Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Syarat


__ADS_3

Azka saat ini mendengus kesal kepada istri kecilnya pasalnya tadi sewaktu bundanya menelpon, beliau mengatakan kalau kakak angkatnya Zaira yang tidak lain adalah dokter Ariel ingin mengajak Zaira bertemu malam ini di restoran x bersama bunda Aryani.


Azka yang mendengar pembicaraan tersebut dengan kasar masuk kedalam kamar mandi dengan membanting pintu cukup keras hingga membuat Zaira tersentak kaget.


Selesai mandi Zaira yang tengah duduk di tepi tempat tidur meminta Azka duduk di sampingnya.


" Mas aku mau bicara!" ucap Zaira hati-hati


Azka yang sudah tahu arah pembicaraan Zaira hanya diam saja.


" Mas kok diam aja sih!" kesal Zaira yang tidak digubris ucapannya.


" Bicaralah!" ucap Azka dingin


" Ada apa sih dengannya tadi begitu bucin sekarang kenapa jadi dingin lagi sikapnya, dasar aneh?" batin Zaira


" Mas tadi bunda_" ucapan Zaira tiba-tiba dipotong


" Pergilah jika memang itu baik menurutmu. mas tidak akan melarangmu!" ucap Azka yang tentu saja membuat Zaira tercengang. bagaimana mungkin suaminya bisa tahu arah pembicaraannya. batin Zaira berperang antara ingin pergi dan tidak.


Zaira tahu saat ini suaminya pasti tengah cemburu akut apalagi semenjak tahu dirinya tengah berbadan dua. Zaira yang nampak lebih berisi aura kecantikannya semakin keluar dan hal itulah yang membuat seorang Azka begitu posesif dan pencemburu berat.


" Mas,!" panggil Zaira dengan selembut mungkin.


" Aku akan pergi jika suamiku memberi izin dan jika suamiku tidak memberi izin bagaimana mungkin aku bisa pergi begitu saja sayang!" ucap Zaira meraih tangan Azka dan membawanya ke atas pangkuannya.


Zaira memperlihatkan senyum termanisnya kepada pak suami tercintanya itu ayah dari calon bayi yang dikandungnya.


Azka menghela nafas berat sebelum bertanya kepada Zaira.


" Apa kamu ingin bertemu dengannya?" tanya Azka penasaran.


Zaira tersenyum tipis lalu bersandar dibahu kekar milik pujaan hatinya.


" Aku hanya ingin menemani bunda mas, lagipula dia hanyalah kakak bagiku mas tidak lebih" ucap Zaira dengan lembut.


" Mas akan izinkan asalkan kamu dalam pengawasan anak buah mas, karena untuk saat ini berada di luar tanpa pengawasan sungguh menakutkan sayang. " ucap Azka mengajukan syarat..


" Untuk apa pakai pengawasan segala sih mas, jangan terlalu berlebihan deh, sudah seperti pejabat penting saja!" protes Zaira


" ya memang kamu pejabat penting sayang, pejabat penting di hati mas dan juga dikeluarga kecil kita. tanpa kamu istana kita ini tidak akan ada artinya apa-apa sayang jadi demi keselamatan dan kebaikan kamu serta calon bayi kita mas harus melakukan ini sayang." ucap Azka mengecup lembut kening Zaira


" Tapi mas rasanya pasti tidak akan nyaman mas jika ada yang mengawal, orang-orang juga pasti akan berpikir ini terlalu berlebihan mas" ucap Zaira yang ingin sekali menolak keinginan suami itu


" Tenang sayang mas akan menyuruh mereka hanya mengawasi dan menjaga kamu dari jauh, bukan hanya kamu sayang Meli pun sama, mas akan melakukan hal yang sama pada anak itu. mas tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi sayang." ujar Azka menjelaskan


" Mas sebenarnya apa yang terjadi dengan Lia kemarin.? tanya Zaira penasaran dan ingin tahu


" Mas akan beritahu tapi kamu harus janji untuk tidak panik ya?" pinta Azka


" Iya mas, cepat ayo ceritakan!" ucap Zaira antusias karena sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari suaminya.


" Tadi disepanjang perjalanan pulang Meli menceritakan semuanya kepada mas, selepas pulang dari rumah kita, Meli dan yang lainnya mampir ke mall pulangnya mereka berpencar dan saat itulah Meli merasa seperti ada yang membuntuti. dia berjalan bergegas menuju mobilnya namun belum sampai ke mobil Meli dibekap oleh pria asing" Zaira terhenyak dan menutup mulutnya sendiri membayangkan apa yang terjadi pada Lia Sahabatnya.


" lalu!" ucap Zaira yang penasaran


" Mereka membawa Meli kesebuah gedung kosong, dan ternyata otak dari dalang penculikan Meli adalah Rara. dia menyuruh beberapa preman menculik Lia untuk menodainya karena dia ingin balas dendam dan menghancurkan masa depan Meli dan mempermalukan keluarga Dinata" Zaira tercengang mendengar cerita miris yang Azka ceritakan tentang peristiwa yang dialami Lia Sahabatnya dan tanpa sadar air mata Zaira pun menetes.


" Lalu apa yang terjadi selanjutnya mas, bagaimana Lia bisa lepas dari orang-orang suruhan Rara" tanya Zaira


" Apa kamu belum tahu tentang sahabatmu yang satu itu sayang?" tanya Azka tersenyum menaikan satu alisnya.


" Maksud mas?" Zaira bingung


" Jadi kamu benar-benar tidak tahu siapa Meli?" Zaira menggeleng pelan dengan sedikit bingung dengan pertanyaan suaminya itu.


" Beruntung adikku itu bukan gadis biasa sayang, mungkin orang-orang hanya berpikir Meli hanyalah seorang putri Dinata yang manja dan tak bisa apa-apa" tutur Azka


" Aku semakin tidak mengerti, mas ini bicara apa sih?" kesal Zaira yang merasa semakin dibuat bingung oleh sang suami


" Sebenarnya sejak kecil kakek Dinata membekali mas dan juga Meli beberapa gerakan ilmu bela diri sayang, bahkan kakek sampai menyuruh anak buah kepercayaannya untuk melatih kami" ucap Azka


" Kakek Dinata tahu persaingan bisnis yang semakin kuat dan besar pasti kedepannya akan banyak aral rintangan yang bisa saja membahayakan dirinya sendiri juga keluarganya. jadi kakek ingin agar cucu-cucunya bisa menjaga dirinya masing-masing dan keselamatan keluarga Dinata" lanjutnya lagi

__ADS_1


" Apa papa tahu perihal ini mas?" tanya Zaira dan Azka menggeleng.


" Tidak" singkatnya


" Kakek merahasiakan tentang Meli yang belajar ilmu bela diri karena kakek tahu papa dan mama pasti tidak akan setuju, menurut mereka belajar ilmu bela diri hanya akan membuat Meli tumbuh menjadi gadis yang tomboy dan keras " jawab Azka


" Tapi beruntung kakek diam-diam membekali Meli ilmu bela diri jika tidak mas juga tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Meli" ucap Azka penuh syukur


" Aku benar-benar tidak menyangka kalau Lia bisa ilmu bela diri" ucap Zaira


"Meli itu pandai ilmu bela diri sayang, bahkan kemampuannya melebihi kemampuan anak buah kakek Dinata, jadi sewaktu para preman itu ingin melakukan hal bejat kepada Meli dengan kemampuan bela diri yang dia miliki Meli mampu melumpuhkan lawannya hanya sayangnya saat dia lengah Rara mengambil kesempatan dan menyerang Meli dengan sebuah pisau dan beruntungnya ada teman Meli yang menghadangnya sehingga dialah yang terkena tusukan oleh Rara, beruntung lukanya tidak begitu dalam"terang Azka membuat Zaira tercengang


" Teman?" Zaira nampak berpikir


" Iya, temannya. Awalnya mas juga sedikit terkejut saat melihat mereka bersama dirumah sakit. Apalagi setahu mas mereka itu tidak pernah akrab dan bahkan bicara pun tidak pernah." ucap Azka membuat Zaira semakin penasaran


" Siapa sih mas, jangan bikin aku penasaran deh. apa aku mengenalnya mas?" tanya Zaira


" Sangat, jika mas bilang siapa dia juga kamu pasti tidak akan menyangka sayang" terang Azka membuat dahi Zaira mengkerut.


" siapa mas, udah deh jangan bikin aku tambah penasaran" Zaira melipat kedua tangannya di dada


" Mario!" ucap Azka


" Apa Mario?" Zaira terkejut " Mas gak lagi bercanda kan?" Zaira memastikan.


" Buat apa mas bohong sih sayang" Azka mengacak rambut Zaira gemas


" Mario, kok bisa mas dia yang jadi penolong Lia?" tanya Zaira ditengah kebingungannya


" Ya bisa aja sayang, jika Allah sudah berkehendak apapun bisa saja terjadi" sahut Azka


" Iya sih mas, cuma aneh aja. kan mas tau sendiri Mario itu seperti apa anaknya" Azka tersenyum tipis menanggapi ucapan Zaira


" Mario mungkin sudah berubah sayang, dan mas lihat juga sepertinya ada sesuatu di antara mereka" Zaira mengernyitkan alisnya menanggapi ucapan Azka.


" Sesuatu bagaimana maksud mas?" tanya Zaira


" Sesuatu yang hanya Meli dan Mario saja yang tahu " Zaira semakin bingung dengan kalimat yang Azka ucapkan entah Azka yang terlalu berbelit-belit bicaranya atau Zaira yang terlalu lemot dalam berpikir.


" Ya mungkin saja" sahut Azka santai


" Benar-benar berita heboh ini mas" celetuk Zaira.


" Biarkan saja dulu, kita tidak perlu membahasnya. biarkan mereka menjalaninya apa adanya. sampai mereka mengakui dan menyadari perasaan mereka masing-masing" ucap Azka


" Kenapa mas begitu yakin jika mereka sama-sama ada rasa?" tanya Zaira


" Dari sorot mata mereka yang bicara. mas dapat membaca tatapan keduanya ketika saling pandang."


" Jika itu memang benar apa mas tidak keberatan Meli dengan Mario? mas tau sendiri kan Mario anaknya seperti apa?" tanya Zaira yang tidak begitu yakin dengan perasaan Mario.


" Jika Mario mau berubah dan Meli bisa merubahnya menjadi lebih baik kenapa tidak sayang?" Azka tersenyum lalu menarik Zaira ke dalam pelukannya. " Iya mas" Zaira pun membalas pelukan pak suami tercinta.


" Lalu bagaimana tawaran mas tadi?" tanya Azka kembali ke topik semula


" Tawaran apa?" Zaira balik bertanya


" Pengawal?"


" Apa tidak berlebihan?"


" Tidak sayang demi keselamatan kamu dan juga calon bayi kita. mas takut Rara yang masih berkeliaran di luar melakukan hal nekat sayang. mas takut dia menyakiti kamu dan juga Meli. jika Meli mas tidak terlalu khawatir karena dia bisa melindungi dirinya sendiri tapi kamu mas tidak ingin Rara sampai menyakiti dirimu lagi sayang." tutur Azka


" Maafkan mas Sayang semua terjadi karena mas, ambisinya membuat istri dan adikku yang terluka olehnya. mas tidak akan tinggal diam Mas pasti akan memberinya perhitungan" ucap Azka geram mengingat apa yang telah Rara perbuat terhadap dua orang yang sangat ia sayangi.


" Iya mas aku mengerti akan kecemasan mas Azka, Yasudah terserah mas bagaimana baiknya saja" ucap Zaira yang tidak ingin membuat suaminya khawatir


❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍


Hari ini Zaira dan teman-temannya berada di kantin sekolah, selepas jam pelajaran olahraga Zaira memutuskan untuk pergi ke kantin karena merasa perutnya minta di isi. Lia, Mita, indah, Mona dan Mia menurut saja dengan keinginan bumil yang semakin hari nampak lebih berisi.


" Za loe gak kenyang apa dari tadi makan terus?" tanya Mia mengomentari Zaira yang tengah makan somay sehabis menyantap semangkok bakso.

__ADS_1


" Za loe makan apa balas dendam sih, berapa hari emangnya loe gak dikasih makan sama PakSu?" tanya Mita geleng-geleng melihat tingkah Zaira


" Tau tuh perut apa perut kalah si Mona" celetuk Indah


" Kalau Za sih wajar Ndah makan banyak juga, makannya berdua, lihat aja tuh badannya semakin bohay" komen Mia


" Iya ya tambah bohay tapi tambah cantik aja loe Za" puji Indah membuat Zaira malah jadi risih sendiri karena di bilang bohay yang artinya badannya semakin terlihat gendut.


" Iya Za bohay banyak makan, kalau Mona makan banyak tetap aja tuh badan kurus, gak tau lari kemana tuh makanannya" ledek Mita


" Kenapa jadi gue yang dibandingin sama Za, jelas aja dong Za semakin berisi makannya cuma berdua, lah kalau gue gimana mau gemuk yang bantuin gue makan banyak" ucap Mona membela diri.


" Emang yang bantuin loe siapa aja Mon?" tanya Mia


" Cacing-cacing diperut gue, Haha" sahut Mona tertawa.


" Cacingan dong loe, wah cantik-cantik cacingan". ucap Mia menggidikan bahunya geli.


" Sia*n loe!" ucap Mona seraya mendorong bahu Mia


" Eh Li loe kenapa tumben diam aja?" tanya Mita yang pandangannya teralihkan kepada Lia yang sedari tadi matanya seperti mencari seseorang


" Loe kayak lagi nunggu seseorang ya?" tanya Mita lagi.


Zaira hanya mengulum senyumnya melihat Lia yang nampak berubah dari biasanya"apakah Lia sedang mencari Mario?" batin Zaira


Dan seketika tanpa sadar Lia menarik sudut bibirnya sedikit ketika melihat seseorang yang dicarinya muncul dan sudah dalam keadaan baik-baik saja.


pandangan mata Lia dan Mario bertemu mereka saling menatap lalu persekian detik Lia dan Mario sama-sama melempar pandangannya ke sembarang arah.


Zaira hampir saja tertawa melihat interaksi keduanya. Zaira tahu saat ini Lia pasti sedang gerogi apalagi saat Mario berjalan melewati begitu saja mejanya.


Tapi justru sahabatnya malah salah menduga mereka menyangkanya Mario tengah memperhatikan Zaira.


" Za sepertinya si Mario masih belum move on deh dari loe, lihat tuh" ucap Mona yang sok tahu


menunjuk Mario yang tengah menatap ke arahnya.


Lia yang mendengar ucapan Mona seperti ada rasa tercubit di dalam hatinya. Berpikir jika Mario memang masih menyimpan rasa untuk Zaira.


" Gue mah gak ada apa-apanya dibandingkan Zaira" batin Lia


" Li loe kenapa sih kok malah bengong gitu ?" tanya Mia


" Gue, kenapa? gue gak kenapa-napa kok" sahut Lia santai.


" Za, Mario ngeliatin loe terus tuh. lihat deh !" tunjuk Mona ke arah Mario dengan dagunya.


" Ngeliatin gue, masa sih?" tanya Zaira yang tahu arah kemana sebenarnya tatapan Mario tertuju.


Zaira membisikkan sesuatu di telinga Lia sampai membuat Lia tercengang dan menatap wajah Zaira penuh tanya.


" Kayaknya sebentar lagi ada yang gak jomblo nih?" bisik Zaira membuat Lia melotot tajam ke arahnya.


" Za loe!" ucap Lia membuat Zaira mengulum senyumnya.


" Gaes balik kelas yuk, waktu istirahat udah hampir habis nih!" ucap Zaira dan membuat sahabat-sahabatnya mengernyit pasalnya siomay yang Zaira makan belum habis dan masih tersisa banyak.


" Za makanan loe kan belum habis" tunjuk Mia pada sepiring siomay diatas meja.


" Gue udah kenyang, gak sanggup gue makan lagi," sahut Zaira


" Tumben!" lontar Mona.


" Ya kalau udah kenyang ya mau bagaimana lagi Mona" gemes Zaira mencubit pipi Mona


sementara tanpa mereka sadari Lia dan Mario tengah mencuri pandang satu sama lain sampai pandangan mata keduanya terputus saat seseorang datang dan langsung menghampiri Mario.


Melihat ada seorang gadis yang duduk di samping Mario entah kenapa membuat Lia merasa tidak nyaman berada di kantin apalagi gadis itu nampak bergelayut manja di lengan Mario.


" Cabut yuk!" ucap Lia seketika berdiri membuat semua sahabatnya terkejut terlebih Zaira.


" Loe kenapa Li?" tanya indah dan tanpa menjawab Lia langsung pergi begitu saja tanpa menggubris ucapan teman-temannya.

__ADS_1


" Li tunggu!" teriak Mona namun tidak dihiraukan oleh Lia yang berjalan begitu cepat sementara Mario yang mendengar nama Lia disebut langsung menoleh dan betapa terkejutnya Mario saat melihat Lia yang sekilas menoleh kearahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Mario menghela nafas panjang setelah Lia berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan kantin..


__ADS_2