
Sudah 4 hari Khanza tidak masuk sekolah dan hari ini dia berencana untuk masuk
" Yakin kamu mau masuk sekolah sekarang?" tanya Aldy seraya menyuap sarapannya
" Iya mas, aku sudah kebanyakan enggak masuknya, sebentar lagi ujian tapi aku malah sering enggak masuknya!" jawab Khanza
" Tidak apa-apa, kamu kan bisa menyusul"
" Duh mas kalau menyusul semuanya kebanyakan, kemarin aja tugas kelompok belum sempat aku dan yang lainnya kerjakan karena mereka nunggu aku masuk"
" Soal tugas kelompok itu masih banyak waktu, kalian bisa mengerjakannya disini" usul Aldy
" Serius mas boleh?" Khanza berbinar
" Iya serius"
" Tapi ada Nicko loh, enggak cemburu gitu?" ledek Khanza
Aldy menghentikan makannya lalu menatap Khanza lekat " kamu aja bisa menghadapi kehadiran Mila yang sudah berkali-kali mengganggu ketentraman rumah tangga kita dengan elegan, masa mas gak bisa menghadapi seorang Nicko yang enggak ada apa-apanya dibandingkan mas!" sahut Aldy dengan penuh percaya diri
"Isshhh... sejak kapan suamiku ini jadi lebay begini?" Khanza geleng-geleng kepala
" Sejak punya isteri kamu, hahaha...!"
Aldy tergelak
Khanza dan Aldy kini sudah berada di area parkiran sekolah, seperti biasa Khanza turun terlebih dahulu.
" Kak Za!" teriak Izan dari arah belakang
" Izan!" beo Khanza saat melihat sang adik setengah berlari menghampirinya
" Kak Za kemana aja, kenapa enggak pernah datang ke rumah?" tanya Izan setelah menyalaminya takzim
" Kakak banyak urusan, tapi kabar kamu sama ibu baik-baik aja kan?"
" Alhamdulillah baik kak, kakak sendiri bagaimana kabar kakak dan juga_ ?" Izan tidak melanjutkan pertanyaannya tapi Khanza paham arah pertanyaan Izan yang menatap ke arah perutnya
Khanza tersenyum " Alhamdulillah, kakak dan juga calon keponakan kamu baik-baik aja"
" Syukurlah kalau begitu, ibu sempat khawatir sama kak Za saat mendengar kalau mamanya kak Aldy meninggal"
" Iya, kakak minta maaf karena tidak memberi kabar" ucap Khanza penuh sesal
" Tidak apa-apa kak, yang penting kakak dan kak Aldy baik-baik aja"
" Iya dek"
Khanza dan Izan berjalan bersama menuju kantin, Izan belum sempat sarapan sedangkan Khanza ingin bertemu dengan ibunya.
" Berduaan aja, apa saya enggak boleh gabung nih?" tanya Aldy yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka
" Ish, mas ngagetin aja!" kesal Khanza yang terjingkak kaget dengan kemunculan Aldy yang tiba-tiba
" He...he... maaf sayang!" bisik Aldy cengengesan
" Hai Zan?" sapa Aldy pada adik iparnya
" Hai, kak !" ucap Izan lalu menyalami tangannya takzim
" Apa kabar Zan?"
" Alhamdulillah baik kak" sahut Izan
" Izan turut berdukacita ya kak atas meninggalnya mamanya kak Aldy!" ucapnya lagi
" Iya Zan, terimakasih ya!" Aldy menepuk-nepuk bahu Izan pelan
" Sama-sama kak"
" Emmm... kak Aldy mau langsung ke ruang guru apa mau ikut Izan sama kak Za ke kantin?" tanya Izan
" Kalian mau ke kantin?" bukan menjawab Aldy malah balik bertanya
" Iya mas, aku mau nemuin ibu dulu" jawab Khanza
" Yaudah mas ikut aja deh" sahut Aldy
" Emangnya enggak apa-apa gitu kita jalan bareng seperti ini?" tanya Khanza menunjuk ke arah mereka bertiga yang berjalan beriringan
" Ya mas rasa enggak ada masalah, apa lagi ada Izan jalan bersama kita " sahut Aldy
" Iya kak, Izan sependapat dengan kak Aldy" timpal Izan
Sesampainya di kantin mereka bertiga langsung berjalan menuju kedai milik Bu Khodijah
Di sepanjang jalanan tidak sedikit murid yang berpapasan dengan Aldy menyapanya dan tentu saja dengan rasa penasaran yang besar karena Aldy bisa berjalan beriringan dengan Khanza dan juga adiknya.
" Itu Khanza kok bisa jalan bareng gitu sih sama pak Aldy?"
" Iya, gue juga mau dong jalan bareng pak Aldy"
" Ah.. Loe mah mimpi aja sono!"
__ADS_1
" Kok bisa ya mereka jalan bareng gitu?"
" Apa jangan-jangan mereka ada hubungan ya?"
" Husss... jangan asal bicara loe, kedengaran pak Aldy bisa merah loe nilai Loe!"
" Ya gue sih enggak asal bicara, rasanya aneh aja melihat mereka jalan bareng gitu"
" Ya itu mungkin kebetulan aja, apa loe enggak liat Khanza bareng adiknya"
" Iya siapa tahu juga mereka kebetulan jalan bareng, karena pak Aldy ingin sarapan di kedainya bu Khodijah secara bu Khodijah itukan ibunya Khanza"
" Iya juga sih"
" Tuh liat mereka beneran ke kedainya bu Khodijah!" tunjuk salah satu diantara mereka
" Tapi kok pak Aldy ikutan menyalami tangan bu Khodijah ya?"
" Ya mungkin sekedar menghormati yang lebih tua"
Begitulah percakapan diantara murid yang melihat Khanza dan Aldy jalan bersama
Aldy dan Khanza menyalami tangan bu Khodijah, setelah beberapa menit mengobrol dengan bu Khodijah mereka pun pamit undur diri.
" Khanza!" panggil Miska saat Khanza melewati mejanya tanpa menyadari keberadaan sahabatnya itu
" Miska!" pekik Khanza sumringah
" Pak duluan aja!" ucap Khanza yang tanpa menunggu jawaban dari pak suami langsung berhambur menuju meja Miska yang tengah duduk disebelah Roni
" Cie udah go publik nih ceritanya?" goda Khanza setelah duduk di samping Hana
Roni dan Miska hanya saling melempar senyum
" Loe kemana aja sih Za, ngilang gitu aja enggak ada kabar?" tanya Hana
" Iya nih anak, nyokapnya pak Aldy meninggal kok gak ngasih tau sih, kita malah taunya dari nih " Miska menyenggol bahu Roni yang hanya diam menyimak
" Kita semua turut berdukacita ya Za!" ucap Billy
" Terima kasih semuanya" jawab Khanza
" Loe kapan pulang dari sana Za?" tanya Miska
" Kemarin"
" Elo enggak capek langsung masuk sekolah?" tanya Hana
" Capek enggak capek, kebanyakan libur gue" sahut Khanza
" Oiya, soal tugas kelompok apa sudah kalian kerjakan?" tanya Khanza
" Belum!" serempak jawaban mereka bertiga
" Terus rencana mau ngerjainnya kapan?" tanya Khanza lagi
" Berhubung sudah kumpul bagaimana kalau hari ini aja, bagaimana?" Tanya Billy
" Oke, gue setuju!" sahut Hana
" Ka, loe gimana?" tanya Billy
" Gue sih oke aja, boleh kan bi?" Miska menoleh ke Roni dan dengan cepat Roni pun mengangguk dengan senyum tampannya
" Cie udah banyak perubahan aja nih, ada panggilan sayangnya pula!" goda Khanza
" Iya kita mah kalah sama mereka!" sahut Aldy dari belakang
Khanza terlonjat kaget mendengar suara suaminya yang dia pikir sudah pergi
" Loh kok pak guru masih di sini, bukannya udah jalan duluan ya?" tanya Khanza saat pak suami malah menggeser duduk di sebelahnya.
" Ish, pak geseran duduknya jangan mepet-mepet nanti muridnya curiga loh?" protes Khanza karena Aldy main duduk mepet kepadanya.
" Enggak apa-apa rame begini" sahut Aldy santai
" Kembali ke topik ya, gimana Za Loe bisa enggak hari ini?" tanya Billy memastikan kembali
" Gue sih oke aja tapi ngerjainnya di apartemen pak Aldy ya?" sahut Khanza
" Emangnya boleh?" tanya Hana
" Boleh dong ya kan pak?" tanya Khanza menoleh ke arah suaminya
" Boleh, tapi jangan bikin rusuh ya. hanya untuk belajar" sahut Aldy
" Iya pak, emangnya mau ngapain lagi. yang biasa merusuh itu kan bapak sendiri!" Khanza tergelak sendiri
" Kamu ini!" Aldy hendak mengacak-acak rambut Khanza gemas tapi langsung mendapat tatapan tajam dari Khanza membuat tangan Aldy menggantung di udara.
" Jaga sikap pak, dari tadi banyak cctv yang mengintai bapak" bisik Khanza membuat Aldy menghela nafasnya panjang
"Terus bagaimana dengan Nana dan Nicko?" tanya Hana
__ADS_1
" Biar mereka gue yang urus" sahut Billy
" Kalau mereka enggak mau bagaimana,? sekarang aja mereka enggak tahu dimana rimbanya" Tanya Hana
" Sorry ya ini karena kehadiran gue ya mereka jadi enggak mau gabung sama kalian" ucap Roni merasa tidak enak hati
" Jangan bicara kayak gitu, mereka aja yang terlalu kekanak-kanakan. enggak bisa membedakan mana cinta mana ego, terlalu mementingkan ego dengan dalih cinta itu sebuah kesalahan besar. jadi loe enggak usah merasa bersalah kayak gitu. ini namanya jodoh yang tak terduga" sahut Billy
" Benar apa yang dikatakan Billy, semua itu sudah menjadi takdir Allah jadi buat apa disesali dan merasa bersalah seperti itu. jalani saja soal Nicko dan Nana suatu saat mereka pasti akan mengerti dengan sendirinya kok" timpal Khanza
" Kamu benar sayang" sahut Aldy
Setelah cukup lama mereka berada di kantin sekarang mereka sudah berada di dalam kelas dan kebetulan jam pertama diisi oleh Aldy
Billy sudah memberitahu kepada Nicko rencana mereka yang akan mengadakan belajar kelompok di apartemen Aldy sang guru awalnya Nicko menolak tapi Billy terus membujuknya dan akhirnya Nicko pun mau.
Sementara Nana dibujuk oleh Hana, dia pun sama enggan untuk ikut tapi memikirkan soal nilai yang Hana takut-takuti akan mendapat nilai nol jika tidak mau mengerjakan bersama akhirnya dengan terpaksa Nana pun setuju.
Di sini mereka sekarang berada
Setelah jam sekolah selesai mereka langsung tancap gas menuju apartemen Khanza dan Aldy.
" Za, tumben laki loe ngizinin belajar kelompok di apartemen kalian?" Tanya Hana yang kini satu mobil dengan Khanza dan Billy, sedangkan Nana berangkat bersama Nicko dan Miska bersama Roni tentunya.
Aldy masih banyak tugas yang harus diselesaikan jadi dia akan pulang sedikit telat
" Dari pada gue yang kemana-mana jadi dia cari aman aja kali ya!" sahut Khanza cengengesan
" Ah bucin akut ya Za ternyata pak Aldy?" ledek Hana
" Banget, ya kalau enggak gitu gak mungkin ada ini" Khanza mengelus perutnya yang sudah cukup ketara
" Wah Za sudah ketara ya?" ucap Hana
" Masa sih? keliatan banget ya?" tanya Khanza sendu
" Enggak juga sih kalau loe berdiri ketutup sama baju, jadi enggak begitu" sahut Hana
Sementara di mobil Roni keduanya hanya saling diam, entah apa yang ada di benak pikiran mereka masing-masing.
" Pih kamu kenapa sih dari tadi diam terus?" tanya Miska memecah keheningan
Roni menoleh dengan senyum sekilas " Enggak ada apa-apa kok mih" jawabnya
" Enggak ada apa-apa tapi kok diam aja dari tadi, enggak biasanya banget loh kamu diam begini pih?"
" Masa si mih, perasaan mami aja kali" sahut Roni terkekeh
" Emang iya, biasanya selalu ngoceh apa aja tapi sekarang enggak"
" Emangnya mami mau papi ngomong apa hem?" tanya Roni dengan tatapan lembut
" Ya apa aja gitu, enggak diam kayak tadi kesannya tuh papi berat banget buat ngizinin aku untuk belajar kelompok" ungkap Miska
" Enggak dong sayang, masa isteri mau belajar enggak di izinin. papi tuh cuma takut kamu malah enggak konsen belajarnya karena ada Nana yang kalau bicara suka pedas sama kamu" aku Roni
" Ya biarin aja lah pi dia mau ngomong apa, aku mah mau belajar itu aja"
" Syukur deh kalau gitu, tapi papi enggak ikut masuk ya, nanti pulangnya aja papi jemput"
" Ya enggak asik dong" Miska cemberut
" Loh kok enggak asik?" Roni mengerutkan keningnya
" Enggak asik aja" masih pasang wajah cemberut
" Sayang jangan ngambek gitu dong!" Roni mengusap perut Miska dengan lembut
" Papi ada kerjaan di bengkel, nanti pulangnya aja ya papi jemput" bujuk Roni
Miska masih diam Roni hanya bisa menghela nafasnya panjang
" Tumben banget sih isteri aku bikin gemes, jadi pingin cepat-cepat pulang" ucap Roni seraya mengacak-acak rambut Miska gemas
" Aku ada kerjaan sedikit di bengkel, nanti kalau kamu merasa kurang nyaman di sana butuh aku tinggal telpon aja ya sayang. nanti aku bawakan makanan bagaimana?" bujuk Roni dan seketika senyum Miska pun melebar
" Janji ya kalau aku telpon langsung datang!"
" Iya mami ku sayang!"
Tidak terasa mobil mereka pun sudah sampai di apartemen Aldy dan Khanza, Roni hanya mengantar saja setelah memastikan Miska sudah bersama Khanza dan yang lainnya ia langsung tancap gas menuju bengkel Lukman
" Roni enggak ikutan turun Ka?" tanya Billy
" Enggak, dia masih ada kerjaan" jawab Miska
" Kerjaan apa pacaran dengan wanita lain diluaran?" sahut Nicko membuat Miska melotot
" Kenapa loe takut Roni selingkuh di belakang loe?" kali ini Nana yang bicara
Deg
Miska mengepalkan tangannya kuat berusaha untuk bersikap tenang, omongan Nana dan Nicko seperti memancing amarahnya
__ADS_1
" Kenapa gue harus takut? seandainya dia lebih memilih wanita lain yang mungkin bisa membuatnya lebih nyaman dan bahagia, gue bisa apa selain melepaskannya. karena gue enggak pernah mengemis cinta, jika memang cinta itu bukan milik gue" jawab Miska setenenang mungkin membuat Nana langsung tercekat dan diam seketika