Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Guling Besar


__ADS_3

Di sebuah kamar yang tidak kalah besar dengan kamar milik Azka dan Zaira sepasang suami istri yang masih berstatus pelajar ini tengah duduk di tepi tempat tidur dengan pikiran mereka masing-masing.


Mario dan Lia nampak begitu kaku dan Canggung status mereka yang sudah sah menjadi pasangan halal malah seakan membuat keduanya merasa canggung dan salah tingkah.


Lia berusaha untuk menetralkan degup jantungnya yang sedari tadi sudah berdegup tidak karuan begitu juga dengan Mario yang biasanya bersikap cuek dan santai malam ini justru terlihat sangat jauh berbeda.


Mario hanya diam memandangi Lia yang sepertinya hendak beranjak dari duduknya. melihat Mario yang masih diam saja Lia memutuskan untuk membersihkan dirinya lebih dulu.


" Emm... io aku mau bersih-bersih dulu ya" ucap Lia membuyarkan lamunan Mario yang masih menatap lekat wajah cantik gadis yang kini tengah menyandang status istrinya.


" Ah iya!" sahut Mario tersenyum kaku.


Lia pun pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan didalam kamar mandi Lia tidak lagi bisa menahan tawanya teringat dengan ekspresi wajah Mario yang berbeda dari biasanya.


Sudah hampir 30 menit Lia berada di dalam kamar mandi dan hal itu tentu saja membuat Mario mendengus kesal


Tok


Tok


Tok


Mario mengetuk pintu kamar mandi yang masih belum juga terbuka.


" Ly my Lily apa kamu baik-baik aja di dalam?" tanya Mario cemas


Ceklekk


Pinta kamar mandi terbuka menyembulah dari balik pintu Lia dengan menggunakan bathrobe.


Seketika Mario diam membeku menatap Lia dari atas sampai ke ujung kaki.


" Sudah sana mandi dulu. setelah itu istirahat rasanya capek banget ya hari ini. air hangat pun sudah aku siapkan kamu tinggal mandi saja" ucap Lia membuat Mario terkesiap dari otaknya yang sudah berkelana keangkasa.


" I.. iya, aku mau mandi dulu" ucap Mario sedikit canggung dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Lia mengulum senyumnya melihat tingkah Mario yang menurutnya sangat menggemaskan itu, Lia berjalan menuju lemari pakaiannya lalu berganti baju tidur dan diapun tidak lupa menyiapkan baju ganti untuk Mario yang sebelumnya memang sudah disiapkan didalam koper oleh art keluarga Alexander untuk dibawa ke kediaman keluarga Dinata.


Lia naik ke atas tempat tidur merebahkan tubuhnya karena merasa sangat lelah hari setelah menjamu para undangan yang katanya hanya sedikit tapi ternyata hampir seluruh keluarga besar Dinata dan Alexander datang semua menyaksikan putri sulung keluarga Dinata dan putra tunggal keluarga Alexander.


Lia sudah memejamkan matanya dan terlelap begitu saja mungkin karena faktor kelelahan sehingga Lia melupakan keberadaan suaminya dan malah tidur lebih dulu.


Ceklekk


pinta kamar mandi terbuka Mario keluar kamar mandi lalu berjalan menghampiri Lia yang tengah tertidur dengan begitu nyenyaknya.


" Ternyata dia sudah tidur!" gumam Mario tersenyum tipis Mario menyadari rasa lelah yang Lia rasakan. Mario lalu ikut naik ke atas tempat tidur dan seketika ikut terlelap bersama Lia. mungkin rasa lelah keduanya sudah mendominasinya jadi tanpa bisa mereka tahan rasa ngantuk itu datang dan langsung membawanya ke alam bawah sadar.


Lia tanpa sadar memeluk Mario dengan sangat posesif dia mengira Mario tidak lain adalah sebuah guling. merasa gulingnya memberi kenyamanan Lia semakin mengeratkan pelukannya dan tentu saja hal itu membuat Mario yang tengah asik terlelap seketika terusik karena merasa seperti ada benda berat yang menindihnya.


" Berat banget sih!" Gumam Mario dan sedetik kemudian ia baru teringat statusnya dan tersenyum simpul membiarkan sang isteri menjadikan dirinya sebagai guling hidup.


Malam pertama mereka pun kini sudah berganti pagi, Lia merasa tidurnya malam ini terasa sangat nyaman dan membuatnya sampai tertidur begitu pulas namun berbanding terbalik dengan Mario yang justru tidak bisa tidur sampai pagi menjelang Mario baru bisa memejamkan mata.


Lia menggeliat dan mengerjapkan matanya ia merasakan guling yang ia peluk terasa berbeda dari guling yang biasanya ia peluk. " Kenapa gulingnya terasa hangat dan lebih besar ya ?" batin Lia meraba-raba guling besar itu spontan membuat si guling besar bergerak karena merasa geli dan sensasi yang berbeda ketika ada yang meraba-raba tubuhnya dan sedetik kemudian.


" Huwaaaaa....!" Teriak keduanya karena keterkejutan masing-masing yang tiba-tiba dilanda amnesia dengan status barunya.


" Io kok loe bisa ada disini, jangan-jangan loe_?" tuduh Lia yang langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menatap tajam ke arah Mario yang sudah terjun bebas dari atas kasur dan kini terkulai di lantai merasakan panas bokongnya yang ciuman dengan lantai.


" Io!" kesal Lia yang melihat Mario masih diam saja.


" Sudah marah-marahnya ? bukannya nolongin tapi malah ngoceh-ngoceh kayak gitu. apes banget sih sudah malam pertama ditinggal tidur eh paginya di hempas ke lantai" ucap Mario dengan wajah cemberut dan Lia yang mendengar semua itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya setelah teringat sesuatu yang sudah ia lupakan.

__ADS_1


" Io, ma.. maaf!" ucap Lia lirih dan memberingsut ikut duduk di lantai dihadapan Mario membuat Mario berusaha untuk menahan tawanya dan masih memasang wajah datar pura-pura marah.


" Io, maaf aku lupa kalau kita itu_" ucap Lia memotong ucapannya.


" Kita apa?" tanya Mario dengan nada yang dibuat kesal


" Ya maaf kalau aku lupa kita sudah menikah" ucap Lia sambil menunduk. " Tapi kamu juga yang salah kenapa gak mengingatkan aku" lanjut Lia yang malah kembali dengan mood juteknya.


" Loh kok kenapa jadi salahin aku sih, kamu aja tuh suami belum tidur udah tidur duluan" ucap Mario tidak mau disalahkan oleh Lia.


" Ya karena aku kecapean terus ketiduran deh" bela Lia lagi yang tetap tidak mau mengalah.


" Duh begini ya kalau udah punya suami ternyata!" keluh Lia membuat Mario spontan langsung berdiri dengan menatapnya tajam.


" Maksud kamu apa bilang seperti itu, jadi kamu menyesal sudah menikah dengan ku?" tanya Mario dengan nada yang sudah sedikit meninggi.


Lia ikut beranjak dan berdiri dengan tidak mau kalah dengan Mario.


" Cihh, ternyata ini sifat aslinya, suka marah-marah" gumam Lia yang masih terdengar oleh Mario.


" Aku gak akan marah jika kamu tidak memulainya" ucap Mario membela diri.


" Aku tidak memulainya, aku hanya terkejut karena melihatmu ada ada dikamar ku dan aku lupa kalau kamu sekarang adalah Suamiku" cerocos Lia yang tidak mau mengalah.


" Lupa padahal semalam sebegitu posesifnya memelukku terus membuat aku tidak bisa tidur karena_" ucap Mario menggantukan ucapannya.


" Karena apa?"tanya Lia penasaran.


" Karena kamu sudah membangunkan singa tidur sementara kamu sendirinya tidur" ucap Mario ambigu


" Mak.. maksudnya?" Lia berlagak polos padahal sedikit takut jika benar-benar dibuat polos.


" Ah sudahlah lupakan saja" kesal Mario lalu beranjak pergi masuk ke dalam kamar mandi dengan Lia yang masih berdiri mematung memandang Mario yang hilang dibalik pintu kamar mandi.


Lia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan tangannya ia letakkan di atas dadanya.


" Gue sekarang sudah sah menjadi nyonya Mario? lucu banget rasanya masih gak percaya. gue masih sekolah tapi udah bersuami ini benar-benar seperti kayak cerita di beberapa novel yang sering gue baca." Lia merasa geli sendiri dengan status barunya Lia lalu meraih bantal yang ada disampingnya dan menutup wajahnya dengan bantal tersebut.


" Apa gue bisa ya menjalani rumah tangga seperti ini, apa gue bisa seperti Zaira?" gumam Lia dari balik bantalnya.


" Gue masih berasa ini mimpi, gue adalah isteri dari seorang Mario yang bahkan dulu gak pernah terpikir sedikitpun bisa dekat-dekat dengan dia dan ternyata sekarang dia malah udah sah menjadi suami gue" ucap Lia dari balik bantalnya dan tanpa ia sadari sedari tadi ocehannya sudah di dengar oleh Mario.


" Jadi kamu menyesal menikah dengan ku, Hem?" tanya Mario membuat Lia terjingkrak kaget dan langsung menyingkirkan bantalnya dan duduk di tempat tidur dengan lidah yang tercekat.


" Kenapa hem, jadi kamu menyesal sudah menikah dengan anak pembuat onar di sekolah?" tanya Mario lagi membuat Lia tersenyum simpul.


Mario menarik alisnya sebelah merasa aneh dengan sikap Lia.


" Kau memang benar, aku menyesal sangat menyesal. ternyata begini ya sikap aslimu. aku dulu mengenalmu sebagai anak yang sangat menyebalkan dan malas jika sampai kau membuat masalah dengan ku dan untungnya hal itu tidak pernah terjadi" ucap Lia yang menjeda ucapannya.


" Aku tidak menyangka jika sekarang kamu sudah sah menjadi suami ku, aku menyesal sangat menyesal kenapa tidak mengenal dan dekat denganmu dari dulu ya, dengan begitu mungkin aku sekarang sudah seperti Za kali ya" ucap Lia yang sedikit memusingkan menurut Mario tapi dia senang karena Lia mengatakan jika dia sudah seperti Zaira berarti Lia sudah siap jika kelak benar-benar diberi kepercayaan untuk memiliki anak.


" Maksudnya bagaimana?" ucap Mario merasa bingung dengan ucapan Lia.


" Dasar bodoh" Lia beranjak dari tempat tidurnya dan menarik tangan Mario mengajaknya duduk di tepi tempat tidur.


" Aku menyesal karena kenapa kita tidak menikah saja ya sejak dulu?" ucap Lia bergelayut manja di lengan Mario.


" Ingat ya sayang aku ini sedang marah, jadi jangan meratuku seperti ini" ucap Mario membuat Lia tertawa


" Mana ada orang yang lagi marah memanggil sayang" protes Lia kembali tertawa.


" Ya gak masalah, kenapa memangnya kalau aku memanggilmu sayang Hem?" ucap Mario dengan suara yang sedikit menggoda

__ADS_1


" Emm... gak boleh, kalau sudah memanggil sayang berarti kamu tidak boleh marah lagi" sahut Lia dengan senyum yang mengembang.


" Ya sudah kalau begitu kita pending dulu ya marahnya" ucap Mario membuat Lia mendelik tajam.


" Marah macam apa seperti itu, marah ya marah tidak marah ya tidak marah, mana ada pakai acara di pending segala!" ucap Lia menjauhkan diri dari Mario


" Ya ada, kita!" ucap Mario yang langsung menarik tubuh Lia yang hendak pergi hingga jatuh ke atas pengakuan Mario.


" Kita susul Zaira, bagaimana?" ucap Mario seraya menaik turunkan alisnya.


" Menyusul Zaira? memangnya dia pergi kemana?" tanya Lia yang tidak konek dengan ucapan Mario


" Bukan menyusul pergi tapi menyusul yang ini!" ucap Mario mengelus perut Lia yang rata membuat Lia seketika bersemu merah.


" Apaan sih, kita itu masih sekolah!" ucap Lia mengingatkan.


" Memangnya kenapa, bukankah Zaira juga sama masih sekolah!" protes Mario


" Iya, tapi tidak sekarang ya. aku mau mandi dulu gak enak jika mereka semua sudah menunggu kita dibawah" ucap Lia yang melepaskan tangan Mario yang melingkar di pinggangnya.


" Tapi gak usah turun, mereka juga pasti akan mengerti kok" ucap Mario yang enggan beranjak dari kamarnya dan ingin berduaan saja dengan sang isteri.


" Kamu ini ya ternyata benar-benar mesum, untung sudah nikah" ucap Lia saat Mario kembali menariknya duduk di atas pangkuannya.


" Karena itu aku ingin kita segera menikah. sebab setiap kali berdekatan dengan mu otakku selalu tidak bisa fokus dan takut kebablasan. kalau sekarang bablas juga tidak apa-apa kan sudah halal" ucap Mario yang perlahan sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Lia dan semakin tidak berjarak sedetik kemudian mereka hendak melepaskan hasratnya yang tertunda namun tiba-tiba terdengar ketukan dari luar membuat keduanya terkejut dan langsung melempar pandang.


" Tuh kan!" gumam Lia pelan lalu beranjak dari pangkuan Mario


" Ya sudah kamu mandi gih biar aku yang buka pintunya" ucap Mario berdiri lalu berjalan ke arah pintu sedangkan Lia sudah melesat masuk ke dalam kamar mandi.


Ceklekk


pintu kamar Lia terbuka dan nampak seorang wanita berdiri di depan pintu dengan perut yang membuncit.


" Duh adik ipar kenapa tuh muka kusut bener, kurang apa semalam?" goda Zaira membuat Mario memutar bola matanya malas.


" Ada apa?" tanya Mario tidak menggubris ucapan Zaira


" Lia mana?" tanya Zaira yang menggeser kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Lia di dalam kamar.


" Sedang mandi" ucap Mario


" Sayang!" panggil Azka yang sudah berdiri di belakang Zaira.


" Mas sudah selesai?" tanya Zaira dan Azka tersenyum dan mengusap pucuk kepala Zaira dengan lembut.


" Ayok kita turun" ajak Azka pada Zaira


" Iya mas" sahut Zaira lalu menoleh ke arah Mario yang masih berdiri di ambang pintu.


" Bilang pada Lia untuk cepat turun. jangan lama-lama pending dulu aja mainnya" goda Zaira menahan tawa membuat Mario enggan menimpali karena merasa malu pasalnya kakak iparnya adalah guru di sekolahnya. bagaimana dia bisa bicara masalah hal seperti itu didepan gurunya.


" Sudah sayang, jangan menggodanya terus" Azka langsung menarik bahu Zaira dan mengajaknya turun.


" Cepat turun!" ucap Azka sebelum pergi kepada Mario yang langsung di angguki oleh Mario.


" Baik pak!" ucap Mario spontan membuat Azka mengernyitkan alisnya lalu kembali berjalan menuntun sang isteri menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati.


Mama Maria dan bunda Aryani tersenyum melihat sikap perhatian yang Azka berikan kepada Zaira. ada rasa lega di hati mereka melihat anak dan menantunya yang begitu terlihat harmonis dan romantis.


Azka menarik kursi untuk Zaira duduk dengan penuh perhatian Azka pun melayani sang isteri, menyendokkan nasi dan lauk pauknya. Zaira awalnya menolak tapi dengan kekeh Azka tidak mau ada penolakan bagi Azka dengan keadaan Zaira yang tengah mengandung buah hati mereka sudah membuat Zaira cukup memberi beban kepada sang isteri dan Azka tidak mau menambah beban Zaira dengan melayaninya makan yang masih bisa dia kerjakan sendiri.


Azka berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk sang isteri berusaha untuk menjadi suami yang selalu siaga agar isterinya merasa nyaman disaat menjalani kehamilannya yang masih di usia dini.

__ADS_1


Papa Sam merasa bangga dengan sikap putranya yang begitu memperhatikan sang isteri. papa Sam tersenyum bahagia.


Disaat semua pandangan mata mengarah pada Zaira, pasangan pengantin baru datang dengan wajah berseri-seri membuat semuanya kini beralih menatap kedua pasangan suami istri yang berstatus pelajar itu.


__ADS_2