
Lia kini sudah berada di rumah mama Maria, Mario terpaksa cuti kuliah karena tidak ingin meninggalkan Lia sampai benar-benar sehat. Lia sudah melarangnya karena itu bisa menghambat kegiatan belajar Mario kedepannya tapi Mario tetap tidak memperdulikan hal itu karena yang ada di pikirannya saat ini hanya kesehatan dan keselamatan Lia dan calon bayi mereka.
Lia merasa sangat bersyukur mendapatkan perhatian yang begitu besar dari Mario. walaupun terkadang Mario selalu bersikap prosesif dan membuatnya kesal Lia tetap merasa bahagia.
Seperti halnya pagi ini Mario begitu posesif tidak membiarkan Lia berjalan keluar kamar tanpa dirinya. Mario tanpa rasa malu memperlakukan Lia bak putri raja dia menggendong Lia hanya untuk menuruni anak tangga padahal Lia masih bisa melakukan hal itu sendiri tapi Mario tidak mau mengambil resiko dia tidak ingin isteri tercintanya kelelahan.
" Io turunkan aku, malu ih ada mama sama papa" Lia memberontak namun Mario tidak mempedulikannya.
" Diam atau aku cium di hadapan mama sama papah!" ancam Mario membuat Lia langsung melotot
" Jangan macam-macam Io!" Lia mendengus kesal dan pasrah
" Begitu dong diam kan bagus!" senyum pun terbit di wajah Mario
" Duh romantisnya!" goda Zaira yang baru saja datang bersama Azka dan bunda Aryani yang tengah menggendong baby Zia
" Io turunkan aku, malu ada bunda juga!" ucap Lia yang kembali protes.
" Tidak apa-apa nak Lia itu bagus tandanya nak Rio itu suami yang siaga dan perhatian!" ucap bunda Aryani.
Mario sudah menurunkan Lia dari gendongannya dan Lia langsung menghampiri bunda Aryani untuk menyalami tangannya begitu juga dengan Mario.
" Sudah besar ya, berapa bulan?" tanya bunda Aryani mengusap perut Lia yang kini sudah nampak menonjol
" Emm... jalan 14 Minggu bund!" jawab Lia
" Semoga nak Lia dan dedek bayi selalu diberi kesehatan ya sayang dan lancar dalam kehamilannya" do'a bunda Aryani untuk Lia
" Amin, terima kasih ya bund!" jawab Lia tersenyum
Mereka kini tengah berada di taman belakang hanya Azka yang tidak ada karena dia sudah berangkat ke sekolah dan Zaira untuk sementara libur karena masih ingin bersama bundanya sebelum berangkat ke kota x
❄️
Disekolah
" Za gak masuk lagi ya?" tanya Mona
"Kayaknya sih iya!" sahut Mita
"Iya, Za gak masuk hari ini karena besok bundanya mau pergi ke kota x bersama mertuanya dan kata Za gak tahu bundanya akan tinggal berapa lama disana" timpal Mia yang baru saja mendudukkan dirinya di bangku tempat Lia dan Zaira.
"Loe tau darimana?" tanya Mita
" Za semalam yang bilang, gue semalam ngechat dia dan nanya dia sekolah apa gak!" sahut Mia
"Terus bagaimana keadaan Lia?" tanya Indah
" Lia sudah pulang dan sekarang berada di rumah orangtuanya" jawab Mia lagi
" Bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita ke rumah Lia?" usul Indah
" Boleh" sahut Mona
"Oke,setuju" Mita mengacungkan ibu jarinya
__ADS_1
" Gue sih ikut aja!" Mia menimpali
" Kok kita gak diajak?" suara bas mengagetkan mereka berempat.
" Dion, Yoga ngagetin tau gak sih kalian" kesal Mia
" Pada serius banget ngomongin apa sih emangnya?" tanya Yoga yang sudah duduk di ujung meja Mona
" Kita mau ke rumah Lia sepulang sekolah" Jawab Mona
" Boleh ikut?" tanya Yoga
" Ikut aja " sahut Mita
" Gue juga mau ajak kak Sendy dulu deh!" ucap Mia yang meraih ponselnya lalu menghubungi Sendy
" Kak Sendy pasti masih sibuk dengan urusan kantor Mi, gak usah ganggu pekerjaannya" ucap Mita membuat Mia menghentikan kegiatannya yang tengah menghubungi Sendy.
" Kita berangkat aja langsung nanti bareng mereka pulangnya baru beritahu mereka itupun kalau mereka tidak sibuk" lanjut Mita lagi
" Duh calon ibu bos bijak banget ya" ucap Mona membuat Mita mencibikkan bibirnya
" Loe memang cocok Mita dengan kak Arta, kalian pasangan yang sangat serasi. kapan sih loe dan kak Arta meresmikan hubungan kalian?" tanya Indah yang sudah tidak sabar ingin melihat Mita dan Arta bersama
" Iya Mit, kapan loe menerima lamaran kak Arta?" Mia ikut menimpali
" Berisik ah loe pada " jawab Mita malas
" Mita kak Arta itu pria dewasa, gue yakin loe tahu apa yang menjadi kebutuhan pria dewasa yang tampan dan mapan." Yoga tiba-tiba ikut bicara
" Bukan mau memojokkan loe Mita cuma gak ada salahnya loe menerima ajakan kak Arta secara Lia dan Za saja bisa kenapa loe gak ikuti saja jejak mereka" tutur Yoga kembali
" Ih jangan bahas soal kedewasaan dong gue jadi ngeri tahu" Mia tiba-tiba bergidik ngeri sendiri
" Apa hubungannya sama loe Mia?" tanya Yoga yang merasa aneh dengan sikap Mia
" Apa loe lupa kalau gue juga punya kekasih yang sudah dewasa?" tanya Mia mengingatkan pacar sahabatnya itu.
" Oiya, gue lupa kak Sendy juga sudah tua ya!" ucap Yoga sedikit meledek
" Ish sembarangan ngatain orang tua, kak Sendy itu bukan tua tapi dewasa" kesal Mia
" Cie belain ceritanya!" goda Mita
" Gak terima dia kak Sendy di bilang tua!" ucap Mona yang langsung mengundang gelak tawa sahabatnya
" Dasar loe ya pada sahabat gak ada akhlak!" Mia mencibikkan bibirnya
" Itu bibir manyun amat bu?" ledek Indah
Mia semakin cemberut ". Kalian kenapa jadi nyerang gue sih tadi itukan lagi bahas Mita sama kak Arta?" ucap Mia kembali ke topik utama
" Lah loe sendiri yang tiba-tiba ngomongin kak Sendy tua!" sahut Mita
" Mita kak Sendy itu bukan tua tapi dewasa!" protes Mia mendengar hal itu Mita tentu saja malah tertawa.
__ADS_1
" Woyy yang dibelakang jangan berisik kembali ke bangku masing-masing ada pak Aldy tuh berjalan ke sini!" teriak Edo sang ketua kelas
" Sudah sana balik ke bangku kamu!" titah Mona mendorong tubuh Yoga
" Iya sayang, met belajar ya!" ucap yoga membuat Mita yang mendengarnya memutar bola matanya jengah sementara Mona hanya tersenyum geli.
Seperti biasa pandangan pak Aldy mengarah ke meja yang biasa Zaira tempati, awalnya dia merasa senang karena saat masuk kelas ia mengira Zaira sudah masuk karena meja yang biasa Zaira tempati ada yang menduduki namun saat mengabsen murid-muridnya pak Aldy merasa kecewa karena ternyata Mia yang menempati tempat Zaira.
Kegiatan belajar mengajar pun dimulai, pak Aldy nampak kurang bersemangat dalam menjelaskan materi pembelajaran.
" Pak Aldy kenapa sih, ngajarnya kayak gak semangat gitu ya ?"bisik Mia
" Iya gue juga jadi gak ngerti tau, ngejelasinnya muter-muter" ucap Mita yang cukup pandai dalam pelajaran matematika.
" Iya, gue jadi tambah pusing nih belajar kayak gini!" ucap Mona ikut nimbrung
" Apa kalian mengerti?" tanya pak Aldy
Dan ternyata secara serempak semua murid menjawab tidak, tentu saja hal itu membuat pak Aldy terkejut bukan main dia sudah menerangkannya tapi murid-muridnya masih juga tidak ada yang paham.
" Pak maaf menurut saya penjelasan yang bapak berikan terlalu berbelit-belit jadi sangat sulit untuk kami pahami!" ucap Edo yang mewakili teman-temannya.
" Berbelit-belit kata kamu? bukan saya yang berbelit-belit tapi otak kalian saja yang lemot pelajaran semudah ini saja kalian tidak mengerti!" ucap pak Aldy tegas dan sedikit membentak
" Maaf pak tidak seharusnya pak Aldy bicara seperti itu dengan murid bapak yang memang mungkin masih tidak mengerti dengan penjelasan yang bapak terangkan tadi. Jujur saja saya pun merasa apa yang bapak terangkan terlalu sulit di cerna dan di pahami padahal pada contoh yang tertulis di buku, ada cara yang lebih mudah." tutur Mita yang ikut bicara karena tidak suka dengan cara guru baru tersebut menilai murid-muridnya.
" Kamu, siapa nama kamu?" tanya pak Aldy menatap tajam ke arah Mita.
Mita berdiri lalu memperkenalkan namanya.
" Nama saya Mita Paramita pak !" jawab Mita tegas dan berani seraya berdiri dari duduknya
" Apa kamu merasa lebih pintar dari saya hah?" bentak pak Aldy membuat semua muridnya terkejut terutama Mia, Indah dan Mona namun tidak dengan Mita. Entah kenapa gadis itu memiliki keberanian dalam menghadapi guru baru tersebut.
" Maaf pak saya tidak bermaksud seperti itu, hanya saja sebagai murid saya juga berhak untuk mengungkapkan pendapat agar teman-teman saya tidak mengalami kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas yang bapak berikan nantinya." jawab Mita dengan tegas tanpa kegugupan sedikit pun.
" Maksud kamu apa?" pak Aldy sudah beranjak dari duduknya dan berdiri bersandar pada mejanya.
" Pak sebagai guru anda juga harus bisa mengimbangi keterbatasan kemampuan murid-murid anda yang memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. jika cara yang anda berikan itu menurut anda mudah belum tentu juga cara itu mudah untuk sebagian murid bapak yang memiliki kemampuan rendah dalam pelajaran matematika" Jawab Mita.
" Guru yang bijak adalah guru yang bisa membedakan masalah pribadi dengan tugasnya. tidak akan mencampuradukkan keduanya dalam waktu yang bersamaan." ucap Mita membuat pak Aldy melotot.
" Jangan asal bicara kamu!" tegas pak Aldy
"Jika apa yang saya katakan salah saya minta maaf tapi setidaknya tolong pak Aldy rubah cara bapak mengajar hari ini seperti yang pak Aldy lakukan selama ini, mudah dipahami murid-murid yang lain dan tidak juga tidak merendahkan kemampuan murid yang lainnya." ucap Mita membuat murid-murid yang tercengang dengan keberanian seorang Mita Paramita yang tidak seperti biasanya.
Selama ini Mita memang sosok yang paling bijak diantara teman-temannya dan paling tidak suka berdebat. dia lebih suka diam daripada memperkeruh suasana, tapi hari ini Mita berbeda mendengar kata kasar yang diucapkan guru matematikanya Mita sungguh tidak terima dengan pola pikir gurunya yang dengan seenaknya mengatai muridnya sendiri padahal dia sendiri yang cara mengajarnya terlihat malas-malasan.
" Sekarang kalian kerjakan soal halaman 215 nanti kumpulkan di ruangan saya!" ucap pak Aldy beranjak dari duduknya
" Kamu!" pak Aldy menunjuk Edo
" Iya pak!" sahut Edo
" Antar keruangan saya semua tugas teman-teman kamu" ucapnya lagi yang langsung pergi begitu saja
__ADS_1