
Pagi ini Azka dibuat pusing oleh tingkah sang isteri yang merajuk ingin menjenguk Mona di rumah sakit, karena dia juga baru diberitahu oleh Lia tentang kondisi Mona yang dirawat di rumah sakit.
" Yang kamu kan sudah dengar tadi apa kata Meli kalau Mona sudah tidak apa-apa dan nanti sore juga sudah bisa pulang" ucap Azka setelah sedari tadi mendengar permintaan Zaira yang ingin menjenguk Mona di rumah sakit.
" Aku sahabat macam apa mereka semua tahu keadaan Mona yang dirawat di rumah sakit tapi cuma aku yang gak diberitahu." Rajuk Mona
" Mungkin mereka tidak ingin membuat kamu khawatir sayang, karena mereka tahu kamu ada baby Zia" tutur Azka menjelaskan.
" Sudahlah sayang jangan terlalu cemas apalagi tadi Meli sudah memberitahu kamu kalau Mona kondisinya sudah pulih dan nanti sore juga sudah diperbolehkan pulang, jadi nanti sore saja ya kita jenguk Mona setelah dia sudah sampai di rumah." lanjut Azka seraya mengusap rambut Zaira dengan lembut.
" Lagi pula kalau kita berangkat sekarang kasihan dengan baby Zia kalau harus dibawa ke rumah sakit, banyak virus sayang" Zaira mendongak menatap wajah tampan sang suami lalu mengangguk.
" Iya mas nanti saja jenguknya kalau Mona sudah ada di rumah" ucap Mona yang melingkarkan tangannya di pinggang sang suami tercinta
" Maaf ya mas kalau sikap aku kekanak-kanakan!" tutur Zaira yang merasa tidak enak hati karena sudah bersikap egois dan hanya mementingkan kepentingan dirinya saja
" Gak apa-apa sayang, mas maklum kok karena mas sadar punya isteri masih kecil jadi ya begini resikonya" ucap Azka sambil terkekeh
" Walaupun isteri mas masih kecil tapi sudah bisa ya buat anak kecil jadi jangan meremehkan isteri kecil mas ini ya!" ucap Zaira dengan pasang wajah cemberut
" Iya... iya... mas gak meremehkan isteri kecil mas yang satu ini, apalagi kalau sudah merajuk mas menyerah!" Azka langsung mengeratkan pelukannya.
" Mas sudah hampir siang, sebaiknya mas cepat sarapan dulu!" Zaira melerai pelukannya lalu mengajak Azka pergi ke meja makan untuk sarapan.
Setelah sarapan Zaira merapihkan meja sementara Azka pergi ke kamar baby Zia karena terdengar suara baby Zia yang menangis.
Azka menggendong baby Zia dan memberikannya kepada Zaira pada saat mereka tengah berada di depan rumah karena Azka hendak berangkat mengajar ke sekolah SMA Darma Bangsa.
Setelah Azka sudah pergi mengajar Zaira masuk kedalam rumah dan memandikan baby Zia. selesai mandi Zaira mengajak baby Zia main di taman belakang bersama bi Ningsih.
...☄️☄️☄️...
Sore hari Mita dan Arta sudah berada di rumah sakit untuk menjemput kepulangan Mona, sementara Yoga pulang ke rumahnya setelah tadi mendapatkan telepon kalau Bu Lusi dan pak Iwan sudah berada di rumahnya.
Zaira, Lia, Mia dan Indah sudah menunggu kepulangan Mona di rumahnya.
Lia dan Mario sibuk bermain dengan baby Zia di ruang TV rumah Mona sementara Zaira, Mia dan Indah sedang membantu Art memasak di dapur untuk makan malam.
Azka setelah mengantarkan Zaira ke rumah Mona langsung pergi lagi ke kantor karena Sendy meminta Azka untuk datang ke kantor karena ada hal penting yang harus Azka sendiri yang menanganinya.
Setelah urusan selesai Azka dan Sendy langsung pergi ke rumah Mona saat mobil mereka baru saja sampai di depan rumah Mona bersamaan dengan mobil Dion yang juga baru saja datang.
Mona baru saja sampai di rumahnya dan dia dikejutkan dengan keadaan rumahnya yang ternyata sudah ramai dengan kehadiran sahabat-sahabatnya.
" Kalian!" ucap Mona seraya menitikkan air matanya melihat sambutan selamat datang dari orang-orang yang Mona sayangi.
" Udah jangan melow gitu, jelek tau gak!" ejek Mia yang berjalan menghampiri Mona yang masih berdiri di ambang pintu.
" Halo aunty Mona, semoga selalu sehat terus ya!" ucap Zaira dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
" Hai baby Zia, uluh-uluh keponakannya aunty yang cantik" Mona menghampiri Zaira yang tengah menggendong baby Zia tapi baru hendak melangkah tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh Yoga membuat Mona langsung menoleh ke arahnya.
" Yo loe ?"
" Ganti baju dulu baru boleh dekat-dekat dengan baby Zia, ingat kamu itu baru pulang dari rumah sakit!" ucap Yoga yang baru saja tiba dan langsung menghampiri Mona yang hendak melangkah ke arah Zaira dan baby Zia.
" Betul itu apa yang dibilang Yoga" ucap Mia menimpali ucapan Yoga.
" Loe kapan datangnya Yo kok udah ada di sini aja?" tanya Dion yang berdiri tidak jauh dari Sendy yang sedari tadi tengah fokus memperhatikan Mia.
" Baru aja datang, gue balik dulu tadi soalnya ibu sama bapak datang ke rumah" ucap Yoga
" Ibu sama bapak?" tanya Dion yang merasa bingung
" Ibu dan bapak yang sudah menolongnya" jawab Mona
" Owh!" jawab Dion dan yang lainnya.
###
Suasana di rumah Mona nampak ramai namun ada yang menjadi pusat perhatian saat ini yaitu sikap Sendy yang sedari tadi tak henti-hentinya memandangi wajah Mia yang sedang asik berbincang-bincang dengan para sahabatnya di ruangan TV sambil menggoda baby Zia yang terus saja tertawa.
" Sudah cepat sana dekati jangan sampai kesambar yang lain!" ucap pria tampan yang duduk di sebelahnya.
Sendy menoleh ke arah Azka dan menghela napasnya berat " Tapi sepertinya dia sudah menyukai orang lain" jawab Sendy dengan sendu
" Kamu tahu dari mana dia menyukai orang lain?" tanya Azka
" Tuh!" Sendy menunjuk ke arah Mia yang ternyata tengah curi-curi pandang kepada Yoga.
" Lagi-lagi cinta segitiga" Azka ikut menghela napasnya panjang
__ADS_1
" Ngomongin apa nih kayaknya berat banget?" tanya Arta yang tiba-tiba ikutan nimbrung
" Biasa masalah percintaan" sahut Azka sambil terkekeh
" Kenapa Sen, kau suka sama Mia?" tanya Arta terang-terangan.
" Ah gak itu sih Azka saja yang sok tahu" elak Sendy dengan wajah yang sudah merah padam
" Gak usah ngelak Sen, dari wajahmu sudah keliatan kok" jawab Arta apa adanya
" Itu cuma pikiran kalian saja" lagi-lagi Sendy mengelak
" Jangan takut patah hati sebelum memulainya. lagi pula saingannya juga ringan karena seperti yang kita tahu kalau Yoga itu sangat menyukai Mona dan Mona pun sekarang kelihatannya juga sudah mulai menyukai Yoga" ucap Arta memberi dukungan kepada Sendy untuk mendekati Mia.
" Betul apa yang dikatakan Arta, majulah Sen tunjukkan perasaan mu sama dia" Azka ikut memberikan dukungan
" Terima kasih bos, semoga saja gayung bersambut" Sendy terkekeh sendiri
Mario tiba-tiba merasa pusing dan perutnya kembali mual, mencium bau bumbu masakan yang ada di atas meja.
Semua yang tengah mengobrol nampak terkejut saat Mario tiba-tiba beranjak dari duduknya dan pergi keluar rumah tanpa berkata apa-apa membuat yang lain merasa khawatir sekaligus bingung.
Lia langsung pamit untuk menyusul Mario, Azka dan Zaira saling melempar pandangannya begitu juga dengan yang lain.
" Mario kenapa?" tanya Mia yang meluncur begitu saja dari bibirnya
" Entahlah" jawab Indah yang juga nampak bingung
" Apa mungkin ada kata-kata kita yang salah ya sampai membuat Mario tersinggung?" tanya Zaira yang menoleh ke arah suaminya yang tengah menggendong baby Zia di pangkuannya.
" Mario bukan orang seperti itu, mungkin saja memang ada hal yang penting sampai dia tidak bisa mengatakan apa-apa pada kita" jawab Azka sambil tersenyum kepada baby Zia
" Benar apa yang dikatakan Azka, Mario bukan tipe orang yang mudah tersinggung, Mario pergi mungkin ada hubungannya dengan kehamilan Lia" tebak Arta
" Maksudnya?" tanya Mita mengerutkan keningnya
" Kamu pasti akan mengerti kalau sudah menjadi isteri aku sayang" jawab Arta sedikit berbisik membuat Mita dengan refleks memukul lengan Arta.
" Kakak bicara apa sih ih kok jadi bahas kesitu-situ sih?" Mita mengerucutkan bibirnya
" Ya karena memang ada kaitannya sayang" jawab Arta dengan senyum tipisnya
" Maksudnya?" Mita semakin dibuat bingung
" Ya kemungkinan" sahut Arta sekenanya
" Memangnya kenapa dengan kehamilan Lia?" tanya Mia dengan polos
" Sudah beberapa hari ini Mario mengalami apa yang seharusnya Lia yang mengalaminya" tutur Arta menerangkan
" Maksud kak Arta?" indah nampak terlihat bingung
" Apa Mario mengalami kehamilan simpatik?" tanya Zaira
" Yaps tepat sekali apa yang Za katakan, Mario saat ini mengalami kehamilan simpatik jadi apa yang seharusnya Lia alami justru Mario lah yang mengalaminya. Kalau pagi hari dia mengalami morning sickness dan tidak suka mencium bau-bauan" tutur Arta
" Waw segitu cintanya ya Mario sama Lia sampai mengidam aja dia yang menggantikannya" ucap Mia kagum
" Jadi pingin seperti Lia" ucap Indah membuat Dion langsung tersenyum.
" Jadi udah siap gitu gue hamilin?" celetuk Dion membuat indah melotot ke arah Dion
" Ish apaan sih gak jelas banget?" Indah menatap tajam Dion
" Ya tadi katanya kepingin seperti Lia ya berarti hamil dulu dong" sahut Dion sambil tertawa membuat yang lain pun ikut tertawa
" Betul itu Ndah kalau ingin seperti Lia ya loe hamil dulu, liat apa Dion bisa seperti Mario" timpal Mia yang terus mendapat tatapan dari sang pemuja rahasia
" Kak Arta tahu dari mana kalau Mario mengalami kehamilan simpatik?" tanya Zaira disela obrolan unfaedah teman-temannya.
" Sudah beberapa kali Mario bolak-balik ke kamar mandi saat berada di kantor bahkan sampai mendadak membatalkan meeting!" tutur Arta.
" Kasihan ya Mario!" ucap Zaira
Sementara di luar rumah Mario langsung menuju kamar mandi satpam penjaga rumah Mona dan meminta izin terlebih dahulu setelah itu dia memuntahkan semua yang bergejolak di dalam perutnya.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Lia yang sudah berada di belakang Mario
" Maaf sayang aku sudah tidak tahan jadi lebih baik aku keluar dari pada mengganggu selera makan mereka" tutur Mario setelah merasa sedikit baikkan
" Apa sekarang sudah lebih enakkan?" tanya Lia seraya menyodorkan tisu dan juga minyak angin kepada Mario
__ADS_1
" Sedikit lebih baik!" jawab Mario seraya berjalan keluar dari kamar mandi diikuti oleh Lia dibelakangnya.
" Loh Aden kenapa mukanya pucat banget?" tanya pak satpam
" Tidak apa-apa pak cuma sedikit mual aja " sahut Mario
" Kenapa gak ke kamar mandi dalam saja den, kamar mandi disini kan kotor?" tanya pak satpam yang merasa sedikit canggung dengan Mario
" Gak enak pak mereka semua sedang makan malam" jawab Mario
" Oh begitu, terus bagaimana sekarang apa masih mual?" tanya pak satpam lagi
" Sudah berkurang pak, terima kasih ya pak saya pamit dulu!" ucap Mario
" iya den silahkan" ucap pak satpam dengan ramah.
" Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita pulang saja ya sekarang!" ajak Lia yang merasa kasihan dengan kondisi suaminya saat ini
" Iya" jawab Mario dengan wajah yang nampak sedikit pucat dan lemas.
" Tapi kita pamit dulu ya sama mereka" Lia mengajak Mario untuk masuk kembali ke dalam rumah Mona untuk berpamitan
" Emm... sebaiknya kamu saja ya yang masuk untuk berpamitan aku takut merasa mual lagi mencium aroma makanannya" tutur Mario yang takut dirinya kembali merasakan mual
" Ya sudah kita langsung pulang saja ya,biar nanti aku kabari Mita" tutur Lia
" Ya sudah kalau begitu" Mario hendak masuk ke dalam mobil namun dengan cepat Lia menutup kembali pintu mobilnya.
" Sebaiknya aku yang mengemudi mobilnya kamu duduk di bangku penumpang saja!" ucap Lia
" Tidak sayang aku masih bisa kok" Lia pasang wajah cemberut
" Untuk kali ini biar aku yang menyetir jika kamu menolak ya sudah aku lebih baik menginap di rumah Mona saja" ancam Lia membuat Mario menaikan satu alisnya
" Kamu yakin tidak mau pulang dengan ku?" tanya Mario meyakinkan Lia
" Yakin kenapa tidak" Lia pasang wajah jutek
" Sayang aku masih bisa menyetir, aku tidak mau kamu kelelahan sayang kamu itukan sedang hamil!" Mario berusaha membujuk Lia
" Sayang aku tahu aku sedang hamil tapi bukan karena sedang hamil lalu aku menjadi lemah" tegas Lia membuat Mario diam seketika
" Aku tahu kamu khawatir dengan keadaan aku yang sedang hamil tapi lihat sekarang yang nampak lelah itu siapa?" lanjut Lia
" Baiklah, tapi pelan-pelan saja ya. kalau kamu merasa lelah bilang ya sayang biar aku gantikan" pinta Mario yang langsung pindah ke kursi penumpang.
Di dalam mobil
" Sayang apa kamu sudah mengabari Mita?" tanya Mario saat Lia hendak menghidupkan mesin mobilnya
" Maaf mas aku hampir lupa!" jawab Lia yang langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
Lia menghubungi Mita dan mengatakan pada Mita kalau dia dan Mario pulang lebih dulu karena kondisi Mario yang sedang tidak enak badan.
Setelah mengabari Mita Lia Langsung menghidupkan kembali mesin mobilnya. Mario mengambil ponselnya dan mengabari Arta tentang kepulangannya dengan Lia.
" Sayang aku ingin makan martabak manis, boleh gak kita berhenti dulu di sana?" tanya Mario menunjuk ke arah penjual martabak manis
" Baiklah kita mampir sebentar" ucap Lia yang langsung menepikan mobilnya.
Lia dan Mario keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju penjual martabak lalu memesan satu porsi martabat manis dan satu porsi lagi martabak telor pesanan Lia. setelah kurang lebih menunggu hampir 30 menit akhirnya martabat pesanan Lia dan Mario pun sudah jadi. Mario langsung membayar martabak tersebut setelah itu mereka kembali ke dalam mobil
" Sayang aku saja ya membawa mobilnya" pinta Mario
" Biar aku saja sayang" tolak Lia
" Sayang..!" rengek Mario membuat Lia tersenyum simpul
Mario terus membujuk Lia agar dia saja yang menyetir mobilnya awalnya Lia masih saja menolak tapi karena Mario terus membujuknya Lia pun akhirnya memilih mengalah.
Setelah sampai di rumah Lia menyiapkan martabat yang dibelinya tadi ke atas meja makan. Mario duduk menunggu Lia menyiapkan martabat yang mereka beli tadi.
Setelah semua sudah tersaji di atas meja dengan lahapnya Mario memakan martabak yang dibelinya tadi namun siapa sangka hal itu malah membuat Lia cemberut seketika.
" Loh kok gak dimakan sih sayang martabaknya?" tanya Mario tanpa rasa bersalah
" Mas ini _?" tanya Lia dengan wajah yang ditekuk
Mario nampak berpikir dan setelah itu dia baru teringat " Oopss!" Mario langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya
" Maaf sayang!" Cicit Mario sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
Lia melipat kedua tangannya di dada lalu menatap tajam ke arah Mario yang tengah memasang wajah memelas dihadapannya