Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Sudah seminggu Miska tidak masuk sekolah dan hal itu membuat tanda tanya besar untuk teman-temannya terkecuali Khanza.


" Za loe beneran gak tahu si Miska kemana?" tanya Hana


" Dia sih bilang ada urusan keluarga" sahut Khanza sedikit berbohong


" Ya kali aja tuh anak ngomong gitu sama loe urusannya apa" timpal Nana


" Terlalu privasi kalau bicara soal keluarga, dan kita enggak punya hak untuk mengetahuinya" jawab Khanza


"Iya juga sih emang, cuma ya khawatir aja tuh anak udah seminggu enggak masuk" ucap Nana


" Duh Na kalau loe tahu hal yang sebenarnya, apa loe akan membenci Miska? gue kasihan sama Miska apa gue bilang aja ya sama Nana?" gumam Khanza dalam hati


" Emmmm... Na boleh gak gue tanya sesuatu sama loe?" tanya khanza hati-hati


" Tanya soal apa?" Nana balik bertanya


"Bagaimana perasaan loe sekarang sama Roni?" tanya Khanza takut-takut


" Apa loe masih sayang sama dia?" lanjutnya


Nana menghela napasnya berat lalu menatap Khanza " Gue bodoh banget ya Za? udah disakitin tapi masih mau aja di ajak balikan?" Nana tersenyum getir


" Setelah apa yang loe lihat kemarin dia dengan cewek lain loe masih mau sama tuh anak Na?" tanya Hana


" Gue juga enggak tau kenapa bisa terjebak dengan perasaan kayak gini." sahut Nana sendu


" Apa loe akan tetap bertahan meskipun loe tahu ada cewek selain elo di dekat tuh makhluk jadi-jadian?" tanya Hana lagi


" Apa segitu cintanya loe sama dia Na?" tanya Khanza kali ini


" Gue juga enggak tahu harus bagaimana lagi Za, Han" sahut Nana sendu


" Na sebenarnya ada satu hal yang ingin gue omongin sama loe tapi gue takut loe marah dan kecewa" ucap Khanza membuat Nana dan Hana penasaran


" Ya udah loe ngomong aja sekarang!" pinta Nana


" Enggak semudah itu Na, ini cukup penting dan juga menguras sedikit energi kalau enggak siap mental pasti syok" Nana dan Hana saling melempar pandangan


" Maksudnya?" tanya Nana


" Kita bicarakan nanti pulang sekolah di cafe biasa bagaimana kalau enggak kita ngebakso aja di kedai bakso cinta?" usul Khanza


" Apa segitu pentingnya? soal apa sih Za kok gue jadi penasaran gini?" tanya Hana


" Apalagi gue" timpal Nana


" Udah disini aja Za!" lanjut Nana


" Enggak bisa, nanti aja pulang sekolah sekalian gue mau beli tisu dulu takut loe pada mewek gue yang ribet nanti" Seloroh Khanza


" Segitunya, enggak asik loe ah bikin gue penasaran aja tau enggak!" keluh Nana


" Iya nih bisa enggak konsen dah gue belajar" timpal Hana


" Ah elo sih dari dulu juga enggak pernah konsen kalau belajar" ledek Khanza


" Ah si*LaN loe Za" Khanza terkekeh


Bel berbunyi para siswa dan siswi pun sudah pada masuk ke dalam kelas dan tidak berselang lama seorang guru pun masuk dan langsung memulai kegiatan belajar mengajarnya.


Nana dan Hana menjadi sedikit kurang berkonsentrasi karena rasa penasarannya dengan apa yang akan Khanza bicarakan


Sesuai dengan rencana, pulang sekolah mereka akan pergi ke kedai bakso cinta dan Khanza pun sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Aldy.


" Za udah cepat ngomong, kita udah disini sekarang!" ucap Nana yang sudah penasaran sedari tadi


" Sabar dong, pesan bakso aja dulu!" sahut Khanza membuat Nana dan Hana mendengus kesal


" Dasar bumil enggak jauh dari makan" ucap Hana


" Itu pasti!" Khanza terkekeh


Hana berdiri lalu memanggil salah satu pelayan dan tidak berapa lama seorang pelayan pun datang dan mereka memesan 3 porsi bakso dan 3 gelas jus jeruk.

__ADS_1


Pesanan datang Khanza menikmati baksonya sementara Hana dan Nana lagi-lagi mendengus kesal karena Khanza belum juga berbicara


" Za elo kapan ngomongnya si bikin orang tambah penasaran aja tau" sarkas Hana


" Santai dong Hana, kenapa sih jadi elo yang gak sabaran?" Khanza menoel dagu Hana


" Ih apaan sih jijay gue, ngeri-ngeri gimana gitu sama bumil yang satu ini" Hana bergidik geli membuat Nana tertawa sementara Khanza mengerucutkan bibirnya lucu


"Hana mah gitu, emangnya gue cewek apakah gak liat bu perut gue udah gede begini. gue masih waras ya masih suka batangan" protes Khanza membuat Hana tergelak mendengar Khanza menyebut batangan


" Parah loe Za ngomongnya, gak tau apa kita berdua ini gadis polos" ucap Hana seraya tertawa


" Polos apanya siap dipolosin iya!" Khanza pun ikut tertawa


" Wah ngomongnya udah jauh ni kayaknya" ucap Nana


" Balik woy balik ke tujuan utama!" lanjut Nana


" Ni si Khanza duluan" Hana menunjuk-nunjuk Khanza


" Yeee... elonya aja yang otaknya ngeres perlu di sapu!" ucap Khanza


.


" Udah ah lanjut dong ke inti, Za jangan bikin gue mati penasaran deh " kesal Nana karena Khanza masih belum juga bicara


" Ya udah iya gue akan ngomong serius tapi enggak disini, disana aja bagaimana?" tunjuk Khanza ke arah luar kedai tersebut yang terdapat taman dan juga meja serta bangku yang berjejer rapih, dihiasi lampu kerlap kerlip yang menghiasi kedai tersebut bahkan ada kolam ikan yang diberi hiasan air mancur


" Disini kedai bakso nya unik ya?" kagum Hana


" Loe tau enggak siapa pemilik kedai bakso cinta ini?" tanya Khanza, Nana dan Hana menggeleng


" Ini tuh kedai milik kak Mario yang sengaja di bangun sampai sebagus ini untuk kak Lia. ini tempat sejarah buat mereka tempat saksi bisu saat kak Mario menembak kak Lia" terang Khanza


" Kok loe bisa tahu sampai sedetail itu Za?" tanya Hana


" Ya gue tahu dari kak Zaira, dia yang cerita dan memberitahu gue tentang kedai bakso cinta ini" sahut Khanza


" Terus yang Loe mau omongin ke gue soal apa Khanza Az-Zahra, gue tuh dari tadi udah gak sabar tau" Nana mencubit gemas pipi Khanza yang mulai chuby.


Hana yang tadinya tertawa langsung berhenti mendadak melihat wajah Khanza yang nampak tidak seperti biasanya, kali ini Khanza nampak begitu serius.


" Za elo kenapa kok diam?" tanya Nana merasa cemas sendiri


" Sebenarnya hal penting apa yang ingin loe omongin? kenapa loe kayak sedih gitu?" Nana menggeser duduknya lebih mendekat lagi ke arah Khanza


Khanza menatap manik mata Nana lalu beralih pada Hana dan kembali lagi menatap lekat wajah Nana.


Khanza meraih kedua tangan Nana lalu digenggamnya, Nana nampak bingung dengan sikap Khanza yang terlihat aneh menurutnya


" Za elo itu kenapa sih, kok jadi sedih gitu?" Nana semakin khawatir


Khanza tersenyum, senyum yang sedikit dipaksakan. " Na, mungkin apa yang akan gue sampaikan nanti sedikit banyaknya pasti akan membuat loe merasa tidak nyaman dan sedih. tapi menyembunyikan ini dari loe juga percuma karena suatu saat loe juga pasti akan tahu dan mungkin saat itu akan jauh lebih menyakitkan." ucap Khanza sendu membuat Nana semakin bertanya-tanya dalam hati


" Elo ngomong apa sih Za, gue enggak ngerti?" Nana mengusap air mata Khanza yang tiba-tiba lolos begitu saja


" Elo kenapa menangis Za, kalau emang berat gak usah cerita Za. gue enggak mau loe sedih kayak gini" ucapnya dan Khanza menggelengkan kepalanya


" Gue harus ngomong Na, gue enggak mau elo nantinya akan jauh lebih sakit hati lagi karena itu gue mau bicara sama loe"


" Soal apa Za, Roni? gue udah tau Za dia itu memang bereng**k tapi mau bagaimana lagi gue masih sayang sama dia" ucap Nana yang membuat Khanza semakin bingung


" Apa loe akan korbankan masa depan loe untuk laki-laki bereng**k macam dia?" tanya Khanza dan Hana hanya berani menyimak


" Elo sebenarnya kenapa sih Za, aneh tau gak loe!" bukan menjawab Nana malah balik bertanya


" Karena gue enggak mau persahabatan kita hancur hanya karena laki-laki pengecut macam Roni " geram Khanza


" Maksud loe apa bicara seperti itu? atau jangan-jangan loe juga suka sama Roni iya?" tanya Nana


" Ngaco loe, gak lihat apa perut gue udah gede begini!" Khanza pun ikut terbawa emosi


" Bisa enggak bicaranya gak pakai emosi, Za loe yang tenang ya kasihan dedeknya kalau bundanya marah-marah gitu" ucap Hana menengahi


Khanza mengatur napasnya berusaha untuk lebih bersikap tenang

__ADS_1


" Maafin gue Na, gue hanya terbawa emosi"


" Gue cuma takut loe sakit hati dan terluka lebih dalam itu aja" ucap Khanza yang lagi-lagi membuat Nana bingung dengan ucapan Khanza


" Gue benar-benar enggak ngerti maksud loe Za" ucap Nana menautkan kedua alisnya


" Sebenarnya ini berat banget untuk gue ceritain tapi demi loe dan demi Miska gue terpaksa bicara"


" Miska?" ucap Nana dan Hana bersamaan keduanya sama-sama terkejut


" Apa hubungannya dengan Miska? apa ada kaitannya dengan ketidakhadirannya selama seminggu ini?" tanya Nana dan sedetik kemudian dia pun teringat dengan Roni yang sudah hampir seminggu pula tidak masuk sekolah.


Deg


Nana tiba-tiba terpikir akan Roni dan Miska, hatinya seketika bergemuruh. pikiran buruk berskelibat dibenaknya.


" Za jawab!" pinta Nana dengan suara yang sudah sedikit meninggi


" Na sabar dong loe, jangan bentak-bentak Khanza kayak gitu!" sentak Hana yang tidak suka dengan sikap Nana pada Khanza


" Maafin gue Za!"


" Enggak apa-apa Na, gue juga ngerti kok perasaan loe saat ini, wajar kalau loe marah tapi sekali ini gue harap loe mau mendengarkan cerita gue dulu sampai selesai dan jangan memotong apalagi menyimpulkan sendiri tanpa tau yang sebenarnya" sahut Khanza


" Betul itu Na, biarkan Khanza bercerita sampai selesai baru menyimpulkan" ucap Hana


" Iya... iya..." Nana pun berusaha untuk lebih tenang


Khanza menarik napas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya.


" Huhhhhh" Khanza menghela napasnya


" Na gue berharap loe berpikir jernih dan positif ya dalam menyikapi apa yang akan gue omongin" pesan Khanza


" Iya Mak bawel banget ya ni orang dari tadi, kapan ceritanya" kesal Nana dan Khanza malah tertawa lalu sedetik kemudian berubah serius


Khanza mulai menceritakan tentang sikap Miska yang belakangan ini berubah dan lebih banyak diam, dia juga menceritakan tentang perjodohan yang Miska alami dan membuat gadis itu menjadi sosok yang lebih suka menyendiri.


" Jadi Miska di jodohin?" tanya Hana yang nampak tak percaya


" Terus apa hubungannya dengan gue dan juga Ro_" belum selesai bertanya pikiran Nana pun langsung mengarah ke sana.


" Enggak mungkin!" gumam Nana


" Apanya yang enggak mungkin Na?" tanya Hana bingung.


" Za bukan_?" Belum selesai Nana melanjutkan kata-katanya Khanza sudah menganggukkan kepalanya tahu apa yang akan Nana katakan


Jlep


Nana menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dan menganggap ini semua cuma candaan Khanza semata


" Loe pasti bercanda kan Za?"


" Iya kan Za?" seru Nana


Hana nampak bingung tidak mengerti arah pembicaraan Nana dan Khanza


" Gue enggak bercanda Na dan gue harap loe mau mendengarkan dulu apa yang akan gue katakan sama loe jangan berpikiran sempit dan menyimpulkannya sendiri!" jawab Khanza membuat Hana semakin bingung


" Tapi ini konyol Za" Nana mulai terbawa emosi lagi


" Ya ini kedengarannya konyol buat kita tapi tidak buat Miska, ini sebuah dilema buatnya dia juga enggak mau berada di posisi itu" ungkap Khanza


" Miska?" tanya Hana


" Sebenarnya kalian ini bicarain soal apa sih?" tanya Hana yang semakin dibuat bingung.


" Miska dan Roni" jawab Khanza


" Apa?" Hana terkejut


Nana memejamkan matanya berusaha untuk tenang dan ingin mendengarkan penjelasannya dari Khanza lebih lanjut. Sakit, sedih dan kecewa tentu saja ada tapi Nana juga tidak boleh bersikap egois karena pada dasarnya Roni memang cowok bereng**k selama menjalin hubungan dengannya saja Roni sudah berkali-kali gonta ganti pacar bagaimana kalau sudah menikah.


" Nana!" beo Hana menoleh ke arahnya

__ADS_1


" Gue enggak apa-apa" sahut Nana dengan perasaan yang entah


__ADS_2