Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Miska masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai tidak biasanya kedua orang tuanya memintanya pulang lebih awal.


"Assalamu'alaikum" ucap Miska saat memasuki rumahnya


" Wa'alaikum salam, kamu baru pulang sayang?" Mama Rika menghampiri Miska dan memeluknya


" Tumben mama sama papa di rumah?" tanya Miska datar


" Iya, ada hal penting yang ingin kami bicarakan sama kamu sayang" jawab mama Rika


" Hal penting apa?" Miska duduk di sofa yang berada di ruang keluarga


" Nanti saja bicaranya tunggu papa kamu, saat ini papa kamu sedang menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja, sambil nunggu papa kamu sebaiknya kamu bersih-bersih dulu gih setelah itu makan siang" ucap mama Rika mengusap pucuk kepala Miska lembut


Miska beranjak dari duduknya dan tanpa berkata apa-apa langsung naik kelantai atas menuju kamarnya.


Ceklekk


Miska menghembuskan napasnya kasar lalu duduk di tepi tempat tidur menatap lekat wajahnya melalui pantulan cermin yang ada di hadapannya.


" Hal penting apa yang akan mereka bicarakan, kenapa perasaan gue jadi enggak enak kayak gini?" batin Miska


Miska beranjak dari duduknya dan melesat masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah 20 menit berjibaku di dalam kamar mandi akhirnya Miska keluar dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar.


Tok


Tok


Tok


" Sayang, buka pintunya nak!" teriak mama Rika dari balik pintu


Miska yang tengah duduk di depan meja rias menoleh ke arah pintu " Iya mah sebentar"


Miska beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamarnya.


Ceklekk


" Ada apa mah?" tanya Miska dengan wajah datar


" Boleh mama masuk?"


Miska menggeser badannya dan membiarkan mamanya masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Mama Rika duduk di tepi tempat tidur sementara Miska kembali duduk di depan meja rias, mengoleskan krim pencerah wajah dan sedikit lip balm.


" Sayang bagaimana hari kamu disekolah?" tanya mama Rika memulai obrolan


" Biasa aja!" jawab Miska seraya melihat mama Rika dari pantulan cermin


" Mama dengar belum lama ini ada kejadian yang kurang mengenakkan di sekolah kamu?"


" Itu sudah berlalu, pak Bagaz sudah menanganinya dan semua sudah berjalan normal" jawab Miska tanpa ekspresi


Mama Rika menghela napasnya panjang dan Miska diam-diam meliriknya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.


" Sebaiknya kamu cepat turun ya, temani mama makan siang!" mama Rika beranjak dari duduknya dan menepuk bahu Miska pelan sebelum keluar dari kamar tersebut.


Miska berjalan gontai menuruni satu persatu anak tangga menuju meja makan.


" Sini sayang duduk!" mama Rika menyuruh Miska duduk di kursi kosong yang ada di sampingnya


Tanpa bicara Miska duduk dan menatap secara bergantian ke arah mama dan papanya yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.


" Hal penting apa yang ingin papa dan mama bicarakan?" tanya Miska langsung pada intinya


" Sebaiknya kita makan saja dulu setelah itu baru bicara!" ucap Suhendra papanya Miska tegas


Acara makan siang yang cukup langka menurut Miska, usianya kini hampir beranjak 17 tahun tapi baru kali ini mereka makan siang bersama.


Dengan langkah gontai Miska menyusul ada perasaan tidak enak saat papa dan mamanya ingin membicarakan sesuatu hal yang tidak ia ketahui.


" Duduklah!" titah sang papa


Miska duduk di sofa yang berhadapan dengan papa dan mamanya.


" Ada hal penting yang ingin papa sampaikan sama kamu dan papa minta kali ini tidak ada penolakan " ucap tegas Suhendra membuat Miska semakin bertanya-tanya.


" Maksud papa apa?" tanya Miska dengan penuh rasa penasaran


"Papa mau kamu segera menikah"


" Apa menikah?" Miska terkejut bukan main, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba papanya menyuruhnya untuk menikah


Miska tersenyum kecut " Ini tidak lucu, papa pasti bercanda iyakan?" Miska geleng-geleng kepala. ucapan papanya seperti kilat yang menyambar


" Apa kamu melihat papa seperti sedang bercanda?" terlihat raut serius di wajah Suhendra


" Tapi kenapa?" tanya Miska lirih

__ADS_1


" Ini adalah suatu kesepakatan antara papa dan sahabat papa, dia meminta kamu untuk menjadi isteri dari putra satu-satunya. saat dia melihat kamu dia sudah berharap kamu akan menjadi menantunya." ucap Suhendra menjelaskan


" Tapi kenapa harus aku pah?" Miska sudah tidak kuasa lagi menahan kesedihannya


" Karena kamu putra papa satu-satunya, mau tidak mau kamu harus tetap menerima perjodohan ini" tegas Suhendra


" Pah aku masih sekolah, bagaimana mungkin aku menikah pah, masih banyak cita-cita yang belum aku capai, aku masih ingin kuliah" ucap Miska dengan berapi-api mengemukakan isi hatinya


" Papa tidak mau mendengar penolakan, besok mereka akan datang melamar dan kamu jangan coba-coba menolak. jika kamu masih menganggap papa ini papa kamu maka menurut saja!" Suhendra beranjak dari duduknya dan langsung pergi masuk ke dalam kamar


Miska tak kuasa menahan kesedihannya lagi ia pun beranjak dari duduknya dan langsung berlari naik ke lantai atas tempat kamarnya berada.


Mama Rika hanya bisa menghela nafas panjang melihat kemarahan suaminya dan juga kesedihan putri satu-satunya.


Mama Rika sebenarnya keberatan dengan perjodohan itu tapi suaminya Suhendra tipe orang yang keras kepala dan tidak mau dibantah


Dengan langkah gontai mama Rika berjalan menuju kamar putrinya, dia tahu saat ini putrinya pasti sedang menangis dan merasa kecewa kepada kedua orangtuanya.


Tok


Tok


Tok


Mama Rika mengetuk pintu kamar Miska


" Sayang, buka pintunya nak mama mau bicara boleh?" tanya mama Rika pelan


Tidak ada sahutan dari dalam membuat mama Rika kembali mengetuk pintu kamar Miska


" Miska tolong jangan seperti ini nak, buka pintunya sayang!" ucap mama Rika yang sungguh mencemaskan keadaan putrinya


" Biarkan aku sendiri mah" suara teriakan terdengar dari dalam kamar


" Tapi nak_"


" Mah aku ingin sendiri!" suara serak Miska kembali terdengar


Mama Rika akhirnya mengalah dan membiarkan putrinya sendiri.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 7 waktunya untuk makan malam, Suhendra dan mama Rika sudah berada di meja makan tapi Miska belum juga muncul.


mama Rika meminta bibi art yang bekerja di rumah itu untuk memanggil Miska supaya turun makan malam namun hasilnya nihil Miska tidak ingin turun untuk makan malam.


Miska memilih mengurung diri di dalam kamar berharap papanya akan berubah pikiran tapi sayangnya setelah selesai makan malam Suhendra menyambangi kamar Miska yang masih setia tertutup dengan rapat.

__ADS_1


" Papa tahu kamu menolak perjodohan ini tapi papa tidak mau ada penolakan dan mau tidak mau kamu tetap harus menerimanya. kamu putri papa satu-satunya apa tidak bisa kamu berbakti kepada papa dan menerima perjodohan ini? jika bukan kamu lalu siapa lagi?" ucap Suhendra dari balik pintu


" Papa yakin kamu pasti mendengar ucapan papa!" lanjutnya sebelum beranjak pergi


__ADS_2