Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Khanza menggaruk-garuk keningnya bingung memberi jawaban apa agar teman-temannya tidak curiga.


" Cincin ini?" Khanza menaikkan jarinya memperlihatkan cincin yang melingkar indah di jari manisnya


" Cocok gak?" tanya Khanza


" Itu cincin apa Za?" tanya Nana yang masih penasaran.


" Cincin ini?" Khanza memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


" Iya, tapi kok kayak cincin nikah ya Za?" celetuk Nana


"Iya ini tuh memang cincin pernikahan gue, bagus kan?" jawab Khanza sambil terkekeh


" Situ waras?" Hana mendaratkan punggung tangannya pada kening Khanza dan hal itu tentu memancing gelak tawa Khanza


" Ada apaan sih?" tanya Miska yang bengong sendiri


" Teman loe ini udah gak waras kayaknya,tuh anak udah kebelet kawin kali, ditambah stres dia kebanyakan belajar" sahut Hana


" Nikah dulu woy baru kawin" protes Khanza


" Ya kali aja loe mau di DP'in duluan" celetuk Hana


" Wah sialan loe yang halal aja gue tolak apa lagi yang belum" jawab Khanza terdengar ambigu


" Maksud loe?" tanya Miska


" Ya gak ada maksud, lagian gue baru pakai cincin aja loe pada heboh gitu!" jawab Khanza santai


" Tapi cincin loe beneran udah kayak cincin kawin tau" celetuk Miska yang meraih jemari Khanza dan memperhatikan cincin dijari Khanza


" Sok tahu loe!" Hana menoyor pelan kepala Miska


" Iya gue emang udah nikah, ini buktinya cantikkan cincinnya" ucap Khanza dengan bangga meyakinkan teman-temannya tapi hal itu justru membuat temannya malah semakin gak percaya.


" Pacaran aja enggak gimana mau nikah, yang ada Loe itu nikah sama buku-buku loe itu iya" Miska meraih buku yang dipegang Khanza dan menghempaskannya ke meja.


" Nah tuh loe tau, kenapa gue baru pakai cincin beginian aja loe udah pada heboh gitu sih" sahut Khanza


" Lagian loe tumben banget pakai gituan?" ucap Hana


" Ya gue disuruh ibu gue pakai ini ya masa gue tolak" jawab Khanza tidak berbohong kali ini, pasalnya tadi sewaktu Khanza tidak memakai cincin pernikahannya bu Khodijah melihatnya dan langsung menyuruh Khanza untuk memakai cincinnya.


" Lagian kalau gue bilang ini cincin pernikahan gue apa kalian beneran percaya gitu?" Khanza memperjelas pertanyaannya


" Ya enggaklah!" jawab mereka serempak


" Baguslah" Khanza menjentikkan jarinya


" Udah ah kenapa jadi bahas cincin gue si, kayak loe pada enggak pakai cincin aja" Khanza jadi jenuh sendiri gara-gara pakai cincin pernikahannya itu dia menjadi putar otak untuk menjawab pertanyaan dari teman-temannya.


Saat ini jam istirahat, Khanza dan teman-temannya sedang berjalan menuju kantin.


Khanza seperti biasa pada jam istirahat langsung pergi ke kantin sekolah untuk membantu ibunya tapi kali ini kedai bu Khodijah nampak tidak sesibuk biasanya. Khanza sedikit heran saat melihat seorang wanita seumuran ibunya tapi sedikit lebih muda sedang sibuk membantu ibunya.


" Za itu siapa?" tanya Miska saat melihat seorang wanita yang tengah membantu bu Khodijah melayani para pembeli


" Gue juga gak tahu pantas aja hari ini nyokap gue enggak seperti biasanya nampak lebih santai" jawab Khanza


" Sebentar ya gue ke sana dulu!" ucap Khanza dan teman-temannya duduk di bangku yang tidak terlalu jauh dari kedai milik bu Khodijah.


" Za sekalian ya, gue bakso" teriak Nana


" Gue juga Za" Miska


" Gue juga deh" Hana pun ikutan


" Iya, siap" Khanza mengacungkan ibu jarinya, Khanza berbalik badan namun tiba-tiba


Brukk


" Sorry... sorry... sorry... gue gak senga...ja.!" ucap Khanza saat menabrak seseorang


" Ish!" Khanza menarik napas kasar


" Enggak bisa ya kalau jalan itu hati-hati, dasar ceroboh!" ucap pria yang tertabrak Khanza


" Sudah tau saya itu ceroboh kenapa bapak bukan menghindar dari saya, jangan-jangan bapak sendiri tuh yang modus sengaja ingin ditabrak saya, iyakan? ngaku aja deh!" ucap Khanza ketus


" Pede banget kamu" cibir Aldy


" Ya terus kenapa bukan menghindar?" Khanza mendengus kesal

__ADS_1


" Terserah saya dong!" Aldy jawab dengan santai


" Eh bener-bener ya ni orang!" kesal Khanza


" Eh kenapa tuh si Khanza kayak lagi adu mulut gitu sama pak Aldy?" tanya Miska yang melihat kearah Khanza sedang adu mulut dengan Aldy


" Dasar Khanza sama guru juga diladenin gak takut apa tuh anak kena masalah terus nilainya dikurangi" cerocos Nana


" Samperin yuk ah!" ajak Hana


" Loe aja gih gue takut kena masalah sama tuh guru" ucap Nana


" Gak setia kawan loe" ucap Miska


" Yaudah yuk samperin!" Nana beranjak dari duduknya dia tidak mau dibilang tidak setia kawan hanya karena berhadapan dengan sang guru.


" Eh?" Miska melongo " Kenapa tuh anak udah jalan duluan, tadi katanya gak mau!" ucap Miska


" Sudah biarin ayok ah!" Hana menggaet tangan Miska dan menggandengnya menghampiri Khanza dan Aldy yang sedang beradu mulut.


" Ada apa ini? serius banget ngobrolnya" tanya Nana yang sudah berada di samping Khanza dengan senyum yang mengembang


" Tidak ada apa-apa" jawab Khanza masih manatap tajam Aldy dan tidak menoleh ke arah teman-temannya yang sudah berdiri di belakangnya


" Gue buatin pesanan kalian dulu" ucap Khanza lagi lalu pergi begitu saja..


" Pak Aldy makan di kantin juga?" tanya Hana sambil tersenyum


" Hem!" jawab Aldy datar membuat Nana cemberut karena pak Aldy langsung berlalu begitu saja.


Khanza menghampiri bu Khodijah yang tengah meracik bakso sedangkan bi Ratna membuat soto.


" Bu" sapa Khanza


" Eh Za, tolong bantu ibu antar bakso ini untuk mereka!" Bu Khodijah menunjuk ke arah beberapa siswi yang mengantri.


" Iya bu" Khanza mengantarkan pesanan ke siswi tersebut lalu kembali lagi menghampiri ibunya.


" Bu teman-teman Khanza pesan bakso 3"


" Iya ibu buatkan dulu"


" Oiya bu itu siapa?" Khanza menunjuk ke arah bi Ratna dengan ekor matanya


Bu Khodijah mengikuti arah pandang Khanza lalu tersenyum " oh itu bi Ratna, dia yang akan membantu ibu disini " jawab bu Khodijah


" Kamu tenang saja kalau soal itu, yang terpenting mulai sekarang kamu harus fokus dengan urusan sekolah kamu, belajar yang rajin dan satu lagi jalani kewajiban kamu dengan baik jangan buat ibu kecewa " bu Khodijah menepuk- nepuk bahu Khanza.


" Kewajiban maksud ibu?" tanya khanza


" Kamu pasti tahu yang ibu maksud, nih antarkan bakso ini untuk nak Aldy" bu Khodijah menunjuk ke arah tempat Aldy duduk yang tidak jauh dari kedai bu Khodijah


" Tapi bu!" Khanza hendak protes


" Udah cepat sana !"


" Sudah sana Za biar ini gue yang bawa" ucap Nicko yang tiba-tiba muncul mengagetkan Khanza


" Astaghfirullah, Ko ngagetin aja sih" Khanza mengusap dadanya


" Tuh ada nak Nicko udah cepat antarkan ini!" Bu Khodijah menyodorkan mangkok bakso tersebut ke arah Khanza dan juga nampan berisi 3 mangkok bakso kepada Nicko.


" Gue duluan ya Za" ucap Nicko seraya berlalu dengan nampan berisi 3 mangkok bakso pesanan teman-temannya.


Khanza dengan malas berjalan menuju meja dimana Aldy berada.


Tanpa bicara Khanza meletakkan bakso tersebut di atas meja yang berada di hadapan Aldy setelah itu ia pergi begitu saja, namun baru saja Khanza berbalik badan dengan cepat tangannya sudah ditarik oleh Aldy membuat Khanza langsung jatuh terduduk di bangku kosong yang ada di samping Aldy.


"Apa-apaan sih pak, gak lucu ya bersikap kayak gini!" kesal Khanza.


Untung letak meja pak Aldy di pojok hingga tidak terlalu terlihat dengan yang lainnya.


" Duduk dan jangan banyak protes" ucapnya tegas


" Ya maksud bapak itu apa nyuruh saya duduk di sini, saya tuh mau bantu ibu" ucap Khanza kesal


" Ibu sudah ada yang membantu jadi kamu cukup duduk di sini saja" ucap Aldy yang masih memegangi tangan Khanza.


" Lepas gak pak, enggak enak kalau sampai ada yang lihat nanti saya dianggap mesum lagi sama bapak" Khanza menghempaskan tangannya berkali-kali mencoba melepaskan tangan kekar Aldy yang mencekal pergelangan tangannya.


" Mesum sama suami sendiri ini tidak masalah bukan?" ucap Aldy berbisik


" Gak jelas banget sih!"

__ADS_1


" Pak tolong ya ini tuh area sekolah, saya gak mau ada masalah ya gara-gara tangan bapak yang tidak punya sopan santun ini" wajah Khanza sudah memerah menahan amarahnya.


Aldy melepaskan tangannya tapi sebelum itu ia mengajukan syarat pada Khanza.


" Aku lepas tapi dengan syarat" ucap Aldy membuat Khanza mendengus kesal


" Ya ampun ini orang beneran ya ngeselin banget" Khanza mendelik tajam


" Mau tidak?"


Khanza menghela napasnya panjang " Ya udah apa syaratnya?"


" Diam disini temani aku makan" jawab Aldy santai


" Apa? bapak ini habis kepentok apa sih jadi gak jelas. apa kata murid-murid yang lain kalau mereka melihat saya sedang bersama bapak disini?"


" Ya kepentok kamu tadi, apa kamu lupa hem?" Aldy mencondongkan wajahnya ke arah Khanza.


" Ish nyebelin banget sih!" Khanza menggeser duduknya


" Pak please deh, saya itu mau balik ke meja teman-teman saya" pinta Khanza


" Ke meja teman-teman kamu duduk dan bercanda dengan teman laki-laki kamu itu dan bermesraan. sementara suami kamu sendiri kamu abaikan begitu?" ucap Aldy yang langsung melepaskan tangannya dari tangan Khanza dan langsung memakan baksonya dengan sedikit kasar.


" Pergilah!" Aldy bicara datar dan tanpa menoleh ke arah Khanza.


" Pacarmu itu pasti sedang menunggu mu" ucapnya lagi.


Khanza mengerutkan keningnya merasa heran dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


" Sudah sana pergi tunggu apalagi, tuh pacar kamu sedang nyariin" tunjuk Aldy ke arah Nicko yang nampak celingukan mencari keberadaan Khanza.


Khanza beranjak dari duduknya dengan pikiran yang bercampur aduk.


" Ini orang kenapa sih aneh banget hari ini" batin Khanza.


Khanza pergi begitu saja tanpa bicara sekata patahpun.


" Za loe kemana aja sih gue cariin?" Aldy langsung menggeser duduknya dan membiarkan Khanza duduk di sampingnya.


" Gue habis beli ini!" Khanza mengangkat kantong berisi gorengan. ia sengaja beli gorengan tersebut karena tidak ingin teman-temannya banyak tanya.


" Kenapa gak bilang tadi biar gue aja yang beliin" ucap Nicko


" Duh perhatian banget sih Nicko, gue juga mau dong diperhatiin" goda Miska


" Tuh sama Billy aja" sahut Nicko


" kenapa gue jadi yang dibawa-bawa" protes Billy


" Khanza nanti pulang sekolah gue antar ya!" Nicko merangkul bahu Khanza dan hal itu tidak lepas dari tatapan tajam seseorang.


Khanza yang biasanya cuek dengan sikap Nicko tapi entah kenapa hari ini Khanza merasa risih sendiri dan dengan cepat Khanza menyingkirkan tangan Nicko yang masih bertengger di bahunya.


Entah kenapa Khanza merasa seperti diawasi dan benar saja saat dia menoleh ke arah tempat Aldy duduk ternyata laki-laki itu sedang menatap kearahnya dan tanpa sengaja tatapan mata mereka pun bertemu.


Khanza dengan cepat memutus tatapan matanya dan mengalihkan ke sembarang arah.


" Khanza loe kenapa sih kok kayak orang salting gitu?" tanya Miska


" Ya?" Khanza bingung sendiri dan hanya bisa tersenyum kikuk


" Gue gak Kenapa-napa, perasaan loe aja kali " jawab Khanza ngasal lalu memasukkan gorengan yang dibelinya tadi kedalam mulutnya


" Za mau ya pulang bareng gue?" Nicko kembali mengajak Khanza pulang bareng


" Sorry Ko lain kali aja ya, nanti gue ada janji mau ke toko buku cari buku sama Miska" Khanza menyenggol bahu Miska lalu mengerlingkan matanya.


" Eh iya nanti kita mau mampir ke toko buku dulu" jawab Miska cepat setelah mengerti arti kerlingan mata Khanza.


" Yaudah bagaimana kalau sekalian aja bareng" ucap Nicko


" Ya kan gue juga bawa mobil juga babang" sahut Miska


" Gaess sudah hampir bel ke kelas yuk!" ajak Hana yang sudah beranjak dari duduknya


" Ayok lah cus!" Miska, Nana dan Khanza pun beranjak dari duduknya Nicko dan Billy pun menyusul


Khanza dan teman-temannya hendak melangkah pergi dari kantin namun tiba-tiba saat hendak melangkah Khanza dan Aldy malah saling berhadapan, seketika keduanya diam terpaku saling menatap satu sama lain sampai akhirnya suara Miska memutus tatapan keduanya.


" Za ayok!" Miska menarik tangan Khanza


" Ya?" Khanza yang tersadar pun menjadi salah tingkah

__ADS_1


" Ayok beb, nanti keburu masuk!" dengan santainya Nicko merangkul bahu Khanza dan Khanza pun menurut begitu saja tanpa ada penolakan.


Khanza beranjak pergi dengan tangan Nicko yang masih bertengger di bahunya meninggalkan Aldy yang diam-diam ternyata mengepalkan tangannya kuat menatap punggung Khanza yang pergi begitu saja.


__ADS_2