
Hari ini hari keberangkatan bunda Aryani dan kedua orang tua Azka ke kota x, Zaira merasa sedih dan berkali-kali mengusap air matanya.
Pesawat yang bunda Aryani dan kedua orang tua Azka tumpangi sudah lepas landas tapi Zaira masih belum beranjak meninggalkan bandara entah kenapa hatinya begitu gelisah dan berkali menatap ke langit memandang pesawat yang sudah tidak lagi terlihat.
" Sayang, sebaiknya kita pulang sekarang!" ajak Azka namun Zaira hanya menoleh sekilas.
" Za, pulang yuk!' kali ini Lia yang mengajak Zaira pulang
Zaira tidak menjawab tapi perlahan langkah kakinya berjalan dengan gontai. Azka yang tengah menggendong baby Zia merangkul Zaira dengan tangan kirinya.
Mereka kini sudah berada di dalam mobil tapi suasana terasa hening. Zaira hanya diam seraya pandangannya menatap ke arah luar jendela sedangkan Lia yang merasa lelah tengah tertidur di dalam dekapan sang suami tercinta.
Azka sesekali menoleh ke arah Zaira yang masih diam semenjak pesawat yang orang tua mereka tumpangi lepas landas.
" Sayang!" panggil Azka namun Zaira diam bergeming
Azka tidak tahu kenapa istrinya begitu sedih saat bunda Aryani pergi ke kota B padahal bunda Aryani sering pergi keluar kota untuk menemui orang tuanya dan tinggal di sana cukup lama. Zaira tidak pernah menampakkan kesedihannya seperti hari ini, bunda Aryani juga pergi tidak sendiri ada mama Maria dan papa Sam.
" Za loe kenapa?" tanya Lia saat mereka sudah sampai di rumah orang tua mereka.
Zaira hanya tersenyum lalu dengan langkah gontai dia berjalan menuju kamarnya.
Ceklekk
Azka masuk tanpa membawa baby Zia karena dia ingin menanyakan apa yang menyebabkan isterinya sedari tadi nampak begitu sedih jadi dia menitipkan putri kecilnya kepada Lia dan Mario.
" Sayang!" Azka duduk di tepi tempat tidur mengusap lembut pucuk kepala Zaira yang tengah berbaring.
Azka terkejut mendengar suara isak tangis sang isteri.
" Sayang kamu kenapa hem?" Azka meraih bahu Zaira dan menariknya agar Zaira yang membelakanginya bergeser menjadi menghadap ke arahnya.
Zaira beranjak dari tempat tidur dan langsung berhambur ke dalam pelukan suaminya itu.
" Kamu kenapa sayang?" tanya Azka seraya mengusap punggung Zaira dengan lembut
Zaira mengurai pelukannya dan Azka menghapus air mata Zaira yang menetes.
" Apa ada sesuatu?" tanya Azka dan Zaira menggeleng
" Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Azka lagi dan Zaira menggelengkan kepalanya kembali
" Sayang lalu kamu ini kenapa hem, kasihan loh baby Zia kalau kamu kayak gini!" ucap Azka dengan sangat lembut.
Zaira baru sadar sedari tadi ia mengabaikan putri kecilnya itu. " Mas dimana baby Zia?" tanya Zaira seraya menghapus air matanya
" Baby Zia sedang bersama Meli dan Mario" jawab Azka lalu menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Zaira.
" Sekarang kamu jawab dulu pertanyaan mas, kamu ini kenapa hem? apa mas punya salah sama kamu?" tanya Azka dengan suara selembut mungkin.
" Maaf !" cicit Zaira
" Loh kok minta maaf, memangnya kamu salah apa hem, kenapa minta maaf sama mas?" tanya Azka
" Aku juga gak tau mas kenapa, rasanya hati aku tuh gak tenang dan dari semalam aku tuh merasa gelisah mas, aku... aku takut mas!" ucap Zaira dengan suara sedikit bergetar, Azka yang melihat raut ketakutan pada Zaira langsung membawa Zaira ke dalam pelukannya.
" Tenanglah sayang, mungkin itu hanya perasaan kamu yang masih kangen sama bunda, jadi kamu tidak rela kalau bunda pergi" ucap Azka mencoba menenangkan Zaira
" Bukan seperti itu mas, bunda sudah sering pergi keluar kota tapi aku tidak pernah merasa gelisah seperti ini tapi aku tidak tahu mas kenapa tiba-tiba perasaanku setelah pesawat mereka lepas landas perasaanku semakin tidak enak mas?" Zaira kembali menitikkan air matanya.
" Sayang sebaiknya kita berdo'a saja ya semoga mereka baik-baik saja dan selamat sampai tujuan" ucap Azka yang juga turut khawatir dengan keadaan orang tua mereka tapi sebisa mungkin Azka menyembunyikan rasa kekhawatirannya.
" Sebentar lagi magrib kita sholat berjamaah ya, supaya hati kamu lebih tenang!" ajak Azka dan Zaira pun mengangguk.
__ADS_1
Zaira pergi ke kamar mandi dan bergantian dengan Azka setelah keduanya selesai merekapun menunaikan sholat magrib berjamaah.
" Bagaimana, apa sudah lebih tenang?" tanya Azka dan Zaira mengangguk lalu tersenyum
" Terima kasih ya mas!" ucap Zaira dan Azka pun tersenyum tipis
" Iya sayang, sekarang sebaiknya kita turun yuk kasihan baby Zia" Azka merangkul pinggang Zaira
" Iya mas aku bersalah pada baby Zia!" ucap Zaira sendu
" Kamu tidak salah sayang, baby Zia juga pasti mengerti kok!" ucap Azka.
Baby Zia sekarang dibantu dengan susu formula karena kesibukan sekolah Zaira membuat asi Zaira pun tidak sebanyak biasanya mungkin karena faktor kelelahan dan juga pikiran.
Zaira dan Azka memutuskan untuk memberi baby Zia susu formula agar baby Zia tidak kekurangan asupan gizi dan nutrisi tentunya.
Usia baby Zia yang kini sudah beranjak 6 bulan sudah mulai diberi sedikit MPASI. Lia yang belajar merawat bayi pun sangat senang saat baby Zia dengan lahap memakan makanannya.
Untuk sementara Zaira memang tinggal di rumah orang tua Azka dan karena itulah Zaira meminta bi Ningsih ikut bersamanya untuk mengurus baby Zia selama ia berangkat ke sekolah.
" Sayang!" panggil Zaira saat melihat Lia dan Mario tengah asik bermain dengan baby Zia.
" Za, bagaimana keadaan loe, udah lebih baikkan?" tanya Lia yang juga merasa khawatir dengan keadaan Zaira.
" Maafin gue ya Li, gue udah ngerepotin loe dan juga udah bikin loe khawatir!" ucap Zaira sendu.
Azka berjalan menghampiri Lia dan mengambil baby Zia dari pangkuannya.
Lia langsung memeluk Zaira dan mengusap punggungnya, Zaira membalas pelukan sahabat sekaligus adik iparnya itu.
Lia mengurai pelukannya lalu merapihkan anak rambut Zaira yang berantakan.
" Loe itu kayak sama siapa aja sih, loe lupa gue ini sahabat merangkap adik ipar loe jadi gak usah sungkan gitu kali. lebay tahu gak loe!" ucap Lia mendengus kesal namun membuat Zaira tertawa.
" Nah gitu dong kan enak dilihatnya, gak sendu terus kayak tadi" ucap Lia terkekeh. sementara para suami ikut tersenyum melihat keduanya tengah tertawa.
" Mas sini!" Zaira mengulurkan kedua tangannya kepada Azka meminta baby Zia yang berada di gendongannya.
" Duh maafin mamah ya sayang, mamah tadi tidak menghiraukan kamu sayang!" ucap Zaira yang kembali menitikkan air matanya.
" Sayang udah dong jangan nangis lagi, baby Zia pasti maafin mamah ya sayang." ucap Azka yang melihat Zaira kembali menangis.
" Sudah dong Za loe jangan sedih lagi, meskipun gue gak tau apa yang sudah membuat loe sedih, sekarang kita serahkan saja semuanya kepada yang diatas, baik dan buruknya hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui" ucap Lia dan Zaira mengangguk.
" iya Li, thanks ya!" Zaira tersenyum tipis
" Sama-sama Za!" Lia menepuk bahu Zaira.
" Ayok kita makan malam dulu!" ajak Lia yang sudah beranjak dari duduknya
" Ayok," Zaira pun beranjak dari duduknya seraya menggendong baby Zia yang sedari tadi tidak henti-hentinya dihujami ciuman oleh Zaira.
" Mbak Za makan malam saja duku, biar baby Zia sama saya dulu" ucap bi Ningsih
" Terima kasih ya bi!" Zaira memberikan baby Zia kepada bi Ningsih.
" Bi dikamar baby Zia tadi ada susu sudah saya buatin tolong dikasih ya bi. tadi belum sempat di kasih!" ucap Mario membuat Azka dan Zaira saling melempar pandangannya.
" Rio kamu yang buatin baby Zia susu?" tanya Azka penasaran
" Iya memangnya kenapa kak?" bukan Mario yang menjawab melainkan Lia
" Memangnya kamu bisa?" tanya Azka lagi
__ADS_1
" Kak sebenarnya dari kemarin-kemarin juga yang membuatkan baby Zia susu ya Mario. bahkan kalau Mario yang buat baby Zia dengan lahap langsung menghabiskannya kak!" ucap Lia dan belum sempat Azka bertanya lagi bi Ningsih masuk kedapur sambil menggendong baby Zia dan botol susu kosong ditangannya.
" Bi itu sudah habis susunya?" tanya Azka yang cukup tercengang
" Iya den, baby Zia sepertinya sangat menyukai susu buatan den Rio!" ucap bi Ningsih dan Lia menahan tawa melihat raut wajah sang kakak yang seolah tidak terima.
" Kenapa? apa baby Zia tidak suka susu buatan kakak?" goda Lia membuat Zaira tersenyum melihat keakraban suami dan adik iparnya .
" Setengahnya saja tidak habis" ucap Azka sendu dan Lia tidak lagi bisa menahan tawanya.
" Sabar mas, kamu ini seperti anak kecil saja yang sedang merajuk!" ucap Zaira menepuk pundak Azka berkali-kali
" Iya sayang!" ucap Azka
Acara makan malam pun selesai kini mereka tengah berbincang di ruang TV.
" Mas sudah menghubungi mereka belum mas, tanyakan bagaimana keadaan bunda, mama dan papa mas?" tanya Zaira seraya tangannya mengempok-empok baby Zia yang tengah tertidur di kasur bayi.
" Mas sudah menghubunginya tapi tidak ada yang aktif nomornya sayang, mungkin tidak ada sinyal. " ucap Azka
" Tapi kenapa perasaan aku semakin tidak tenang mas, coba mas tolong cari tahu!" rengek Zaira
" Iya sayang aku akan menyuruh Sendy mencari tahu." sahut Azka mencoba menenangkan Zaira
Mario yang baru keluar kamar karena setelah makan malam dia memilih untuk pergi ke kamar mencoba mencari tahu tentang kecemasan yang dirasakan oleh kakak iparnya itu. dengan langkah gontai Mario berjalan lalu duduk di samping Lia.
Mario memeluk Lia dari samping lalu mendaratkan kecupan di kening Lia, Azka yang melihat adegan mesra adik dan adik iparnya itu bersikap cuek karena terkadang dia dan Zaira pun melakukan hal yang sama.
" Sayang, kamu yang tenang ya. jaga emosi kamu dan tarik napas dulu agar tidak terjadi apa-apa dengan calon bayi kita sayang!" ucap Mario berbisik kepada Lia dengan setenang mungkin.
" Ada apa Io kamu jangan bikin aku panik" ucap Lia yang menjadi tidak tenang.
" Sayang, sudah aku bilang kamu tenang dulu ya, ini mungkin cukup mengejutkan tapi demi calon bayi kita kamu harus bersikap tenang" ucap Mario dengan nada sangat lembut
" Iya ada apa?" tanya Lia
Dengan sedikit ragu-ragu akhirnya Mario memberikan ponselnya kepada Lia.
Lia langsung menutup mulutnya dengan tangannya dan ponsel milik Mario pun hampir jatuh jika tidak dengan cepat Mario menangkapnya.
" Io ini!" Lia tidak dapat lagi menahan tangisnya.
" Sabar sayang, kamu jangan seperti ini" Mario langsung menarik Lia kedalam pelukannya.
Azka merasa aneh kenapa tiba-tiba adiknya menangis.
" Ada apa?" tanya Azka dan Zaira pun ikut bertanya-tanya karena tiba-tiba Lia menangis.
" Kak ini!" Mario menyodorkan ponsel miliknya dan seketika Azka membulatkan matanya membaca kabar yang dikirim Arta kepada Mario
" I.... ini tidak mungkin!" Azka langsung memeluk Zaira dan tentu saja apa yang dilakukan Azka membuat Zaira semakin panik
" A... ada apa mas?" tanya Zaira yang dengan cepat langsung menguraikan pelukannya.
Azka memberikan ponsel Mario dan setelah membaca pesan yang dikirim oleh Arta tubuh Zaira seketika lemas dan langsung jatuh pingsan.
" Sayang!"
" Za!"
" Za"
Ucap Azka, Lia dan Mario bersamaan.
__ADS_1