Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Aldy bangun dari tidurnya namun tidak mendapati Khanza disampingnya. ia langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Setelah menunaikan kewajibannya ibadah 2 rokaat Aldy pun keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan isteri kecilnya.


Sedikit bernafas lega karena Khanza ternyata tidak menghilang seperti yang pernah dilakukannya beberapa hari yang lalu saat berangkat camping.


Khanza yang sibuk dengan masakannya tidak sadar akan kehadiran Aldy yang kini sudah duduk di kursinya sambil memperhatikannya yang sedang sibuk memasak.


Aldy tersenyum tipis memandangi istrinya yang nampak begitu lihai dalam urusan masak memasak.


" Masak apa sih sayang serius banget?" tanya Aldy yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya dengan tangan yang sudah melingkar di pinggangnya.


" Jangan seperti ini mas, aku tidak leluasa bergerak. tunggu saja disana sebentar lagi masakannya selesai" jawab Khanza datar tanpa menoleh sedikitpun


" Harum masakan kamu membuatku jadi tambah lapar sayang" ucap Aldy berbisik di telinga Khanza


" Menyingkirlah mas, sebaiknya tunggu saja sana aku akan segera menyiapkannya di meja!" Khanza memindai masakannya ke dalam mangkok


Aldy menghela napasnya kasar, ternyata istrinya masih merajuk.


Dengan terpaksa Aldy menurut dan duduk menunggu dengan sabar.


Tangan mulus dan lembut itu kini tengah mengisi piring suaminya dengan berbagai menu makanan yang tadi di masaknya.


Mereka sarapan dengan hening, Khanza yang memang terbilang ABG labil masih belum menyadari kalau suaminya kemarin marah karena cemburu tapi berakhir dia yang balik merajuk, begitulah wanita yang terkadang sulit untuk dimengerti dan maunya selalu dimengerti.


Pagi ini mereka seperti biasa berangkat ke sekolah bersama, hanya ada keheningan di dalam mobil.


Khanza sibuk membaca buku yang ada di tangannya sedangkan Aldy fokus dengan kemudinya.


Hari ini Khanza ada ulangan matematika, walaupun gurunya adalah suaminya sendiri Khanza tidak pernah meminta bantuan lebih tepatnya bocoran dari sang suami apalagi saat ini mereka sedang perang dingin.


Khanza lebih memilih membaca buku dan mengulang kembali pelajaran yang sudah di pelajarinya di rumah.


" Sayang!" panggil Aldy


Khanza hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus dengan bukunya.


" Sayang maafin mas ya!" suara Aldy memecah keheningan, lebih baik mengalah dari pada diteruskan yang ada isteri keras kepalanya merajuk semakin lama.


Khanza menutup bukunya dan menoleh ke arah suaminya yang juga sedang menatapnya di sela kegiatan mengemudinya.


" Iya, aku juga minta maaf, tapi aku tidak suka cara mas mendiamkan aku tanpa bicara di mana letak kesalahan aku" curahnya jujur


" Aku marah karena aku cemburu sayang"


Khanza menautkan kedua alisnya " Mas cemburu?" tanyanya


" Iya, mas cemburu. mas tidak suka saat kamu membicarakan laki-laki lain apalagi sampai memikirkannya" jawab Aldy kesal


" Maksud mas?"tanya Khanza polos


" Mas tidak suka kamu memikirkan anak itu!" jujur Aldy


" Anak itu siapa? Nicko maksud mas?" tanya Khanza memastikan


" Iya, mas tidak suka kamu masih memikirkan anak itu apalagi jika masih berhubungan dengannya"


" Bagaimana pun Nicko itu sahabat aku mas, walaupun dia sudah membuat aku sangat kecewa, tapi aku mengenalnya jauh sebelum aku mengenal mas"


"Mungkin saat ini Nicko sedang tersesat akibat salah pergaulan dan sebagai teman apa salahnya mengajaknya agar bisa kembali ke jalan yang benar."


" Lagi pula aku dengan Nicko hanya sekedar teman tidak lebih dari itu, soal dia suka sama aku itu hak dia mas yang paling penting aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya" lanjut Khanza


" Lalu bagaimana perasaanmu terhadap suamimu ini?"


Deg


Wajah Khanza merona merah bak kepiting rebus.


" Apa sudah ada rasa cinta yang bersemayam di hati mu ?" tanya Aldy memastikan perasaan isterinya


" I..itu... aku tidak tahu mas" jawab Khanza gugup dan tersipu-sipu

__ADS_1


Melihat raut wajah Khanza yang berubah merah membuat Aldy mengulum senyumnya.


" Ya sudah, aku tidak akan memaksa mu untuk menjawabnya sekarang, tapi setidaknya izinkan mas untuk memenuhi tanggung jawab mas sebagai seorang suami dan beri mas kesempatan untuk memupuk dan menghadirkan cinta dalam hatimu itu!" pinta Aldy dengan senyum tampannya


Hati Khanza begitu menghangat mendengar penuturan Aldy, tapi untuk kata cinta itu sendiri sungguh Khanza tidak mengerti apakah dirinya sudah jatuh hati pada suaminya sendiri atau perasaannya masih gamang jika bicara tentang cinta .


Khanza yang dulunya hanya disibukkan membantu ibunya dan kegiatan belajar saja sungguh naif jika membicarakan soal cinta.


Bagi Khanza cinta sejatinya adalah kedua orang tua dan adiknya saja, sampai rasa aneh itu muncul setiap kali berdekatan dengan Aldy yang berstatus suaminya.


Mobil mereka tanpa terasa sudah sampai di parkiran sekolah Izan.


" Aku turun duluan ya mas!" pamit Khanza


"Sudah tidak merajuk lagi kan?" tanya Aldy sebelum Khanza keluar dari mobilnya


" Masih, kalau mas suka cemburu gak jelas!" sahut Khanza


" Cemburu tandanya kan cinta sayang!"


" Tapi cemburunya harus tahu tempat dong mas!"


" Kalau cinta sudah bicara, rasa cemburu itu sulit dikendalikan sayang!"


" Terserah mas sajalah!" Khanza mengulurkan tangan sebagai salam takzim setelah itu Aldy balik memberi kecupan sayang di keningnya.


" Semangat ya sayang belajarnya!" seru Aldy dan Khanza hanya menjawab dengan senyuman.


Khanza berjalan menuju sekolah SMA Darma Bangsa melalui pintu penghubung yang ada di antara ke dua sekolah tersebut.


" Woyyy....sendirian aja, Gutami mana?" tanya Miska yang melihat Khanza jalan sendirian di koridor sekolah


" Tadi masih di mobil!" jawab Khanza


"Kantin dulu yuk, gue lapar nih belum sarapan!" ajak Miska seraya mengelus perutnya


" Gue udah sarapan!"


" Yaelah, temenin gue bentar!"


" Za gue boleh tanya gak?" tanya Miska saat mereka sudah berada di kantin


" Tanya apaan?" tanya Khanza yang memilih membaca bukunya kembali


" Emmm.... itu.. emm.... anu" Miska jadi malu sendiri sebelum bertanya


" Emm.. anu.. itu apaan sih Ka?" tanya Khanza kesal


" Tapi loe janji ya jangan marah!"


" Iya, janji tapi soal apa dulu nih?"


" Pokoknya loe harus janji gak pake marah ya kalau gue tanya masalah ini?"


Khanza mendelik kesal karena Miska yang berbicaranya berputar-putar tidak jelas


" Emm.. elo sama Gutami, emm... anu.. emmm... itu, udah unboxing belum?" tanya Miska berbisik


" Uhuk.... uhuk ..!" Khanza tersedak dengan salivanya sendiri Miska yang panik langsung menyodorkan minumannya untuk khanza


" Sorry... sorry Za, minum dulu nih!" Khanza meraih gelas yang diberikan Miska dan meminumnya hingga habisnya setengahnya


" Pertanyaan loe enggak banget sih" jawab Khanza malas


" Ya sorry!" ucap Miska tak enak hati


" Tapi_" ucapan Miska menggantung


" Gue belum siap Ka untuk soal yang satu itu!" ucap Khanza membuat Miska tercengang


" Seriusan loe?" Khanza mengangguk sebagai jawaban


" Kok bisa?" tanya Miska terheran-heran

__ADS_1


" Maksud loe?"


" Kalian tinggal satu rumah kan?" Khanza mengangguk


" Satu kamar?" Khanza mengangguk lagi


" Nah itu kok bisa?"


" Bisa apanya sih Ka? elo tuh kalau ngomong yang jelas dong!" ucap Khanza mendengus kesal


" Ya itu, Gutami loe itu kok bisa kuat ya Za !" Miska geleng-geleng kepala


" Kuat apaan?" tanya Khanza yang masih belum konek dengan omongan Miska


" Ya ampun Za loe ini polos apa ingin di polosin sih, gemues banget deh gue!" Miska mencubit hidung Khanza saking gemesnya


" Apaan sih loe tambah gak jelas tau " Khanza mendengus kesal


" Ya elo pakai nanya kuat apaan, loe pikir aja sendiri. Sudah halal setiap hari tidur sekamar tapi belum bisa unboxing, apa enggak kuat itu namanya?"


" Ya kuat enggak kuat harus kuatlah, gue masih sekolah belum siap yang begituan. kalau gue hamil gimana nasib sekolah gue?"


" Lagi pula gue belum siap, ngebayanginnya aja gue udah takut duluan!" Khanza bergidik ngeri


" Makanya jangan di bayangin tapi di lakuin., siapa tahu malah ketagihan loe" Khanza menoyor kepala Miska


" Parah loe, mana ada gitu!" ucap Khanza seraya beranjak dari duduknya


" Lah mau kemana loe?" tanya Miska saat Khanza sudah berdiri


" Ya mau masuk kelas lah, lihat tuh udah jam berapa!" Miska melirik jam yang bertengger di pergelangan tangannya


" Oh ya ampun" kaget Miska karena Jan sudah menunjukkan hampir jam 7


" Makanya tuh otak jangan mesum mulu, gak sadar kan loe udah jam segini" Miska cengengesan lalu ikut berdiri


" Cus lah yuk" Miska mengandeng lengan Khanza seraya berjalan menuju kelas


Sampai di depan kelas tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Nicko yang hendak masuk ke dalam kelas juga.


Khanza hanya diam seraya membuang pandangannya ke sembarang arah sementara Nicko diam-diam masih memperhatikan khanza


" Za!" bisik Miska


" Hem..."


" Loe sama Nicko sebenarnya ada apa sih, kok kalian kayak lagi musuhan gitu?" tanya Miska


" Enggak ada apa-apa kok, kenapa memangnya?" Khanza balik bertanya


" Ya enggak kenapa-napa sih, cuma sekarang dia jarang ikut gabung sama kita dan sekalinya gabung loe yang malah pergi" jawab Miska


" Ah itu perasaan loe aja kali" Khanza menutup buku yang sedang dibacanya.


" Gue sama Nicko baik-baik aja Miska, tapi mungkin ada hal yang memang harus kita jaga dan kita prioritaskan"


" Maksud loe?" tanya Miska bingung dengan ucapan Khanza


" Gak ada maksud apa-apa, udah gak usah bahas itu lagi. sebentar lagi gurunya datang!" ucap Khanza


Aldy masuk ke dalam kelas suasana yang tadinya riuh kini langsung hening seketika.


Dengan langkah tegas Aldy berjalan menuju kursinya seraya memberi salam dan para murid pun menjawab dengan antusias


" Selamat pagi anak-anak bagaimana sudah siap ulangan matematikanya hari ini?"


Kumpulkan tas dan buku kalian di depan kita mulai ulangannya


" Yaaaaaaa.....!" seru semua murid, Khanza tidak menanggapi tapi berjalan menaruh tasnya di depan


Ulangan dimulai, nampak murid-murid sedikit tegang, Khanza selesai lebih dulu dan diperbolehkan untuk keluar selang beberapa menit Nicko pun selesai dan keluar kelas.


Aldy merasa tidak tenang karena Nicko sudah keluar kelas sementara diluar kelas ada isteri kecilnya.

__ADS_1


Ada rasa khawatir dan juga kesal saat netranya melihat Nicko yang tengah berjalan menghampiri Khanza


" Awas saja!" gumam Aldy dalam hati


__ADS_2