
Ivy duduk manis di sofa ruangan Juan. Hening, tanpa sebuah kata yang keluar dari masing-masing bibir mereka. Sedangkan Juan masih santai berkutat dengan kertas-kertas di mejanya.
Sudah 15 menit dan Ivy hanya diam diri saja. Mana mau dia di suruh ke ruangan Juan kalau bukan si Juan sendiri yang menyeretnya.
“pak! Pak Juan! Saya permisi dulu, saya ada kelas”
“siapa yang menyuruhmu pergi?
“maaf, tapi saya ada kelas pak”
“kamu akan tetap di sini, lakukan apa pun yang kamu mau, saya masih sibuk” jawab Juan tanpa memalingkan pandanganya dari setumpuk kertas di hadapannya. Ivy mengamati sekeliling, ruangan Juan terlihat nyaman dan simple dengan warna biru tua yang mendominasi.
“pak?”
“apa sayang?” blush, pipi Ivy seketika memerah seperti tomat. Hampir saja ia lupa kalau pria jangkung itu adalah calon suaminya (walau pun di paksa).
“saya ada kelasnya pak Steve, nanti saya bisa di hukum”
“terus? Apa hubungannya sama saya?”
“(sabar vy sabar, guru itu) gini ya pak,
bukannya anda yang dengan SEENAKNYA menyeret saya tanpa tujuan yang jelas?” sebalnya, bisa gila dia jika terus berada di sana. Juan tidak menjawab, matanya kini fokus dengan layar laptop serta jari yang menari lincah di atas keyboard.
Cklak,,
Cklakk,, cklak,,cklak,,
“sudah aku bilang di sini saja, bandel” Ivy mendesis mendengar ucapan Juan barusan. Bisa-bisanya pintunya terkunci dan Juan berkata seenteng itu. Ivy kembali duduk di sofa dan memainkan action figure dinosaurus yang berada di atas meja.
.
.
.
{“ungh” tubuhku terasa berat. Perasaan tadi aku masih di ruangan si pak es batu. Apa aku tertidur? Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, entahlah cahaya lampunya terasa sangat silau. Tubuhku berat sekali, aku mendongak ke atas dan benar saja aku bisa melihat wajah tampan pak Juan dengan sangat-sangat jelas. Dia terlihat sangat tenang dengan tangannya yang memelukku terlalu erat. Bagaimana bisa pria besar ini memelukku seenaknya sendiri. Aish.}
“PAK JUAN BANGUUUUUUN” Ivy teriak tepat di depan muka Juan yang terlihat mengantuk.
Ivy menggerak-gerakkan tubuhnya sekuat tenaga untuk melepaskan pelukan Juan dari tubuhnya.
BUGH
“akkh, kenapa bergerak terus sih! Sudah tahu sofanya kecil!”
__ADS_1
“KALAU SUDAH TAHU KENAPA MASIH JUGA TIDUR DI SINI, DASAR MESUM! AKAN SAYA LAPORKAN KE PIHAK SEKOLAH!” Juan menggaruk tengkuknya jengah.
Juan tiba-tiba bangun dari posisi awalnya yang tidak elite dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ivy, spontan Ivy memundurkan wajahnya dan melihat ke arah lain.
“kenapa? Kau takut? Laporkan saja, aku bisa menuntut balik. Lagi pula, (semakin mendekat) tidak masalah kan memeluk calon istri sendiri (bisik dengan nada menggoda)” wajah Ivy sudah merah padam karena perkataan Juan. “sialan aku mati kutu” batin Ivy kesal.
.
.
Setelah perdebatan sengit dengan Juan dan entah kenapa Ivy bisa menang, kini Ivy duduk di salah satu bangku di depan mini market sabil menyantap mie instan yang ia pesan dengan lahap. Bagaimana bisa dia tidur di ruangan itu sampai jam 7 malam. “dasar bodoh! keluar dari pikiranku!” ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya ketika bayangan wajah Juan ketika tidur berada di depan wajahnya.
“IVY! (teriak seseorang tak jauh dari tempat ivy) senang sekali bisa bertemu denganmu lagi”
“iya kebetulan sekali, (melihat bola basket yang pria itu bawa) Adam juga main basket?”
“hmm (mengangguk semangat) kamu mau main? Aku hampir setiap hari main basket di sini”
“kelihatan sekali bohongnya, setiap hari aku lewat sini tapi tidak pernah melihatmu”
“jadi kau mencari ku?”
“ti,,tidak kenapa juga aku mencari mu. Hanya saja lapangan itu memang sudah lama tidak terpakai.
“hehehe ketahuan, ini memang pertama dalam tahun ini aku mengunjunginya, kemari lah ikut aku!” Adam berjalan mendahului Ivy menuju lapangan basket. Lapangan itu terlihat sangat terbengkalai dan sudah lama tak terpakai sejak bertahun-tahun, hanya beberapa lampu redup saja yang meneranginya.
“waktu kelas 3 SD aku punya teman, ah bukan, tapi sahabat. Dia sosok yang sangat aku kagumi, sangat kuat dan senyumnya sangat cerah. Dia bilang akan pindah waktu itu, lalu kita membuat janji ini. Janji 20 April, kita akan bertemu setiap 20 April. Tapi sekalipun dia tidak datang” jelas Adam sambil memandang kosong ukiran itu. Ivy tak menyangka jika pria se ceria Adam juga bisa merasakan apa itu rasa sakit.
“jika aku boleh tahu, apa yang terjadi?”
“dia meninggal karena kecelakaan hari itu juga” jawabnya dengan senyum secerah matahari. Ivy menatap dalam manik coklat milik adam, jelas sekali terlihat jika dia sangat sedih.
“kenapa?” heran Adam ketika Ivy tiba-tiba mengelus pelan punggungnya.
“kau sangat kuat bisa menahan semua kesedihanmu di hadapan banyak orang, tapi kau tentu tidak bisa membohongi hatimu sendiri. Kau sedang sedih, menangis lah! Tidak ada larangan untukmu menangis” Ivy masih mengusap lembut punggung kekar itu, tubuh Adam mulai bergetar dan air mata yang ia tahan kini menetes deras dari manik indahnya.
Adam menangis cukup lama saat itu juga.
“apa kau sudah tenang?” Adam mengangguk.
“dam? Bisa aku bertanya sesuatu padamu?”
“ya, tentu saja” jawabnya dengan suara serak.
“bagaimana rasanya ketika sahabatmu pergi?” Adam diam sejenak dan menatap langit. Mereka sedang berbaring berdua di lapangan sambil menatap langit.
__ADS_1
“rasanya ya? Tentu saja sangat sakit, kehilangan seseorang yang selalu ada dan mengerti kita itu sangat sakit. Tapi aku mulai sedikit mengerti, semua makhluk di takdir kan untuk mati. Mungkin dia terlalu mencintai tuhan dan meninggalkanku”
“aku kagum padamu”
.
.
.
“bagaimana bisa kalian kehilangan kontrak sebesar itu ketika aku hanya meninggalkan kalian satu minggu? ” suara baritone itu menggema di seluruh ruangan. Semua diam taka da satu pun yang berani menjawab. Akan sangat berbahaya jika salah bicara di hadapan bos besar.
AC di ruangan itu terasa lebih dingin berkali-kali lipat saat itu juga, dan jangan lupa tatapan yang siap mencincang siapapun di hadapannya itu masih dala mode on.
“kami mohon maaf atas kelalaian kami pak, kami akan segera memperbaikinya”
“lalu bagaimana jika kalian gagal? Sudah siap kalian ku buang dari sini?”
Tidak ada jawaban.
“JAWAB!”
“kami siap pak, kami mohon kesempatan sekali lagi, kami akan segera memperbaikinya”
“rapat selesai,keluar!” Juan melonggarkan dasinya, bagaimana bisa dia mendapatkan berita kalau perusahaanya akan bangkrut padahal hanya ia tinggal selama satu minggu. Ada-ada saja.
“seperti biasa kau terlalu memberi tekanan” ucap Flyyn, teman dekat sekaligus asisten Juan. Memberikan air dingin pada bosnya yang sedang tersulut dan langsung meneguknya sampai tak tersisa.
“lalu aku harus diam saja saat perusahaan ku akan bangkrut dalam satu minggu?”
“aku tidak bilang begitu, itu tadi pujian tahu”
“terserah padamu”
Flyyn sudah berteman dengan Juan dari sma sampai kini mereka berumur 27 tahun dan bekerja di perusahaan yang sama. “Kau tidak pergi ke tempat ‘itu’ lagi?”
“beberapa hari yang lalu, tidak menarik”
“tentu saja tidak menarik, bagaimana bisa kau pergi ke tempat ‘itu’ hanya untuk mencari musuhmu yang hilang di telan bumi. Dasar manusia aneh”
“berhenti mengoceh atau ku potong lidahmu”
“coba saja kalau bisa”
“lalu? Apa kau harus memotong gajimu juga?”
__ADS_1
“issh, boss sialan”