
Pagi menyapa sinar mentari juga sudah beranjak dari peraduannya. Seorang gadis mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya. matanya menatap kesekeliling rasa bingung mulai merasuk ke dalam otak dan pikirannya.
" Ini di mana, kenapa gue ada di tempat tidur pasien?" batin Lia merasa bingung. ia melihat ke arah tangannya. tidak di infus badannya juga tidak merasakan apa-apa. sepersekian detik barulah ia sadar.
" Astaga!" Lia Ladysta beranjak turun dari tempat tidur. " Mario" ucapannya saat sudah mengingat akan kebodohannya.
Mata Lia mengedar kesekeliling ruangan dan hatinya terasa lega setelah retina matanya menangkap sosok seorang laki-laki tampan dengan mata yang terpejam duduk di sofa tunggu.
" Bagaimana bisa dia yang sakit tapi gue yang tidur di atas ranjangnya?" batin Lia berjalan perlahan ke arah Mario yang masih terlelap dalam tidurnya. pasalnya semalam Mario tidak bisa lagi tertidur setelah menatap wajah cantik Lia yang begitu polos dan manis ketika tidur.
Mario menatap wajah Lia yang begitu nyenyak ada senyum yang terukir di sudut bibir murid laki-laki yang terkenal dingin, arogan dan sok berkuasa itu. entah kenapa sejak perhatiannya teralihkan pada sosok Lia yang kalau bicara suka pedas dan cukup berani serta sedikit barbar ini sikap Mario perlahan mulai melunak.
namun ada rasa sedih saat netranya menatap pipi Lia yang putih dan mulus itu sedikit membiru bekas sebuah tamparan. hingga pagi menjelang subuh Mario akhirnya baru bisa memejamkan matanya.
" Tampan juga kalau lagi tidur, tapi kalau udah bangun nyebelinnya tingkat dewa" gumam Lia.
" Mario... Woyyy bangun!" panggil Lia
Mario masih tidak bergeming membuat Lia memutar bola matanya malas.
" Ih ini anak susah banget sih dibanguninnya" kesal Lia
" Mario bangun pindah gih!" Lia mengguncang bahu Mario.
Mario yang merasa tidurnya terusik merasa geram dan langsung bangun.
" Berisik tau gak sih loe, ganggu tidur gue aj_!" bentak Mario yang langsung diam seketika saat matanya menangkap sosok gadis cantik berdiri di hadapannya.
Mario memutar matanya ke segalah arah demi menghindari tatapan elang dari wanita cantik yang ada dihadapannya saat ini.
Mario menggigit bibirnya hanya untuk menghilangkan rasa gerogi yang saat ini menguasai dirinya saat berhadapan dengan gadis cantik yang mungil namun bisa mematahkan lawan.
" Pindah!" titah Lia dengan tegas
Entah apa yang terjadi dengan Mario dengan mudahnya langsung menurut tanpa protes berjalan menuju tempat tidurnya sedikit meringis menahan rasa sakit di perutnya sambil mendorong tiang infusnya.
" Tunggu dulu!" panggil Lia membuat Mario berhenti dan menoleh.
" Astaghfirullah, luka loe berdarah lagi?" Mario menunduk dan matanya mengarah pada perutnya yang berdenyut nyeri.
Sungguh Mario yang ceroboh jahitan lukanya terbuka dia tidak menyadarinya untung saja dia laki-laki yang kuat baginya luka yang ada di tubuhnya saat ini belum seberapa dibanding luka-luka yang sering di alaminya setiap kali tauran dan berkelahi dengan preman-preman yang suka mengusiknya.
" Loe benar-benar ceroboh banget ya, udah tau loe terluka kaya gitu tapi kenapa loe malah tidur di sofa dan gue yakin loe kan yang udah mindahin gue tidur di tempat tidur, dasar bodoh, lihat tuh terbuka lagi kan lukanya?" omel Lia seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya yang nakal. Lia lalu menghampiri Mario dan membantunya untuk kembali berbaring ke atas tempat tidurnya.
" Diam disini, ingat jangan kemana-mana, gue panggilin dokter dulu!" ucap Lia dengan sedikit mengancam.
Mario yang mendengar semua ocehan dan Omelan Lia tercengang tidak percaya rasanya jantungnya ingin melompat. baru kali ini ada orang yang begitu perhatian terhadap dirinya. karena sejak kecil hingga sekarang pun ia tetap merasa kurang diperhatikan, kedua orang tuanya hanya sibuk bekerja mencari uang dan uang tanpa menghiraukan putranya yang sungguh merasa sangat kesepian dan butuh kasih sayang.
Lia kembali dengan seorang dokter yang datang bersamanya.
Dokter tersebut memeriksa luka Mario, untung saja lukanya tidak apa-apa hanya terbuka sedikit. Lia menghela napasnya lega.
" Terima kasih ya dok" ucap Lia pada sang dokter
" Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu!" ucap sang dokter.
Setelah dokter pergi Lia menatap Mario dengan tatapan tajamnya. melalui tatapan matanya seakan Lia mengancam Mario untuk tidak berbuat yang aneh-aneh lagi.
Keduanya kini sama-sama diam tidak ada yang memulai pembicaraan sepertinya rasa canggung dan gugup sedang menyelimuti hati keduanya.
" Loe!" ucap Mario dan Lia bersamaan
" Loe aja yang ngomong duluan!" ucap Mario
" Loe aja!" sahut Lia
" Udah loe duluan!" suruh Mario lagi
" Gak loe aja duluan!" kali ini Lia bicara tidak ingin dibantah.
" Yaudah iya" sahut Mario mencibikkan bibirnya.
" Apa loe sudah memberi kabar ke keluarga loe?" tanya Mario yang langsung membuat Lia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Astaghfirullah haladzim, gue sampai lupa. gue belum memberi kabar. pasti nyokap sama bokap gue panik nyariin gue. oh my God Za pasti dia khawatir banget sama gue!" ucap Lia kebingungan dan berjalan mondar-mandir.
" Heh, gadis bodoh. bisa gak loe diam gak usah pakai mondar-mandir kayak gitu, pusing tau gak ngeliatinya" sarkar Mario yang langsung membuat langkah Lia berhenti lalu menatapnya tajam.
Mario sekejap langsung menutup mulutnya rapat dan membuang pandangannya ke sembarang arah.
Lia lalu duduk di kursi samping brankar Mario dengan lesu.
"Nih!" Mario menyodorkan ponselnya pada Lia
Lia menatap ponsel yang ada ditangan Mario.
" Ini ambil!" Mario langsung memindahkan ponselnya ke tangan Lia.
" Terima kasih!" ucap Lia datar.
" Hemmm!" singkat Mario.
Lia langsung mendial nomor kakaknya yaitu Azka karena jika ia menghubungi mama atau Zaira pasti mereka akan sangat khawatir.
🖤
__ADS_1
Di rumah besar seorang wanita paruh baya tengah menangis hampir semalaman, ia begitu mencemaskan keadaan putrinya yang hingga kini belum juga pulang.
Mama Maria sudah menghubungi Azka tapi nyatanya putranya pun tidak tahu keberadaan adiknya, Azka sudah menceritakan hasil pencariannya kepada papanya karena jika bicara dengan mamanya ia khawatir mamanya akan syok.
Papa Sam sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan putrinya. apalagi setelah Azka mengatakan kalau dia melihat ada bercak darah di tempat ia menemukan ponsel Lia . Sam benar-benar kalut. pikirannya semakin tidak tenang putrinya menghilang tanpa jejak.
" Ma, mama yang tenang dulu ya, papa dan Azka sudah mengerahkan semua anak buah untuk mencari tahu dimana keberadaan Meli ma. " ucap papa Sam.
" Gimana mau tenang pa, putri kita belum pulang dari kemarin bahkan sampai saat ini belum ada kabarnya, bagaimana bisa papa menyuruh mama untuk tenang" Mama Maria kembali menangis.
" Iya ma papa tahu, papa juga merasakan hal yang sama ma, tapi kita harus tenang ma dan banyak-banyak berdoa saja semoga Meli dalam keadaan baik-baik saja ma" papa Sam memeluk mama Maria berusaha untuk menenangkan hatinya.
" Tapi pa Meli, putri kita pa!" mama Maria menangis dalam pelukan papa Sam dan papa Sam mengusap punggung mama Maria memberi kekuatan.
Sementara di rumah anak dan menantunya Azka tengah menenangkan hati sang istri yang masih saja menangis karena belum juga ada kabar tentang Lia.
" Mas, jangan bohong sama aku mas, sebenarnya dimana Lia, belum pulang kan mas, iyakan mas? cepat jawab mas, jawab!" Zaira memukul dada Azka berkali-kali meluapkan rasa kekhawatirannya.
" Sayang, kamu tenang dulu. jangan seperti ini!" Azka memeluk Zaira untuk menenangkannya.
" Mas tau kamu khawatir sama Lia, tapi kekhawatiran kamu itu jangan sampai membuat kamu mengabaikan bayi yang ada di dalam kandungan mu!" Azka mengelus kepala Zaira lembut.
" Kamu harus tenang sayang, karena calon bayi kita saat ini butuh ketenangan, dia tidak ingin mamanya sedih dan banyak pikiran" Azka mengingatkan.
" Tapi mas, aku masih belum bisa tenang jika Lia belum pulang" ucap Zaira disela Isak tangisnya
" Iya.. iya.. mas ngerti, tapi kamu juga tidak boleh egois sayang. calon bayi kita juga butuh mommy nya. butuh asupan!" ucap Azka seraya mengurai pelukannya.
Azka memperlihatkan senyum manisnya lalu meraih dagu Zaira " Kamu harus sarapan sayang, bagaimana pun juga kamu dan calon bayi kita itu butuh makan biar tumbuh sehat dan kuat" Dengan lembut Azka mencium perut Zaira yang sedikit mulai membuncit.
" Ayok kita turun. kita sarapan dulu ya!" ajak Azka
Zaira menggeleng " Aku belum lapar mas"
" Kamu belum lapar tapi belum tentu dengan calon bayi kita sayang, mungkin saja dia sudah sangat lapar" ucap Azka berusaha untuk setenang mungkin dalam menghadapi Zaira.
Azka mengangkat bahu Zaira dan mengajaknya turun untuk sarapan namun saat keduanya sudah berada di ambang pintu tiba-tiba ponsel Azka berdering.
" Mas ponselmu bunyi" ucap Zaira memberitahu
Azka menoleh sekilas ke arah nakas " Sudah biarkan saja, nanti mas telpon balik aja. yang terpenting saat ini kamu sarapan dulu sayang" ujar Azka
Zaira meraih lengan Azka dan tersenyum " mas angkat dulu gih siapa tahu penting. aku masih bisa nunggu kok mas, mungkin saja itu dari anak buah kamu sama papa mas yang ingin memberitahu kabar tentang keberadaan Lia"
Azka menghela nafasnya panjang lalu tersenyum tipis" Baiklah sayang. kamu tunggu mas disini ya" ucap Azka
Zaira pun mengangguk pelan. Azka berjalan ke arah nakas mengambil ponsel miliknya.
Azka menatap ke layar ponselnya dan ada nomor tidak dikenal yang tertera, awalnya Azka ingin mengabaikannya tapi setelah menoleh ke arah Zaira ia pun langsung menggeser tombol hijau
" Angkat mas!" pinta Zaira saat Azka menoleh ke arahnya.
Azka
" Assalamu'alaikum!"
Lia
" Wa'alaikum salam!"
Lia
" hallo kak ini Meli"
Azka
" Meli?"
Lia
" Iya kak, aku Meli adik kakak!"
Azka
" Meli?"
Zaira yang mendengar nama Lia disebut langsung buru-buru menghampiri Azka yang sedang menerima telepon yang menyebut sebagai adiknya.
" Apa itu telpon dari Meli?" tanya Zaira yang begitu penasaran.
" Iya!" ucap Azka dengan keterkejutannya
Zaira langsung merampas ponsel yang berada di tangan Azka.
Zaira
" Hallo Lia!"
Lia
" Za!"
Zaira
" Lia loe di mana sekarang hah? gi*a loe ya bikin orang panik tau gak sih loe!" cerocos Zaira tanpa jeda
__ADS_1
Lia
" Za, loe tenang dulu dong dengerin gue dulu;" pinta Lia
Lia
" Maaf Za, mana kak Azka, gue butuh bicara sama dia dulu saat ini Za!" ucap Lia yang malah membuat si bumil yang satu ini salah paham.
Zaira
" loe gak mau ngomong aja sama gue Li!" sarkas Zaira yang sedikit sensitif.
Lia
" Za, sorry tapi untuk kali ini aja gue butuh kak Azka!" Lia memohon
Akhirnya si bumil tersebut pun memberikan ponsel yang di pegangnya kepada Azka sang suami tercinta.
" Lia mau bicara!" ucapnya ketus
Azka hanya mengerutkan kening lalu meraih ponsel miliknya, sedetik kemudian ponsel yang tengah berada di tangan Zaira sudah beralih ke tangan Azka
Azka
" Hallo Mel, kamu dimana sekarang?" tanya Azka yang mulai serius
Lia
" Kak aku saat ini sedang berada di rumah sakit X"
Azka
" Apa rumah sakit?"
Lia
" Iya kak temanku terluka, nanti akan aku ceritakan semuanya"
Azka
" Ya sudah kirim alamat rumah sakitnya, kakak akan jemput kamu!"
Lia
" Terima kasih ya kak, dan tolong bilang ke Za aku baik-baik aja kak, dia jangan terlalu mengkhawatirkan aku!"
Azka
" Iya!"
Lia
" Assalamu'alaikum!"
Azka
" Wa'alaikum salam!"
Sambungan telpon pun terputus.
Azka yang melihat raut wajah Zaira yang memberengut langsung memeluknya dari belakang.
" Sayang , Alhamdulillah Meli baik-baik saja" ucap Azka meletakkan dagunya di bahu Zaira
" Kenapa dia tidak mau bicara dengan ku mas?" Zaira merajuk
" Sayang, Meli hanya tidak ingin kamu terlalu mengkhawatirkan dirinya. tadi dia berpesan agar kamu tenang dan jangan terlalu mengkhawatirkan dirinya karena saat ini dia dalam keadaan baik-baik saja" ucap Azka menjelaskan.
" Lalu dimana dia sekarang mas?" tanya Zaira
" tadi aku dengar kamu menyebut rumah sakit, sebenarnya siapa yang sakit mas, apa Lia terluka mas, apa dia_?"
Azka meletakkan jari telunjuknya ke bibir Zaira menghentikan Zaira yang terus saja nyerocos.
" Dengar sayang, Meli bilang dia dalam keadaan baik-baik saja dan yang dirawat itu bukan dia tapi katanya teman-temannya" ucap Azka memberitahu Zaira
" Teman, siapa?" tanya Zaira seakan memutar otaknya untuk mencari tahu siapa teman yang Lia maksud.
" Ya sudah kamu tenang ya disini, mas mau menjemput Meli dulu" ucap Azka
" Aku ikut mas" pinta Zaira memelas
" Tidak sayang, saat ini kamu sedang hamil dan rumah sakit tentunya tidak baik untuk kesehatan kamu dan juga calon anak kita" ucap Azka mejelaskan
" Iya mas, tapi nanti setelah bertemu Lia mas vedio call ya mas!" pinta Zaira
Azka mengacak-acak rambut Zaira lalu tersenyum.
" Yaudah sekarang kita turun dulu ya, kamu harus sarapan sayang!" ucap Azka yang tidak ingin bayi yang ada di dalam perut sang isteri kelaparan, jadi untuk memastikannya Azka pun menemani Zaira sarapan terlebih dulu sebelum beranjak ke rumah sakit yang sudah Lia kirimkan alamatnya.
" Mas berangkat sekarang ya!" pamit Azka pada Zaira yang sudah berdiri di ambang pintu mengantar Azka keluar rumah.
" Iya mas!"
" Kamu diam-diam di rumah ya, mas tadi sudah meminta izin kepada pihak sekolah jadi kamu tidak perlu lagi berangkat ke sekolah. ingat ya sayang istirahat jangan melakukan pekerjaan rumah. " pesan Azka yang langsung diangguki oleh Zaira.
__ADS_1
Azka pun mengecup kening Zaira singkat sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mobil Azka menghilang dari pandangan mata. Zaira baru melangkah masuk ke dalam rumahnya.