Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Lia merajuk


__ADS_3

Akibat kejadian tadi malam pagi ini Lia masih memasang wajah cemberut pasalnya Mario dengan tanpa berdosa melahap habis martabak telur yang Lia beli sementara martabak manis yang Mario inginkan malah tidak tersentuh sama sekali.


Mario sudah meminta maaf atas kekhilafannya yang tanpa menyisahkan sepotong pun martabak telur yang Lia beli dan rupanya Lia yang memang terpengaruh oleh hormon kehamilannya tidak mudah begitu saja untuk dibujuk. Mario sudah menawarkan untuk membelikannya lagi tapi Lia dengan tegas menolaknya karena dia berkata seleranya sudah hilang dan tidak menginginkannya lagi.


Mario menyesal karena sudah berbuat ceroboh tapi mau bagaimana lagi ia benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk melahap martabak telur yang terlihat sangat menggoda itu.


Lia beranjak dari tempat tidur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih, setelah selesai Lia langsung menggunakan seragam sekolahnya.


Mario yang baru saja terjaga langsung beranjak duduk di tepi tempat tidur. Mario dengan lekat menatap Lia yang sedang duduk di depan meja rias.


"Sayang!" panggil Mario dengan suara dibuat selembut mungkin.


" Sebaiknya kamu mandi sekarang, sudah siang!" ucap Lia tanpa menoleh ke arah Mario


" Sayang apa kamu masih marah" Mario beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Lia yang tengah duduk di kursi meja rias.


" Ayo dong sayang maafin aku, beneran sayang aku tuh gak sengaja, aku khilaf!" ucap Mario memeluk Lia dari belakang.


" Sudah cepat sana mandi!" ucap Lia tanpa menghiraukan ucapan Mario yang berkali-kali sudah meminta maaf.


Lia sudah rapih dengan baju seragam sekolahnya dan makeup tipis di wajah cantiknya, walaupun hari ini tidak belajar penuh tapi Lia lebih memilih untuk pergi kesekolah dan bertemu dengan teman-temannya.


Mario hanya menghela napasnya berat melihat sang isteri yang masih marah kepadanya.


Dengan langkah gontai Mario masuk kedalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan Mario sudah rapih dengan seragam yang ia kenakan membuat Lia seketika langsung beranjak dari duduknya dan keluar dari kamarnya.


Lia berjalan melewati meja makan membuat Mario yang berjalan mengekor di belakangnya mengerutkan alisnya.


" Sayang!" panggil Mario yang tidak mendapatkan respon apa-apa dari Lia yang semakin berjalan ke arah keluar.


Mau tidak mau Mario akhirnya mengikuti langkah Lia yang beranjak keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya.


" Sayang kamu belum sarapan loh!" ucap Mario saat duduk di bangku kemudi dan menoleh ke arah Lia yang memasang wajah cemberut.


" Gak selera!" Jawab Lia ketus


Mario lagi-lagi menghela napasnya yang terasa begitu berat. " Sayang walaupun kamu sedang tidak berselera kamu tetap harus makan sayang kasihan calon baby kita, dia pasti lapar setidaknya minum susu kamu dulu" Mario berusaha untuk membujuk Lia dengan lembut


" Kalau lapar aku bisa makan di kantin!" Lia membuang pandangannya ke arah jendela


" Sayang!" panggil Mario lirih

__ADS_1


" Sudahlah Io sebaiknya cepat jalankan mobilnya atau aku turun dan naik taksi sekarang!" ucap Lia dengan suara tegas.


" Iya... iya.. kita berangkat sekarang" Mario menyalakan mesin mobilnya dan langsung berangkat menuju ke sekolah.


Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan hangat seperti biasanya dan Mario pun hanya sesekali menoleh ke arah Lia tanpa berniat untuk memulai pembicaraan karena dia takut jika dia bicara yang ada Lia akan marah.


Setelah hampir 20 menit perjalanan akhirnya mobil mereka sampai di parkiran sekolah. Lia turun dari dalam mobil namun sebelumnya seperti biasa ia menyempatkan diri untuk mencium punggung tangan Mario.


Mario tersenyum tipis melihat Lia yang meraih tangannya dan menciumnya namun saat Mario hendak mencium kening Lia dengan gerakan cepat Lia sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil.


Mario hanya bisa menghela nafasnya panjang dan segera menyusul Lia.


" Sayang jalannya pelan-pelan dong, ingat kamu itu sedang hamil!" bisik Mario membuat Lia menghentikan langkahnya menatap Mario dengan tajam.


" Sayang aku kan sudah minta maaf masa kamu gak mau maafin sih yang!" Mario merangkul bahu Lia dan berharap mau memaafkannya.


" Sudah sana jangan dekat-dekat aku, tuh liat penggemar kamu ngeliatin aku sudah seperti mangsa yang ingin mereka cabik-cabik" tutur Lia menunjuk ke arah Melati yang sedang berdiri bersama bunga menatap sinis ke arah Lia.


" Apa pedulinya denganku, jika ada yang berani mendekati wanitaku aku akan menyingkirkannya sampai ke akar-akarnya" tegas Mario membuat Lia memutar bola matanya malas sementara Melati mengepalkan tangannya kuat.


" Sudah ayok jalan jangan pedulikan mereka, ingat kamu ini sedang hamil sayang!" Mario melingkarkan tangannya di pinggang Lia dan mengajaknya pergi.


" Siapa sih tuh cewek kayaknya sikap Mario beda banget sama tuh cewek?" tanya Melati yang nampak kesal dengan pemandangannya hari ini


" Pacarnya Mario?" tanya Melati yang nampak terkejut dan berusaha memperjelas apa yang didengarnya.


" Kalau tidak salah sih!" sahut Bunga.


" Sial, gue harus menyingkirkan tuh cewek dulu!" ucap Melati


" Jangan macam-macam deh loe Melati, yang gue dengar sih katanya tuh anak bukan cewek sembarangan loh" ucap Bunga mengingatkan


" Memangnya tuh cewek siapa sih, anak orang kaya gitu?" tanya Melati penasaran


" Sepertinya sih begitu, jadi jangan macam-macam deh Mel, gue gak mau dikeluarin dari sekolah ini seperti yang sudah-sudah" jawab Bunga


" Maksud loe?" Melati nampak bingung


" Lia itu kalau gue gak salah dengar ya, dia itu katanya Putri dari pengusaha besar Samuel Afrizal Dinata yang memiliki sekolah ini dan dia juga yang punya yayasan Darma Bangsa" tutur Bunga menceritakan


" Serius loe?" tanya Melati


" Gue serius, kapan sih gue bohong sama loe?" sahut Bunga.

__ADS_1


" Waww.... ini benar-benar tantangan yang luar biasa rupanya!" Melati tersenyum miring


" Sudah deh Melati jangan main-main!" Bunga nampak khawatir dengan apa yang akan Melati lakukan.


Bunga awalnya juga ingin melakukan hal yang sama seperti Melati mencoba keberuntungan dan berusaha untuk mendekati Azka namun setelah banyak teman-teman sekelasnya yang menceritakan tentang kejadian yang pernah menggemparkan satu sekolah membuat Bunga merasa sedikit ketir apalagi sewaktu dia mendengar cerita tersebut dari Lala sahabat baik dari Nia yang dikeluarkan dari sekolah dan sekarang harus mendekam di hotel prodeo.


Bunga membayangkan hal itu sudah membuat bulu kuduknya berdiri, ia tidak ingin merasakan apa yang kini telah Nia alami.


Mario dan Lia kini sudah berada di dalam kantin. awalnya Lia menolak dan bersikeras ingin langsung masuk ke kelasnya namun Mario terus memaksa dan menggunakan kata suami untuk membuat Lia akhirnya patuh juga.


Lia hanya memasang wajah memberengut pasalnya belum juga ia duduk sudah di buat terkejut dengan Mario yang sudah berhambur berlari menuju toilet.


Lia memang sengaja tidak sarapan di rumah dan berniat ingin sarapan di kantin bersama dengan sahabat-sahabatnya karena dia tahu Mario pasti tidak akan bisa mencium aroma bumbu rempah-rempah. Lia juga bahkan sudah meminta Mita dan Arta membuatkan sarapan khusus untuk Mario karena Lia tahu kalau Arta paling handal dengan yang namanya memasak.


Melati nampak terkejut saat melihat Mario berlari ke arah toilet dengan telapak yang menutupi mulutnya.


" itu Mario kenapa ya?" tanya Melati


" Apa mungkin dia sedang sakit?" Bunga bukan menjawab tapi malah balik bertanya


" Mungkin saja" Melati langsung melangkah ke arah toilet


" Melati loe mau apa? itu toilet cowok" Bunga mencekal pergelangan tangan Melati


" Loe apa-apaan sih Bunga?" kesal Melati menepis tangan Bunga


" Ini adalah kesempatan emas buat gue mendekati Mario, jadi jangan halangi gue minggir!" Melati meninggalkan Bunga begitu saja dengan perasaan khawatir.


"Huekk..... Huekk... Huekk" terdengar suara Mario yang tengah memuntahkan isi perutnya yang bergejolak untuk dikeluarkan.


" Mario muntah-muntah, wah ini benar-benar bahaya kasihan Mario" gumam melati, nampak yang tengah berdiri di depan pintu toilet laki-laki.


Mario keluar dari dalam toilet dan betapa terkejutnya Mario saat melihat Melati yang sudah berdiri di depan pintu toilet.


Mario tidak peduli dengan keberadaan Melati yang berdiri di depan toilet dan tersenyum kepadanya, rasa mual dan pusing yang dia rasakan membuat Mario tidak menghiraukan keadaan sekitar, bahkan dia melewati Melati begitu saja tidak menggubris sapaan Melati yang sok akrab menurut pandangan Mario.


Dengan gontai Mario berusaha untuk melangkah pergi menyusul Lia yang masih berada di dalam kantin, namun baru saja melangkah rasa pusing di kepalanya semakin berdenyut sehingga membuat Mario sedikit oleng dan hampir tersungkur jika tidak dengan sigap tangan seseorang meraih tubuhnya.


Mario menatap lekat ke arah tangan yang saat ini menempel dengan sempurna di lengannya, menahan tubuhnya yang hampir saja mencium lantai, pandangan Mario perlahan berpindah ke arah wajah pemilik tangan tersebut dan seketika mata Mario membulat sempurna melihat senyum diwajah cantik wanita yang melingkarkan tangannya di lengan Mario dengan senyuman yang sulit di artikan.


Glek


Entah kenapa Mario merasa sulit menelan salivanya saat melihat senyuman yang begitu menggoda dirinya. " Cantik... manis!" itu kata-kata yang ada di benaknya saat melihat senyuman manis dari wajah cantik wanita yang kini masih setia berdiri di hadapannya.

__ADS_1


" Melati!" tepukan dibahunya membuat Melati menoleh dan tersenyum.


__ADS_2