak tapi cinta, siapa yang cinta? aku yang cinta kak Ariel gitu? emm iya sih senang abis masih cinta bagaimana dong ?" ucap Zaira yang kembali menggoda Azka
" Jadi?" tanya Azka
" Jadi apa?" Zaira menaik turunkan alisnya
" Kamu masih cinta sama dia?" tanya Azka dengan raut wajah ditekuk
" Phup" Zaira menahan tawanya lalu menghela napasnya panjang
" Pikiran macam apa itu, tidak lihat ini karya siapa Hem? kenapa harus bertanya lagi kalau buktinya sudah terlihat jelas begini" sahut Zaira menunjukkan perutnya yang buncit hasil perbuatan Azka.
Seketika tawa Azka pun pecah. " Jelas hasil karya mas dong sayang, langsung tokcer" ucap Azka dengan bangga.
" Sudah tau tanya" Zaira mengerucutkan bibirnya lalu berjalan mendahului Azka begitu saja.
***
Zaira tengah menunggu Lia diparkir mobil karena seperti biasa Lia akan mengantarkan Zaira sampai di pertigaan jalan kecuali jika Azka langsung pergi ke kantor maka Lia akan mengantarkannya sampai rumah.
Saat tengah menunggu Lia yang sempat mampir ke toilet bersama indah, Zaira duduk di bangku dekat pos jaga. Pak Min yang melihat Zaira pun langsung menghampirinya.
" Neng !" sapa pak Min
" Eh pak Min, maaf ya pak Min numpang duduk " ucap Zaira ramah
" Iya neng silahkan" ucap pak Min.
" Neng Za kayaknya gemukan ya neng sekarang" ucap pak Min
Degg
Zaira tertegun dan tersenyum getir.
" Emang terlihat gemuk ya pak?" tanya Zaira sebisa mungkin bersikap biasa-biasa saja.
" Iya neng rada gemukan tapi neng Za terlihat tambah cantik neng!" ucap pak Min memuji.
" Ah pak Min bisa aja!"
" Beneran neng, makanya bapak samperin neng nya kesini, habis neng Za berubah banget sih tambah cantik aja" ucap pak Min terkekeh begitu juga dengan Zaira.
" Ekhemm!" deheman seseorang membuat Zaira menoleh kesumber suara"
" Pak!" sapa Zaira saat melihat Azka sudah berada di antara mereka.
" Kamu ngapain disini? gak pulang?" tanya Azka basa basi.
" Nunggu teman saya dulu pak, Mereka sedang ditoilet" sahut Zaira.
" Yaudah pulang bareng saya saja bagaimana, mau gak, kebetulan searah kan?" Azka pura-pura menawarkan tumpangan
" Boleh kalau memang tidak merepotkan bapak " sahut Zaira dengan senyum manisnya.
" Gak merepotkan kok" sahut Azka.
" Yaudah kamu tunggu ya sebentar saya ambil mobil dulu" ucap Azka lagi
" Iya pak " sahut Zaira dengan menahan tawanya.
__ADS_1
" Neng Za sama pak Bagaz kelihatan serasi loh neng!" ucap pak Min setelah Azka pergi mengambil mobilnya.
Degg
Zaira terdiam sejenak lalu tersenyum tipis" Ah pak Min ini bisa aja" ucap Zaira
" Seandainya pak Bagaz belum menikah neng Za cocok banget jadi calon istrinya neng!"
" Uhukk... Uhukk" Zaira tersedak salivanya sendiri saat mendengar ucapan pak Min.
" Eh neng maaf neng!" pak Min merasa tidak enak hati.
" Duh keceplosan!" gumam pak Min
" Menikah? pak Min tahu dari mana kalau pak Bagaz sudah menikah?" tanya Zaira menyelidik
" Eh anu neng itu. duh saya jadi bingung mau ngomong apa, gak neng saya salah ngomong aja tadi mah saya juga gak tahu kalau pak Bagaz sudah nikah atau belum" elak pak Min yang merasa tidak enak terhadap Azka karena sudah keceplosan.
" Pak Min gak usah bohong. pak Min pasti sudah tahu kalau pak Bagaz sudah punya isteri iyakan?" tanya Zaira yang terus mendesak pak Min bicara jujur.
" Em gak neng. Udah atuh neng nanti kalau ada yang dengar saya yang gak enak sama pak Bagaz" ucap pak Min sedikit takut-takut.
" Berarti benar iya kan pak Min?" cecar Zaira
" Tapi neng Za jangan cerita ke siapapun ya neng!" pinta pak Min
" Tenang aja pak!" jawab Zaira santai. " Pak Min tau gak istri pak Bagaz itu siapa?" tanya Zaira
" Gak tau neng, yang saya tahu sih istrinya tuh sedang hamil neng!" jawab pak Min
Zaira mengernyitkan dahi " Pak Min tahu darimana kalau istrinya pak Bagaz sedang hamil?" tanya Zaira pura-pura penasaran
" Waktu itu pak Bagaz minta mangga muda neng yang ada di belakang sekolah. Katanya sih buat istrinya yang lagi ngidam udah gitu ya neng maunya pak Bagaz sendiri yang metik dan harus manjat gak boleh jatuh mangganya. dan saya gak menyangka pak Bagaz benar-benar suami idaman banget neng. walaupun dia gak bisa naik dan berkali-kali hampir saja jatuh dari atas pohon mangga neng, tetap saja pak Bagaz semangat 45 neng berusaha untuk mendapatkan mangga tersebut untuk istrinya" ucap pak Min menceritakan sewaktu Azka memetik mangga bersamanya dan tiba-tiba pak Min dibuat terkejut melihat Zaira yang menitikkan air matanya setelah mendengar cerita dari pak Min .
" Loh neng kok nangis?" tanya pak Min terkejut.
Zaira tersenyum lalu menyeka air matanya.
" Gak apa-apa pak Min saya cuma terharu aja mendengar cerita pak Min" ucap Zaira
" Tapi bukan nangis patah hati karena tahu pak Bagaz sudah menikah kan neng?" tanya pak Min takut Zaira baper dengan ucapannya.
" Za ayok!" suara Azka membuat Zaira seketika menoleh dan tersenyum semanis mungkin.
Zaira langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Azka, dan seketika pak Min dibuat terperangah dengan sikap Zaira yang sudah bergelayut manja di lengan Azka untung saat itu suasana nampak sepi karena sebagian anak-anak sudah pada pulang sementara Lia dan Indah entah kemana pergi ke toilet tapi belum juga kembali menampakkan batang hidungnya.
" Bagaimana pak Min serasi gak saya sama pak Bagaz?" tanya Zaira menaik turunkan alisnya
Pak Min dibuat susah menelan salivanya oleh Zaira yang berada begitu dekat dengan pria yang berstatus gurunya itu " Emmm... serasi neng!" ucap pak Min takut-takut.
" kamu kenapa sih, aneh gitu sikapnya pake senyum-senyum gitu lagi?" Azka yang merasa gemas refleks langsung mencubit hidung Zaira.
" Aww, sakit ih!" ucap Zaira dengan nada manja memukul lengan Azka dan lagi-lagi interaksi keduanya membuat pak Min hanya bisa geleng-geleng kepala.
" Neng ingat neng ah, jangan bikin saya takut. neng kan cantik walaupun tadi saya sempat bilang neng sama pak Bagaz terlihat serasi tapi udah neng jangan begitu gak enak nanti kalau ada yang lihat pak Bagaz kan sudah beristri" ucap pak Min merasa takut jika Zaira nekat dan menjadi perusak rumah tangga orang.
" Loh pak Min gimana sih katanya saya serasi dan cocok banget sama pak Bagaz" Zaira tersenyum tipis
" Iya neng cocok neng, tapi pak Bagaz sudah punya istri neng!" ucap pak Min tidak enak hati pada Azka karena sudah mengatakannya kepada Zaira tentang statusnya.
" Loh pak Min cerita tentang saya sama Zaira?" ucap Azka pura-pura bertanya dan terkejut
" Iya pak maaf mulut saya keceplosan " ucap pak Min tidak enak hati
" Gak apa-apa pak Min kalau ceritanya cuma dengan Zaira sih!" sahut Azka memperlihatkan senyum ramahnya.
" pak Bagaz tidak marahkan?" tanya pak Min takut-takut
" Gak pak Min santai saja!" sahut Azka
" Oia, apa benar pak Min saya dan Za terlihat serasi? apa saya tidak terlihat terlalu tua pak Min bila berdampingan dengan Za?" tanya Azka penasaran
" Gak, pak Bagaz terlihat ganteng dan awet muda kok. bahkan terlihat jauh lebih muda dari usia pak Bagaz yang asli" jujur pak Min.
" Serasi gak pak Min?" tanya Azka yang sudah mendaratkan tangannya di pinggang sang isteri tercinta.
" Astaghfirullah haladzim, serasi sih serasi pak tapi eling pak Bagaz istri anda sedang hamil jadi jangan macam-macam pak. Kasihan istrinya!" ucap pak Min panik namun malah membuat Zaira dan Azka terkekeh.
" Pak Min tenang saja istri saya tidak akan marah kok . Iya kan sayang?" spontan ucapan Azka membuat pak Min terbelalak.
__ADS_1
"Astaghfirullah haladzim, pak, neng Za. istighfar. !" ucap pak Min yang takut karena ucapannya malah membuat mereka terjerumus dalam kesesatan.
" Kenapa memangnya pak Min, kami sah-sah saja pak Min seperti ini. gak akan ada yang melarang kalau lagi berdua" ucap Azka yang diakhiri dengan tawa.
"Tapi pak Bagaz kan sudah beristri pak"
" Ya memang kenapa kalau sudah beristri toh saya juga melakukannya sama istri saya sendiri, dimana salahnya pak?" ucap Azka menahan tawanya.
" Saya yakin pak Min bisa dipercaya. apa yang ada di pikiran pak Min itu benar adanya"
" Saya gemukan kan pak Min?" tanya Zaira tersenyum dan pak Min manganggukan kepalanya pelan sebagai jawabannya.
" Ada Bagaz junior pak !" bisik Azka membuat pak Min menganga saking terkejutnya.
" Ja.. jadi neng Za dan pak Bagaz_?" tanya pak Min menggantung.
" Iya pak Min, makanya saya tadi sempat terharu mendengar cerita pak Min tentang pak Bagaz yang memetik buah mangga. terima kasih ya pak suami. " ucap Zaira kepada Azka dan pak Min tertawa mendengar panggilan Zaira kepada Azka.
" Ya ampun neng Za dan pak Bagaz bikin saya jantungan saja. syukur Alhamdulillah kalau begitu ya neng. saya turut senang mendengarnya. pantas aura neng Za beda banget lagi isi toh" ucap pak Min.
" Iya pak Min!" ucap Zaira tertawa kecil.
" Yaudah yuk yang, nanti keburu sore!" ajak Azka
" Pak Min kami pamit dulu ya , nanti kalau Lia nyariin bilang saja saya sudah pergi sama pak suami" ucap Zaira berpesan
" Siap neng nanti saya bilangin" ucap pak Min
" Terima kasih ya pak" Zaira dan Azka pun pergi bersama menuju rumah sakit.
Sementara Lia yang masih berada di sekolah, entah apa yang terjadi dengan gadis yang satu ini.pamit pergi ke toilet tapi belum juga kunjung kembali.
Indah pun sudah pergi bersama Mia sementara Mona dan Mita jelas sudah pulang lebih dulu karena mereka memiliki urusan masing-masing.
" Eh, loe jangan ikut-ikutan deh kayak teman loe yang satu itu, hobby kok ngerebut pacar orang!" cibir Putri setelah melihat Lia yang sedang bersama Mario.
Flashback on
" Lia loe udahan belum nih si Mia udah nelponin gue mulu?" teriak Indah di depan pintu toilet Lia
" Ya udah loe duluan aja, sekalian bilangin Za gue lagi ada panggilan alam dulu nih!" sahut Lia
" Benar loe gak apa-apa kalau gue tinggal, nanti kalau loe diculik lagi gimana?" ucap Indah yang ragu bila harus ninggalin Lia sendirian.
" Yaelah loe tenang aja kali. Udah sana pergi kasihan Mia kelamaan nungguin loe" pinta Lia
" Yaudah iya, gue pergi. Loe juga jangan lama-lama kasihan noh si Za nanti bisa garing nungguin loe sendirian di pos sekuriti!"
" Iya bawel!"
Setelah Indah pergi beberapa menit kemudian Lia keluar dari toilet dengan perasaan lega, Lia mencuci tangannya di wastafel sekiranya merasa sudah bersih Lia pun pergi dari toilet.
Saat berjalan menyusuri koridor sekolah yang nampak sepi dan hanya ada beberapa siswa dan siswi yang memiliki urusan disekolah saja yang terlihat lalu lalang.
" Hai!" sapa seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan Lia, sontak saja kemunculan siswa yang tidak lain adalah Mario itu membuat mata Lia membola.
" Loe?" tunjuk Lia ke Mario dan matanya celingak-celinguk melihat kesekeliling
" Loe kenapa sih kayak orang lagi ketakutan gitu?"
Lia melotot dan menatap tajam Mario. " Gue males berurusan dengan para fans loe!" ketus Lia dan langsung pergi melewati Mario begitu saja.
" Fans apaan sih, jangan beralasan deh loe" ketus Mario dan hal itu berhasil membuat Lia berhenti.
" Ini balasan loe sama gue, bahkan setelah waktu itu loe sama sekali gak pernah datang lagi ke rumah sakit bahkan nelpon pun gak" sahut Mario panjang lebar.
Lia menghela napasnya dan berbalik badan menatap Mario dengan erat.
" Jadi loe nungguin gue?" Lia memincingkan matanya penuh selidik.
" Emm.. itu gue emm.. bukan gitu maksud gue. setidaknya loe berterima kasih sama gue" sahut Mario yang nampak gugup dan salah tingkah.
"Loe gak ikhlas nolongin gue? gue kan udah berterima kasih sewaktu loe dirumah sakit" Mario langsung diam dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Gue_" ucapan Mario terpotong
" Udah ya gue cabut duluan. cepat pulang jangan bikin orang tua loe cemas. loe juga baru sembuhkan, pulang terus istirahat!" Mario tercengang mendengar ucapan Lia.
Dan saat ia sadar dari lamunannya Lia sudah hilang dari hadapannya. Di saat itu juga tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat interaksi keduanya dan seringai senyuman liciknya pun menghiasi wajah cantiknya.
__ADS_1
Flashback off