Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

" Itukan_?" Miska pun mengenali sosok yang Khanza lihat


" Ternyata pak Aldy sudah menikah dan punya anak Za?" ucap Miska


Jlepp


Khanza seperti dihantam bongkahan batu besar ke relung hatinya yang terdalam.


" Menikah? anak? memulai dari awal? apa arti semua ini?" batin Khanza yang bergemuruh hebat


" Ya Allah berarti posisi ku saat ini adalah orang ketiga dan aku menjadi pelakor, tidak aku tidak mau hal itu sampai terjadi. aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang"


" Khanza loe kenapa?" tanya Miska yang melihat Khanza melamun


" Ya? sorry... sorry.. gue tadi tiba-tiba teringat ibu dirumah" bohong Khanza


" Memangnya ibu loe kenapa?" tanya Miska seraya mengernyitkan keningnya


"Enggak kenapa-napa cuma keingat aja, besok kan gue mau camping jadi ya kepikiran aja. ya loe kan tahu gue gak pernah jauh-jauh dari ibu " ucap Khanza yang sedikit sendu


" Iya gue tahu gue paham, anak ibu!" Miska memeluk Khanza dari samping.


" Oiya Mis, gue ke toilet dulu ya. udah gak tahan nih!" ucap Khanza yang lagi-lagi berbohong.


Khanza lebih memilih menghindar dan pergi ke toilet dari pada melihat sebuah keluarga bahagia yang akan melintas di hadapannya.


" Yaudah gih, nanti gue tunggu disana ya!" tunjuk Miska ke arah bangku tunggu yang tersedia di mall xx tersebut.


" Oke" Khanza langsung berlari ke arah toilet.


Sesampainya di toilet entah kenapa Khanza tidak bisa menahan sesak yang menghantam dadanya. Khanza menangisi nasibnya yang ternyata adalah orang ketiga di dalam rumah tangga suaminya.


" Kenapa dia lakukan ini?" gumam Khanza


" Gue gak boleh lemah dan gue gak boleh menghancurkan kebahagiaan orang lain"


Khanza mencuci wajahnya lalu menatap lekat wajahnya sendiri melalui cermin yang ada di hadapannya.


" Jangan sedih Za, lagi pula pernikahan ini tidak ada artinya apa-apa dan semua belum dimulai, anggap saja ini adalah sebuah pelajaran berharga untuk menjalani kehidupan loe kedepannya" Khanza menyemangati dirinya sendiri.


" Khanza itu gadis kuat, loe bukanlah siapa-siapa pernikahan ini hanyalah diatas kertas. ayo Za tersenyum" Khanza melihat senyum diwajahnya melalui pantulan cermin.


" Begitu dong Za, jangan lemah dengan permasalahan yang ada"


Khanza lalu keluar dari toilet dan mencari keberadaan Miska dan juga teman-temannya yang mengatakan mereka sudah sampai.


" Miska!" teriak Nana yang berjalan menghampirinya.


Aldy yang mendengar nama Miska langsung menoleh ke arah salah satu gadis yang tidak asing.


" Miska, bukannya itu teman-temannya Khanza?" batin Aldy yang melihat Nana dan juga teman-temannya


" Itu Miska temannya Khanza, bukannya tadi Khanza bilang akan pergi ke rumahnya tapi kenapa Khanzanya tidak ada?" Aldy bertanya-tanya dalam hati keberadaan isteri kecilnya itu.


" Mas!" panggil seorang wanita cantik yang sedari tadi berada di samping Aldy


" Ya?"


" Mas kenapa melamun? mas kenal sama mereka?" tanya wanita tersebut


" Oh mereka itu murid-murid aku disekolah" jawab Aldy lalu tersenyum


" Oh murid-muridnya mas Aldy"


" Ya sudah ayok kita pulang!" ajak Aldy yang sedang menggendong seorang anak kecil


" Nino pasti berat mas, biar aku yang gendong" pinta wanita yang bernama Mila


" Tidak apa-apa, ayo jalan!" Aldy melangkah pergi dari mall tersebut dan tanpa Aldy sadari di balik dinding besar ada seseorang yang sedang memperhatikannya.


" Bapak jahat!" umpat Khanza lalu bergegas menghampiri teman-temannya setelah memastikan Aldy sudah pergi


" Hai semuanya!" sapa Khanza dengan senyum yang dipaksakan


" Loe kemana aja sih Za, ke toilet apa ketiduran loe ?" ejek Hana


" Biasalah namanya juga cewek" Khanza cengengesan


" Hai yayang Khanza!" sapa Nicko yang langsung mendapat tinjuan dari Khanza di bahunya


" Yayang.... yayang... peyang!"


" Duh makin gemes deh kalau yayang Za lagi marah " goda Nicko


" Apaan sih ini anak gak jelas banget loe babang" Khanza malah menpiting leher Nicko


" Udah Za bisa metong tuh anak orang" Seru Billy


" Gak apa-apa gue rela kok yayang Za" sahut Nicko yang langsung membuat teman-temannya mual mendengar ucapannya


" Lebay loe udah akut Ko" ucap Hana

__ADS_1


" Tau nih anak obatnya habis kali ya" ledek Khanza


" Ya kan obatnya loe Za" sahut Nicko mengedipkan matanya


" Uwekk!" Khanza seolah muntah


" Udah yuk ah cus nimpalin tuh anak gak bakal ada habisnya" celetuk Miska


" Apa sih loe Miska sayang!" Nicko kini beralih pada Miska dan melingkarkan tangannya di leher Miska


" Ih... apaan sih loe Ko , lepas gak!" kesal Miska


" Galak-galak amat sih ya pada" ucap Nicko yang langsung menjauhkan tangannya dari leher Miska


" Yuk ah Za!" Miska langsung menarik tangan Khanza dan mereka pun akhirnya berkeliling mencari apa yang mereka butuhkan.


Setelah selesai berbelanja Khanza dan teman-temannya memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum pulang.


" Khanza!" panggil Miska


" Za!" panggilnya lagi dengan menyiku lengannya


" Iya kenapa Mis?" tanya Khanza dengan muka bodohnya


" Loe kenapa sih, dari tadi gue perhatiin aneh banget tau gak sih loe?" bisik Miska


" Gue gak apa-apa" jawab Khanza lalu menyeruput minuman yang ada di hadapannya


" Gue tahu loe Za, loe gak pandai berbohong"


Deg


Khanza merasa salah tingkah takut Miska tahu akan kebohongannya.


" Kalau loe memang gak mau cerita sama gue gak apa-apa" Bisik Miska lagi


Khanza menoleh ke arah Miska yang memang duduk di samping kanannya.


" Udah cepat makan makanan loe nanti yang lain curiga!" ucap Miska yang sedari tadi melihat Khanza hanya mengaduk-aduk makanannya saja.


Khanza pun langsung menurut dan memakan makanannya walaupun sebenarnya dia tidak berselera.


" Za loe pulangnya gue yang antar ya!" ucap Nicko yang berharap Khanza mau


" Emmm... sorry ya Ko, gue pulangnya bareng Miska" jawab Khanza


" Yaelah Za susah bener loe gue ajak pulang barengnya" ucap Nicko sendu


" Kok kita-kita gak diajak sih?" ucap Nana


" Ya bukannya gitu kalian kan beda arah pulangnya, takutnya kalian nanti capek besok kan kita mau camping" sahut Khanza mencari alasan


" Iya juga sih" timpal Hana


" Lagian juga bukan masalah penting kok, cuma mau mampir ke toko buah buat besok bawa, kita bikin rujakkan" tutur Khanza


" Wah iya tuh asik, oke gue mau" ucap Nana


" Soal makanan aja cepat" ledek Hana


" Biarin, wleee!" Nana memeletkan lidahnya mengejek Hana


" Sudah ah, udah hampir sore nih kita pulang yuk!" ajak Khanza


" Ayolah cus!" semua beranjak dari duduknya.


Didalam mobil Khanza diam saja tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Khanza fokus melihat ke arah jendela dengan berbagai pikiran yang berkecamuk.


" Za sebenarnya loe ini kenapa sih, gue bukannya mau ikut campur urusan loe tapi melihat loe kayak gini gue gak tega " ucap Miska yang memecah keheningan.


Khanza menundukkan pandangannya dan menghela napasnya berat.


" Sejak loe melihat pak Aldy sikap loe berubah Za, atau jangan-jangan loe suka ya Za sama pak Aldy?" tebak Miska


Khanza mendongakkan kepalanya berusaha untuk menahan airmatanya yang sudah mengembun di pelupuk matanya agar tidak terjatuh


" Kalau sekedar suka itu masih bisa diusahakan untuk dihapus tapi kalau sudah terikat bagaimana cara melepaskannya" Khanza tiba-tiba terisak membuat Miska terkejut dan langsung membanting setirnya ke kiri.


" Khanza!" panggil Miska dengan wajah bingungnya


" Gue harus bagaimana Mis?" Khanza semakin terisak


" Za sumpah gue gak ngerti, maksud loe apa sih? ikatan apa maksud loe?" Miska memegang kepalanya merasa bingung


Khanza tertunduk dan sedetik kemudian ia memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya.


" Maksudnya?" Miska bertambah bingung


" Jika yang tadi itu adalah isteri dan anak pak Aldy lalu gue...?" Khanza menjeda ucapannya


" Loe? maksudnya apa sih Za sumpah deh Za gue benar-benar gak ngerti"

__ADS_1


Sedetik kemudian Miska terdiam " Jangan bilang loe sama pak Aldy_?" Khanza mengangguk


" Ini adalah cincin pernikahan gue sama pak Aldy Mis" Khanza kembali terisak.


Miska menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar pengakuan Khanza.


" Loe lagi gak bercanda kan Za?" Khanza menggeleng


" Gue adalah orang ketiga Mis, gue.... gue ternyata pelakor. gue gak mau Mis... gue gak mau!" teriak Khanza lirih.


Miska tidak bisa menahan kesedihannya melihat sahabatnya yang nampak begitu terpuruk.


Miska menarik tubuh Khanza kedalam pelukannya.


" Menangislah Za, menangis sepuasnya setelah ini loe harus bangkit , yang gue tahu loe adalah sahabat gue yang paling kuat Za"


" Gue bodoh banget ya Mis, kenapa gue mau menjalankan pernikahan ini toh pada kenyataannya gue sama pak Aldy memang tidak ada hubungan apa-apa, kenapa Mis kenapa? kenapa mereka menikahkan gue dengan laki-laki yang sudah beristri bahkan sudah punya anak" tangis Khanza terdengar begitu memilukan siapa pun yang mendengarnya pasti akan merasa iba.


" Gue gak mau menjadi perusak hubungan orang gue gak mau" Khanza menggelengkan kepalanya berkali-kali.


" Iya gue tahu Za, gue ngerti. elo yang sabar ya. kita hadapi masalah ini sama-sama gue yakin loe pasti bisa" Miska menyemangati


" Terima kasih ya Mis!"


" Sama-sama, sekarang apa rencana loe?" tanya Miska


" Apa gue boleh menginap di rumah loe?" tanya khanza dan Miska mengangguk


" Rumah gue selalu terbuka buat loe kapanpun Za".


" Terima kasih Mis kalau gak ada loe gue gak tahu harus bagaimana"


" Loe harus kuat Za dan gue yakin loe bisa mengambil keputusan yang tepat. Jangan bersedih lagi ya gue pasti akan selalu mendukung loe"


Khanza meminta Miska untuk mengantarkannya ke apartemen milik Aldy untuk mengambil barang-barangnya.


" Loe yakin gak mau pamit dulu gitu?" goda Miska saat Khanza sudah berada kembali di mobil Miska


" Gak perlu, lagi pula mana ada sih maling yang mau mengaku!" Miska pun mengangguk


" Yaudah sekarang kita cuz nih kerumah gue"


" Iya"


Sepanjang perjalanan menuju rumah Miska, Khanza kembali termenung, Miska merasa sangat kasihan dengan nasib sahabatnya itu setelah tadi Khanza sempat menceritakan semuanya.


Miska tidak menyangka Khanza memiliki hidup yang sedikit rumit, menikah di usianya yang masih terbilang sangat muda dan yang lebih parahnya dengan orang yang tidak dicintai.


" Za" panggil Miska sambil sibuk mengemudi


" Apa?" jawab Khanza tanpa menoleh


" Apa loe gak bilang aja sama ibu loe soal masalah ini?" tanya Miska


" Entahlah Mis, gue juga bingung gue gak mau melihat ibu kecewa lagi Mis. "


" Tapi sampai kapan loe tutupi semua ini Za?"


" Sampai tuh orang mau mengakuinya sendiri"


" Terus kalau dia gak mau mengaku bagaimana?"


" Gue akan pergi, dan gue gak mau melihatnya lagi"


" Sumpah ya Za gue gak nyangka kalau ternyata loe dan pak Aldy itu sudah menikah. tapi sayangnya ya Za dia bukan tipe laki-laki setia"


" Iya, padahal baru kemarin dia bilang ingin memulai semuanya dari awal tapi kenyataannya semua hanyalah sekedar alasannya aja"


Khanza menghembuskan nafasnya berat.


" Yang sabar ya Za gue yakin semua ini pasti ada hikmahnya"


Khanza pun mengangguk " Terima kasih ya Mis"


" Sama-sama sayang ku" sahut Miska dan mereka pun akhirnya tertawa bersama.


Sudah hampir jam 10 malam Khanza belum juga pulang, Aldy sudah berjalan mondar-mandir tidak karuan. dia tiba-tiba teringat tadi di mall xx tidak melihat keberadaan Khanza, lalu Khanza kemana?


Aldy menelpon ibu Khodijah dan menanyakan keberadaan Khanza tapi hasilnya nihil karena bu Khodijah bilang Khanza tidak datang ke rumahnya.


Aldy sudah berulangkali menelpon nomor ponsel Khanza namun lagi-lagi tidak aktif.


" Ya ampun Za kamu kemana sih ?" Aldy mengusap wajahnya kasar namun sedetik kemudian dia teringat dengan ransel Khanza yang berada di sudut lemari ternyata sudah tidak ada.


" Kemana ranselnya?" tanya Aldy


" Kenapa dia pergi tanpa pamit atau jangan-jangan_?" Aldy langsung membuka lemarinya dan benar saja dugaannya ternyata benar Khanza membawa semua barang-barang miliknya.


" Jika di rumah ibunya tidak ada lalu dia pergi ke mana? apa tadi dia melihatku saat di mall xx? oh astaga..." Aldy mengacak-acak rambutnya kasar


" Akh....!" Aldy menghantamkan tangannya ke dinding samping tangannya terluka.

__ADS_1


" Khanza dimana kamu?" Aldy memberingsut ke lantai


__ADS_2