
“kau sudah lama menunggu?” tegur Ivy pada orang di depannya.
“tidak, aku baru saja dari kamarku”
“di sini dingin kau sebaiknya masuk, udara dingin tidak baik untukmu” ucap Ivy lagi, kepada seorang gadis yang memakai kupluk dan tubuhnya juga habis karena penyakit yang ia derita. Gadis itu adalah Zena, sahabat Ivy sekaligus seseorang yang Ivy anggap keluarga. Mereka berdua berada di roof top rumah sakit sambil menikmati awan mendung di atas mereka.
“aku membuatkanmu ini” ivy memasangkan mahkota bunganya pada Zena, mahkota bunga dengan bunga mawar merah yang mendominasi. “terimakasih ini cantik sekali”
“vy? Kau masih sering pergi ke sana?”
“tidak sering, hanya beberapa kali dalam sebulan”
“kau harus meninggalkannya, itu terlalu bahaya. Kau terlalu cantik untuk orang-orang yang pergi ke tempat kasar itu”
“kau juga terlalu cantik untuk menjadi seseorang pertama yang membawaku ke tempat itu” mereka berdua tertawa seolah tidak ada beban di hati atau pikiran mereka. Semua pasti baik-baik saja, pasti. Perlahan suasana menjadi hening, hanya terdengar hembusan angin dan suara rintik hujan.
“bagaimana pengobatanmu?”
“lancar, jangan terlalu membebani pikiranmu, semua pasti baik-baik saja”
“jika ada apa-apa bilang saja padaku, jangan menyembunyikan sesuatu”
“tidak ada yang ku sembunyikan, sudah pulang sana dan mandi! kau bau”
“baiklah aku pulang, jaga dirimu” Ivy berjalan meninggalkan rumah sakit. Hujan semakin deras, terpaksa ia harus berteduh di depan toko antik didekatnya karena angin tertiup cukup kencang. Jalanan kosong, hanya terlihat beberapa orang yang sedang berteduh di toko dan beberapa lalu-lalang mobil. Langit sudah sangat gelap, sebentar lagi malam.
“ah maaf” ucap seseorang yang sedikit menyenggol bahu Ivy, pria yang hanya memakai pakaian longgar itu juga sedang berteduh di tempat yang sama dengan Ivy.
“tak masalah” dua kata yang kembali membuat suasana menjadi hening kembali.
Ivy menadahkan tangannya di bawah air hujan, sedikit lebih reda. Ivy langsung berlari dengan tas sekolahnya sebagai payung.
“hey tunggu kau bisa sakit” cegah pria itu tapi di hiraukan oleh Ivy.
Ivy suka hujan, jadi tak masalah untuknya jika harus pulang basah-basahan. Hujan itu menyenangkan, kita merasa bebas, tak ada yang menahan. Rasa sakit perlahan ikut luntur walaupun tidak dalam waktu yang lama, tidak ada yang tahu jika kalian menangis, itu poin pentingnya.
Di arena.
Suara gaduh penonton terdengar nyaring dan memusingkan kepala, tak lupa dengan alkohon dan rokok-rokok mereka. Beberapa peserta terlihat sedang bersiap untuk bertarung. Tempat itu memang selalu ramai, banyak dari mereka pergi ke sana hanya untuk mencari uang saja. jika kalian menang uang akan menjadi milik kalian.
“lawanmu hari ini tangguh jangan meremehkannya” ucap seorang pria dengan topeng hitam pada pria tinggi di sampingnya.
“aku tidak pernah meremehkan lawanku, selemah apapun dia aku tidak akan pernah memberi ampun” pria dengan nama arena J2 itu berdiri dan berjalan memasuki arena. “aku hanya perlu mencarinya lalu menghancurkan tempat ini” lanjutnya sebelum memasuki arena.
__ADS_1
Pertandingan berlangsung sengit, namun sepertinya tidak seimbang. J2 terlalu mudah untuk mengatasi lawan-lawannya. Mereka tidak sepadan.
Suara riuh peonton kembali terdengar, mereka sangat puas dengan pertandingan hari ini karena lawan J2 berakhir KO tak bergerak.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Ivy masih sekolah seperti biasanya. Walau pun terlihat cuek, sebenarnya Ivy merupakan murid yang pintar, hanya saja sepertinya dia sendiri tidak menyadarinya. Guru di kelasnya sedang menerangkan di papan namun sepertinya Ivy tidak tertarik dengan pelajaran yang guru itu berikan. Pohon bunga tabebuya yang terguyur air hujan di luar sana lebih enak di pandang baginya.
CTAK
Satu lemparan kapur mendarat mulus di kepala Ivy, Nina yang melihatnya hanya menutup mulutnya tak percaya. Seisi kelas meneguk ludah dan menahan napas, gadis ini. Benar-benar berani. Juan, ya guru itu adalah Juan, Juan berjalan menghampiri bangku Ivy, sedangkan Ivy hanya melihatnya datar tanpa rasa takut sama sekali.
“nona burnett apa anda benar-benar tidak menyukai kelasku?” ucapnya dengan nada dingin.
“maaf, tidak pak” jawab ivy sambil sedikit membungkuk.
“lari keliling lapangan 20 kali” seisi kelas langsung melongo tidak berani berkutik. Salah sedikit saja bisa-bisa mereka jadi daging cincang sekarang.
“tapi pak di luar sedang hujan” sela Nina.
“baik pak, permisi” raut wajahnya tidak berubah, hanya datar dan terlihat dingin.
Setelah mengucapkan itu Ivy bergegas menuju lapangan utama dan mulai berlari. Hujan tak masalah baginya, Ivy suka hujan, tidak ada yang tahu ketika kalian menangis di tengah hujan. Matanya memerah, Ivy menangis. Dia menangis bukan karena hukuman dari Juan, namun ada hal lain yang membuatnya benar-benar hancur.
Pagi tadi
Ivy sedang pelajaran olahraga, seluruh siswa kelasnya sedang berkumpul di gedung olahaga untuk memulai pelajaran. Semua berjalan seperti biasanya saja.
Drrttt drrtt
Satu pesan masuk di ponselnya.
“sore nanti kau haru pulang ke rumah utama, ayah ingin bertemu. Jangan macam-macam atau kau tau akibatnya”
Satu pesan singkat yang seketika menghancurkan moodnya waktu itu juga. Ivy tidak bisa menolak tentu saja. Mereka selalu malakukan apapun untuk menghancurkanya. Ada satu hal yang paling ia takutkan, keluarganya akan membayar pihak rumah sakit untuk menghentikan pengobatan Zena dengan begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Ivy masih berlari, bajunya sudah sangat basah sampai pakaiannya sedikit terlihat Karena baju putih yang ia pakai kini menjadi transparan. “selalu saja melakukan semau mereka, selalu saja melakukan apapun untuk tujuan mereka yang busuk itu. Tapi tak apa, aku itu kuat, aku bisa berdiri pada kedua kakiku ini. KALIAN TIDAK BISA MENGUASAIKU DASAR SIALAN!” teriaknya di akhir kalimat. Tentu saja suaranya masih kalah dengan suara hujan. Setidaknya dia merasa sedikit lega.
.
__ADS_1
.
“nih makan dulu!” Nina memberikan bubur hangat pada Ivy, sekarang mereka berdua sedang berada di kantin. Ivy menatap bubur itu sekilas lalu memakannya.
“pak juan tega bener deh, nyuruh murid cewek lari-lari saat hujan deres gitu, masih dingin nggak? Bagaimana kalau kau sakit? Dia mau tanggung jawab? Sayang banget wajah gantengnya kalo sikapnya begitu”cerewet Nina, Ivy menggeleng.
“udahlah nin, gapapa kok salahku juga tadi ngelamun”
“iya sih, tapi kan Cuma melamun doang sih kan ya, tadi yang melamun juga banyak kok. Kemarin juga yang lain Cuma di suruh lari 10 kali, terus kau di suruh lari 20 kali. Emosi sendiri kan jadinya, kau juga kenapadiam saja?”
“percuma nin, orang otoriter memang seperti itu, aku juga tidak masalah. Malah enak ga ikut pelajaran dia kan”
“iya bener sih, tapi tetep aja ngeselin. Apa lagi ganteng gitu, sayang banget jadi terbuang percuma”
“nin, aku ke toilet dulu ya, nanti kembali duluan aja ke kelas”
“oh oke”
Ivy buru-buru ke toilet. Koridor cukup ramai saat itu, sangat jarang sekali banyak siswa bergerumbul di koridor seperti ini. Kebanyakan dari mereka adalah siswi , terpaksa Ivy juga ikut berdesak-desakan bersama mereka.
“akh” Ivy jatuh terdorong beberapa siswi yang bergerumbul tadi.
“kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?” seorang pria mengulurkan tanganya pada Ivy, tentu saja Ivy menyembutnya dengan senang hati.
“waah kebetulan sekali, bukakah kau gadis yang hujan-hujan tempo hari? Kita berteduh di tempat yang sama, kau mengingatku?” ucapnya ramah, suaranya juga terdengar menyenangkan. Senyum yang ceria, pantas saja banyak sekali yang mengerumuninya, wajahnya juga tampan.
“iya, terimakasih sudah membantu. Saya permisi”
“tunggu dulu (menahan lengan Ivy) namaku Adam, siapa namamu?”
“Ivy, maaf saya harus pergi”
“apa aku boleh,,,,” perkataan adam terpotong ketika sebuah tangan kekar menahan tanganya yang menahan lengan ivy. “sebentar lagi masuk, cepat kembali ke kelas kalian” ucap suara baritone itu dengan sedikit mangancam.
“ah, baik pak, maaf kami permisi” Adam dan yang lainya pergi, lebih tepatnya tidak mau cari masalah dengan sang guru galak, siapa lagi kalau bukan Juan. Setelah lengannya terlepas Ivy langsung melesat ke dalam kamar mandi.
15 menit kemudian.
“kau lama sekali” ucap seseorang di samping pintu toilet, Ivy hanya melihat pemilik suara itu acuh.
“bukan urusan bapak” Ivy berjalan dengan dinding sebagai tumpuanya, matanya merah dan bibirnya pucat. “bodoh, sudah tau alergi masih saja di makan”
“maaf pak, hukuman yang bapak berikan tadi sudah saya selesaikan. Saya permisi”
__ADS_1
Bukannya menjawab, Juan justru menarik Ivy dengan paksa. “maaf pak tolong jalannya pelan-pelan” ucapnya lirih, kepalanya bekunang-kunang dan perutnaya berasa di putar berbagai arah.