
Mobil bus yang ditumpangi para siswa dan siswi SMA Darma Bangsa sudah sampai di tempat tujuan.
Zaira yang tubuhnya masih terasa lemas turun dari dalam mobil dibantu oleh Azka. dan sontak saja pemandangan itu langsung menjadi pusat perhatian para murid yang melihatnya.
" Kak biar aku saja yang membantu Za, jangan sampai kalian ini menjadi pusat perhatian murid-murid yang lain!" bisik Lia merangkul bahu Zaira dibantu juga dengan Mita memberitahu kakaknya kalau banyak murid dan juga guru yang tengah memperhatikan mereka.
" Baiklah kalau begitu, tolong ya Mel jaga Za dengan baik kalau ada apa-apa langsung kasih tau kakak!" ucap Azka berpesan kepada adiknya Meliani.
" Iya kakak tenang aja, yuk Za!" sahut Lia yang menggandeng tangan Zaira dan mengajaknya ke tempat anak-anak yang lainnya berkumpul.
**
Anak-anak sudah dibagikan perkelompok dari beberapa kelas. para siswa ditugaskan untuk mendirikan tenda dan para siswi sebagian ada yang bertugas mencari kayu bakar dan sebagian lagi membuat dapur untuk memasak.
Karena Zaira sedang kurang sehat maka dia diizinkan untuk beristirahat di sebuah tempat yang tidak jauh dari area perkemahan dan tempat itu sebenarnya tempat untuk beberapa staf guru dan juga tim medis yang memang disediakan oleh pihak sekolah untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dan ditempat tersebut bukan hanya Zaira saja tapi ada juga beberapa siswi yang ternyata sakit karena mabuk perjalanan.
" Kalian kalau mau pergi yaudah pergi aja, gue gak apa-apa kok disini juga banyak temannya!" ucap Zaira yang merasa tidak enak karena sudah merepotkan.
" Iya kalian balik aja gih sana biar Za sama gue aja disini yang nemenin" ucap Lia yang tengah duduk di samping tempat tidur Zaira.
" Tapi Za loe beneran gak apa-apa?" tanya Mita
" Zaira tersenyum" gue udah merasa mendingan kok"
" Yaudah kita balik ke tenda ya, kalau butuh apa-apa loe kasih tau gue ya!" ucap Mia
__ADS_1
" Iya, thanks ya semuanya!" ucap Zaira
**
Tenda-tenda sudah berdiri kokoh para siswa lanjut menyusun kayu bakar untuk acara nanti malam membuat api unggun. Sementara para siswi yang bertugas memasak sudah menyusun masakannya beralaskan daun pisang untuk disantap bersama-sama.
Para siswa dan siswi dikumpulkan sebelum acara dimulai kepala sekolah memberi sambutan dan juga wejangan kepada para siswa dan siswi yang mengikuti pelaksanaan kegiatan camping tersebut.
Semua murid sudah berkumpul tidak terkecuali dengan Zaira, awalnya Azka melarangnya untuk ikut namun Zaira terus saja memaksa dan mau tidak mau Zaira pun ikut.
Disela acara makan bersama Zaira yang mencium aroma bumbu masakan tiba-tiba perutnya merasa seperti di aduk-aduk.
Zaira membekap mulutnya rasa mual kini kembali ia rasakan.
Azka yang ternyata tengah sibuk dengan para siswa dan siswi kelas 12 tidak mengetahui kondisi Zaira, ia menjadi tidak tenang pikirannya terus kepada istri kecilnya itu.
Azka terkesiap dan langsung menoleh" kamu ngagetin saya saja!" ucap Azka yang sedetik kemudian memilih untuk pergi namun baru saja melangkah dengan tidak sopannya Rara menarik tangan Azka dan tentu saja hal itu membuat Azka mengernyitkan alisnya.
Azka melirik tangan Rara yang bertengger di lengannya.
" Bapak mau kemana, mending di sini saja pak temani saya makan!" ucap Rara terdengar begitu menggoda.
" Jaga sikap kamu Rara!" ucap Azka tegas.
" Kenapa, apa sebenarnya yang sudah Zaira berikan kepada bapak sampai-sampai bapak begitu perhatian sama dia, apa saya tidak bisa memberikan yang Zaira berikan kepada bapak?" tanya Rara dengan raut wajah seakan meremehkan Zaira.
__ADS_1
" Sudah saya bilang jaga ucapan kamu dan juga jaga batasanmu. aku ini guru kamu jadi jangan bersikap diluar batas kamu Rara" ucap Azka sinis dia paling tidak suka dengan sikap Rara yang dianggap terlalu berlebihan dan juga keterlaluan.
" Tapi saya suka sama bapak, jadi jangan dekat-dekat sama Zaira terus pak saya cemburu, saya juga mau bapak memperhatikan saya seperti bapak memperhatikan Zaira. lagi pula apa bagusnya dia sih pak dibandingkan dengan saya!" ucap Rara dengan sombongnya.
Azka malas menghadapi gadis seperti Rara dan lebih baik memilih untuk pergi namun kesialan untuk Azka kali ini baru terlepas dari lalat kecil dia sudah harus berhadapan kembali dengan lalat besar.
" Loh pak Bagaz mau kemana? sudah disini saja pak temani saya!" ucap Bu Mayang
" Maaf Bu saya masih ada keperluan!" ucap Azka sedikit dingin
" Dasar sok jual mahal, awas saja. saya akan pastikan pak Bagaz nanti akan jadi suami saya" gumam Bu Mayang setelah Azka pergi meninggalkannya begitu saja.
Sementara di dalam sebuah tenda yang cukup untuk 6 orang Zaira tengah rebahan sendirian karena yang lain sedang ikut kegiatan yang diadakan oleh panitia sementara Zaira terpaksa tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut karena tiba-tiba rasa mualnya kembali menyerangnya ditambah lagi kepalanya yang sedikit terasa pusing. hanya Lia yang menemani Zaira tapi saat ini dia sedang membuatkan teh hangat untuknya.
" Duh gue pingin buang air kecil lagi, Lia mana ya kok lama banget sih. apa gue keluar sendiri aja ya, sebentar gak apa-apa kali ya" gumam Zaira lalu keluar dari dalam tendanya dan mencari letak toiletnya.
Zaira menyusuri jalan setapak dan mencari toilet umum yang ada di lokasi tersebut. " Mana ya toiletnya.?" tanya Zaira pada dirinya sendiri.
" Itu ada orang gue tanya aja sama mereka kali ya , dan kayaknya juga mereka dari sekolah yang sama?"
Zaira berjalan dengan sedikit sempoyongan ke arah tiga orang remaja perempuan dan dua remaja laki-laki yang tengah duduk di bawah pohon entah apa yang mereka lakukan disana tapi dari kaos yang mereka pakai nampaknya mereka dari sekolah yang sama mungkin saja itu kakak kelas mereka pikir Zaira tapi kenapa tidak gabung dengan yang lain ya.
" Permisi!" sapa Zaira kepada ke lima orang tersebut dan betapa terkejutnya Zaira saat melihat siapa yang disapanya.
" Kalian?" ucap Zaira dibalik keterkejutannya
__ADS_1
" Wah..wah... kesempatan yang sangat bagus, kita tidak perlu repot-repot menghampiri rubah kecil ini dengan sendirinya dia datang menghampiri kita!" ucap salah satu gadis yang beranjak dari duduknya saat melihat Zaira berdiri di hadapannya. gadis itu berjalan dengan langkah perlahan mengelilingi Zaira dengan wajah menyeringai sinis. Zaira semakin tertegun dan sulit menelan salivanya ketika melihat teman-teman dari gadis itu ikut menghampiri dirinya sambil tertawa terbahak-bahak seakan ingin menelan Zaira hidup-hidup.
" Ap... apa mau kalian?" tanya Zaira dalam ketakutannya dan kelima orang tersebut malah semakin tertawa puas melihat raut wajah Zaira yang nampak panik dan pucat.