Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Kisah Mia 2


__ADS_3

" Assalamu'alaikum!" ucap seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu. seketika mata Mia membulat sempurna tatkala melihat seorang pria tampan tengah berdiri dengan pandangan mata menatap penuh cinta ke arahnya seraya tersenyum manis.


Jlepp


Jantung Mia berdegup sangat kencang Mia tanpa sadar mengangkat tangannya dan memegang dadanya yang terasa begitu berdebar-debar.


" Kak Sendy?" Cicit Mia yang panik dan sedetik kemudian ia langsung menghampiri Sendy lalu menariknya keluar.


" Kak Sendy, kakak ngapain pakai kesini segala sih? aku tadi tuh cuma bercanda kak!" ucap Mia seraya celingak-celinguk melihat keadaan sekitar, saat ini mereka sedang berada di dekat pintu gerbang.


" Aku tuh tadi cuma bercanda kak, aku tidak mungkin langsung menerima begitu saja laki-laki itu sebagai calon suami aku kak" ucap Mia


" Bercanda?"


" Iya, aku cuma bercanda sewaktu bilang akan menerima perjodohan ini. tapi gak harus kakak kesini juga kak, aku gak akan menerima perjodohan ini kak, apalagi aku_" Mia menjeda ucapannya


" Apalagi apa?" Sendy menaikkan satu alisnya


" Apalagi aku sudah meyakinkan hati aku kak kalau aku akan memilih lamaran kakak" ucap Mia malu-malu


" Menerima lamaran ku? memangnya kapan aku melamar kamu? aku kan baru mau me_!"


Mia menatap tajam ke arah Sendy merasa kalau dirinya sudah dipermainkan " Jadi ucapan kakak selama ini cuma bohong belaka, lalu untuk apa kakak datang kesini?" tanya Mia ketus


" Ya untuk melamar kamu Mia Wulandari" sahut Sendy dengan santai


" Melamar? sudahlah kak jangan bercanda sekarang, sebaiknya kakak pulang ya!" Mia terus mendorong tubuh Sendy menyuruhnya pergi


" Kamu mengusirku?" Sendy mengerutkan alisnya


" Bukan mengusir kak, tapi kedatangan kakak saat ini kurang tepat kak, bagaimana nanti kalau mama aku marah sama kakak dan teman mama tidak terima karena merasa sudah dipermalukan dan juga dikecewakan?"


" Dipermalukan bagaimana?" tanya Sendy


" Ya merasa dipermalukan karena aku pasti akan menolak putranya dan lebih memilih kakak" ucap Mia dengan wajah yang sudah bersemu merah.


" Kamu beneran akan memilih aku?" tanya Sendy meyakinkan Mia


" Iya kak aku pasti akan memilih kakak dan menolak perjodohan ini!" tegas Mia


" Jangan bicara seperti itu sebelum kamu melihat siapa calon suami kamu, bisa saja kamu berubah pikiran dan langsung menerimanya setelah kalian bertemu!" ucap Sendy sedikit dibuat sendu


" Kak!" lirih Mia


" Sudahlah aku tidak apa-apa, sebaiknya sekarang kamu masuk!" Sendy tersenyum


" Tapi kakak?"


" Jangan cemas kakak baik-baik saja, ingat jangan gugup dan jangan tegang santai saja!" pesan Sendy lalu tersenyum


" Udah sana cepat masuk!" Sendy mendorong pelan bahu Sendy agar cepat masuk ke dalam rumahnya.


" Kak!"


" Mia!" teriak mama Nina diambang pintu melihat putrinya yang berdiri di dekat gerbang.


" Iya ma!" sahut Mia


" Kak, aku masuk ya!" Sendy tersenyum lalu mengangguk pelan


Mia masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang kacau tapi sedetik kemudian dia mengerutkan keningnya saat teringat dengan seseorang. " Kemana dia? apa dia berada di dalam mobilnya, kenapa aku tidak melihatnya tadi di luar ya?" batin Mia


" Sayang, dimana nak Didinya?" tanya mama Nina membuyarkan lamunannya dan Mia hanya mengangkat bahunya lalu masuk ke dalam rumah diikuti mama Nina.


Mia diam dan meremas ujung bajunya dengan perasaan gugup dan sedikit tegang, disituasi seperti ini membuat Mia ingin sekali menghilang dari hadapan mereka semua.


" Loh nak Mia Didi nya kemana kok gak ikut masuk bareng nak Mia?" tanya Lidia


" Tidak tahu tante, mungkin masih di dalam mobilnya" Mia menundukkan kepalanya merasa gugup dan takut mengecewakan mamanya.


" Ngapain lagi sih tuh anak, pah cepat panggil Didi !"


" Iya mah!" baru saja Bram hendak beranjak dari duduknya tiba-tiba pria tampan yang ditunggu sedari tadi sudah lebih dulu berdiri di depan pintu seraya memberi salam. Mia yang sedang menunduk tidak sadar dengan kedatangan seorang pria tampan yang kini sudah berdiri di hadapannya.


" Wa'alaikum salam!" jawab mama Nina lalu mempersilahkannya duduk


" Kamu ngapain sih diluar lama banget?" tanya Lidia

__ADS_1


" Maaf mah mengurangi kegugupan" bisiknya.


Pria tampan yang kini tengah duduk tepat di hadapan Mia mengulum senyumnya melihat tingkah Mia yang terlihat dengan jelas kegugupan dan ketegangannya


" Nak Didi perkenalkan ini putri tante namanya Mia Wulandari panggil saja Mia" ucap mama Nina memperkenalkan Mia kepada pria yang sedari tadi tidak beralih pandangannya dari Mia.


" Sayang!" Lidia menyenggol lengannya saat mama Nina memperkenalkan Mia ia malah melamun.


" Ya? maaf tante putri tante sangat cantik malam ini membuat saya jadi tidak fokus" ucap Sendy seraya tersenyum


Jlepp


" Su.. suaranya ?" batin Mia dan dia langsung mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya Mia saat melihat seorang pria tampan dengan senyumnya yang menawan tengah duduk tepat di hadapannya menatapnya penuh cinta.


" Kak Sendy?" ucap Mia dibalik keterkejutannya menatap lekat wajah pria yang ada di hadapannya saat ini.


" Kalian sudah saling kenal?" tanya mama Nina saat melihat keterkejutan Mia melihat Sendy.


" Sudah tante, Mia ini sahabat dari isteri atasan saya !" jawab Sendy dengan sopan


" Isteri dari atasan nak Didi?" mama Nina nampak bingung


" Iya, suami Zaira sahabat Mia itu atasan saya " jawab Sendy.


" Owh jadi nak Didi ini bekerja di perusahaan DINATA?" tanya mama Nina yang tidak menyangka kalau ternyata putrinya dengan anak dari sahabatnya itu sudah saling mengenal sebelumnya.


" Iya Tante!" sahut Sendy tersenyum ramah


Mia yang mendengar percakapan antara mamanya dengan Sendy hanya tersenyum kecut. Mia memutar bola matanya malas lalu menatap tajam ke arah Sendy, bukan karena tidak suka dengan kehadiran Sendy di hadapannya tapi Mia merasa kecewa dengan sikap Sendy yang sudah jelas-jelas membohonginya.


" Maaf saya permisi, silahkan kalian lanjutkan!" ucap Mia yang langsung beranjak dari duduknya dan pergi berlari kedalam kamarnya begitu saja.


" Mia!" panggil mama Nina namun Mia tidak mengindahkannya


" Ada apa ini Di, kenapa nak Mia nampak marah seperti itu?" tanya Lidia kepada putranya


" Gak ada apa-apa kok mah, cuma salah paham aja!" sahut Sendy


" Sebentar ya Li, aku temui putriku dulu!" pamit mama Nina yang beranjak dari duduknya


" Maaf tante apa boleh saya bicara dengan Mia!" ucap Sendy meminta izin


" Ini semua salah saya tante karena tidak menceritakan ini semua dengan Mia dari awal, mungkin dia merasa kesal dan kecewa sama saya!" tutur Sendy menjelaskan.


" Maksud nak Didi?" tanya mama Nina


" Sebenarnya sebelum perjodohan ini dibicarakan saya sempat mengutarakan isi hati saya kepada Mia dan belum sempat Mia memberikan jawaban malam harinya mama dan papa memberitahukan saya tentang perjodohan ini. awalnya saya memang frustasi karena bingung harus menerima atau menolaknya tapi setelah mama memberikan saya foto Mia saya sangat terkejut dan tentu saja saya langsung menyetujuinya, tapi salahnya saya disini saya tidak memberitahu Mia kalau saya adalah orang yang akan dijodohkan dengannya" tutur Sendy menjelaskan


" Owh begitu, lagian kamu juga salah kenapa gak jujur saja sama nak Mia!" omel Lidia


" Ya sudah kalau begitu, kamar Mia ada di dekat tangga sebelah kanan!" ucap Mama Nina memberitahu Sendy.


" Kalau begitu saya permisi dulu ya tante, mah, pah!" ucap Sendy seraya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tangga.


Tok


Tok


Tok


" Masuk saja mah, pintunya tidak dikunci!" teriak Mia disela Isak tangisnya


Ceklekk


Pintu terbuka Sendy tersenyum melihat Mia yang duduk membelakanginya, ia menutup kembali pintunya lalu perlahan berjalan menghampiri Mia dan duduk di sampingnya.


Mia yang duduk dengan posisi membelakanginya masih belum sadar jika yang duduk di dekatnya bukanlah mamanya melainkan Sendy yang sedari tadi menahan tawanya melihat wajah Mia yang ditekuk membuatnya semakin gemas dengan tingkah dari calon isterinya itu.


" Maaf!" suara itu membuat Mia terlonjat kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.


" Kak, ngapain sih pakai masuk kesini cepat sana keluar!" Mia beranjak dari duduknya dan menarik tangan Sendy agar berdiri


" Sebaiknya kakak pergi dari sini sekarang dan aku akan tepati ucapan aku tadi untuk membatalkan perjodohan ini " tegas Mia lalu mendorong tubuh Sendy agar keluar dari kamarnya namun bukannya keluar Sendy malah berbalik badan lalu menarik Mia kedalam pelukannya.


" Maaf... maafkan aku calon isteriku maaf bukannya aku sengaja melakukan ini, awalnya aku hanya ingin meyakinkan diri aku sendiri kalau kamu benar-benar sudah membalas perasaan aku" ucap Sendy menjelaskan .


" Sebenarnya saat aku tahu mama dan papa sudah menjodohkan aku dengan anak sahabatnya, aku merasa bingung dan frustasi, hati aku sakit setiap kali teringat kamu dan aku terus memikirkan kamu tapi setelah mama memperlihatkan foto gadis cantik tengah tersenyum manis aku langsung menyetujuinya saat aku tahu gadis yang akan dijodohkan itu adalah kamu" Sendy berusaha untuk menjelaskan

__ADS_1


" Maaf kalau aku sudah membuat kamu merasa kecewa karena menjadi bimbang dengan perasaan kamu sendiri beberapa hari ini dan juga membuat kamu galau" tutur Sendy seraya mengurai pelukannya


" Apa kamu akan benar-benar menolak perjodohan ini meskipun kamu tahu aku adalah orang yang dijodohkan dengan kamu Hem?" tanya Sendy menarik dagu Mia hingga mendongak ke atas dan mata mereka pun saling bertemu.


Mia mendorong tubuh Sendy hingga pelukan mereka benar-benar terlepas. " Iya!" tegas Mia dengan air mata yang sudah berlinang.


" Aku akan menolaknya karena kakak sudah tega membohongi aku, kakak jahat sudah membuat aku merasa bersalah dan merasa tertekan. seandainya kakak mengatakannya dari awal mungkin aku tidak akan merasa sedih dan juga kecewa, kakak tidak memperdulikan perasaan aku!" ucap Mia yang sudah duduk di tepi tempat tidur sambil terisak


Sendy terenyuh mendengar tangis Mia yang semakin pecah.


" Sayang maafkan aku!" ucap Sendy yang kini sudah berjongkok di hadapan Mia dengan menyodorkan sebuah kotak kecil yang berisi cincin.


Mata Mia membulat sempurna melihat tingkah Sendy " Kak!" cicit Mia


" Maaf, aku memang bukan cowok romantis gak seperti pria pada umumnya tapi aku datang membawa cinta yang tulus ingin menjadikan gadis cantik yang berada di hadapan ku ini sebagai calon isteri ku, Mia Wulandari Will you marry me?" seraya berjongkok Sendy mengutarakan isi hatinya membuat Mia nampak begitu terkejut dan memukul bahu Sendy karena merasa terharu bercampur dengan rasa kecewa menjadi satu.


" Bagaimana mau tidak?" tanya Sendy sambil menghindari pukulan Mia yang bertubi-tubi.


" Tidak aku tidak mau!" kesal Mia masih sambil menangis. Sendy beranjak berdiri sambil tertawa ia mengacak-acak rambut Mia membuat Mia semakin kesal dan kembali memukul lengan dan bahu Sendy.


" Sudah ampun.. ampun. aku minta maaf sayang!" ucap Sendy menangkap pergelangan tangan Mia lalu menarik Mia kedalam dekapannya.


" Kita kebawah ya, kasihan mereka sudah lama menunggu!" ucap Sendy membujuk Mia.


" Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." lanjutnya, Mia masih pasang wajah cemberut.


" Sudah jangan cemberut gitu, cantiknya nanti hilang!" Sendy mencubit pipi Mia membuat Mia melotot kesal


" Ha..ha..!" Sendy tertawa dan langsung menggandeng tangan Mia mengajaknya turun tapi sebelum turun Sendy menghapus bekas airmata Mia yang membasahi pipinya.


Mia dan Sendy turun, kini mereka sudah berada duduk di hadapan orang tua mereka.


" Sayang bagaimana, apa kalian sudah berbaikan?" tanya Lidia


" Iya tante" ucap Mia seraya tersenyum


" Ya sudah sekarang kita langsung saja pada intinya ya, bagaimana?" tanya Lidia


" Iya, kita mulai saja acaranya!" lanjut mama Nina


" Nak Mia pasti sudah tahu kan niat kedatangan kami sekeluarga?" Mia mengangguk pelan


" Sekarang bagaimana apa nak Mia bersedia menerima lamaran ini?" tanya Bram yang sedari tadi lebih banyak diam


Mia masih nampak diam membuat para orang tua dibuat cemas dengan keputusan yang akan diambil Mia apalagi tadi sempat ada pertengkaran diantara keduanya.


Sendy pun merasa semakin dibuat gugup karena Mia masih juga belum memberikan jawabannya.


Sendy lalu berdiri dan berjalan menghampiri Mia, Sendy lalu mengulurkan tangannya mengajak Mia berdiri setelah Mia berdiri Sendy berjongkok di hadapan Mia melakukan apa yang tadi dilakukannya sewaktu berada di dalam kamar Mia.


" Mia Wulandari, mau kah kamu menikah dengan ku?"


Sendy menyodorkan cincin yang berada di tangannya, Mia hanya menatapnya datar dan diam saja"


Sendy nampak terkejut dengan perubahan sikap Mia yang diam saja dan tidak menggubris ucapan yang telah Sendy ucapkan.


" Maafkan aku kak, aku tidak bisa" ucap Mia dengan memasang wajah sendu dan berjalan mundur saat Sendy hendak meraih tangannya.


Apa yang Mia lakukan tentu saja membuat mama Nina, Lidia dan Bram nampak terkejut terlebih lagi Sendy.


" Maksud kamu?" tanya Sendy yang sudah kembali berdiri


" Maafkan aku kak, aku... aku tidak bisa!" ucap Mia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menangis.


"Sayang!" Cicit Sendy sedetik kemudian menatap satu persatu ke orang tuanya seakan meminta bantuan


" Sayang, aku tahu aku salah tapi _!" Sendy nampak frustasi melihat wajah datar Mia


" Kak, andai saja kakak jujur dari awal mungkin aku tidak akan merasa sekecewa ini kak, kenapa kakak bisa setega itu membiarkan aku merasa tertekan dengan perasaan bimbang selama ini, kalau saja kakak tidak menyatakan perasaan kakak waktu itu aku juga tidak akan merasa bimbang kak memilih dua pilihan yang sulit bagiku, kakak tahu setiap hari aku selalu memikirkan perasaan kakak dan juga perasaan laki-laki yang akan dijodohkan dengan ku aku tidak ingin menyakiti hati siapapun, aku takut kak apa kakak tahu itu padahal orang yang selalu aku pikirkan dan ingin aku jaga hatinya ternyata adalah orang yang sama" tutur Mia seraya menitikkan airmatanya.


Semua terdiam terlebih Sendy seperti terkena hantaman batu besar, sakit itulah yang Sendy rasakan. rasa bersalah begitu besar menggerogoti hatinya, andai saja waktu bisa diputar ulang oh sungguh menyesal Sendy karena tidak mengatakan hal yang sejujurnya kepada Mia.


" Mia aku minta maaf!" ucap Sendy lirih dan menitikkan airmatanya


" Maaf kak aku tidak bisa_!" Mia membalikkan badannya


Deg

__ADS_1


Sendy tidak pernah menyangka jika Mia akan semarah itu.


__ADS_2