Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Masa Depan


__ADS_3

Lia terus saja tersenyum melihat Mario berada di hadapannya. saat ini mereka tengah berada di taman tepi danau.


" Kenapa sih dari tadi senyum-senyum kayak gitu?" tanya Mario meraih tangan Lia lalu mengecupnya singkat.


" Aku bersyukur banget, ternyata kita masih bisa seperti ini dan aku pun berharap ini bukan sekedar mimpi yang saat terbangun kau kembali menghilang" ucap Lia


" Aku tidak akan menghilang, ini bukan mimpi tapi nyata" Ucap Mario


" Jujur rasanya aku masih tidak percaya, dua bulan aku terus menangisi kepergiaan mu bahkan hampir gila jika kau benar-benar tidak kembali" tutur Lia membuat Mario merasa sangat bersalah.


" Maafkan aku sayang!" ucap Mario lirih.


" Kamu tidak salah sayang, mungkin ini takdir tuhan, yang ingin menguji berapa besar dan kuatnya cinta kita " ucap Lia sambil tersenyum.


" Setiap hari aku selalu merindukanmu, mengingat semua yang telah kita lakukan bersama-sama. semua seperti roll film yang tengah berputar kembali di ingatan ku. dan sungguh sangat menyakitkan." Lia menundukkan wajahnya


" Aku benar-benar merasa sangat bersyukur karena kamu sudah kembali lagi my Io. terima kasih sudah kembali!" ucap Lia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Mario tidak menjawab tapi langsung memeluk gadis yang sangat dirindukannya.


" Aku mencintaimu io, ku mohon jangan tinggalkan aku lagi" ucap Lia disela Isak tangisnya di dalam dekapan sang kekasih.


" Maafkan aku, karena aku kau menahan beban rindu yang begitu berat, karena aku kau merasa sedih yang berkepanjangan. tapi sekarang aku berjanji akan menebus semua kesalahan yang pernah aku torehkan kepada mu My Lily, aku akan selalu bersamamu dan akan selalu mengisi hari-hari mu bersama ku lagi. " ucap Mario dan Lia mengangguk Pelan


" Kita menikah, kau setujukan?" tanya Mario membuat Lia terdiam lalu mengurai pelukannya.


" Maafkan aku Mario, aku benar-benar tidak bisa" ucap Lia sambil menunduk


" Maksudnya? kau menolak menikah dengan ku?" tanya Mario yang nampak kecewa


" Maaf, aku_!" Lia menjeda ucapannya


" Aku tidak akan memaksamu, jika kamu memang belum siap aku tidak apa-apa!" ucap Mario sendu.


" Maafkan aku Io, mungkin aku bisa dikatakan egois, tapi aku berharap kamu mengerti Io aku ingin meraih masa depanku Io, aku ingin mewujudkan impian ku saat ini Io, aku_"


" Sudahlah, aku mengerti" ucap Mario datar


" Io!" panggil Lia lirih


" Sudahlah, aku tidak apa-apa!" Mario beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri pagar pembatas danau.


" Io, maafkan aku karena aku terlalu egois berharap bisa meraih masa depanku yaitu hidup bahagia bersama denganmu dan mewujudkan impian ku yaitu menjadi ibu dari anak-anakmu, maafkan aku My Io karena aku benar-benar tidak bisa menolak menikah dengan mu!" ucap Lia membuat Mario menoleh dan langsung berhambur memeluk gadis tercintanya itu.


Mario dan Lia saling berpelukan, mencurahkan kasih dan sayangnya yang begitu besar.


" Aku akan mengatakannya kepada papa agar kita segera di nikahkan!" ucap Mario membuat Lia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Mario.


" Aku akan berusaha untuk membahagiakan mu" janji Mario dan Lia mengangguk pela


" Terima kasih Io!" ucap Lia tersenyum bahagia.


Lia mengurai pelukannya dan mereka saling menatap. Mario menatap lekat bibir ranum Lia lalu beralih ke mata.


" Setelah halal ya, tahan dulu biar lebih enak karena segala sesuatu yang halal pasti akan terasa jauh lebih nikmat" ucap Lia meletakkan jari telunjuknya ke bibir Mario yang perlahan maju mendekat ke arahnya.


" Iya maaf, aku hampir saja khilaf. sebab itulah kita sebaiknya memang harus cepat-cepat menikah." ucap Mario


" Kau ini!"


" Aku takut lepas kontrol sayang, karena kau membuatku selalu ingin berdekat-dekatan dengan mu My Lily. calon ibu dari anak-anakku" ucap Mario sedikit menggoda


" Apa sih, gombal!" ucap Lia mencubit pinggang Mario


" siapa yang gombal sayang aku serius" sahut Mario.


" Gombal... gombal.. gombal..!" teriak Lia sambil berlari dan Mario langsung mengejarnya. terjadilah drama kejar-kejaran seperti di film India.


...☄️☄️☄️☄️☄️☄️...


Mita tersenyum malu-malu saat dokter Ariel meminta izin kepada Rosa sang mama untuk meminangnya.

__ADS_1


Awalnya Rosa setuju jika pernikahan mereka di percepat tapi Mita meminta waktu kepada dokter Ariel untuk menunggu sampai ia lulus sekolah apalagi saat ini papanya masih dalam keadaan sakit.


Andy papa Mita memang sempat dinyatakan kritis, Mita juga enggan datang menjenguknya walaupun Rosa sudah berkali-kali membujuknya. namun setelah dokter Ariel yang mencoba untuk membujuknya akhirnya Mita pun menyetujuinya.


Mita hanya melihat Andy dari balik kaca, peralatan medis sudah menempel sana sini, tanpa sadar Mita menitikkan air matanya, merasa iba dengan kondisi papanya kala itu.


Dokter Ariel memberikan waktu untuk Mita menemui papanya. Mita perlahan kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan dimana Andy tengah berbaring lemah.


Mita menahan tangisnya berusaha untuk kuat dan tegar.


perlahan langkahnya semakin mendekat dan terlihat sangat menyedihkan nasib pria paruh baya yang ada di hadapannya.


Tangan Mita perlahan menyentuh tangan Andy. Mita hanya bisa tertawa getir melihat kondisi pria yang biasanya selalu menggunakan ototnya setiap kali berbicara dengannya kini terbaring lemah.


" Pah!" lirihnya


Meskipun Mita selalu di perlakukan kasar tapi dulu sebelum Andy mengenal si wanita rubah yang menjadi istri siri nya Andy adalah sosok papa yang baik dan bertanggung jawab tapi setelah Andy menikah lagi dia berubah 180 derajat.


Mita memang sangat membenci pria paruh baya yang ada dihadapannya tapi hati kecilnya mengatakan kalau Mita pun tidak bisa memungkiri jika dia masih sayang dan berharap pria tersebut cepat kembali sembuh.


Sentuhan tangan Mita membawa sebuah keajaiban bagi papanya, Andy perlahan menggerakkan jari-jarinya membuat Mita sangat terkejut.


" Pa...papa!" lirih Mita


Andy semakin berusaha menggerakkan jari-jarinya dan juga kedua matanya. Mita merasa sangat bahagia karena papanya perlahan membuka matanya.


" Papa!" pekik Mita yang sedetik kemudian langsung memanggil dokter.


Andy kini tengah di periksa oleh dokter, Mita tidak henti-hentinya berdo'a semoga papanya benar-benar bisa cepat kembali sehat.


Dokter mengatakan ini sebuah keajaiban, berkat cinta dan kasih sayang yang tulus dari putrinya kini Andy melewati masa kritisnya.


" Pah!" Mita tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Andy yang melihat putrinya menangis turut menangis Andy merasa malu dan juga merasa sangat bersalah. pria paruh baya itu menangis dan terus mengatakan maaf dengan suara yang masih sangat lemah.


" Pah, papa cepat sembuh ya, kita mulai semua dari awal lagi. papa harus semangat dan cepat sembuh!" ucap Mita membuat Andy semakin merasa sangat bersalah kepada putrinya.


Andy sudah banyak melakukan kesalahan kepada putrinya tapi dengan Mita justru membalas perlakuan kasarnya dulu dengan kasih sayang yang begitu tulus. Andy benar-benar merasa sangat malu


Kini papanya sudah di izinkan pulang tapi Mita bingung akan di bawa kemana papanya itu. mengingat papanya kini sudah tidak memiliki rumah dan mungkin pula jika Mita membawa papanya pulang ke rumahnya memandang status mama dan papanya yang sudah tidak lagi sebagai pasangan suami istri.


Akhirnya ditengah kebingungan Mita, dokter Ariel menawarkan Andy untuk tinggal bersamanya. awalnya ia menolak karena sudah banyak menyusahkan putrinya dan dokter Ariel tapi dokter Ariel terus membujuknya akhirnya mau tidak mau Andy pun tidak bisa menolak.


Mita merasa sangat bersyukur karena di pertemukan dengan orang sebaik dokter Ariel. Mita merasa sangat bersalah karena belum bisa memenuhi permintaan dokter Ariel yang ingin segera menikahinya.


Mita bukannya tidak ingin menerima pinangan dokter Ariel namun seketika Mita merasa ragu setelah ia mendapatkan kiriman pesan singkat dan juga sebuah foto yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk mencari kebenaran terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu yang mungkin bisa membuatnya menyesal.


Mita memang tipe orang yang tidak mudah percaya dengan sesuatu yang menurutnya belum tentu kebenarannya tapi Mita juga bukan tipe orang yang gegabah memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang.


...☄️☄️☄️☄️☄️☄️...


Di kediaman Dinata


Semenjak usia kandungan Zaira menginjak 7 bulan, mama Maria meminta Zaira dan Azka untuk tinggal di bersamanya sementara setidaknya sampai bayi mereka lahir.


Mama Maria tidak ingin Zaira kenapa-napa, setidaknya kalau tinggal bersamanya mama Maria bisa menemani dan menjaga Zaira jika Azka tengah pergi bekerja. mama Maria tidak mau mengambil resiko jika Zaira tinggal di rumahnya sendirian apalagi saat ini Bunda Aryani harus bolak balik ke desa untuk merawat dan menjaga kedua orangtuanya. bunda Aryani pernah meminta kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tapi mereka selalu menolaknya karena selalu beralasan udara di desa jauh lebih baik di timbang dikota.


Zaira merasa sangat bersyukur karena memiliki mama mertua yang begitu sangat perhatian dan juga begitu menyayanginya. Lia bahkan merasa sedikit cemburu dengan perhatian mama Maria yang begitu besar kepada sahabatnya itu tapi Lia bukanlah tipe anak yang egois karena Lia juga sadar dengan kondisi Zaira yang tengah hamil di usia yang terbilang masih sangat muda jadi membutuhkan banyak perhatian dari orang-orang sekitarnya.


Lia juga merasa bahagia Zaira tinggal bersamanya dengan begitu dia bisa memiliki banyak waktu bersama Zaira mengingat Zaira yang kini menjalani sekolahnya dengan homeschooling.


Suasana di sekolah sedikit sepi karena tidak adanya Zaira. Mita, Mia, Indah dan Mona merasa sangat kurang bersemangat karena tidak adanya Zaira.


" Kalian kenapa sih pada lemes gitu tampangnya?" tanya Lia


" Gak semangat Li gak ada Za, kangen gue sama tuh anak!" sahut Mita


" Iya benar, gue juga kangen sama mulut pedasnya Za" timpal Mia


" Cabe kali pedas" cetus Lia


" Li loe kan hampir setiap hari ketemu Za, bagaimana keadaan tuh anak?" tanya indah

__ADS_1


" Yang jelas perutnya semakin besar, bodinya juga tambah bahenol dan pipinya itu makin cabi, gue kalau ngeliat Za bikin ngakak sendiri" sahut Lia


" Kenapa emangnya?" tanya Mona


" Gue ngebayangin kalau gue hamil anak my Io apa gue akan seperti Za seperti ikan buntal gitu?" jawab Lia tertawa sambil membayangkan dirinya sendiri yang gendut seperti Zaira.


" Wah parah loe, udah ngebayangin yang begitu aja!" ucap Mita


"Jangan-jangan loe juga udah ngebayangin proses bikinnya ya sama babang Io?" ledek Mona


" Ha..ha.. kadang-kadang" sahut Lia Jujur membuat teman-temannya langsung menyerbu Lia dan Lia tertawa terbahak-bahak.


Jam istirahat


" Li kantin yuk!" ajak Mona


" Iya, duluan aja kalian!" sahut Lia


" Ah gak asik ini anak sekarang" celetuk Indah


" Ya sorry gaes gue mau ketemu babang Io dulu mau ada yang diomongin bentar." ucap Lia yang sebenarnya sedikit merasa tidak enak dengan teman-temannya.


" Mau ngomongin apa sih memangnya, penting banget apa?" tanya indah


" Ya tentu penting dong Indah sayang, ini menyangkut masa depan" ucap Lia


" Cih, kayak mau nikah aja loe!" celetuk Mona


" Ya emang gue mau nikah, masa enggak !" sahut Lia senyam-senyum sambil menaik turunkan alisnya.


" Setiap orang juga mau nikah Mona, emang loe gak mau nikah gitu noh kasihan babang Yoyo nanti karatan loh nungguin loe yang belum juga mau memberinya kesempatan" ucap Lia lagi.


" Tau loe Mon, kasihan tuh Yoga nanti keburu dia nyerah terus berpaling ke yang lain baru tau rasa loe" Ucap Mia dengan mulut pedasnya membuat Mona gerah sendiri, pasalnya Mona masih belum memiliki rasa apa-apa terhadap Yoga. mungkin jika untuk berteman Mona gak masalah tapi kalau untuk menjalin hubungan yang lebih dari itu Mona masih belum yakin. Di dalam hati kecil Mona dia masih belum bisa move on dari yang namanya dokter Ariel tapi dia juga sadar diri kok kalau dokter Ariel itu hanya menyukai Sahabatnya yaitu Mita.


Mona bukannya tidak ingin melupakan dokter Ariel, dia sudah berusaha melupakannya dan mencoba menerima Yoga tapi ternyata hatinya tetap belum bisa menerima Yoga dan menghapus nama dokter Ariel dari hati kecilnya.


" Udah deh gak usah ngomongin Yoga terus, yuk ah ke kantin, laper nih" ucap Mona yang merasa panas jika sudah membicarakan Yoga.


Mona beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar kelas menuju kantin di susul dengan Mia, Mita dan Indah sementara Lia tengah menunggu Mario datang ke kelasnya setelah tadi sempat janjian.


Mona terkejut karena saat hendak keluar ternyata sudah ada Yoga yang berdiri di depan pintu dan dibelakangnya ada Mario.


" Mau kemana?" tanya Yoga


" Mau ke kantin" sahut Mia mewakili Mona menjawab karena melihat Mona yang diam saja.


" Boleh gue ikut?" tanya Yoga dengan mata yang masih tidak berpaling dari Mona


" Ikut aja, yuk!" lagi-lagi bukan Mona yang menjawab kali ini Indah yang menyahut.


" Yaudah yuk ah jalan, nanti keburu masuk" ucap Mita yang langsung berjalan lebih dulu diikuti Mona, Indah, Mia lalu Yoga.


" Gue ke kantin dulu ya, loe urus dah tuh calon bini loe" ucap Yoga kepada Mario sebelum pergi ke kantin bersama Mona dan kawan-kawan.


" Hai!" sapa Mario saat masuk ke dalam kelas Lia. teman-teman Lia merasa terkejut melihat kedatangan Mario yang dikira sudah meninggal tersebut.


" Ma... rio!" ucap salah satu teman Lia yang terkejut melihat Mario yang tengah berjalan menghampiri Lia.


" Sibuk benar sih, sampai aku di cuekin gitu" ucap Mario yang tengah berdiri di samping Lia.


" Ehh Io, sini duduk!" pinta Lia menarik tangan Mario hingga Mario terduduk di bangku kosong yang ada di samping Lia.


" Lagi ngapain sih?" tanya Mario melihat Lia yang tengah sibuk dengan layar ponselnya.


" Emm.... ini!" Lia menunjukkan beberapa foto gaun yang dikirim oleh tantenya yaitu Imelda.


" Menurut kamu bagus yang mana Io?" tanya Lia pada Mario yang tengah melihat satu persatu foto yang dikirim oleh tante Imelda.


" Menurutku semuanya cantik, apalagi kamu yang memakainya." sahut Mario.


Setelah Lia menerima lamarannya, Mario selepas mengantar Lia pulang langsung menghubungi papa Alex dan memintanya untuk pulang dan melamar Lia. awalnya Alex cukup terkejut dengan permintaan putranya yang ingin menikah disaat statusnya yang masih seorang pelajar namun setelah papa Sam yang secara langsung meminta Alex untuk menjodohkan putra dan putrinya itu akhirnya Alex menyetujuinya.

__ADS_1


Papa Sam mengatakan kepada Alex kalau ingin menikahkan Mario dan Lia dalam waktu seminggu ini tapi Alex kurang setuju karena dia masih belum bisa kembali ke tanah air mengingat masih banyak pekerjaannya yang masih belum diselesaikan jadi Alex meminta di undur menjadi dua Minggu ke depan, Papa Sam akhirnya setuju saat Alex akan menikahkan Lia dan Mario dalam waktu dua Minggu ke depan mengingat Alex yang saat ini masih ada di Jerman.


__ADS_2