
" Assalamu'alaikum!" ucap Aldy seraya berjalan menghampiri Khanza.
" Wa'alaikum salam!" jawab semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut dengan kompak
" Pak!" ucap Nicko seraya beranjak dari duduknya dan memberikan ruang untuk Aldy duduk di samping Khanza
" Silahkan pak!"
" Hem!" jawab Aldy dengan malas.
Khanza menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah sang suami yang dia yakini pasti sedang menahan marah.
" Mas kapan sampai?" tanya Khanza sedikit takut-takut
" Baru saja" jawab Aldy singkat
" Bagaimana keadaan kamu?"
" Alhamdulillah sudah baikkan"
" Syukurlah" Aldy menatap lekat wajah Khanza yang masih menundukkan pandangannya
" Apa karena dia sudah menjengukmu? aku larang bertemu sampai jatuh sakit dan setelah bertemu langsung sembuh, segitu kangennya kamu sama dia" bisik Aldy
Jlepp
Khanza langsung mendongak menatap Aldy, sungguh tidak disangka Aldy berkata sepedas itu.
" Apa maksud mu mas?" tanya Khanza
" Ya sudah kalau keadaan mu sudah baik-baik saja, aku pamit. semoga cepat sembuh!' Aldy merasa malas dengan situasi yang ada. jauh-jauh ia bela-belain pulang demi melihat keadaan isteri yang sangat ia rindukan tapi ternyata isterinya tengah asik bersama cinta yang berkedok sahabat.
" Mas kamu mau kemana?" tanya Khanza sedikit berbisik
" Pulang, disini juga percuma. sudah ada yang jagain kamu kan" sahut Aldy yang juga sedikit berbisik dengan raut wajah kecewa
" Astaghfirullah halazim!" Khanza menghela napasnya berat
Karena merasa tidak nyaman Miska yang mengetahui posisi Khanza yang terlihat dalam situasi yang tidak baik-baik saja, akhirnya memilih untuk mengajak teman-temannya pulang.
" Emm... gaess pulang yuk udah ada pak Aldy ini disini!" ucap Miska
" Yaudah yuk!" Hana yang mengerti maksud Miska langsung beranjak dari duduknya diikuti oleh Nana dan juga Nicko sementara Billy masih bingung dengan situasi yang ada di hadapannya
" Gak usah bingung nanti gue jelasin!" bisik Nicko yang langsung merangkul bahu Billy
Mereka akhirnya berpamitan kepada Khanza dan juga Aldy.
" Maaf pak kami duluan !" ucap Miska
" Za cepat sembuh ya!" ucap Miska lagi mengarah kepada Khanza
" Terima kasih ya semuanya, maaf jadi ngerepotin!" ucap Khanza yang merasa tidak enak dengan temannya
" Santai Za, yang penting loe cepat pulih dan kembali sehat. ingat Za jangan lupa makan jangan telat lagi!" ucap Nicko penuh perhatian Aldy yang mendengar kata-kata Nicko semakin geram andai ini bukan di rumah sakit dan jika dia bukan muridnya mungkin Aldy sudah memberi pelajaran kepada Nicko yang sok perhatian kepada isterinya.
" Thanks ya Ko!'
" Sama-sama, yaudah kita-kita pamit ya Za, cepat sembuh!"
" Mari pak !"
" Hem" jawab Aldy dingin
Setelah semua sahabatnya pergi Khanza menatap nanar ke arah suaminya yang sempat menuduhnya yang tidak-tidak.
" Apa maksud mas tadi?" tanya Khanza kesal
" Yang tadi mana?" tanya Aldy pura-pura tidak tahu
" Apa maksud mas menuduh aku sakit karena tidak jadi kumpul dengan teman-teman aku?"
Aldy tersenyum sinis " Memang itu kenyataannya bukan? setelah mas tidak mengizinkan kamu pergi bersama teman-teman mu itu tepatnya Nicko kamu langsung jatuh sakit seperti ini"
Khanza melotot tidak percaya dengan apa yang dituturkan oleh suaminya.
" Mas menuduhku dengan sesuatu yang tidak beralasan" bulir bening tiba-tiba meluncur begitu saja di wajah pucatnya
Aldy menghela napasnya dan mengusap wajahnya kasar.
" Apa sebegitu buruknya aku dimata mas Aldy sampai berpikir sejauh itu?"
" Apa salah jika aku ingin sekedar berkumpul dengan sahabat-sahabat aku? aku kenal mereka jauh sebelum aku mengenal mas dan jika pun Nicko memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat aku rasa itu haknya. tidak ada yang bisa mencegah seseorang menempatkan hatinya pada siapa. itu semua murni dari sang pemilik hati yang bisa dengan mudahnya membolak-balikkan hati seseorang"
" Nicko sudah tahu hubungan kita mas dan dia tahu harus menempatkan dirinya di mana. Apa yang sudah terjadi dulu sebagai pelajaran dan kamu memutuskan untuk kembali menjalin persahabatan. karena memang dari dulu hanya sekedar sahabat tidak lebih" ucap Khanza panjang lebar dengan gemuruh di hatinya menahan rasa sesak di dadanya.
" Mas terlalu jauh berpikir, mas tidak sadar ucapan mas sangat menyakitkan" ucap khanza Jujur lalu berbaring membelakangi Aldy
Setelah mendengar penuturan sang isteri Aldy terdiam sejenak mencerna setiap kata-kata yang di lontarkan Khanza.
" Akh....!" Khanza memeluk perutnya yang tiba-tiba terserang rasa sakit
Aldy yang mendengar rintihan Khanza langsung menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat sang isteri meringis kesakitan
__ADS_1
" Kamu kenapa sayang?" tanya Aldy panik
Khanza diam saja tidak menjawab pertanyaan Aldy, rasa sakit diperutnya membuatnya merasa tidak nyaman.
" Akh..!" Khanza kembali meringis membuat Aldy semakin cemas
" Sayang kamu kenapa, biar mas panggilkan dokter ya!"
Khanza tidak menghiraukan pertanyaan Aldy rasa kesal dan kecewanya lebih dominan saat ini.
Aldy menekan tombol yang berada di atas kepala tempat tidur Khanza untuk memanggil dokter.
Setelah beberapa menit seorang dokter dan perawat datang ke ruangan Khanza.
" Dokter tolong isteri saya dok, kenapa dia meringis kesakitan di perutnya dok?" tanya Aldy kepada dokter yang menangani Khanza dengan penuh rasa khawatir.
" Sebaiknya bapak keluar dulu, biar kami periksa keadaan pasien terlebih dahulu pak" ucap sang dokter
" Tidak dokter, izinkan saya tetap disini menemani isteri saya"
" Ya sudah terserah anda saja!" dokter langsung menghampiri Khanza dan memeriksa keadaannya.
Sekitar 15 menit sang dokter memeriksa keadaan Khanza dan bertanya beberapa hal kepadanya.
" Bagaimana dokter?" tanya Aldy setelah dokter selesai memeriksa kondisi kesehatan Khanza.
" Pasien sudah kami beri obat pereda nyeri dan juga obat tidur biar pasien kembali tenang, saat ini pasien mengalami sedikit stress atau terlalu banyak pikiran jadi asam lambungnya kembali naik sehingga rasa sakit itu tiba-tiba menyerang kembali"
" Tolong ya pak selain di jaga pola makannya alangkah baiknya juga dijaga pikirannya agar tidak terlalu banyak pikiran dan membuat asam lambungnya kembali naik"
Aldy menghela napasnya berat apa yang dikatakan dokter seolah tengah menyindirnya.
" Iya dokter, saya akan berusaha untuk selalu menjaganya"
" Harus itu pak, perhatian sekecil apapun akan menjadi obat paling mujarab untuk pasien" ucap dokter yang langsung pamit pergi bersama perawat yang mendampinginya.
Setelah dokter pergi Aldy menatap lekat wajah pucat sang isteri. Aldy yang duduk di bangku samping brankar Khanza menggenggam erat tangan Khanza dan sesekali mengecupnya
" Maafkan mas sayang, semua karena mas yang terlalu cemburu dengan anak itu. mas terlalu mencintaimu dan takut kehilanganmu" ucap Aldy lirih
" Cepat sembuh sayang!" Aldy mencium kening Khanza
Setelah beberapa jam tertidur Khanza menggeliat dan membuka kedua matanya dengan sempurna. Khanza melihat kesekeliling ruangan yang nampak sepi lalu dia merasakan tangannya berat seperti tertindih.
Khanza melihat ke arah tangannya yang terasa berat dan seketika matanya membulat sempurna saat netranya menangkap sosok yang belum lama beradu mulut dengannya.
" Astaghfirullah... ini orang kenapa tidur disini sih?" kesal Khanza yang perlahan menarik tangannya namun nihil Aldy menggenggamnya sangat erat.
Sebenarnya ada rasa tidak tega untuk membangunkannya tapi mau bagaimana lagi tangannya terasa semutan karena terlalu lama didekap oleh Aldy.
" Mas tanganku sakit!" teriak Khanza karena sudah berapa kali dibangunkan Aldy tetap bergeming membuat Khanza semakin kesal
" Apa, sakit?"
"Yang mana?" Aldy nampak panik lalu mencecar Khanza dengan berbagai pertanyaan
" Tanganku sakit karena mas terlalu lama menindihnya" ucap Khanza yang merasa kesal lalu memijat tangannya yang terasa sakit.
" Maafkan mas sayang" ucap Aldy sendu dengan rasa bersalah
Khanza diam saja dan masih terlihat kesal dengan Aldy
" Sini mas pijitin ya!" tawar Aldy meraih tangan Khanza untuk dipijatnya
" Tidak perlu!" Khanza menarik tangannya kasar dan masih merasa kesal bila teringat dengan ucapan suaminya yang menuduhnya yang bukan-bukan.
" Iya mas mengaku salah, maafkan mas sayang yang sudah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati kamu. maaf karena mas terlalu cemburu!" lirihnya.
" Iya, jujur aku kecewa sama mas, tidak seharusnya mas memliki pikiran sedangkal itu. karena hal itu sama saja mas menuduhku yang bukan-bukan, sama saja mas tidak mempercayai ku " tanpa diminta setetes air mata meluncur di pipi mulusnya.
" Iya mas mengaku salah dalam hal ini, mas mohon beri mas kesempatan, mas tidak akan mengulanginya lagi. mas percaya sama kamu" Aldy meraih tangan Khanza dan kali ini Khanza tidak menolak
" Saat tahu kamu sakit, mas kerja pun tidak tenang dan untung saja asisten pak Azka begitu perhatian dan juga pengertian jadi dia mengizinkan mas untuk pulang "
" Wanita?" tanya Khanza tiba-tiba terucap begitu saja dari bibir tipisnya.
" Laki-laki" jawab Aldy dan sedetik kemudian
" Kenapa, apa kamu cemburu, Hem?" tanya Aldy membuat wajah Khanza merona
" Cemburu? untuk apa aku cemburu jangan ge'er deh!" Khanza memalingkan wajahnya menutupi wajahnya yang nampak merah bak kepiting rebus.
" Ya udah kalau tidak cemburu, tidak apa-apa!" sahut Aldy mengulum senyumnya.
" Sekarang istirahatlah sayang, mas akan menemani kamu disini. jangan berpikir yang macam-macam lagi ya, mas minta maaf tentang yang tadi"
" Mas menyesal sayang karena rasa cemburu mas melebihi pola pikir mas"
" Yaudah tidak apa-apa mas, tapi aku tidak mau istirahat terus mas, aku lapar!" jawab Khanza dengan memberengut
" Oh ya ampun isteri mas ternyata lapar, maaf ya sayang mas enggak tahu"
" Kamu mau makan apa hem?" tanya Aldy dengan lembut
__ADS_1
" Nasi goreng boleh?" tanya Khanza
" Emmm mas enggak tahu sayang boleh atau tidak, sebentar ya mas tanya suster jaganya dulu!" Khanza mengangguk dan Aldy beranjak dari duduknya pergi menemui salah satu perawat.
" Permisi sus!" ucap Aldy saat menemui suster jaga
" Iya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya suster tersebut dengan sopan
" Begini dokter isteri saya ingin makan nasi goreng apa boleh sus?" tanya Aldy
" Pasien atas nama ibu Khanza?" tanya suster
" Iya sus" jawab Aldy cepat
" Boleh saja pak asal tidak pedas"
" Begitu ya sus, terima kasih ya sus"
" Sama-sama pak!"
" Selama makanan tidak mengandung soda atau gas itu aman untuk lambung Bu Khanza terutama pedas dan asam itu sangat dilarang ya pak' ucapnya lagi
" Baik sus, terima kasih"
" Sama-sama pak, apa ada lain lagi yang ingin bapak tanyakan?"
" Tidak sus, saya rasa sudah cukup"
Aldy kembali ke ruangan Khanza untuk memberi tahu sang isteri
" Kak Aldy kok ada di sini, bukannya berada di luar kota ya?" tanya Izan yang baru saja datang dan bertemu dengan Aldy di dekat kamar Khanza di rawat.
" Iya, kakak khawatir dengan keadaan kakak kamu jadi kak Aldy memutuskan untuk pulang"
" Oh begitu, baguslah kakak pulang setidaknya bisa menemani kak Khanza"
Aldy mengangguk lalu tersenyum tipis
" Yaudah kamu masuk gih temani kakakmu dulu"
" Loh kak Aldy memangnya mau kemana?" tanya Izan
" Kak mau cari nasi goreng dulu, kakakmu lapar katanya pingin makan nasi goreng"
" Apa boleh kak?" tanya Izan khawatir
" Baru saja kakak nanya suster jaga katanya boleh asal tidak pedas" jawab Aldy dan Izan mengangguk mengerti
" Kalau begitu kak Aldy gak usah kemana-mana ini Izan bawa nasi goreng buatan ibu tidak pedas kok tadi Izan juga sempat mau bertanya dulu sama susternya sebelum memberi ke kak Khanza"
" Wah bisa pas ya!' Aldy nampak lega
" Filling ibu sangat kuat kak" ucap Izan
" Iya kamu benar Zan, salut sama ibu benar-benar hebat bisa tahu keinginan putrinya"
" Iya kak, selain itu kak Khanza memang penyuka nasi goreng dan kalau lagi tidak enak badan selalu minta nasi goreng terutama nasi goreng buatan ibu" ucap Izan
" Oh seperti itu, kak Aldy akan belajar membuat nasi goreng dengan ibumu, agar kalau kakak mu ingin makan nasi goreng kakak bisa membuatkannya sendiri"
" Bagus itu kak, yaudah yuk masuk nanti kelamaan di luar kakak bisa marah" ajak Izan lalu membuka pintu kamar tersebut.
Ceklekk
" Assalamu'alaikum!" ucap Izan
" Wa'alaikum salam" jawab Khanza
Izan masuk ke dalam ruang perawatan Khanza dan Aldy mengekor di belakangnya.
" Izan bawain nasi goreng buatan ibu" ucap Izan seraya meletakkannya di atas nakas
"Wah kebetulan sekali ya mas" ucap Khanza sumringah
" Iya sayang, tadi pas mau beli nasi eh ketemu Izan didepan dan memberitahu kalau dia bawa nasi goreng buatan ibu jadi mas gak jasi deh beli nasi gorengnya." ucap Aldy cengengesan
" Yaudah ayok kita makan bareng mas, Izan juga!"
" Izan sudah kenyang kak, sebelum kesini Izan sudah makan. kak Aldy aja tuh barang kali belum makan dari pagi" ucap Izan
" kamu sepertinya benar Zan, mas kamu belum makan kan?" Aldy tersenyum dan mengangguk
" Yaudah yuk makan!" ajak Khanza
" Iya kamu aja yang makan duluan, mas nanti aja!" tolak Khanza secara halus
"Yaudah kalau begitu mas,aku gak jadi makan " Khanza merajuk"
" Ya ampun sayang jangan dong, yaudah iya mas makan"
Dengan telaten Aldy menyuapi Khanza makan dan sesekali ia masukkan satu suapan ke dalam mulutnya sendiri.
Akhirnya mereka makan dalam satu piring bersama sampai nasi goreng tersebut tandas tiada yang tersisa.
__ADS_1