Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Pacaran setelah menikah


__ADS_3

Pagi ini calon mama muda merasakan ada sesuatu yang aneh saat bangun dari tidurnya bahkan ia langsung mengguncang-guncang membangunkan pak suami yang masih asik terlelap dan membuat pak suami hampir terjungkal karena kaget.


" Aaaaa....mas!" Zaira berteriak histeris saat merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam perut buncitnya. ini adalah pergerakan untuk pertama kali yang Zaira rasakan.


Azka yang terbangun akibat teriakan Zaira langsung terlihat panik " Ada apa sayang, kamu kenapa. apa ada yang sakit, jawab Sayang?" tanya Azka disela rasa paniknya.


" Mas a..aku merasa a..ada ada yang bergerak-gerak di dalam perutku mas!" sahut Zaira dengan terbata-bata dan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Bergerak?" tanya Azka dengan wajah sumringah


" Iya mas" Zaira mengangguk Pelan.


" Alhamdulillah, mana sayang mas juga mau merasakannya?" Azka meletakkan tangannya di perut buncit Zaira.


Azka mengelus lembut perut Zaira dan senyum pun terbit di wajah pria dewasa yang sebentar lagi menyandang status daddy ini. " Sayang, baby kita bergerak!" Azka menatap bergantian wajah dan perut isteri kecilnya yang sudah bisa memberinya anak kecil.


Zaira pun tersenyum haru, dan tiba-tiba ia dikejutkan dengan ulah pak suami yang tanpa aba-aba sudah menyingkap baju tidur Zaira keatas sehingga terpampang jelas perut buncit Zaira yang putih dan mulus itu.


Azka berkali-kali mencium perut Zaira dengan lembut sesekali tangannya pun mengelus-elus hingga merangsang pergerakan sang baby .


" Sayang baby kita bergerak lagi, sepertinya dia menyukai sentuhan dari daddy nya" Azka mendongak menatap wajah cantik isterinya yang tengah tersenyum padanya.


" Hai anak daddy, tidak sabar rasanya daddy ingin melihat mu sayang, yang sehat ya anak daddy dan jangan buat mommy kamu kesulitan ya. bantu mommy ya agar sekolah mommy tetap berjalan lancar meskipun dalam keadaan mengandung anak daddy yang hebat ini!" Azka berbicara dengan anak yang berada di dalam perut isterinya, kecupan dan elusan lembut terus ia hujani bertubi-tubi di perut Zaira.


Zaira mengelus rambut Azka, rasa bahagia dan haru menjadi satu.


Azka mendongak dan menatap wajah cantik Zaira yang semakin hari aura kehamilannya membuat Zaira semakin cantik dan seksi menurut pak suami.


" Sayang, terima kasih ya!" Azka langsung menarik Zaira ke dalam pelukannya.


" I love you my little wife" bisik Zaira


" I love you too my hubby" ucap Zaira membalas pelukan pak suami.


Setelah merasa cukup Zaira mengurai pelukannya " Mas, mandi dulu gih, aku mau menyiapkan sarapan dulu" ucap Zaira seraya hendak beranjak dari tempat tidur.


" Kita mandi sama-sama aja yuk, biar sarapan nanti mbok Iyem saja yang menyiapkan!" pinta Azka menaik turunkan alisnya.


" Gak mau, yang ada nanti kita bisa telat ke sekolahnya" tolak Zaira membuat Azka tertawa.


" Ya enggaklah sayang, mas janji kalau yang ini beneran cuma mandi aja gak pakai yang lain-lain, mau ya!" ajak Azka lagi sedikit memaksa


Zaira baru saja ingin menolak tapi gerakan Azka ternyata lebih cepat dari mulut Zaira yang hendak berbicara karena tanpa aba-aba Azka langsung mengangkat tubuh Zaira yang sudah terlihat lebih berisi ke udara.


"Aaaa..!" teriak Zaira karena terkejut. " Mas turunin aku!" Zaira sedikit memberontak.


" Diam dan menurut saja kalau tidak mau kesiangan berangkat ke sekolahnya!" tegas Azka yang langsung membuat Zaira terdiam dengan wajah cemberut.


" Jangan pasang wajah seperti itu kalau tidak mau membangunkan belut kecil!" ucap Azka dengan seringai senyum jahilnya dan spontan saja Zaira langsung menutup mulutnya dengan tangan.


Azka pun tertawa terbahak-bahak. merasa senang pagi ini menjahili isteri tercintanya.


*


Azka dan Zaira kini sudah berada di dalam mobil, Azka menepati janjinya kalau ia benar-benar mengajak isterinya mandi tanpa embel-embel di belakangnya yang bisa membuat mereka telat berangkat ke sekolah.


Setelah sarapan mereka memang langsung berangkat ke sekolah, awalnya Zaira ingin ke rumah mama Maria saja ingin berangkat bersama Lia tapi Azka melarangnya karena mulai sekarang Azka yang akan mengantar ke mana pun Zaira pergi, dia tidak akan peduli dengan omongan yang pasti akan heboh di sekolah. pikirnya sekolah itu adalah milik keluarga Dinata jadi jika ada gosip yang membuat isterinya merasa tidak nyaman maka dia akan menyuruh orang kepercayaan papa Sam untuk membereskannya.


" Mas, jika kita berangkat bersama kayak gini terus setiap hari pasti akan jadi heboh mas di sekolah" ucap Zaira dengan wajah ditekuk


" Ya memang kenapa? aku tuh sebenernya sudah tidak sabar memberitahu semua orang kalau aku punya isteri secantik kamu yang, apalagi kamu sekarang tengah mengandung anak kita" ucap Azka yang hanya sesekali menengok ke arah Zaira karena dia tengah fokus mengemudi.


" Tapi mas bagaimana kalau mereka menduga-duga dan salah paham?" tanya Zaira yang merasa sedikit khawatir dengan statusnya itu.


" Ya justru itu sayang kita butuh klarifikasi secepatnya!" sahut Azka.


" Tapi aku belum siap mas" Zaira nampak lesu


" Terus kamu siapnya kapan sayang?" Azka mengusap rambut Zaira.


" Entahlah mas, aku juga bingung" sahut Zaira nampak sedikit berpikir.


" Ya udah gak usah di pikirin ya sayang, nanti kalau memang sudah waktunya siap tidak siap kita tetap harus hadapi bersama-sama sayang, dan kamu juga gak usah khawatir sayang semua pasti akan baik-baik saja!" tutur Azka dan Zaira mengangguk mengerti.


" Sekarang kita jalani saja seperti ini ya, kalau ada yang bertanya jawab saja kalau kita ini sedang berpacaran" ucap Azka tersenyum.


" Pacaran?" Zaira mengerutkan keningnya

__ADS_1


" Iya, pacaran itu kan umum sayang, bisa sebelum menikah bisa juga setelah menikah. kalau kita anggap saja sedang pacaran sayang, toh kita memang belum pernah pacaran, iya kan? jadi apa salahnya kita pacaran setelah menikah. bukankah itu lebih menyenangkan" ucap Azka menaik turunkan alisnya.


" Mana ada orang pacaran dengan perut yang sudah membuncit seperti ini" Zaira mengusap perutnya


" ha... ha... kamu itu tambah seksi loh yang !" timpal Azka tertawa renyah.


" Tapi mas sudah kelihatan belum sih mas, aku kok takut teman-teman yang lain curiga ya mas?" tanya Zaira sambil mengelus perutnya.


"Belum Sayang, kamu itu hanya terlihat sedikit lebih berisi aja kok" sahut Azka tersenyum tipis.


Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit akhirnya mobil pun sampai di parkiran sekolah, Zaira turun setelah itu diikuti oleh Azka. Senyum keduanya pun terus mengembang.


Saat mereka berjalan beriringan banyak para murid yang kebetulan baru datang pun menatap ke arah mereka, ada yang berkomentar positif ada pula yang mencibir karena mungkin merasa iri terhadap Zaira yang selama ini selalu menolak pernyataan cinta dari beberapa siswa tapi sekarang malah menerima cinta pria yang lebih dewasa darinya apalagi statusnya adalah gurunya sendiri.


" Gak usah menghiraukan mereka, setiap orang berhak menilai kita menurut pandangannya sendiri tapi kita tidak perlu mengambil pusing. selama tidak menggangu jadi biarkan saja!" bisik Azka dan Zaira pun mengangguk.


" Ya udah cepat sana masuk kelas!" titah Azka


" Nanti pulangnya tunggu saja mas di pos pak Min, biar ada yang nemenin jangan sendirian. kalau pak Min gak ada minta temani sana Lia atau yang lainnya. pokoknya kamu gak boleh sendiri, ingat itu!" pesan Azka sebelum keduanya berpisah.


" Iya!" sahut Zaira mengerucutkan bibirnya


" Jangan seperti itu, apa kamu sengaja minta di cium?" goda Azka dan langsung membuat Zaira kabur sambil tertawa.


Saat Zaira berjalan menuju kelas tiba-tiba langkahnya terhenti karena Irfan tengah berdiri di hadapannya. " Zaira gue mau bicara sama loe!" pinta Irfan sedikit memaksa.


" Yaudah kalau mau bicara, bicara aja sekarang!" Zaira memutar bola matanya malas


" Tapi gak di sini" sahut Irfan


" Sorry kak kalau ditempat lain gue gak bisa apalagi kalau cuma berdua sama loe" tolak Zaira hati-hati.


" Kenapa?" tanya Irfan sedikit kesal atas penolakan Zaira


" Ya gue gak mau aja ada yang salah paham nantinya" terang Zaira


" Pak Bagaz maksud loe?" tanya Irfan to the points


" Bisa siapa saja" sahut Zaira asal


" Loe berubah Za!" ucap Irfan lirih


" Loe berubah Za, loe tolak beberapa siswa yang menyatakan perasaannya sama loe termasuk gue tapi sekarang apa? loe malah dengan mudahnya menerima pak Bagaz yang sudah jelas-jelas lebih dewasa dari loe bahkan dia itu guru kita Za" tutur Irfan mengungkapkan kekesalannya.


" Gue gak bisa menolak atau mengatur pada siapa perasaan gue berlabuh kak, selama ini gue memang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun karena gue memang belum merasakan apa itu yang namanya jatuh cinta tapi berbeda dengan pak Bagaz setiap kali bersamanya gue merasa sangat nyaman dan perlahan rasa itu pun tumbuh dengan sendirinya." sahut Zaira


" Tapi loe juga kan tahu Za, pak Bagaz itu pacar kakak sepupu gue. pak Bagaz itu pacar kak Kelin. loe sebagai sesama cewek kok jahat banget sih Za. loe tolak perasaan gue tapi loe malah terima perasaan cinta laki-laki yang jelas-jelas sudah punya calon tunangan" ucap Irfan sedikit menyudutkan Zaira.


Jlepp


Kata-kata Irfan sungguh menyesakkan dadanya, ucapan Irfan memang ada benarnya dia menjadi isteri Azka disaat Azka masih berstatus kekasih Kelin. apakah ia benar sejahat itu? Zaira terdiam raut wajahnya berubah sendu.


" Sebaiknya loe jauhi pak Bagaz Za, dia itu lebih cocok dengan kak Kelin. mereka itu seumuran masa loe mau pacaran sama guru loe sendiri apa loe gak malu apa sama murid-murid yang lain?" ucap Irfan membuat Zaira menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Gak kak, gue gak mungkin ninggalin pak Bagaz!" sahut Zaira histeris


" Za loe bisa tinggalkan pak Bagaz dan loe sama gue, biar pak Bagaz bersama kak Kelin mereka saling mencintai Za!" ucap Irfan membuat Zaira lagi-lagi menggelengkan kepalanya berkali-kali bahkan membekap kedua telinganya.


" Gak kak... gak..!" teriak Zaira sampai membuat pusat perhatian para siswa dan siswi yang lewat.


Dan pada saat yang bersamaan Lia, Mona dan Mita baru saja datang. melihat Zaira yang terlihat histeris Lia tanpa banyak kata langsung berlari menghampiri Zaira di ikuti oleh Mona dan Mita.


" Za!" teriak Lia saat sudah berada di antara Irfan dan Zaira.


Zaira menoleh dan menitikkan air matanya. entah kenapa semenjak hamil dan semenjak kejadian penculikan Zaira jadi mudah histeris.


Mita yang melihat Zaira menangis langsung memeluk Zaira begitu juga dengan Mona mereka berusaha untuk menenangkan Zaira.


Lia yang merasa geram dengan tingkah Irfan yang sudah membuat Zaira menangis langsung menghampirinya.


" Loe apa-apaan sih, gak malu apa dengan jabatan loe sebagai ketua OSIS?" sarkas Lia


" Loe gak tau apa-apa jadi gak usah sok ikut campur!" ketus Irfan


" Cihh, asal loe tau ya semua yang menyangkut Zaira berarti berurusan dengan gue, dan loe sekarang udah buat Za menangis" bentak Lia kasar


Dalam hati kecil Irfan sebenarnya tidak tega melihat Zaira menangis seperti itu dia juga tidak menyangka kalau ucapannya sampai membuat Zaira histeris sampai segitunya.

__ADS_1


" Sebaiknya loe pergi sekarang atau mau gue laporin ke guru BK !" Ancam Lia.


Irfan yang mendapat ancaman seperti itu langsung pergi dengan kesal. tatapan matanya tajam seakan ingin menelan Lia hidup-hidup. namun bukan Lia namanya jika tidak menatap tajam Irfan balik.


Zaira sudah sedikit lebih tenang, Mona dan Mita membawa Zaira ke dalam kelas.


" Za loe beneran udah gak kenapa-napa?" tanya Mita cemas


Zaira yang kini sudah duduk di bangkunya mengangguk pelan.


" Kak Irfan emang udah ngapain loe sih Za, kok loe sampai segitunya?" tanya Mona yang mulai kepo


" Gue... gue jahat ya ?" tanya Zaira dengan menundukkan wajahnya


" Loe ngomong apa sih Za, kok loe bisa berpikir seperti itu?" tanya Mita menyelidik.


" Apa kak Irfan ngomong yang aneh-aneh sama loe?" tanya Mita lagi


" Di.. dia bilang gue jahat karena udah merebut pak Bagaz dari kakak sepupunya kak Kelin" jawab Zaira terbata.


" Za loe gak usah tanggapi ucapan kak Irfan, dia itu gak tau apa-apa" ucap Mita mencoba menenangkan Zaira


" Dia itu asal bicara tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya Za, udah loe gak usah pikirin lagi ya Za, loe gak boleh kayak gini ingat loe lagi gak sendiri!" ucap Mita mengingatkan mengelus perut Zaira. seketika Zaira teringat akan bayi yang berada di dalam kandungannya. Mita benar pikir Za buat apa memikirkan ucapan Irfan yang tidak tahu apa-apa. dia harus lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri dan juga bayi yang ada di dalam perutnya saat ini.


" Mita makasih ya, Mon makasih!" ucap Zaira lalu tersenyum tipis.


" Sama-sama Za, loe harus ingat Za kesehatan loe itu lebih penting, jadi jangan hiraukan suara-suara sumbang yang hanya akan bikin kuping loe sakit" ucap Mona yang langsung mendapat toyoran dari Mita.


" Tumben loe ngomong benar " ucap Mita membuat Mona kesal karena mendapat toyoran dari Mita.


" Loe mah kebiasaan Mita, gue ngomong salah loe toyor dan sekarang gue ngomong benar juga kena toyoran loe " ucap Mona membuat Zaira dan Mita seketika tertawa. namun tawa mereka memudar saat melihat Lia datang dengan raut wajah khawatir.


" Za loe gak kenapa-napa kan?" tanya Lia dengan napas ngos-ngosan.


" Gue gak apa-apa" sahut Zaira setenang mungkin.


Brak


Tiba-tiba mereka semua yang ada di dalam kelas terperanjat kaget melihat seorang pria masuk ke dalam kelas dengan tergesa-gesa dan raut wajahnya begitu panik.


Pria itu dengan langkah panjang melangkah menghampiri Zaira yang tercengang bersama ke tiga sahabatnya menatap ke arah pria yang tidak lain adalah guru olahraga mereka.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Azka khawatir matanya menelusuri tubuh Zaira.


" Loh pak Ba.. Bagaz untuk apa kesini?" tanya Zaira terbata-bata.


Azka tidak menjawab tapi tangannya memutar ke kiri dan ke kanan tubuh Zaira.


" Kamu benar tidak apa-apa?" tanyanya lagi


Zaira langsung memukul lengan Azka yang tidak lihat kondisi. " Maaf pak ini di kelas loh gak enak dilihat yang lain!" ucap Zaira dengan nada suara sepelan mungkin.


Azka menatap kesekeliling dan benar saja semua mata mengarah ke arahnya.


" Sudah sana pergi, aku baik-baik saja. kamu gak usah khawatir!" ucap Zaira


" baiklah aku pergi, nanti kalau ada apa-apa hubungi aku ya!" pinta Azka


" Iya, sudah sana!" usir Zaira.


Suasana kelas menjadi ramai setelah Azka keluar dari kelas Zaira.


Zaira hanya tersenyum tipis melihat tingkah suaminya yang begitu mencemaskannya.


" Cie.. cie .. Za, kayaknya berlanjut nih sama pak Bagaz?" ledek salah satu teman sekelasnya.


" Kalau jodoh takkan kemana" sahut Zaira dengan senyum diwajahnya.


" Betul Za, gue setuju. semoga loe berjodoh deh Za sama pak Bagaz" ucap Nana teman sekelas Zaira.


" Langgeng Za!"


" Pepet terus Za!"


" Semangat terus Za, jangan dilepas!"


" Cuekin aja orang mau ngomong apa juga Za, kalau cinta sudah bicara anggap dunia milik berdua!"

__ADS_1


" Yang lain ngontrak Za"


Begitulah celetukan teman-teman sekelas Zaira, suasana pun menjadi ramai . Zaira hanya tertawa menyikapi tanggapan teman-temannya tentang hubungannya dengan sang guru.


__ADS_2