Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
khawatir


__ADS_3

Azka telah sampai di rumah sakit yang dituju. dengan langkah panjang dan ditemani oleh sang asisten siapa lagi kalau bukan Sendy, Azka mencari ruangan yang sudah Lia beritahu sebelumnya.


Setelah tiba di depan ruangan yang dimaksud Azka dan Sendy diam sejenak kemudian membuka pintu ruangan tersebut. betapa Terkejutnya Azka saat melihat siapa yang saat ini tengah berada di atas brankar bersama adiknya yang tengah duduk disampingnya.


Lia yang melihat pintu terbuka dan menampakkan sosok yang sangat dikenalnya langsung beranjak dari duduknya dan segera berlari menghampiri Azka. sementara Mario menatap tidak percaya bahwa yang ada dihadapannya adalah gurunya bagaimana mungkin Lia menghubungi guru mereka dibandingkan keluarganya sendiri pikir Mario.


Lia memeluk sang kakak dan Azka pun membalas pelukannya lalu mengecup lembut pucuk kepalanya.


" Dasar anak nakal!" kesal Azka menyentil dahi Lia setelah mengurai pelukannya.


" Aww" pekik Lia


" Kalian?" Mario sedikit tercengang melihat Azka dan Lia berpelukan


Lia dan Azka saling menatap bergantian ke arah Mario lalu menghela napas panjang.


Sendy hanya melihat interaksi ketiganya dengan gelengan kepala.


" Bagaimana ceritanya kalian ini bisa bersama-sama dan ada apa dengannya?" tanya Azka kepada Lia dan menunjuk ke arah Mario dengan dagunya.


" Ceritanya panjang kak, dia terluka terkena tusukan di bagian perutnya kak karena ingin menyelamatkan ku !" sahut Lia menggelayut di lengan Azka dan tentu saja ucapannya barusan membuat Mario semakin dibuat tercengang apalagi interaksi keduanya begitu dekat.


" Kakak?" bio Mario


" Apa kamu baik-baik saja?" tanya Azka mendekat ke arah Mario


" Ya!" singkat Mario " Apa kalian memiliki hub_?" ucapan Mario terpotong.


" Dia adik saya, Farisa Meliani Dinata dan perkenalkan saya Bagazkara Afraza Dinata!" ucap Azka seraya mengulurkan tangannya kepada Mario


" Jadi kalian ini benar-benar kakak beradik?" Mario seakan masih tidak percaya seraya meraih tangan Azka yang terulur kepadanya.


" Ya, pak Bagaz ini kakak kandung gue" ucap Lia santai


" pantas saja waktu itu_" lagi-lagi ucapan Mario terpotong


"Sudahlah, sekarang bagaimana lukamu apa ada yang serius?" tanya Azka


" Bapak tidak perlu khawatir saya baik-baik saja" sahut Mario


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian siapa yang sudah berani ingin mencelakai adikku ?" tanya Azka geram dan mengepalkan tangannya kuat


" Kak sepertinya Rara ingin balas dendam, dan aku sangat mengkhawatirkan Za ka. dia begitu berambisi terhadap kakak. aku takut Rara mengetahui hubungan kalian dan bisa saja dia berbuat nekad untuk mencelakakan Za" ucap Lia dan membuat Mario semakin sulit mencerna ucapan yang Lia lontarkan


" Hubungan ? hubungan apa yang loe maksud antara pak Bagaz dan Zaira?" tanya Mario


" Gue harap loe bisa pegang omongan gue dan gak bocor kesiapapun." ucap Lia " Za adalah kakak ipar gue" jawabnya


" Itu berarti Zaira adalah_" ucapnya terhenti


" Istri saya dan saat ini dia sedang mengandung calon bayi saya" sahut Azka


Mario tercengang tidak percaya ini seperti mimpi, gadis yang beberapa hari lalu menjadi incarannya bahkan sampai membawanya ke dalam masalah besar bahkan hingga menyangkut pautkan bisnis papanya ternyata adalah istri dari seseorang yang hampir saja membuat dia dan keluarganya hancur dan bangkrut. tapi karena berkat kebaikan Samuel serta Azka yang ingin memberi Mario kesempatan akhirnya bisnis papanya kembali lancar dan semua yang telah terjadi dijadikan pelajaran untuk keluarga Mario. belajar dari kesalahannya dia tidak ingin lagi membuat susah kedua orang tuanya terutama ibunya yang setelah kejadian itu sempat sakit dan dirawat di rumah sakit.


" Kenapa kalian menceritakan semua ini, apa tidak takut saya menceritakan semuanya kepada yang lain?" tanya Mario


" Gue percaya loe gak akan lakukan itu. karena loe orang baik dan terima kasih sudah nolongin gue!" ucap Lia yang tentu saja langsung membuat hati Mario meremang.


Mario hanya diam saja bingung untuk berkata apa degup jantungnya begitu sulit ia kuasai.


" Ah kenapa jadi deg degan gini sih" batin Mario ditambah saat melihat senyum Lia yang sungguh manis membuat debaran jantung Mario semakin kencang.


" Apa kamu mau pindah ke rumah sakit yang lebih besar, setidaknya lebih dekat dari rumah?" tanya Azka dan sebelum Mario menjawab Lia sudah lebih dulu mendahuluinya.


" Sepertinya itu lebih baik kak, dan tolong ya kak mintakan izin aku dan juga dia " ucap Lia menunjuk Mario dengan dagunya.


" Iya, nanti kakak bilang ke kepala sekolah"


" Sen, tolong ya urus surat perpindahannya ke rumah sakit Darma Medika!" titah Azka


" Siap bos!" Sendy langsung keluar dari ruangan tersebut untuk mengurus perpindahan Mario ke rumah sakit Darma Medika


🌿


Di rumah sakit Darma Medika


" Sebaiknya loe pulang aja gih, gue juga udah gak apa-apa kok. orang tua loe pasti sangat khawatir putrinya hilang dari kemarin" pinta Mario yang melihat Lia masih dalam keadaan lusuh dengan Hoodie jaketnya.


" Iya gue lupa gak minta baju ganti sama kak Azka, gue kucel banget ya?" tanya Lia yang merasa malu sendiri dengan kondisi dirinya yang kucel dan lusuh.


" Loe kucel juga tetap cantik kok!"


Deg


Wajah Lia langsung memerah ucapan Mario mampu membuat seorang Meliani merona.


Lia mengibaskan tangannya ke udara tepat di depan wajahnya.


" Udaranya kok gerah gini ya, apa karena gue belum mandi ya dari kemarin" Ucap Lia menetralkan suasana kecanggungan yang ada.


Sementara Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa canggung juga akibat ucapannya sendiri.


Saat keduanya dilanda kecanggungan pintu ruang perawatan Mario terbuka, menyembul dari balik pintu Azka dan kedua orangtua Mario.


" Mama, papa!" ucap Mario terkejut.

__ADS_1


Kedua orang tua Mario datang setelah Azka memberi kabar bahwa putranya saat ini dirawat di rumah sakit.


Awalnya Alex papa Mario salah paham namun setelah Azka menjelaskan perkara yang sebenarnya papa Alex malah merasa bangga karena putranya setidaknya sudah berubah. menggunakan kekerasan bukan hanya untuk berbuat onar lagi tapi kali ini ia gunakan untuk kebaikan menolong orang lain. meskipun ada rasa kekhawatiran tapi ada rasa bangga juga yang terselip di hatinya.


" Sayang!" mama Mario langsung berhambur memeluk putra kesayangannya itu.


" Awww!" ringis Mario dibalik pelukan sang mama


Lia yang melihat Mario meringis kesakitan merasa tidak tega. " Maaf tante jangan terlalu kuat memeluknya, lukanya_" ucap Lia menggantung


Mario tertegun dengan ucapan Lia, ternyata gadis segitu mengkhawatirkan dirinya. Mario tersenyum tipis.


mendengar ucapan Lia Mama Mario langsung melerai pelukannya dan melihat dengan teliti tubuh sang putra memeriksa luka yang dialaminya.


" Bagaimana bisa kamu sampai seperti ini sayang?" tanya mama Mario dibalik kecemasannya.


" Ma, aku gak apa-apa, ini hanya luka kecil, sebentar juga sembuh" ucap Mario menenangkan hati sang mama.


"Tapi_"


" Ma, sudah ya. aku bukan kali ini sajakan terluka seperti ini. mama tahu aku bukan. bahkan dulu aku jauh lebih dari ini ma" ucap Mario.


mama Mario hanya menghela napas panjang dan memukul lengan Mario " Dasar anak nakal, mau sampai kapan kamu bikin Mama khawatir terus" kesal mama Mario.


" Sudah ma, kasihan Mario dia butuh istirahat jangan di marahi terus ma!" suara papa Mario menghentikan mama Mario yang tengah kesal dengan kelakuan sang putra yang selalu saja bikin orang tua khawatir.


" Maaf tante, om karena tante dan om sudah ada disini saya mau pamit pulang" ucap Lia dengan sopan.


" Ah iya nak_" ucap mama Mario bingung mau memanggil apa karena belum mengenal nama Lia


" Meliani, namanya Meliani ma. mama!" ucap Mario memberitahu sang mama.


" Nak Meli, gak apa-apa kan tante panggil Meli?" tanya mama Mario


" Boleh tante, jika dirumah memang semua memanggil saya dengan nama Meli" jawab Lia dengan senyum manisnya.


" Saya pamit ya tante" ucap Lia seraya menyalami tangan mama Mario. dan nampak mama Mario sangat menyukai sosok gadis cantik dan ramah ini.


" Gue balik ya, semoga loe cepat sembuh dan sekali lagi thanks ya!" ucap Lia pamit kepada Mario


" Santai aja!" ucap Mario dengan ekspresi datar entah kenapa rasanya sedikit sepi didalam hatinya saat Lia hendak pamit pulang.


" Cepat sembuh ya, dan saya ucapkan terimakasih banyak sudah menyelamatkan adik saya" ucap Azka yang juga ikut pamit bersama Lia.


" Tidak masalah pak. " ucap Mario dengan tersenyum tipis.


❇️❇️❇️


Lia dan Azka kini sudah sampai di kediaman kedua orang tuanya.


" Sebenarnya apa yang terjadi sama Lia sih?" tanya Mona.


" Entahlah, setelah pulang dari rumah ku kemarin dia belum juga pulang sampai saat ini" sahut Zaira


" Pantas pak Bagaz nelpon gue " sahut Mita menimpali


" perasaan gue gak enak makanya mas Azka nelpon loe buat meyakinkan gue kalau Lia baik-baik aja tapi kenyataannya justru sebaliknya. Firasat gue semakin gak enak" tambah Zaira


" Sayang!" panggil Mama Maria saat menghampiri Zaira dan teman-temannya yang tengah duduk di taman menunggu kedatangan Lia dan Azka.


" Kamu sudah makan nak?" tanya mama Maria mengelus pucuk kepala Zaira dengan lembut


" Sudah ma tadi di rumah!" jawab Zaira sedikit berbohong karena semenjak Lia tidak ada kabar nafsu makannya berkurang jika tidak dipaksa oleh sang suami dia pasti enggan untuk makan.


" Yang benar, kamu tidak sedang berbohong kan sama mama?" senyum terukir di wajah sang mertua yang tahu dari sang putra kalau Zaira begitu mencemaskan keadaan adiknya dan pasti gak akan mau makan kalau tidak dipaksa.


Zaira cengir kuda dan menggigit bibir bawahnya karena ketahuan berbohong oleh mertuanya.


" Ayok makan dulu sayang, sekalian ajak teman-teman kamu. " ajak mama Maria


" Azka tadi sudah menelpon mama katanya dia sudah berada di jalan pulang bersama Meli, jadi kamu tidak usah khawatir lagi ya sayang. kasihan cucu mama pasti saat ini sudah merasa lapar karena mommy nya belum makan" sambung mama Maria seraya merangkul bahu Zaira mengajak Zaira masuk dan menyuruhnya untuk makan .


" Ayok yang lain temani Za makan ya!" pinta Mama Maria


" Iya Tante" ucap Mona yang langsung mendapat toyoran dari teman-temannya.


" Huuu" sorak mereka bersamaan dan tentu saja hal itu membuat mama Maria dan Zaira tertawa.


" Ayok!" ajak Zaira ke teman-temannya


Zaira berjalan bersama mama Maria dan yang lainnya mengekor di belakang.


Baru saja mereka selesai makan tiba-tiba dikejutkan dengan suara seorang gadis yang berteriak dari arah luar.


" Gaess!" teriak Lia berlari menuju teman-temannya yang masih berada di meja makan


" Lia!" teriak teman-temannya dan juga Zaira Seraya beranjak dari duduknya dan dengan segera menghampiri sumber suara


"Sayang jangan lari!" Teriak Azka saat melihat Zaira hendak berlari menghampiri Lia.


Zaira yang mendengar teriakkan Azka pun langsung menghentikan langkahnya. ia lupa akan kondisi tubuhnya yang tengah berbadan dua saking senangnya melihat sahabat plus adik iparnya pulang dalam keadaan baik-baik saja.


Azka yang kini malah dengan langkah cepat menghampiri Zaira. " Sayang, jangan ceroboh! ingat kondisi kamu dong sayang!" ucap Azka perhatian.


" Iya maaf!" ucap Zaira mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Lia yang tengah dipeluk oleh teman-temannya Seketika pandangannya tertuju pada Zaira yang memberengut di marahi oleh kakaknya.


Lia melerai pelukan teman-temannya lalu menghampiri si bumil yang tengah cemberut.


" Kak udah dong, kakak iparku ini jangan dimarahin terus" ucap Lia saat sudah berada di hadapan Azka dan Zaira.


Zaira yang memang sudah sangat mengkhawatirkan sang adik ipar plus sahabat baiknya ini langsung menghambur memeluk Lia dan tangisnya pun pecah bumil yang satu ini sungguh sedang sensitif.


" Za, hei udah dong nangisnya!" pinta Lia seraya melepaskan pelukannya


" Li loe gak apa-apakan?" tanya Zaira lalu memutar tubuh Lia mengecek apakah ada yang terluka atau tidak.


" Za gue gak apa-apa, loe gak usah cemas. ingat loe lagi mengandung keponokan gue jadi jangan terlalu cemas ya sayang!" gemas Lia mencubit pipi Zaira


" lepas, sembarang main cubit-cubit aja pipi orang!" kesal Azka pada sang adik menarik menepuk punggung tangan sang adik.


" Cihh, bucin!" ejek Lia.


" Ayok sayang!" ajak Azka merangkul bahu Zaira tapi yang dirangkul malah melepaskan tangan Azka yang bertengger di bahunya.


Azka menatap tak percaya kalau istrinya menolak ajakannya.


" Sayang!" panggil Azka dengan nada selembut mungkin


Zaira bersikap cuek bahkan tidak menghiraukan panggilan Azka. rupanya si bumil yang satu ini tengah merajuk pada pak suami.


Azka mendengus kesal sementara Lia mengulum senyumnya menahan geli melihat pasutri yang absurd menurut Lia.


"Sayang!" panggil Mama Maria yang baru keluar dari dapur pasalnya ketika tadi Lia dan Azka pulang mama Maria tengah menerima telpon dari papa Sam.


" Mama!" teriak Lia yang menoleh ke mama Maria dan langsung berhambur kepelukannya.


" Ya Allah sayang, kamu kemana saja nak, mama, papa semuanya disini sangat mengkhawatirkan kamu nak!" mama Maria memeluk Lia dan sesekali mencium kening dan pipi Lia bergantian.


" Bagaimana keadaan kamu sayang, mama sangat khawatir" mama Maria mengecup kening Lia lalu kembali memeluknya.


Rasa cemas dan kekhawatirannya kini melebur begitu saja setelah melihat Lia putri kesayangannya tengah berdiri di hadapannya dalam keadaan baik-baik saja.


" Meli baik-baik saja ma, mama jangan khawatir ya Mel bisa jaga diri kok. liat nih Mel gak kenapa-napa kan!" ucap Lia dengan sombongnya


" Belagu loh!" ucap teman-temannya mengolok Lia


Lia hanya tertawa menanggapi teman-temannya.


" Yaudah gaes gue tinggal dulu ya, mau mandi nih!' ucap Lia pamit ke kamarnya.


" Iya Sono gi loe mandi, bau banget tau!" ejek Indah.


" Sialan loh!" Lia mencibikkan bibirnya


Dan seketika tawa di ruangan itu pun pecah namun hanya ada satu orang yang tidak tertawa yaitu Azka dia masih merasa kesal dengan sikap istrinya yang malah marah dengannya.


" Sayang!" panggil Azka dengan nada yang sangat lembut


Zaira melengos dan malah menghampiri mama mertuanya.


" Ma Za mau bikin puding mama punya bahan-bahannya gak ma?" tanya Zaira yang sengaja menyibukkan diri untuk memberi hukuman kepada pak suami.


" Sepertinya habis sayang!" ucap mama Maria.


" Yes!" batin Azka karena dia tahu istrinya saat ini sedang menghindar darinya.


sebenarnya Zaira tidak marah dengan Azka dia juga tahu kalau tindakannya itu salah. tapi karena Azka sudah berteriak didepan sahabat-sahabatnya jadi Zaira ingin memberi sedikit hukuman untuk pak suami tercintanya.


" Oh yaudah ma gak apa-apa kalau gak ada mah" ucap Zaira


" Apa kamu kepingin banget sayang?" tanya mama Maria


" Tidak mah, tadi Za cuma ingin bikin cemilan aja soalnya kalau malam Za suka lapar" ucap Zaira yang sebenarnya merasa malu.


" Yaudah nanti mama minta bi Sum untuk membelikan bahan pudingnya ya sayang'," ucap mama Maria dan Zaira hanya mengangguk pelan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Lia sudah pergi ke kamarnya guna membersihkan dirinya yang kotor dan lusuh. sementara para sahabatnya sudah pamit pulang setelah tahu keadaan Lia baik-baik saja.


Sedangkan Azka kini sedang berada di dalam kamarnya tengah merayu si bumil.


" Sayang udah dong yang ngambeknya. mas gak kuat kalau didiamkan begini sama kamu yang!" bujuk Azka memeluk Zaira dari belakang.


Zaira sebenarnya sudah tidak tahan dengan dekapan hangat suaminya itu yang selalu mampu menyalurkan desir-desir rasa nyaman yang luar biasa pada reaksi tubuhnya.


" Sayang mas minta maaf ya kalau mas tadi sempat berteriak sama kamu, habis mas takut banget sayang melihat kamu yang mau lari menghampiri Meli" ucap Azka memelas.


Zaira berusaha untuk menahan tawanya namun ternyata usahanya gagal ketika Azka dengan pandainya menyelusupkan tangannya kebalik baju yang Zaira kenakan.


Azka memberusut kebawah dan mensejajarkan tinggi tubuhnya ke arah perut Zaira yang sudah terlihat sedikit membuncit.


Zaira berusaha menahan geli dan tawanya tatkala Azka dengan lembut dan penuh cinta mengusap dan mencium perut Zaira.


" Maafin daddy ya sayang, bilang sama mama ya sayang jangan lama-lama marahnya sama dedy gitu ya. daddy kesepian nak!" ucap Azka menenggelamkan wajahnya di perut istri kecilnya.


" Sayang!" lirihnya.


" Sudah mas geli tau!" ucap Zaira dingin membuat Azka salah paham terhadap dirinya.


" Mas, Udah ih!" kesal Zaira yang sedetik kemudian ia dikejutkan dengan suara ponselnya yang berdering di atas nakas.

__ADS_1


Azka melepaskan tangannya dari perut Zaira lalu berjalan menuju kamar mandi dengan wajah kesalnya, namun belum sampai masuk ke dalam kamar mandi langkah Azka pun terhenti ketika Zaira menyebut nama Seseorang yang sudah tidak asing lagi baginya.


__ADS_2