Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

" Bapak jahat.. kenapa pak Aldy lakukan ini sama saya?" teriak Khanza histeris dengan air mata yang sudah berderai


" Tenang dulu... aku mohon tenangkan dulu dirimu!" pinta Aldy yang juga tidak kalah terkejutnya dengan Khanza


" Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, aku yakin tidak terjadi apa-apa ini hanya sebuah jebakan" ucap Aldy berusaha menenangkan Khanza


Khanza menggeleng pelan pikirannya menerawang jauh melihat dirinya yang bahkan hanya berbalut selimut yang ia pakai.


" Tidak terjadi apa-apa kata bapak tapi bagaimana mungkin kita dalam keadaan seperti ini, aku sudah kotor... sudah kotor...!" teriaknya


" Ibu...!" lirih Khanza tubuhnya seketika beringsut ke lantai.


" Tapi aku benar-benar tidak ingat apa-apa, aku tidak melakukan apapun!" ucap Aldy membela diri.


" Cukup pak, cukup... aku benci bapak, aku benci!" teriak Khanza dengan tatapan mata yang menyalang dan berteriak-teriak membuat Aldy bingung sendiri menghadapi gadis yang ada di hadapannya saat ini.


Aldy yang tanpa sadar hanya menggunakan celana boxer membuat Khanza semakin menjerit tatkala ia berusaha menenangkan Khanza dan mendekati gadis itu.


" Jangan mendekat.. aku mohon jangan mendekat!" teriak Khanza


" Tenanglah dulu kita bicarakan ini dengan baik-baik!" Aldy tetap melangkah mendekati Khanza.


" Jangan mendekat, Aaaa.....!" teriak Khanza yang sudah tidak terkendali saat Aldy berusaha untuk menyentuh bahunya dan hal itu bertepatan dengan pintu yang tiba-tiba dibuka dari luar


Ceklekk


Pandangan keduanya langsung menyorot ke sumber suara.


Glek....


Aldy dan Khanza melotot saat netranya melihat sosok orang-orang yang berada di depan matanya.


" Kalian sungguh memalukan!" ucap lantang seorang pria paruh baya dengan nada meninggi


" Apa yang sudah kalian perbuat?" tanya wanita paruh baya dengan derai air mata yang sudah tidak dapat ditahan lagi


Khanza terus menggelengkan kepalanya rasanya saat ini ia seperti berada di tepi jurang yang sangat dalam, melihat orang yang sangat ia sayangi menangis karena ulahnya membuat hatinya begitu sakit.


" I...ibu!" lirih Khanza dengan tangis yang semakin pecah.


"Nak Aldy, aku tidak menyangka kau bisa melakukan sesuatu yang memalukan seperti ini" geram Samuel yang merupakan pemilik yayasan pendidikan Darma Bangsa.


" Kau adalah seorang guru yang seharusnya memberikan contoh dan tauladan yang baik untuk anak didikmu, bukan sebaliknya menghancurkan masa depannya!" tuan Sam menunjuk ke arah Khanza yang tengah menangis ketakutan.


Bu Khodijah tidak bisa lagi membendung kesedihannya, semalaman tidak tidur dan terus menanti kepulangan sang putri membuat tubuhnya terasa lemas.


Bruk


Bu Khodijah terjerabah ke lantai membuat Khanza langsung berlari dengan susah payah menghampiri ibunya.


" Bu sadar bu.... maafkan Khanza bu!" ucap Khanza dengan derai air mata


" Na Khanza sebaiknya pakai bajumu, kita bawa ibumu ke rumah sakit!" perintah tuan Sam yang sudah berjongkok di depan Khanza lalu menggendong Bu Khodijah memindahkannya ke atas sofa.


"Nak Aldy kau juga sebaiknya pakai bajumu dengan baik, bersikaplah sopan sebagai seorang guru!" tegurnya


Aldy baru menyadari kalau ternyata dia hanya memakai boxer saja pantas jika Khanza begitu histeris ketakutan dan berpikir yang macam-macam.


Aldy berjalan meraih baju dan celananya yang tercecer di lantai, sebenarnya dia merasa bingung dengan kejadian yang menimpanya semalam, seingatnya dia hanya berusaha untuk menolong Khanza yang tengah berada dalam masalah akibat mencoba menolong rekan kerjanya tapi yang dia tidak habis pikir kenapa mereka tiba-tiba bisa berada di dalam kamar yang menurutnya sangat asing bahkan dalam keadaan yang sangat memalukan.


Setelah selesai memakai bajunya kembali Khanza dan Aldy berjalan gontai menghampiri tuan Sam dan juga Bu Khodijah yang nampaknya sudah siuman.


" Bu!" lirih Khanza memeluk tubuh ibunya


"Ibu telah gagal menjagamu, ibu sudah gagal menjadi seorang ibu!" ucap bu Khodijah terdengar begitu pilu.


" Ibu tidak bisa melindungi putri ibu satu-satunya, dan tidak bisa menepati janji ibu kepada mendiang ayahmu!" Khanza semakin terisak mendengar ucapan ibunya.


" Bu ini tidak seperti yang ibu lihat, kami tidak melakukan apa-apa bu!" ucap Khanza sambil terisak.


" Di dalam satu kamar pria dan wanita bersama dan tidak terjadi apa-apa? itu terdengar sangat mustahil Khanza, apalagi kalian tadi terlihat dalam keadaan yang sungguh memalukan. kamu tahu Khanza kamu sudah membuat ibu malu memiliki putri seperti kamu Khanza, kamu benar-benar membuat ibu kecewa" bu Khodijah menangis sesenggukan begitu juga Khanza yang tidak tahu harus bicara apalagi untuk meyakinkan ibunya sedangkan dia sendiri pun tidak yakin dengan kejadian malam kelam yang membuat ibunya kecewa dan sedih.

__ADS_1


" Bu kami _!" ucap Aldy yang langsung dipotong oleh tuan Sam


" Nak Aldy sebagai laki-laki sejati kamu setidaknya harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat !" ucap tuan Sam membuat Aldy melotot mencerna kalimat yang dilontarkan tuan Sam.


" Maksud Om?" tanya Aldy yang nampak bingung


" Kamu harus menikah dengan Khanza!"


" Apa?" seru Khanza dan Aldy bersamaan


" Tidak pak, bu.. Khanza tidak mau menikah. Khanza masih mau sekolah dan melanjutkan pendidikan Khanza!" tolak Khanza


" Benar apa yang dikatakan Khanza, Om.. Bu.. kami tidak mungkin menikah apalagi Khanza masih sekolah dan dia itu murid aku disekolah!" ucap Aldy menambahi


" Kau bisa berkata seperti itu karena kamu adalah laki-laki tapi bagaimana dengan putriku, apa yang sudah kalian lakukan adalah aib dan dosa besar, dan apa kamu akan tega membiarkan putriku menanggung aib ini sendirian?" keluh bu Khodijah yang sungguh merasa kecewa dengan sikap Aldy yang sepertinya tidak mau bertanggung jawab


" Bukan begitu bu Khodijah, tapi aku dan Khanza memang tidak melakukan apa-apa ini hanyalah sebuah kesalahpahaman dan aku yakin ada orang yang sengaja menjebak kami" ucap Aldy dengan yakin


" Kesalahpahaman? menjebak ? siapa yang sudah menjebak kalian dan apa kalian punya bukti jika kalian di jebak?" tanya tuan Sam.


" Lihat foto ini, siapa yang menjebak dan dijebak?" Aldy melotot saat melihat foto yang disodorkan dilayar ponsel tuan Sam.


" Ah sial!" umpat Aldy mengepalkan tangannya dengan kuat.


" Ini tidak benar, ini pasti ada yang sengaja melakukannya!" ucap Aldy membela diri


" Cukup nak Aldy, kau tidak bisa mengelak lagi, Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan mu itu, nak Khanza gadis baik-baik apa kamu tega membiarkan masa depannya hancur begitu saja dan kamu tidak peduli sama sekali lepas tangan begitu saja?atau kau ingin aku pecat dari sekolah dan aku pastikan nama baikmu akan hilang seperti masa depan nak Khanza yang sudah kau hilangkan!" ancam tuan Sam tegas


" Tapi aku_" ucap Aldy terpotong


" Aku tidak mau menikah, aku masih mau sekolah!" ucap Khanza menyela


" Tuh Om dengar sendiri kan, kalau Khanza sendiri tidak mau menikah!" sahut Aldy


Tuan Sam menarik napasnya panjang lalu menatap lekat Khanza yang terlihat sendu


" Nak Khanza menikah bukan berarti kamu tidak bisa sekolah lagi, kamu tentu tau putri dan juga menantuku bukan? mereka menikah di saat masih sekolah dan untuk ku itu tidaklah masalah. kamu masih bisa sekolah seperti Meli dan Zaira, sekolah dan belajar seperti anak sekolah lainnya dan kau Aldy, kamu juga masih bisa mengajar seperti biasa, kalian menikah secara sederhana dan hanya mengundang saudara inti!" ucap tuan Sam


" Terserah bagaimana baiknya saja!" ucap Aldy yang pada akhirnya pasrah


" Bu..!" ucap Khanza berharap ibunya tidak setuju dengan usul tuan Sam


" Sebaiknya memang seperti itu tuan, saya setuju. mereka memang secepatnya harus segera dinikahkan!" ucap bu Khodijah membuat Khanza terkulai lemas mendengar ucapan ibunya sendiri yang menginginkan Khanza segera menikah.


" Bu... Khanza tidak mau!" ucap Khanza lirih


" Mau tidak mau kamu tetap harus menikah!" ucap bu Khodijah tegas lalu beranjak dari duduknya


" Kalau begitu kami permisi dulu tuan, keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada anda!" ucap bu Khodijah dengan hormat


" Baiklah kalau begitu bu Khodijah, nanti saya akan segera menghubungi anda untuk acara lamaran dan menentukan hari pernikahannya" tutur tuan Sam


" Ayok pulang!" ajak bu Khodijah menarik tangan Khanza


Sesampainya di rumah bu Khodijah langsung masuk ke dalam kamar sementara Khanza hanya bisa duduk lemas di bangku ruang tamu. Suasana rumah sangat sepi Izan yang biasanya selalu ramai dengan kejahilannya terhadap Khanza saat ini tidak ada di rumah karena sudah berangkat ke sekolah.


Untuk pertama kalinya Khodijah membolos dan tidak masuk sekolah begitu juga dengan Bu Khodijah seharian ini hanya mengurung diri di dalam kamar.


Hari sudah beranjak siang, Khanza berkali-kali menoleh ke arah pintu kamar ibunya setelah itu pergi ke dapur untuk memasak makan siang.


Usai memasak Khanza pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih dan menunaikan ibadah sholat zhuhur.


Dalam doa Khanza meluapkan semua perasaannya, menangisi kebodohannya dan juga kesalahannya sampai membuat ibunya sesedih itu


Setelah selesai berdoa Khanza pergi keluar kamar dan menuju kamar ibunya.


Bu Khodijah masih setia berada di dalam kamar, Khanza yang merasa khawatir dengan keadaan ibunya dengan takut-takut ia mengetuk pintu kamar ibunya tersebut.


Tok...


Tok....

__ADS_1


Tok...


" Bu ini Khanza, kita makan dulu yuk bu Khanza sudah masak untuk ibu!" panggil Khanza dari luar kamar namun masih tidak ada tanggapan dari Bu Khodijah.


" Bu!" panggil Khanza lagi dengan suara yang bergetar.


" Bu maafin Khanza ya bu, Khanza janji akan menuruti kemauan ibu tapi Khanza mohon bu jangan diamkan Khanza seperti ini Khanza gak kuat bu!" ucap Khanza yang sudah menitikkan air matanya.


Ceklekk


Pintu kamar terbuka, Khanza bernapas lega karena ibunya mau membukakan pintu.


" Bu, kita makan dulu ya. Khanza sudah masak makanan kesukaan ibu loh!" ucap Khanza mencoba untuk tersenyum walaupun sebenarnya hatinya terasa sangat sakit melihat wajah sendu sang ibu .


" Ibu belum lapar, kamu saja yang makan duluan ya!" ucap bu Khodijah memaksakan senyumnya lalu berjalan ke ruang tamu.


" Bu, Khanza tau ibu pasti belum makan dari semalam iyakan? tanya Khanza lirih seraya mengikuti langkah sang ibu yang sudah duduk di bangku ruang tamu.


" Ibu masih belum lapar nak!" ucap bu Khodijah berusaha untuk bersikap tenang.


" Bu!" lirih Khanza yang mendudukan dirinya di bangku sebelah ibunya


Bu Khodijah merasa kasihan melihat wajah sendu putrinya ia tahu Khanza adalah putrinya yang sangat penurut dan baik. Memang tidak mungkin jika Khanza berbuat hal yang tidak bermoral tersebut. ingin sekali bu Khodijah tidak mempercayai semua kenyataan yang terjadi namun apa yang sudah dilihat dengan mata kepalanya sendiri tidak bisa ia pungkiri.


" Bu maafin Khanza ya bu, Khanza sudah membuat ibu sedih dan kecewa!" ucap Khanza sendu dan begitu berat.


" Ibu ingin sekali tidak percaya nak, tapi kenyataan yang sudah ibu lihat dengan mata kepala ibu sendiri benar-benar membuat ibu merasa gagal menjadi seorang ibu, dan satu-satunya jalan kamu harus menikah dengan pak Aldy karena ibu tidak mau suatu hari jika sampai kamu hamil anak kamu tidak ada ayah yang bertanggung jawab" ucap Bu Khodijah dengan mata yang sudah berkaca-kaca kembali.


" Astaghfirullah bu, Khanza tidak mungkin hamil bu, Khanza yakin bu Khanza dan pak Aldy tidak melakukan sampai hal sejauh itu bu" ucap Khanza yakin


" Sayang ibu tahu kamu anak yang baik dan penurut , kamu tidak pernah mengecewakan ibu tapi melihat keadaan kamu yang_" Bu Khodijah menghela napasnya dalam" Tidak memakai apa-apa, apa ibu harus percaya jika kalian tidak melakukan hal itu?" tanya bu Khodijah dengan suara berat.


" Tapi bu_"


" Sudahlah sayang, kita tunggu saja kabar dari tuan Sam. Jika kamu tidak ingin membuat ibu semakin kecewa jadi ibu mohon menurutlah!" ucap bu Khodijah membuat Khanza merasa semakin bersalah


" Kalau keputusan itu memang menurut ibu jalan yang terbaik Khanza akan menuruti keinginan ibu karena Khanza tidak ingin membuat ibu semakin kecewa lagi" sahut Khanza yang langsung memeluk tubuh ibunya.


" Tapi sekarang ibu harus makan terlebih dahulu , Khanza tidak ingin ibu sakit gara-gara Khanza" ucap Khanza setelah mengurai pelukannya dan Bu Khodijah mengangguk pelan lalu menghapus sisa air mata Khanza yang masih menetes di pipi.


Setelah makan siang bersama Khanza masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur yang tidak terlalu besar dan hanya muat untuk dirinya saja.


Khanza menatap langit-langit kamarnya, memikirkan nasib masa depannya jika dia menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai. apakah ia akan hidup bahagia apalagi dia tidak mengenal sama sekali sosok laki-laki yang akan menjadi suaminya itu.


Khanza mengingat - ingat kembali kejadian semalam, namun yang ia ingat hanya saat dirinya dan pak Aldy ingin menolong Tata yang tiba-tiba pingsan setelah itu ia benar-benar tidak mengingat apa-apa lagi dan tersadar sudah berada di dalam sebuah hotel bersama sang guru.


Khanza teringat akan Tata, dia harus menemui Tata untuk mencari tahu hal yang sebenarnya. Khanza beranjak dari tempat tidur dan segera keluar kamar untuk berpamitan kepada ibunya.


" Bu Khanza pamit ke cafe dulu ya bu, Khanza ingin bertemu dengan mba Tata dia pasti tahu tentang kejadian semalam" ucap Khanza berpamitan kepada bu Khodijah yang sedang duduk di teras rumahnya


"Setelah kamu bertemu dengan Tata apa kamu bisa meyakinkan ibu jika kalian tidak melakukan perbuatan-perbuatan itu?" tanya bu Khodijah membuat Khanza menghela napasnya panjang


" Bu setidaknya Khanza bisa membuktikan Khanza tidak bersalah dan Khanza bukan dengan sengaja ingin membuat ibu kecewa dan malu memiliki putri seperti Khanza" sahut Khanza


" Aku rasa semua percuma!" suara bariton membuat keduanya terkejut


" Apa maksudnya percuma?" tanya Khanza sinis


" Wanita itu sudah pergi, dia tidak ada di cafe itu!" ucap laki-laki yang tidak lain adalah Aldy


" Oh ya tuhan apa sebenarnya yang mba Tata inginkan. kenapa dia melakukan hal ini?" keluh Khanza


" Sudahlah tidak usah di pikirkan lagi, percuma mencarinya, aku sudah mencari informasi tentang wanita itu dan ternyata semua sia-sia karena ada orang yang cukup berpengaruh yang melindunginya." terang Aldy


" Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Khanza


" Menikahlah denganku!" ucap Aldy tegas


" Apa menikah? apa tidak ada jalan lain?"


" Aku rasa tidak, nanti malam aku akan datang melamarmu jadi bersiap-siaplah. " ucap Aldy yang langsung berpamitan kepada Bu Khodijah dengan salam takzim.

__ADS_1


Khanza hanya bisa mengumpat dalam hati dan rasanya ingin pergi saja dari situasi yang membuatnya sangat tertekan ini tapi itu tidak mungkin terjadi karena dia tidak ingin melihat ibunya semakin kecewa lagi.


__ADS_2