
Azka sedari tadi merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan rasa cemburu butanya. sudah jelas-jelas dia tahu yang memiliki perasaan itu hanya si guru baru yang bertepuk sebelah tangan dan bahkan tidak pernah dapat respon apapun dari Zaira, tapi dasar suami posesif mendengar guru baru tersebut menyukai isterinya langsung saja marah tanpa alasan yang pasti.
Sekarang akibat cemburu butanya yang tidak jelas itu membuat Zaira merasa kecewa dan marah atas sikap dingin Azka yang tiba-tiba mendiaminya. Zaira sungguh tidak terima jika dia ikut dipersalahkan bahkan dia sendiri pernah meminta untuk Azka segera memberitahu hubungan mereka kepada pak Aldy si guru baru.
Azka memang hendak mengatakan dan memberitahu perihal hubungannya dengan Zaira namun saat ia ingin bicara tiba-tiba dia merasa takut sendiri karena dia belum begitu mengenal karakter seorang Aldiansyah. dia takut jika dia berkata jujur dan guru tersebut tidak terima lalu melakukan sesuatu hal yang buruk tentu Azka tidak mau mengambil resiko sejauh itu. apalagi Zaira pun baru saja kembali kesekolah tidak terlalu banyak siswa dan siswi yang tahu hubungannya dengan Zaira dan dia juga takut para orang tua murid ada yang tidak terima dengan kembalinya Zaira kesekolah dengan status sebagai isteri dan memiliki seorang anak.
Azka mengusap wajahnya kasar menunggu Zaira yang masih berada di dalam kamar mandi hampir 30 menit lamanya.
" Sayang buka dong pintunya?" ucap Azka seraya mengetuk pintu kamar mandi berulang kali
" Sayang jika kamu tidak mau keluar juga mas terpaksa akan dob_"
Ceklekk
pintu kamar mandi terbuka sebelum Azka menyelesaikan ucapannya.
Zaira melewati Azka begitu saja dan duduk di depan meja rias memoles wajahnya dengan makeup tipis. Azka menghampiri Zaira namun dengan gerakan cepat Zaira sudah beranjak dari duduknya.
" Sayang!" panggil Azka seraya menarik tangan Zaira
" Mas aku capek ya dengan sikap mas yang masih saja kekanak-kanakan seperti ini!" Zaira memberontak ingin melepaskan tangannya namun Azka malah menarik Zaira kedalam pelukannya.
" maafkan mas sayang, mas terlalu mencintaimu hingga tanpa sadar mas menjadi cemburu buta dibuatnya. mas janji lain kali mas tidak akan seperti itu lagi, jadi mas mohon maafin mas ya!" pinta Azka dengan mendusel dicuruk leher Zaira membuat Zaira mendengus karena geli namun tetap membiarkan Azka melakukan sesuka hatinya karena kalau sudah begini menolak pun akan sia-sia.
" Mas Zia menangis , aku mau melihatnya jadi singkirkan tanganmu!" pinta Zaira yang sayup-sayup mendengar suara Zia menangis.
" Ada bunda ada mama juga jadi tidak mungkin mereka membiarkan baby Zia menangis!" ucap Azka yang malah mengeratkan pelukannya.
" Mas jangan seperti ini tidak enak sama mereka, kita asik-asikan sedangkan putri kita menangis karena kehausan!" ucap Zaira dengan wajah cemberut.
" Bukankah kamu masih ada stok asi?" tanya Azka
" Mas itu untuk persediaan jika aku sedang pergi keluar, aku kan dirumah mas masa baby Zia masih minum asi dibotol!" protes Zaira dan mau tidak mau Azka pun menyerah karena apa yang Zaira lakukan untuk kebaikan putrinya sendiri
" Iya... iya mas minta maaf, pergilah!" ucap Azka yang sudah menyerah bagaimana pun putrinya saat ini lebih membutuhkan isterinya.
__ADS_1
Zaira langsung pergi meninggalkan Azka yang masih kesal karena penolakannya.
" Putriku benar-benar mengerti keadaan, terima kasih sayang!" batin Zaira seraya menuruni anak tangga menuju kamar bundanya.
" Bunda!" panggil Zaira mengeruk pintu kamar bunda Aryani
Ceklekk
" Bund baby Zia menangis ya?" tanya Zaira seraya masuk ke dalam kamar bunda Aryani.
" Tadi menangis sebentar karena popoknya basah, setelah diganti dia tidur lagi!" sahut bunda Aryani
" Za tidur di sini saja deh bund takut nanti tengah malam baby Zia terbangun dan menangis minta ASI!" tutur Zaira seraya mengecup kening baby Zia
" Tidak usah, kamu kembali saja ke kamarmu sana, nanti suami kamu mencari!" pinta bunda Aryani dengan suara yang sangat lembut
" Tapi bund, Za masih ingin bersama bunda setidaknya malam ini saja, besok bunda kan mau pergi dan gak tahu kapan bisa seperti ini lagi!" Zaira memeluk tubuh bunda Aryani merasa rindu dengan dekapannya dan elusan tangan bunda Aryani yang selalu mengusap kepala Zaira setiap kali hendak tidur.
" Sayang, kondisinya sekarang sudah berbeda, kamu punya suami yang pasti tidak akan bisa tidur jika tidak ada sang isteri dikamarnya. ingat Za jangan pernah lengah bagaimana pun status suami kamu itu bisa dibilang cukup menjadi incaran para wanita diluaran sana apalagi bukan hanya kaya suamimu juga sangat tampan jadi kamu sebagai isteri harus bisa menjaga dengan baik mata, hati dan pikiran Suamimu itu jangan sampai ada celah untuk wanita lain masuk ke dalamnya. " pesan bunda Aryani
"Iya bunda" sahut Zaira
"Za sayang!" suara bariton terdengar memanggil nama Zaira dari balik pintu kamar bunda Aryani
" Tuh dengarkan, suami kamu sudah memanggil!" ucap bunda Aryani menunjuk ke arah pintu
" Tapi bunda" Zaira sedikit menekuk wajahnya
" Jangan begitu sayang, bunda tahu kamu ini pasti sedang bertengkar dengan suami kamu iyakan?" tanya bunda Aryani sedikit menebak
" Gak kok bund, Za sama mas Azka baik-baik aja, gak ada apa-apa kok bund!" elak Zaira
" Kamu ini masih saja meremehkan seorang ibu, bunda ini ibu yang sudah melahirkan kamu sayang jadi bunda tahu bagaimana kamu nak!" ucap bunda Aryani membuat Zaira menjadi salah tingkah
" Iya bunda, tapi cuma masalah sedikit kok mas Azka aja yang lebay" sahut Zaira membuat bunda Aryani menjadi gemas dengan putri satu-satunya.
__ADS_1
" Sayang, baik sedikit maupun besar masalah itu dihadapi bukan untuk dihindari. dari sesuatu yang kecil jika terus dipupuk setiap hari lama-lama bisa membesar. jadi jangan biarkan masalah yang menurut kamu itu kecil menjadi besar nantinya." tutur bunda Aryani membuat Zaira mengangguk paham
" Sayang!" suara bariton itu kembali terdengar
" Sudah sana !" perintah bunda Aryani dan mau tidak mau Zaira memang harus menemui suaminya tidak ingin membuat masalah yang kecil berubah besar.
Ceklekk
Zaira menyembul dari balik pintu dan menutup pintunya kembali lalu melangkah pergi meninggalkan Azka begitu saja
"Sayang!" panggil Azka yang mengekor di belakang Zaira yang berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.
Ceklekk
Zaira membuka pintu kamar tersebut dan langsung masuk ke dalamnya. Zaira merangkak naik ke atas kasur lalu merebahkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Azka yang melihat Zaira sudah berada di atas kasur dengan tubuh yang di tutup dengan selimut membuat Azka tersenyum nakal.
Azka naik ke atas tempat tidur dan ikut merebahkan dirinya di kasur empuk lalu ia masuk ke dalam selimut yang tengah Zaira gunakan.
Azka memeluk Zaira dari belakang, menyembunyikan wajahnya dicuruk leher Zaira sehingga Zaira dapat merasakan hembusan nafas Azka yang menerpa lehernya sehingga Zaira dapat merasakan ingin sesuatu yang lebih namun tentu saja ia berpura-pura cuek .
Azka dapat merasakan jika sebenarnya Zaira juga menginginkan lebih namun Azka sengaja mengulur waktu agar Zaira yang memintanya untuk disegerakan.
" Sayang apa kamu menginginkannya?" tanya Azka berbisik di telinga Zaira dan sesekali menggigit telinganya.
Zaira hanya diam saja merasa malu jika dia mengiyakan pertanyaan Azka ya walaupun pada kenyataannya dia memang menginginkannya.
Zaira mendengus kesal karena tangan Azka sudah berkelana kemana-mana tapi dengan entengnya dia malah bertanya.
" Za sayang, boleh ya?" pinta Azka sedikit merengek
Zaira tidak menjawab tapi tubuhnya merespon menginginkan sesuatu yang lebih.
" Za!" tanpa banyak tanya lagi Azka pun langsung melancarkan aksinya. Zaira tidak menolak karena dia juga menginginkannya,
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi Azka langsung memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami yaitu memberikan nafkah batinnya. Zaira pun tidak banyak bicara karena dia juga sadar walau bagaimanapun dia harus memberikan yang suaminya inginkan.