Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Mario yang Malang


__ADS_3

Lia merasa bersyukur tapi sekaligus kesal pasalnya setelah diketahui kalau dirinya kini tengah berbadan dua Mario dan juga para orangtua mereka menjadi lebih posesif dan juga over protective.


Hampir setiap hari mama Novi datang ke kediaman Dinata hanya untuk membawakan menantu kesayangannya itu makanan-makanan sehat ya spesial dia masak sendiri, mama Maria tidak menyangka kalau perhatian mertua dari putrinya itu sangatlah besar apalagi setelah Lia hamil.


Lia bahkan dilarang ke sekolah untuk sementara waktu sampai kondisi kesehatannya benar-benar stabil , untung saja Lia tidak mengalami morning sickness seperti para wanita hamil pada umumnya tapi justru Mario lah yang setiap pagi disibukkan dengan kegiatan bolak-balik ke kamar mandi karena perutnya yang terasa mual seperti diaduk-aduk ingin segera dikeluarkan.


Melihat Mario yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang nampak lemas dan berjalan gontai naik ke atas tempat tidur membuat Lia merasa sangat kasihan dan sedih tentunya, tapi mau bagaimana lagi Lia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengusap-usap dengan lembut punggung suami tercintanya itu.


" Kamu gak apa-apa Io?" tanya Lia cemas melihat wajah Mario yang begitu pucat


" Aku gak apa-apa sayang, aku tidak bisa membayangkan jika kamu yang merasakan hal seperti ini, apa aku sanggup melihatnya? untung saja tuhan begitu adil karena aku bisa menggantikanmu yang merasakan mual seperti ini" tutur Mario membuat Lia auto meleleh di buatnya.


" Io!" ucap lirih Lia yang langsung memeluk Mario penuh cinta.


" Meskipun keadaan aku seperti ini jika kamu menginginkan sesuatu jangan menyembunyikannya dari aku ya, apapun yang kamu inginkan sebagai calon ayah aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita dan juga isteriku tentunya!" ucap Mario yang tengah menahan rasa mualnya.


Lia menggeleng-gelengkan kepalanya " Aku gak ingin apa-apa Io, yang aku ingin itu kamu sehat" jawab Lia yang sudah meneteskan air mata.


" Sebentar!" Mario mangurai pelukannya dan langsung memberingsut turun dari tempat tidur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


" Huwkk.... huwkk...!" Lia memijat tengkuk Mario dan sesekali mengusap punggungnya.


" Sebaiknya kamu diluar saja sayang, ini menjijikkan!" ucap Mario disela serangan rasa mualnya yang kembali datang.


" Io aku ini isteri kamu, kenapa jijik dengan keadaan kamu yang seperti ini lagi pula ini juga semuanya karena aku!" ucap Lia sendu.


Mario berusaha menegakkan tubuhnya menekan rasa mualnya, melihat wajah sendu dan air mata yang terus mengalir di pipi mulus sang isteri tentu saja Mario merasa tidak tega dan langsung memeluknya.


" Ini bukan salah kamu sayang, justru aku senang bisa merasakan apa yang para isteri rasakan saat mengandung anak-anak mereka. aku justru bangga karena ikatan kita ternyata begitu erat dan dengan kehadiran Mario junior akan menambah ikatan cinta kita semakin erat dan kuat lagi sayang!" ucap Mario mengecup kening Lia lalu memberingsut ke bawah untuk memberi kecupan lembut ke arah perut Lia yang masih nampak rata.


" Io!" Lia tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum bahagia dan kembali menitikkan air matanya.


Mario berdiri kembali dan merangkul Lia mengajaknya keluar dari kamar mandi. Mario dan Lia duduk di tepi tempat tidur dengan saling menatap dan melempar senyumannya.


" Bagaimana keadaan kamu Io, apa sudah lebih baik?" tanya Lia yang begitu mencemaskan keadaan sang suami.


" Aku sudah tidak apa-apa Sayang, hanya mulutku saja yang rasanya sedikit pahit dan ingin makan yang asam-asam" sahut Mario seraya menyandarkan kepalanya di bahu Lia dengan mata yang terpejam.


" Yaudah kalau begitu kamu istirahat dulu gih, aku ambilkan sarapan dulu setelah itu baru kamu boleh makan yang asam-asam" pinta Lia


seraya beranjak dari duduknya dan ingin melangkah keluar.


" Sayang, aku gak mau makan rasanya tuh mual, aku mau makan yang asam-asam saja ya" rengek Mario menyambar tangan Lia dan bergelayut manja seperti bukan sosok Mario yang biasanya terlihat cool dan gagah. Mario seperti anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya meminta di belikan permen membuat Lia terkekeh dan merasa gemas dengan kelakuan sang suami yang begitu manja padanya hari ini.

__ADS_1


" Iya.... iya... tunggu sebentar ya suamiku!" ucap Lia mencubit gemas pipi Mario sebelum ia berjalan keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur.


" Loh kamu mau ngapain ke dapur sayang?" tanya mama Maria saat melihat putrinya sudah berada di dapur dan hendak membuka lemari es.


" Ma, Meli rasanya gak tega banget melihat kondisi Mario seperti itu setiap hari" ucap Lia lirih membuat mama Maria yang sibuk memotong sayuran langsung menghentikan aktivitasnya lalu menghampiri Lia.


" Masih mual?" tanya mama Maria dan Lia mengangguk pelan.


" Yaudah nanti mama buatin suami kamu wedang jahe ya, semoga saja rasa mualnya bisa berkurang" ucap mama Maria mengelus lembut rambut Lia.


" Ma, Mario minta makan yang asam-asam bagaimana ma, inikan masih terlalu pagi?" tanya Lia dengan raut wajah sendu


" Gak apa-apa sayang, ambilkan saja tuh buah mangga yang ada di kulkas tapi bilang sama suami kamu makannya jangan banyak-banyak, sedikit saja " ucap mama Maria


" Iya deh ma, Mel mau kembali ke kamar lagi ya mau bawain Mario buah mangganya dulu, semoga aja rasa mualnya cepat hilang" pamit Lia.


" Iya sayang" sahut mama Maria yang hendak membuatkan wedang jahe untuk menantunya itu.


Lia beranjak dari dapur dan kembali ke kamarnya untuk menemui Mario. tadi setelah Lia keluar dari kamarnya, Mario kembali diserang rasa mual yang luar biasa, sampai Mario terduduk lemas di lantai dengan wajah yang sedikit pucat.


Ceklekk


Pintu kamar terbuka Lia nampak terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya, Mario yang terlihat begitu lemas dengan wajah yang pucat tengah duduk di lantai dan bersandar pada tempat tidur


" Io, kita ke rumah sakit saja ya, aku gak tega melihat keadaan kamu terus seperti ini!" pinta Lia dengan perlahan membantu Mario berdiri dan naik ke atas tempat tidur.


" Aku gak apa-apa, dokter Dinda bilang ini sesuatu hal yang wajar seorang suami merasakan mual ketika isterinya tengah hamil" ucap Mario dengan suara yang begitu lemah.


" Yaudah kamu istirahat saja dulu, aku akan turun dulu untuk mengambilkan wedang jahe, tadi mama bilang mau membuatkan kamu wedang jahe agar mualnya sedikit berkurang." ucap Lia namun Mario menggelengkan kepalanya.


" Tidak usah sayang, jika kamu mundar mandir naik turun tangga justru aku yang akan tambah khawatir. sudah diam saja disini lagi pula aku sudah tidak apa-apa sayang!" Mario menarik Lia agar ikut rebahan dengannya di atas kasur.


...☄️☄️☄️☄️☄️...


Pagi ini di kediaman Bagazkara suara tangis baby Zia membuat mama dan papa baru itu nampak sedikit dibuat heboh.


Zaira yang tengah sibuk membuatkan sarapan untuk Azka terpaksa harus berlari menghampiri baby Zia yang menangis karena saat terbangun dia tidak melihat siapa-siapa didekatnya.


Azka yang berada di dalam kamar mandi pun dengan cepat menyelesaikan mandinya dan langsung menyambar handuk buru-buru untuk keluar.


Ceklekk


Secara bersamaan pintu kamar dan pintu kamar mandi terbuka dan dengan cemas keduanya setengah berlari menghampiri box baby Zia.

__ADS_1


"Sayang!" karena jarak Azka yang lebih dekat dengan box baby Zia maka otomatis Azka yang sudah lebih dulu mengangkat dan menggendong baby Zia yang tengah menangis.


" Maaf mas aku tadi sedang membuat sarapan!" ucap Zaira


" Tidak apa-apa sayang" jawab Azka tersenyum lembut.


Zaira mengambil alih baby Zia yang berada di gendongan Azka.


" Mas pakai bajunya dulu gih!" ucap Zaira seraya duduk dan memberikan asi kepada baby Zia.


Azka kini sudah rapih dan tengah menikmati sarapannya dengan Zaira dan juga baby Zia.


Untuk beberapa hari ini Zaira terpaksa harus melakukan semuanya sendiri, karena mbok Iyem dan bi Ningsih sedang pulang kampung karena suami bi Iyem meninggal dunia.


Za ingin ikut mengantarkan mereka tapi dengan kondisi baby Zia yang masih terlalu kecil jadi dia tidak bisa ikut.


Azka pun demikian karena sibuk mengajar apalagi disekolah tengah pengambilan nilai akhir Azka pun hanya bisa meminta tolong kepada mang Diman untuk mengantarkan mbok Iyem dan bi Ningsih.


Azka mengantarkan Zaira ke kediaman Dinata karena jika di rumah Zaira hanya sendirian dan bila di rumah mamanya disana ada mamanya dan juga Lia.


Azka sudah berangkat ke sekolah setelah mengantarkan Zaira dan baby Zia.


Sesampainya di sekolah seperti biasa jam pertama Azka ada di kelas 10.


" Gila itu guru boleh juga!" ucap seorang siswi baru pindahan dari kota B yang melihat Azka keluar dari ruangannya dan menghampiri para murid-muridnya yang sudah berkumpul di lapangan.


" Oh itu pak Bagaz, jangan macam-macam udah punya isteri!" sahut murid lainnya.


" Kenapa memangnya kalau sudah punya isteri, siapa tahu dia lebih suka dengan daun muda ABG kayak kita-kita" jawab siswi baru yang bernama Bunga.


" Jangan salah isteri pak Bagaz itu salah satu murid yang paling terkenal di sekolah ini, namanya Zaira selain cantik dia juga pintar. tapi sekarang dia homeschooling karena sudah hamil" ucap siswi tersebut.


" Hamil, mereka married by accident?" tanya Bunga


" Gak, mereka memang sudah lama menikah "


" Masa sih, masa masih sekolah sudah nikah?"


" Ya namanya juga keluarga Sultan "


" Maksudnya?"


" Ya pak Bagaz itukan keluarga tajir dan pemilik sekolah ini bisa-bisa aja kan" Bunga manggut-manggut tetapi dalam otaknya sedang merencanakan sesuatu yang hanya dia dan tuhan yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2