
Roni melotot tidak percaya gadis yang ada di hadapannya begitu berani seenaknya mengambil rokok yang ada di tangannya dan bahkan mematikannya
" Elo!" Roni menatap tajam kepada Miska yang sudah berani mematikan rokoknya.
" Apa yang Loe lakukan hah, lancang!" geram Roni
Miska sedikit pun tidak merasa gentar, pandangan matanya menyorot tajam kepada Roni.
" Kalau loe mau merokok, sana diluar jangan disini, ini kamar bukan cuma kamar loe doang!" ketus Miska
" Tapi ini diluar apa loe buta hah?" sengit Roni
" Iya tapi ini masih daerah kamar loe enggak liat apa asap rokok loe masuk ke dalam kamar, dan satu lagi gue paling benci pria merokok terlebih itu loe!" Sarkas Miska membuat Roni semakin geram dan mengepalkan tangannya kuat.
" Dasar cewek g*La!" umpat Roni lalu berjalan masuk ke dalam kamar
" Apa loe bilang, loe ngatain gue apa barusan?" kesal Miska yang tidak terima dengan ucapan Roni yang mengatainya cewek g*La.
Roni menghentikan langkahnya menoleh lalu tersenyum sinis
" Gue gak bilang apa-apa, pendengaran loe aja kali yang harus diperiksakan ke dokter THT!" sahut Roni lalu pergi.
Miska lebih memilih diam lalu masuk ke dalam kamar sementara Roni sedang berada di dalam kamar mandi.
Miska duduk di kepala kasur sambil bermain ponsel, Roni yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi memincingkan matanya menatap Miska yang sedang tersenyum fokus pada layar ponselnya.
" Ngapain loe liat-liat?" sarkas Miska mendelik tajam
" Terserah gue dong, mata-mata gue apa urusannya sama loe?" Roni berjalan menuju tempat tidurnya sendiri.
Miska enggan meladeni ucapan Roni dan kembali menatap layar ponselnya.
dreettt... dreettt...
Ponsel yang berada di tangan Miska berdering, setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya Miska langsung mengangkat sambungan teleponnya.
" Hallo... Assalamualaikum!"
..." Wa'alaikum salam!"...
..." Lagi ngapain Loe?"...
" Enggak lagi ngapa-ngapain sih ya lagi santai aja"
" Kenapa emangnya, tumben banget loe nelpon gue malam-malam?"
..." Gue cuma mau nanya aja, besok loe datang enggak ke pesta ulang tahun Luna?"...
" Ke acara ulang tahun Luna?"
Deg
Roni yang tadinya sedang sibuk dengan ponselnya setelah mendengar nama Luna langsung menoleh ke arah Miska.
" Enggak tahu juga sih, kenapa memangnya?"
..." Enggak kenapa-napa juga sih, tapi kalau loe mau datang bagaimana kalau nanti loe gue jemput?"...
" Nanti deh gue pikir-pikir dulu, tanya yang lain dulu"
..." Nana sama Hana besok ikut mereka akan dijemput sama Billy"...
" Yaudah, bareng mereka aja kalau gitu!"
..." Tapi rumah mereka kan tidak searah sama rumah loe!"...
Miska berpikir sejenak, tidak searah iya benar juga Nicko yang sedang menelponnya hanya tahu kalau Miska tinggal di rumah kedua orang tuanya.
" Yaudah, oke!"
" Tapi gue tunggu di cafe xx ya soalnya gue besok ada urusan di luar!"
..." Siap bidadariku"...
" Apa, loe bilang apa barusan?"
..." Enggak, gue enggak bilang apa-apa"...
" Jangan ngegombalin gue Ko, gombalan loe enggak akan mempan sama gue"
Roni yang mendengar Miska mengatakan menggombalinya, entah kenapa membuatnya panas sendiri dan tanpa sadar ia sudah mengeraskan rahangnya dan ponsel yang berada di tangannya pun menjadi korban genggaman tangannya yang semakin meremas dengan kuat.
Diseberang sana Nicko hanya tertawa
" Gue tutup telponnya ya, sampai bertemu besok!" ucap Miska lalu menutup sambungan teleponnya.
" Apa besok loe akan pergi ke acara ulang tahun Luna ?"
Miska menoleh ke arah Roni dan mengerutkan keningnya
__ADS_1
" Loe bicara sama gue?" bukan menjawab Miska malah kembali bertanya membuat Roni semakin geram
" Loe kira dikamar ini ada makhluk lain selain loe?" kesal Roni
" Ya gue hanya merasa aneh aja, kenapa loe tiba-tiba bertanya soal ulang tahun Luna sama gue?"
" Atau jangan-jangan loe nguping pembicaraan gue sama Nicko ya ?"
Roni semakin kesal dan marah apalagi dengan terang-terangan Miska menyebut nama Nicko
" Gue punya kuping yang masih normal jadi tanpa gue menguping pun suara loe yang cempreng itu pasti kedengaran ke seluruh ruangan ini" sahut Roni
" Benarkah?" Miska menaikan satu alisnya Roni memutar bola matanya malas
...Hening...
1 menit
5 menit
10 menit
" Apa loe akan pergi bersama si Nicko... Nicko itu?" Suara Roni memecah keheningan yang tercipta di kamar tersebut.
" Itu bukan urusan loe!" jawab Miska ketus dan tanpa menoleh sedikitpun
" Jelas itu urusan gue" Roni menggeser duduknya menjadi tegak
" Eh sejak kapan urusan gue menjadi urusan loe? ingat loe itu bukan siapa-siapa guee" tegas Miska yang sudah duduk menghadap kearah Roni
" Sejak loe sudah sah menjadi isteri gue baik menurut agama maupun negara" tegas Roni membuat Miska seketika tertawa
" Hey tuan muda sejak kapan loe ngakuin tuh pernikahan?" sindir Miska
" Apa loe lupa kalau gue ini cuma isteri loe di atas kertas doang? jadi apa hak loe ikut campur urusan gue, dan satu lagi jangan lupa pernikahan konyol ini akan segera berakhir jadi bersiap-siaplah untuk belajar hidup hemat dan jangan boros, kebiasaan loe yang suka menghambur-hamburkan uang dan main cewek sebaiknya loe hentikan aja deh daei sekarang ya sebelum loe malu sendiri karena kelak loe tidak akan bisa memanjakan para cewek-cewek loe lagi dengan uang dari jerih payah bokap loe selama ini, semoga masih ada ya cewek yang benar-benar mau menerima loe apa adanya bukan karena harta loe semata" ucap Miska sinis
" Apa maksud loe?" Roni beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di tepi kasur menatap tajam kepada Miska.
" Jadi bokap loe masih belum cerita?" tanya Miska dengan senyum meremehkan
" Biar gue kasih tau loe sekarang, pernikahan ini terjadi atas keinginan kedua orang tua kita tapi lebih tepatnya keinginan bokap loe, dan sebelum gue menerima pernikahan ini gue memberi syarat kalau gue sudah tidak sanggup lagi menjalani pernikahan kita maka gue memilih kita berpisah dan bokap loe setuju akan hal itu bahkan bokap loe sendiri yang sudah menjanjikan sama gue jika gue gagal membuat loe berubah maka semua aset yang bokap loe miliki akan diserahkan semuanya kepada panti asuhan" ucap Miska sontak membuat Roni membelalakkan matanya.
" Tidak mungkin, itu hanya omong kosong loe aja kan, iyakan? dasar wanita licik bilang aja kalau sebenarnya loe enggak mau pisah dari gue " Roni sudah beranjak dari duduknya dan mendekat ke Miska yang masih bersikap santai dan tenang.
Miska tersenyum lalu meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berdiri tepat di hadapan Roni
" Gue enggak pernah bicara omong kosong, kalau loe enggak percaya silahkan loe tanya sendiri sama bokap loe!" Miska langsung pergi meninggalkan Roni yang masih diam mematung.
Sesekali pandangan matanya menatap ke atas langit malam yang bertaburan jutaan bintang yang berkelipan.
Pandangan matanya tiba-tiba menjadi buram lelehan air mata meluncur begitu saja.
Miska merasa sesak di dadanya, mengingat bagaimana perjalanan hidupnya dan juga nasib pernikahannya kedepan.
Di dalam lubuk hati kecilnya Miska sebenarnya berharap masih bisa mempertahankan pernikahannya demi kedua orang tua mereka akan tetapi dia juga tidak mau menjalani semuanya hanya karena keterpaksaan dan mengorbankan masa depannya hanya karena laki-laki yang tidak bisa menghormati dan menghargai ikatan pernikahan mereka.
Sementara Roni dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga berlari mencari daddy nya meminta penjelasan atas apa yang Miska katakan.
" Sayang, kamu kenapa?" tanya mommy Sarah saat melihat Roni mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu
" Mom, daddy mana?" tanya Roni
" Ada di ruang kerja, ada apa memang kamu mencari daddy mu?"
" Ada hal penting yang mau Roni tanyakan mom" sahut Roni lalu bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang kerja daddy nya.
Ceklek
Roni membuka pintu ruang kerja daddy-nya dan nampak seorang pria paruh baya tengah memijat keningnya bersandar pada kursi kebesarannya
" Dadd!" panggilan Roni mengalihkan perhatian pria paruh baya tersebut
" Roni?" beonya
" Ada apa?" tanyanya
" Ada hal penting yang ingin aku tanyakan" jawab Roni lantang
Bambang yang sedang bersandar pun menegakkan duduknya
" Duduklah!" titahnya
" Hal penting apa yang ingin kau tanyakan?"
" Dadd, apa benar daddy dan Miska melakukan perjanjian sebelum kami menikah sebagai syarat agar wanita itu mau menikah dengan ku, apa benar seperti itu dad?"
Deg
Bambang terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan putranya tersebut, sebenarnya dia sengaja tidak ingin memberi tahu soal syarat tersebut agar Roni bisa menerima Miska apa adanya bukan karena perjanjian dan syarat tersebut.
__ADS_1
Bambang menghela napasnya panjang lalu menatap lekat wajah putranya yang nampak begitu penasaran akan jawaban darinya.
" Iya, itu benar!" jawabnya
" Jadi benar jika aku berpisah dengannya semua aset daddy akan disumbangkan ke panti asuhan?" tanya Roni begitu menggebu
" Kau tahu dari mana tentang hal ini?" Bambang bukan menjawab tapi malah balik bertanya
" Dari mana lagi kalau bukan dari wanita picik itu!" jawab Roni
" Jaga bicaramu Roni, Miska itu gadis baik-baik hanya kamu saja yang sudah di butakan dengan kesenangan duniawi sampai kamu tidak bisa melihat permata yang berkilau di dekatmu" sentak Bambang
" Baik-baik apanya dengan mengajukan syarat seperti itu, sama saja dia ingin melihat keluarga kita sengsara dan jatuh miskin" geram Roni
" Kamu salah besar Roni, tentang ini bukan dia yang mau tapi daddy sendiri. awalnya daddy menjanjikan itu semua untuk dirinya sebagai ganti karena daddy sudah mengambil harta paling berharga miliknya yaitu cita-cita dan masa depannya"
" Tidak akan mudah bagi seorang wanita menjalani hidupnya setelah bercerai dengan suaminya dengan gelar janda, akan banyak cemoohan dan juga anggapan miring tentang dirinya walaupun dia tidak melakukan hal yang buruk sekalipun, tetap saja status janda akan dianggap wanita yang tidak baik" terang Bambang
" Karena hal itulah daddy melakukan perjanjian itu untuk dirinya tapi_!" Bambang menjeda ucapannya
" Tapi apa dadd?"
" Tapi Miska tidak mau menerimanya, dia bilang itu semua bukan haknya, sekalipun kalian bercerai Miska tidak akan meminta apapun, dia hanya butuh kebebasan jadi daddy alihkan semua untuk panti asuhan. awalnya anak itu juga tidak setuju tapi sebagai ganti rasa bersalah daddy tetap dengan pendirian daddy.
karena daddy sudah gagal mendidik putra daddy jadi buat apa harta berlimpah tapi tidak bisa melihat masa depan yang cerah pada putra daddy satu-satunya, dari pada perusahaan daddy hancur karena kebiasaan buruk mu yang suka hidup berfoya-foya lebih baik daddy dan mommy mu hidup tenang di panti asuhan juga, dan kamu terserah mau bagaimana!" lanjutnya
Deg
Roni dilanda kegelisahan menatap tak percaya akan penuturan daddy-nya.
" Omong kosong apa ini dadd? tidak mungkin daddy melakukan hal itu. semua jerih payah daddy dari nol jadi tidak mungkin daddy akan semudah itu melepaskannya" Roni tertawa hambar
" Omong kosong katamu?" Bambang membuka laci yang ada di depannya lalu meletakkan sebuah kertas diatasnya.
"Silahkan kamu baca sendiri!"
Deg
Deg
Deg
Degup jantung Roni berpacu tidak beraturan saat ia melihat dua nama yang tertera di kertas tersebut.
" Tidak mungkin dadd, tidak mungkin daddy melakukan perjanjian sekonyol ini!" marah Roni
"Ini tidak benar dadd, dia benar-benar wanita licik dan picik!" umpat Roni geram
Plakk
Satu tamparan mendarat di pipi Roni dan seketika membuat Roni terdiam.
" Sekali lagi kamu mengatakan hal yang tidak baik tentang isterimu sebaiknya keluar kamu dari sini!" usir Bambang
" Dadd!" lirih Roni
" Apa daddy pernah mengajarkan kamu tidak menghormati seorang wanita? dia itu isterimu sama seperti ibumu yang juga sama-sama wanita yang patut kamu sayangi dan hargai" geram Bambang
" Pengorbanan wanita itu luar biasa, hanya saja sebagai seorang pria terkadang kita tidak dapat melihatnya dengan jelas, sering mengabaikan dan acuh!"
" Jika kamu sedikit saja memperhatikannya lebih jelas lagi lebih teliti lagi maka kamu akan melihat ketulusan dan keindahannya" pesan Bambang
" Sebaiknya kamu pergi dari sini, dan jika kamu masih ingin bersenang-senang dengan wanita-wanita mu diluar sana maka bersiaplah Miska berada di titik menyerahnya dan memilih untuk melepas mu dan itu tandanya kau sudah tahu sendiri kan jawabannya?"
" Tapi dadd!"
" Berpikirlah Roni, hanya kamu putra daddy satu-satunya, penerus keluarga Samudra. jika kamu hidup seperti ini terus bagaimana daddy bisa berharap kepada mu nak!"
Sedih rasanya mengatakan hal itu, sungguh betapa kecewanya Bambang kepada putranya yang begitu sulit diatur, memang semua itu tidak lain atas kesalahannya sendiri yang tidak dapat mendidiknya dengan baik dan terlalu memanjakan putranya dengan harta yang berlimpah.
Bambang sungguh menyesal tapi lagi-lagi penyesalan selalu datang belakangan.
Roni keluar dari ruang kerja dadynya dengan perasaan berkecamuk, kesal marah dan benci dengan situasinya saat ini.
Dengan langkah panjang Roni kembali ke kamarnya yang ada di lantai atas, membuka pintu kamar dengan kasar.
Miska yang baru saja kembali dari taman belakang terjingkrak kaget melihat pintu yang dibuka kasar oleh Roni.
" Puas loe sekarang hah, wanita licik dan enggak tahu diri?" umpat Roni secara tiba-tiba membuat Miska terkejut bukan main.
" Loe bicara sama gue?" tanya Miska dengan suara yang sangat tenang
" Jangan sok be*o deh loe, inikan yang loe mau puas loe?" geram Roni mendorong bahu Miska dengan kasar
" Udah marah-marahnya?" tanya Miska santai
" Loe?" kesal Roni
" Kalau udah gue mau ke kamar mandi, kebelet. gara-gara loe kebanyakan ngomel!" ucap Miska dengan santainya lalu dengan tergesa langsung masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
" Eh dasar cewek siaL*n gue belum selesai!" teriak Roni namun Miska sudah menghilang di balik pintu.