Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Khanza memilih untuk berhenti di taman, dia ingin menenangkan hatinya yang terasa nyeri.


betapa sakitnya disaat melihat orang yang dicintai tengah bersama wanita lain dan ketika ingin mendapat penjelasan malah diabaikan.


Tak kuasa Khanza menahan isak tangisnya ia tidak peduli pandangan orang lain yang menatap ke arahnya.


" Kamu jahat mas!" gumamnya


" Siapa wanita itu, kenapa kamu begitu peduli terhadapnya, kamu mengabaikan aku dan lebih memilihnya. atau jangan-jangan dia adalah isterimu? oh ya tuhan!"


Khanza menutup mulutnya sendiri pikirannya saat ini sudah menerawang jauh, Khanza kembali terisak ketika sekelebat bayangan suaminya bersama anak dan isterinya. hati Khanza mencelos sesak itulah yang kini ia rasakan.


" Akhhhh....!" Khanza tiba-tiba dikejutkan dengan seorang wanita yang meringis sambil memegangi perutnya tepat di hadapannya.


" Kak ..kakak tidak apa-apa?" Khanza mendongak dengan segera menghapus air matanya dan menghampiri wanita tersebut.


" Perutku tiba-tiba sakit!" keluh wanita tersebut


" Sebaiknya kakaknya duduk saja dulu" Khanza membantu wanita tersebut untuk duduk


" Bagaimana kak apa masih terasa sakit? saya antar ke rumah sakit ya?" tawar Khanza yang merasa khawatir dengan wanita tersebut yang terlihat sesekali meringis


Wanita tersebut mengangguk seraya mengelus perutnya yang terlihat membuncit.


" Kakak tunggu disini sebentar ya saya mau cari taksi dulu" lagi-lagi wanita itu mengangguk


Dengan bergegas Khanza pergi mencari taksi, beruntung pas Khanza sampai di pinggir jalan ada taksi yang melintas.


Khanza membawa wanita tersebut ke rumah sakit terdekat dengan taksi.


" Nama kamu siapa?" tanya wanita tersebut


"Oh kenalkan kak nama saya Khanza" sahut Khanza lalu mengulurkan tangannya


" Nama saya Alya" wanita tersebut menyambut tangan Khanza dan menyebutkan namanya


" Nama yang cantik" puji Khanza


" Kamu bisa saja, nama kamu juga cantik" wanita tersebut tersenyum walau sesekali terlihat meringis


" Kak apa sakit sekali?" tanya Khanza yang tidak tega melihat Alya sesekali terlihat meringis menahan sakit


" Tidak juga, sudah lebih baikan. terima kasih ya!" ucap Alya tersenyum tipis


"Terima kasih untuk apa kak?"


" Sudah mau menolong kakak"


" Itu sudah kewajiban kak sebagai sesama manusia dan terlebih sesama wanita" jawab Khanza


" Kamu memang gadis yang baik " Khanza tersenyum tipis


" Jangan memujiku kak nanti aku bisa jadi keras kepala"ucap Khanza seraya netranya menatap ke arah perut Alya.


" Maaf apa kak Alya sedang hamil?" tanya Khanza takut-takut


Alya tersenyum seraya mengusap perutnya yang memang terlihat buncit.


" Iya, usia kandungan kakak memasuki 4 bulan" jawab Alya Khanza mengangguk mengerti.


" Kakak sedang apa tadi di taman? kenapa sendirian?" tanya Khanza yang merasa penasaran


" Sedang jalan-jalan saja, suami kakak tidak bisa menemani kakak karena sibuk bekerja" jawab Alya namun terlihat sendu


" Kalau kakak butuh teman, kak Alya bisa hubungi Khanza saja. berapa nomor kakak?" khanza memberikan ponselnya.


Alya mengambil ponsel Khanza lalu mengetik nomornya setelah Khanza menyimpan nomor Alya dia pun misscall ke nomor Alya.


"Itu nomor Khanza, di save ya. kalau ada apa-apa hubungi Khanza aja" ucap Khanza


" Kamu kenapa begitu baik sama kakak? padahal kita kan baru kenal. kamu percaya sama kakak?" tanya Alya


" Sebaiknya kita itu berbaik sangka saja kak , soal baik buruknya seseorang nanti juga akan terlihat dengan sendirinya." jawab Khanza santai


" Emmmm... kamu sendiri kenapa tadi menangis ditaman?" tanya Alya membuat Khanza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" Tidak kenapa-kenapa kok kak" Khanza cengengesan


" Putus cinta?" tebak Alya


Khanza hanya tersenyum tipis tidak menjawab pertanyaan Alya.


" Kak kita sudah sampai!" ucap Khanza saat taksi berhenti di depan rumah sakit.


" Iya"


Khanza dan Alya kini sudah berada di dalam rumah sakit tepatnya di depan pintu ruang dokter kandungan.


Cukup banyak ibu hamil yang datang mengantri untuk memeriksa kandungannya.


" Apa kakak sering periksa kandungan disini?" tanya Khanza seraya duduk di bangku antrian


" Iya" jawab Alya tersenyum tipis


" Sama siapa? ditemani suami kakak ya?" Alya hanya menjawab dengan senyuman.


" Sungguh beruntung mereka yang datang kesini bersama suami mereka, terkadang kakak suka merasa iri tapi mau bagaimana lagi kakak harus mengerti kesibukan ayah dari bayi yang kakak kandung" ucap Alya seraya menunjuk ke pasangan suami isteri yang tidak jauh duduk dari tempat mereka duduk.


Deg

__ADS_1


Deg


Deg


Khanza langsung membuang pandangannya saat netranya melihat sosok yang amat sangat ia kenali.


Hati Khanza seakan diremas-remas sakit teramat sakit seperti luka yang ditaburi air cuka.


" Khanza kamu kenapa?" tanya Alya


" Ya?" Khanza yang tengah menatap Aldy terkesiap dan memaksakan senyumnya.


" Kamu menangis?" Alya terkejut melihat mata Khanza yang berkaca-kaca.


" Ah ini, aku hanya kelipatan aja kok kak" ucap Khanza berbohong.


" Emmm... kak, maaf ya aku mau ke toilet dulu ya sebentar" ucap Khanza yang sudah tidak kuat berada di tempat tersebut.


" Iya!" jawab Alya yang merasa curiga dengan gelagat Khanza yang sedikit berubah.


Khanza beranjak dari duduknya tapi karena kurang hati-hati ia hampir menabrak seorang suster yang lewat


Bruk


" Aaah.!" teriak Khanza dan suster tersebut bersamaan


" Maaf... maaf suster saya tidak sengaja!" ucap Khanza


" Tidak apa-apa dek!" ucap suster tersebut


" Khanza!" panggil Alya seraya beranjak dari duduknya


" Aku tidak apa-apa" jawab Khanza lalu bergegas pergi


Dilain sisi Aldy yang tepat berada di sana teramat terkejut saat netranya bertemu dengan netra Khanza. mereka sempat saling bertatapan sampai akhirnya Khanza yang memutus tatapan matanya terlebih dulu.


" Mas mau kemana?" tanya Mila saat Aldy hendak beranjak dari duduknya dan ingin mengejar Khanza


" Aku mau ke toilet" sahut Aldy melepaskan tangannya yang dipegang oleh Mila


" Tapi sebentar lagi giliran aku yang dipanggil mas!" ucap Mila


" Kau bisa masuk lebih dulu, aku harus ke toilet sekarang" ucap Aldy yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Mila yang mendengus kesal menatap punggung Aldy yang hilang di balik dinding.


Khanza memegang dadanya yang terasa sesak, ia memilih duduk di taman rumah sakit tersebut.


" Sayang!" panggil Aldy saat melihat Khanza tengah duduk di bangku taman tersebut.


Khanza beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi.


" Tunggu dulu kita perlu bicara!" Aldy menarik tangan Khanza hingga membuat langkahnya terhenti.


" Kamu salah paham" ucap Aldy berusaha untuk menjelaskan


" Salah paham? aku salah paham dimana letak kesalahpahamannya?" Khanza tersenyum kecut


" Sudahlah mas, aku capek... aku lelah' ucap Khanza dengan sendu


" Aku hanya mengantar dan menemaninya saja tidak lebih dari itu!" ucap Aldy berusaha untuk menjelaskan


" Apa peduli ku" ucap Khanza ketus


" Jangan seperti itu sayang, aku mohon dengarkan aku dulu"


" Tidak ada yang perlu di dengarkan"


" Tapi untuk apa kamu bisa berada di rumah sakit, dan di dokter kandungan?" tanya Aldy penuh curiga


" Berada di dokter kandungan untuk apalagi jika bukan memeriksakan kandungan ku tentunya" sahut Khanza dengan sorot mata tajam


" Maksudnya?" tanya Aldy yang merasa ambigu dengan ucapan Khanza


" Bukan hanya wanita mu yang ingin memeriksakan kehamilannya, aku juga ingin tahu bagaimana keadaan calon bayiku walaupun sangat miris sekali aku yang masih menggunakan seragam putih abu-abu ini datang tanpa suami yang mendampingi. oh astaga pasti hujatan keji akan siap aku dapati" ucap Khanza tertawa miris membuat Aldy membulatkan matanya sempurna.


" Sayang kamu hamil?" Aldy nampak begitu terkejut


" Maaf aku harus pergi!" ucap Khanza tidak menggubris pertanyaan Aldy.


" Sayang aku!"


" Mas Aldy!" teriak Mila membuat keduanya menoleh ke arah suara bersamaan.


Khanza tersenyum kecut melihat Aldy yang tidak bisa berkutik.


" Mas katanya ke toilet kok bisa ada di sini?" tanya Mila setelah menghampiri Aldy dan menatap tidak suka kepada Khanza dari ujung kaki sampai ujung rambut.


" Dia siapa mas?" tanya Mila namun tidak dijawab oleh Aldy


" Dari seragam sekolah yang kamu kenakan dia itu salah satu murid tempat kamu mengajar ya mas" Aldy tetap diam sampai akhirnya Khanza memilih pergi begitu saja kembali ke tempat dokter kandungan.


" Kak, maaf ya lama!" ucap Khanza seraya duduk di bangku sebelah Alya


" Tidak apa-apa, sudah?" Khanza mengangguk


" Ini!" Alya menyodorkan tisu kepada Khanza


" Untuk apa?" Khanza mengerutkan keningnya


Alya tersenyum " Untuk menghapus sisa air mata kamu" bisiknya membuat Khanza melotot

__ADS_1


" Kakak!"


" Kita ini sama-sama wanita, dan sepertinya ikatan batin kita cukup kuat ya!" seloroh Alya membuat Khanza tertawa seketika


Namun tiba-tiba tawa Khanza pun pudar tatkala seseorang datang menghampirinya.


" Kamu gadis yang tadi di taman kan?" tanya Mila yang sudah berdiri di hadapan Khanza


Khanza hanya diam saja enggan menimpali


" Hei, kamu itu kalau ditanya dijawab dong!" kesal Mila


" Kalau iya kenapa memangnya mba?" tanya Khanza balik


" Kamu memakai seragam sekolah pastinya kamu masih sekolah kan?" tanya Mila ketus


" Mila ayok duduk jangan cari masalah" ucap Aldy menarik tangan Mila


" Sebentar mas, apa mas enggak heran dia itu masih sekolah tapi duduk di sini untuk apa coba? jangan-jangan dia itu hamil diluar nikah mas!" ucap Mila membuat Aldy geram


" Cukup Mila jaga bicaramu, itu bukan hak kamu menilai seseorang dan ikut campur urusan orang lain" bentak Aldy membuat netra semua orang yang berada di ruangan tersebut melihat kearah Khanza dan Mila bergantian.


" Tapi mas dia itukan murid kamu, alangkah baiknya kamu beritahu pihak sekolah kalau gadis ini ternyata hamil" ucap Mila sinis


" Cukup mbak.... mbak ini siapa sih main asal bicara saja!" ucap Alya yang langsung beranjak dari duduknya


" Mba itukan sedang hamil apa tidak sebaiknya dijaga ya ucapannya. jangan sembarang bicara mbak kalau tidak tahu apa-apa tentang gadis ini" ucap Alya menyentuh bahu Khanza


Khanza enggan berkomentar ia ingin tahu bagaimana sikap Aldy selanjutnya.


" Masnya juga sebagai suami tuh harusnya di ajari isterinya agar tidak menyinggung perasaan orang lain apalagi sesama wanita" cerocos Alya


Aldy meneguk salivanya dengan kasar melihat Khanza yang tersenyum miring.


Seorang suster keluar dari ruangan dan memanggil nama Mila Kamila.


" Mas ayok masuk, namaku sudah dipanggil!" ucap Mila saat mendengar suster memanggil namanya


" kamu saja yang masuk!" ucap Aldy dingin


" Tapi mas anak ini ingin ayahnya menengoknya mas" ucap Mila manja


Jlepp


Khanza mendongak dan menatap kearah Aldy dengan tatapan yang sulit di artikan


" Jangan asal bicara kamu Mila"


" Tapi mas, ayo dong mas!" rengek Mila manja membuat Khanza semakin muak berada di antara mereka


" Pak sebaiknya temani isterinya itu kasihan anaknya pingin juga ditengok oleh ayahnya" ucap Khanza yang langsung membuat Aldy melotot tak percaya


" Tuh dengarkan mas, murid mas aja pengertian. walaupun anak kamu sendiri tidak bisa di tengokin oleh ayahnya ya!" ucap Mila menyindir Khanza


" Makanya kalau masih sekolah jangan macam-macam, kasihan kalau di gugurin" tambahnya lagi


" Cukup Mila, ayok masuk!" ucap Aldy


" Tunggu sebentar!" ucap Alya saat Aldy dan Mila hendak pergi


" Mbaknya dari tadi ngomongnya gak disaring ya!" kesal Alya walaupun Khanza sudah menggeleng


" Gak apa-apa, kamu diam saja!" ucap Alya


" Mbaknya dari tadi menghina adik saya terus, sebenarnya mbak ini siapa sih dan atas dasar apa mbaknya mengatakan adik saya ini hamil bahkan bilang hamil di luar nikah, apa mbaknya melihat tanda-tanda adik saya ini hamil?" kesal Alya


" Dari tadi saya diam berusaha untuk sabar tapi mulut mbaknya yang lama-kelamaan gak ada sopan santunnya."


" Adik saya Khanza ini ada di ruang pemeriksaan kandungan bukan berarti dia juga dalam keadaan hamil tapi dia disini itu sedang menemani saya periksakan kandungan saya. jadi tolong ya mas dan mbaknya itu mulut dijaga kalau ngomong" cerocos Alya membuat Mila dan Aldy terdiam


" Sudah cepat sana masuk, jangan bikin yang lain juga kelamaan menunggu!" ucap Alya


Aldy terdiam lalu Mila menarik tangannya paksa agar ikut masuk kedalam ruang periksaan


" Mila masuk sana, jangan paksa aku masuk kalau tidak aku akan meninggalkan kamu sendirian di sini?" ancam Aldy


" Tapi mas!"


" Cepat atau tidak sama sekali"


" Baiklah mas" Mila masuk ke dalam ruangan tersebut dengan gontai kesal itu sudah tentu dan sebelum masuk ia melirik Khanza dengan sengit.


Aldy beranjak dari duduknya dan menghampiri Khanza setelah memastikan Mila sudah masuk ke dalam ruang pemeriksaan


" Kita harus bicara!" ucap Aldy membuat Khanza dan Alya spontan menatap ke sumber suara


" Mau bicara, ya bicara saja!" ucap Khanza santai


" Khanza Az-Zahra!"


" Sudahlah pak, saya capek saya tidak mau berurusan dengan isteri bapak. !" ucap Khanza pelan


" Kamu _?" kesal Aldy


Khanza tidak menghiraukan kekesalan yang terlihat di wajah Aldy dengan santainya dia mengajak berbincang Alya apa saja seputar kehamilannya dan hal itu membuat Aldy semakin kesal dengan perasaannya yang tidak karuan.


" Aku kecewa kepada mu mas, sangat kecewa walaupun aku tahu dia itu adalah adik iparmu tapi tidak seharusnya kamu sampai melakukan hal sejauh ini mas, atau jangan-jangan_?"


" Astaghfirullah" Khanza beristighfar berkali-kali menjauhkan rasa curiga yang belum tentu kebenarannya.

__ADS_1


Khanza tidak mau menghakimi suaminya begitu saja tapi perlahan ia ingin suaminya sendiri yang menjelaskan dan segera menjauh dari wanita yang menurut Khanza ulat kegatelan


__ADS_2