
Nana tidak kuasa menahan tangisnya setelah mereka sudah berada di dalam kelas.
" Kenapa tuh anak?" tanya Nicko seraya duduk di tepi meja Khanza
" Biasa masalah cinta" jawab Miska
" Di putusin?" tebak Nicko
"Tepatnya mutusin" jawab Khanza
"Loh kok bisa, dia yang mutusin dia yang nangis?" Tanya Billy
" Ya kalian kan tahu Nana selama ini menjalin hubungan dengan siapa?" sahut Khanza menatap dua sahabatnya itu bergantian
" Si Roni?" Tanya Billy dan Khanza mengangguk
" Gue kira udah putus tuh anak eh masih berlanjut toh" ucap Nicko seraya menatap ke arah Nana
"Roni enggak mau diputusin Nana" terang Khanza
" Ya mana terima tuh anak diputusin cewek, pasti gengsi dan gak akan terima gitu aja. gue sih pernah mengingatkan Nana tapi tuh anaknya aja ngeyel " ucap Billy
" Ya namanya juga baru jatuh cinta eh taunya jatuh di tempat yang salah!" sahut Khanza
" Loe kenapa masih nangis aja sih Na, gak penting banget loe nangisin cowok macam dia" ucap Billy yang merasa kesal dengan sikap Nana yang terkesan plin plan.
" Udah dong Na loe jangan nangis terus!" Hana mengusap bahu Nana yang masih bergetar karena menangis.
" Gu.. gue... takut Han, loe tahukan Roni itu kayak gimana anaknya?" ucap Nana disela Isak tangisnya menoleh ke arah Hana
"Maksud loe?"
" Loe tadi dengar sendiri kan bagaimana Roni terhadap Khanza, itu yang gue takutin Han, gue takut Roni nekat dan berbuat macam-macam sama Khanza. dan jika sampai hal itu terjadi gue adalah orang yang paling bersalah Han, karena semua gara-gara gue" Nana kembali terisak takut terjadi sesuatu pada Khanza.
Nana menangis menyembunyikan wajahnya diatas tangannya yang ia lipat di atas mejanya.
Khanza beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Nana " Na udah dong jangan nangis terus, gak enak tuh sama yang lain!"
Nana mendongak lalu menatap Khanza dengan rasa bersalah " Za maafin gue!" ucap Nana lirih
" Minta maaf buat apa sih Na?" tanya khanza bingung
" Gue minta maaf gara-gara gue loe jadi berurusan dengan Roni, gue takut Za ya loe kan tahu dia itu anaknya kayak gimana, gue takut dia nyakitin loe" ucap Nana cemas
" Jadi loe nangis dari tadi gara-gara hal itu?" tanya Khanza
" Iya, gue takut karena dia sempat ngancam loe tadi"
" Na, justru yang gue khawatirkan itu loe."
" Kenapa gue?"
" Loe itu terlalu polos dan mudah goyah. justru itu yang gue khawatirkan. Roni mengancam loe terus loe akan mudah menurut kepada tuh anak. gue harap apapun yang nanti Roni katakan sama loe jangan pernah ada yang lie sembunyikan dari kita semua. gue rasa Roni pasti akan mencari titik lemah loe. dan inilah titik lemah loe yang merasa bersalah dan takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi" sahut Khanza
" Benar apa yang Khanza bilang, loe harus terlihat biasa saja jangan mudah terpengaruh oleh ucapannya" ucap Miska menimpali
__ADS_1
" Gue kenal tuh anak, orangnya memang nyebelin dan termasuk nekat. jadi bagaimana pun kalian terutama loe Za dan juga Nana hati-hati sama tuh anak. " ucap Billy
" Gue enggak akan tinggal diam kalau tuh anak berani macam-macam sama kalian" Nicko menimpali
" Betul, asalkan ingat sekecil apapun yang mereka lakukan ke kalian harus ngomong dan cerita ke kita-kita" ucap Billy
" Iya Za, gue memang kenal loe seperti apa tapi tetap aja gue khawatir" ucap Hana
" Yang Hana bilang ada benarnya, loe tetap harus hati-hati Za" ucap Nicko
" Iya, kalian tenang aja" ucap Khanza santai
Selepas pulang sekolah Khanza langsung pergi menuju parkiran mobil suaminya, sampai di sana belum nampak batang hidungnya. Khanza memilih duduk di bawah pohon yang letaknya tidak jauh dari mobil Aldy terparkir.
Sambil menunggu Aldy, Khanza memainkan ponselnya, berbalas chat dengan teman-temannya.
Khanza memincingkan matanya saat pandangan matanya menatap ke arah seseorang yang sedari di tunggunya sedang bersama seorang wanita yang terlihat cukup seksi
" Itu siapa ya?" gumam Khanza masih terus memperhatikan keduanya yang nampak berbicara serius
" Wanita itu tengah hamil?" Khanza membulatkan matanya dan pikiran negatif pun sudah menjalar kemana-mana.
" Mas Aldy mau ya!" pinta wanita yang sebenarnya ingin Aldy hindari
" Kamu ini ada apa sih sebenarnya datang kesini dan mau apa mencari ku?" tanya Aldy berusaha untuk menahan kekesalannya.
" Mas, aku tadi habis menemui mas Toni dan dia bilang dia tidak bisa menemani ku ke dokter kandungan mas, aku sedih kalau datang sendirian mas, aku butuh di temani mas" ucap Mila memelas
" Mila sekarang dan dulu itu berbeda, aku sudah tidak bisa lagi menemani mu seperti dulu lagi, jaga sikap kamu Mila" ucap Aldy tegas
" Jangan menangis Mila ini lingkungan sekolah, jika kamu bersikap seperti ini kamu hanya akan membuat mereka salah paham" kesal Aldy
" Yaudah, kalau begitu kamu harus mau mengantarkan aku ke dokter kandungan sekarang!" ucap Mila sedikit memaksa
" Tidak"
" Yaudah, biarkan saja mereka salah paham dan akan menganggap mas mencampakkan isterinya yang tengah hamil besar." ancam Mila
" Kamu sudah gila?" murka Aldy
" Aku enggak peduli mas " Mila merangkul manja lengan Aldy membuat Khanza yang melihatnya dari balik pohon membulatkan matanya.
Aldy menggeram kesal karena wanita yang berada di hadapannya saat ini benar-benar tidak tahu diri.
" Kamu jangan macam-macam Mila" Aldy dengan kasar melepaskan tangan Mila yang melingkar di lengannya
" Aku enggak peduli, kalau mas tetap gak mau, biarkan orang melihat hal ini" Mila semakin mengeratkan pegangannya
Aldy mengusap wajahnya kasar " Baiklah cepat masuk!" ucap Aldy pasrah dan seketika Mila berseru senang.
Khanza menyandarkan tubuhnya pada pohon rasanya begitu menyesakkan dadanya.
" Siapa sebenarnya dia mas?" batin Khanza seraya menatap Aldy yang hendak masuk kedalam mobil.
Khanza mencoba untuk menelpon Aldy meminta penjelasan apa yang tengah dilihatnya saat ini namun lagi-lagi Khanza dibuat kecewa karena Aldy mengabaikan panggilan telponnya.
__ADS_1
Aldy yang hendak mengangkat telpon dari Khanza lagi-lagi dibuat kesal dengan Mila yang berteriak memanggilnya dengan suara manjanya.
Tidak mau Khanza salah paham jika mendengar suara Mila jadi Aldy memutuskan untuk menjelaskannya nanti saja dan mengabaikan panggilan dari Khanza
Aldy dan Mila sudah berada di dalam mobil, namun saat hendak menyalakan mesin mobil Aldy teringat akan Khanza pulang dengan siapa nantinya.
" Mas!" sentak Mila saat Aldy hendak menghubungi Khanza
" Tidak, Mila tidak boleh tahu tentang Khanza" batin Aldy lalu kembali mengantongi ponsel miliknya sampai lupa memberi kabar kepada Khanza.
Mobil yang Aldy kendarai melaju meninggalkan area sekolah dan betapa terkejutnya Aldy saat netranya menangkap sosok wanita yang sangat ia cintai tengah berdiri menatap ke arahnya melalui kaca spion.
Deg
Aldy terenyuh melihat tatapan sendu Khanza yang melihatnya pergi begitu saja.
" Maafkan mas sayang!" batin Aldy
Dreett
Dreett
Ponsel Aldy bergetar, lalu sekilas melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
" Siapa? kenapa gak diangkat mas?" tanya Mila
Aldy hanya diam saja dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya
Tidak berapa lama ponsel Aldy kembali berdering dan setelah tahu siapa yang menelpon Aldy kembali mengabaikan panggilan tersebut.
Aldy tidak ingin Mila tahu tentang Khanza, dia takut Mila berbuat nekad karena sebenarnya sungguh malas dia jika kembali berurusan dengan Mila.
Dulu sewaktu Toni harus menjalani hukumannya Aldy yang berusaha untuk selalu menghibur dan menjaga Mila dan kandungannya.
Mila dulu begitu terpukul dan tidak siap menerima kenyataan kalau suaminya harus di penjara tapi karena sedang hamil Mila berusaha untuk bertahan apalagi Toni pun sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. itupun berkat Aldy yang terus meyakinkannya
Aldy berusaha selalu memenuhi kebutuhan Mila sampai prihal mengidam.
Namun yang tidak Aldy suka adalah setiap saat Mila selalu mengganggu aktivitasnya tanpa mengenal waktu bahkan selalu bilang dia adalah ayah dari bayi yang dikandungnya setiap kali Aldy menemaninya periksa kandungan.
Dulu Mila boleh bersikap seperti itu dan Aldy tidak mempermasalahkannya tapi sekarang ada hati yang harus ia jaga.Hati siapa lagi kalau bukan hati isterinya.
" Mas!" panggil Mila namun tidak di hiraukan oleh Aldy, karena saat ini dia sibuk memikirkan Khanza.
" Apa tadi dia melihatnya ya?" batin Aldy
Aldy meraih ponselnya lalu mengetik sesuatu.
..." Maaf, nanti aku hubungi lagi "...
Khanza yang tengah membaca pesan tersebut mengepalkan tangannya kuat.
" Aku kecewa sama kamu mas!" batin Khanza lalu pergi meninggalkan area sekolah dan sampai di depan pintu gerbang Khanza langsung menyetop taksi yang lewat.
Khanza masuk ke dalam taksi dengan gemuruh di dadanya.
__ADS_1