Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Sama saja


__ADS_3

" Mam*us!" umpat Lia tersadar dengan jaket yang ia pakai. " Kenapa gue gak nyadar masih pake ni jaket?" batin Lia meruntuki kebodohannya sendiri.


Lia tersenyum kikuk, bingung mencari alasan apa pada Mita. " Gue ke tenda kak Azka dulu ya, mau bilang ke pak Bambang!" ucap Lia seraya menghindar dari kecurigaan Mita terhadapnya.


" Li loe mau kemana?" tanya Mia yang sudah selesai dengan barang-barangnya.


" Mau nemuin pak Bambang!" ucap Lia. sebenarnya ia ingin membuka jaketnya tapi jika dia buka dihadapan para sahabatnya pasti akan menjadi bahan pertanyaan dan Lia gak mau hal itu sampai terjadi.


Lia keluar dari tenda dan pergi menghampiri pak Bambang yang kebetulan saat itu sedang memberi instruksi kepada Irfan dan teman-temannya lainnya khususnya para siswa untuk membagi tugas dalam mengurus tenda-tenda para siswi.


Lia menghampiri pak Bambang tanpa menghiraukan tatapan mata para siswa yang mengarah kepadanya.Dan tanpa dia sadari sang pemilik jaket yang Lia gunakan saat ini tengah menarik sudut bibirnya melengkung sedikit.


" Pak maaf, tadi pak Bagaz menelpon saya suruh mengambil barang-barangnya ." ucap Lia


" Oia, ada di tenda sudah beres. nanti biar Rangga yang mengantarkan kamu untuk mengambilnya." ucap pak Bambang


" Ti.. tidak usah pak. biar saya sendiri saja" ucap Lia yang sedikit gerogi bila berhadapan dengan Rangga.


" Yakin kamu bisa sendiri, disana banyak siswa yang juga sedang beres-beres." ucap pak Bambang.


" Ya sudah baiklah pak!" ucap Lia lesu.


Rangga jalan lebih dulu, Lia mengekor dari belakang. jangan ditanya lagi jantung Lia sudah berpacu tidak karuan.


" Sorry gue ngerepotin!" ucap Lia namun Rangga hanya diam tidak menggubrisnya.


Saat sampai di depan tenda milik Bagaz langkah Rangga terhenti saat melihat putri duduk sendirian di depan tenda miliknya. Rangga menatap iba kearah gadis yang memang sudah lama mengisi hatinya Lia yang berdiri di belakang Lia mengikuti arah pandangan mata Rangga dan seketika hatinya bergemuruh.


" Ga thanks udah nganterin. gue ambil sendiri aja!" ucap Lia yang sudah merasa tidak nyaman karena melihat Rangga yang begitu menatap putri dengan intens.


" Hem" jawab Rangga singkat tanpa beralih pandangannya dari sosok gadis yang dikaguminya.


Lia hanya bisa mendengus kesal lalu beranjak pergi. namun disaat sudah berada di dalam tenda, Lia merasa bingung sendiri yang mana tas milik kakaknya.


Lia menghela napasnya panjang dan ingin keluar menanyakan kepada Rangga namun saat berbalik badan Lia dikejutkan dengan sosok laki-laki yang berdiri tegap dihadapannya.


Lia mendongak dan lagi-lagi matanya bertemu dengan mata Mario yang menatapnya tajam.


Tanpa bicara Mario melewati Lia begitu saja lalu tangannya meraih satu tas dan membawanya.


Lia terkejut karena tas yang Mario ambil dilemparkan ke arah Lia dan dengan gerakan refleks Lia meraih tas tersebut dibawa kedalam dekapannya.


Lia memutar bola matanya malas ketika Mario meninggalkan dirinya begitu saja.


" Cih dasar black ghost datang dan pergi semaunya" gumam Lia dan sedetik kemudian.


" Akh, kenapa gue pakai lupa sih?" kesal Lia pada dirinya sendiri.


Lia membuka jaket yang dipakainya lalu keluar dari tenda. ia melihat kesekeliling tapi tidak melihat sang empu jaket tersebut.


" Kemana dia, cepat banget ngilangnya,?" tanya Lia pada dirinya sendiri.


Lia mendengus kesal lalu berniat untuk kembali ke tenda miliknya, saat melewati tenda milik kelas 12 tepatnya di balik sebuah pohon yang cukup besar Lia melihat putri yang tengah menarik tangan Mario.


Entah kenapa jiwa kekepoan Lia muncul. Lia yang penasaran masih berdiri mengamati sepasang muda-mudi tersebut.


" Ah buat apa gue kepoin Mereka, gak penting!" ucap Lia seraya kembali melangkahkan kakinya namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendengar nama Sahabatnya disebut-sebut.


"Rio,maafin gue please jangan benci gue. semua ini juga terjadi bukan salah gue ,Rara dan juga Angel sepenuhnya Rio. kalau bukan karena Zaira si gadis bodoh dan sok polos itu semua ini juga gak akan terjadi!" ucap Putri membela diri.


Degg


" Za!" pekik Lia pelan


Akhirnya karena ada rasa penasaran nama Zaira Sahabatnya dibawa-bawa Lia pun memutuskan untuk mencari tahu kebenarannya.


" Apa maksud ucapan si kunbi itu?" gumam Lia pelan

__ADS_1


" Apa maksud loe menyalahkan orang lain atas kesalahan yang sudah loe buat sendiri?" tanya Mario dengan nada datar.


" Ya semua karena Zaira, karena Zaira Irfan tidak lagi menghiraukan Angel, karena Zaira menjadi siswi yang selalu di prioritaskan oleh pak Bagaz sampai di mampu mencuri perhatian pak Bagaz dengan berpura-pura mabuk kendaraanlah dan karena Zaira juga pak Bagaz mengabaikan Rara yang sudah lama menyukainya. dan gue juga tahu loe pun sama aja dengan mereka. loe berubah Rio karena Zaira loe udah banyak berubah loe bukan Mario yang dulu gue kenal" ucap Putri meluapkan kebenciannya kepada Zaira.


Mario hanya memutar bola matanya malas. ucapan yang tidak bermutu menurutnya.


" Sekarang mau loe apa hah, apa loe pikir dengan merusak Zaira semua orang akan berpindah suka sama loe.cihh.. yang ada mereka semua merasa jijik melihat loe juga kedua teman loe ?" Sarkas Mario


" Gue gak pernah berniat untuk mencelakai Zaira apalagi merusaknya. itu semua ide gila Rara yang merasa muak karena Zaira sudah berani-beraninya mendekati pak Bagaz. gue gak ikutan Rio. gue bersumpah!" ucap Putri membela diri


" Semua sudah terjadi, menyesal pun tidak akan ada gunanya. loe dan kedua teman loe tunggu saja konsekuensinya" ucap Mario dingin.


" Gue cuma mau kita balikkan Rio, gue masih sayang sama loe Rio!" sahut putri memegang tangan Mario.


Mario menatap nyalang tangan Putri yang bertengger di tangannya. Putri dengan perlahan melepaskan tangannya dan melangkah mundur.


" Hubungan kita sudah lama selesai dan gue gak suka cewek yang terlalu posesif" ucap Mario yang langsung pergi meninggalkan putri. Lia yang melihat kepergian Mario langsung bersembunyi di balik pohon.


" Jadi Mario itu mantannya Putri, kok gue baru tau ya?" Lia berbicara pada dirinya sendiri.


" Ahh.. apa peduli gue" gumam Lia lagi namun saat dia hendak berbalik badan. Lia dikejutkan dengan sosok pria yang sebenarnya ingin sekali ia hindari untuk saat ini.


" Loe?" tanya Lia dari keterkejutannya


" Kenapa, loe kaget?" tanyanya datar


" Jelaslah gue kaget loe maen nongol aja!" kesal Lia menahan gejolak hatinya yang tidak karuan.


" Apa loe baru tahu kalau mereka pecaran?" tanyanya.


" Pernah tepatnya" protes Lia.


" Iya maksud gue gitu" ucap laki-laki yang tidak lain adalah Rangga.


" Gak penting menurut gue" ucap Lia yang hendak beranjak pergi.


" Gue gak tertarik dengan kehidupan orang lain" ucap Lia ketus


" Mario suka sama sahabat loe Zaira" ucapnya lagi dan kali ini mampu membuat seorang Lia menoleh menatap lekat wajah Rangga laki-laki yang sering mengganggu pikirannya selama ini.


" Mario suka sama Zaira dan putri cinta mati sama Mario. mungkin karena itulah putri menyimpan kebencian terhadap Zaira sahabat loe itu" ucap Rangga.


"Dan loe suka sama putri, benar begitu iyakan?" tebak Lia walaupun sebenarnya hatinya sangat sakit bertanya seperti itu.


" Siapalah gue jika dibandingkan dengan Mario, Putri tidak akan pernah berpaling dari Mario dan gue tau itu tapi gue juga gak bisa menahan perasaan gue untuk suka sama Putri" ucap Rangga


Deg


Rasanya sungguh sakit mendengar kata-kata yang diucapkan Rangga. Lia mencoba untuk tersenyum walaupun perih yang ia rasakan.


" Loe juga gak tau kan kak kalau gue udah lama suka sama loe" Rasanya kata-kata itu ingin sekali Lia katakan tapi sayang Lia hanya berani berucap dalam hati.


" Sekarang Putri sudah bukan siapa-siapanya Mario lagi, kakak bisa memperjuangkan cinta kakak ke Putri" Lia memperlihatkan senyumnya namun senyum yang dipaksakan.


" Selamat memperjuangkan cinta kakak ke Putri, semoga berhasil dan untuk masalah Putri yang benci sama Za itu hanyalah pikiran Putri aja yang sempit karena selama ini Za bersikap biasa-biasa saja sama siapapun bahkan sama anak laki-laki aja dia terkadang cuek. bukan Za sok jual mahal gue tau siapa Za tapi dia seperti itu karena atas keinginan ayahnya yang begitu menyayanginya!" ucap Lia panjang lebar.


Tiba-tiba Putri datang menghampiri Lia dan Rangga. " Loe?" ucap Putri menunjuk Lia


" Bukannya loe itu kelas 11 dan loe itu temannya si anak bodoh itukan?" sarkas Putri


" Za bukan anak bodoh" bela Lia yang tidak terima sahabat sekaligus kakak iparnya itu di remehkan.


" Jika bukan bodoh apa namanya?" ejek Putri.


" Cukup ya kak , sebaiknya sebagai kakak kelas kakak tuh mencontohkan sikap yang baik untuk adik kelasnya bukan sikap buruk yang kakak perlihatkan!" ucap Lia menohok.


" Loe berani ya sama gue?" bentak Putri yang tidak terima dengan ucapan Lia.

__ADS_1


" Kenapa harus takut jika tidak berbuat salah, yang seharusnya takut adalah kakak sendiri. siapkanlah mental dan jiwa kakak setelah kita pulang dari tempat ini. karena gue yakin kalau hukuman kini sedang menanti kakak dan juga para kecebongnya!" ucap Lia pedas.


Deg


Putri tersentak dengan ucapan Lia pasalnya apa yang Lia katakan hampir sama dengan apa yang Mario peringatkan.


" Siapa sih sebenarnya anak bodoh itu, kenapa dia dan Mario bisa-bisanya bicara seperti itu?" gumam Putri dalam hati.


" Kak Rangga gue duluan, thanks udah nganterin." ucap Lia kepada Rangga


" Sama-sama" ucap Rangga dan sedetik kemudian Rangga dikejutkan dengan sikap Putri yang tiba-tiba pura-pura terkilir.


" Awww!" teriak putri pura-pura kesakitan dan menjatuhkan badannya ke tanah di sebelah Lia.


Rangga yang melihat putri terjatuh dengan cepat langsung menghampiri Putri dan memapahnya berdiri.


" Loe gak apa-apa kan put?" tanya Rangga yang terlihat khawatir.


" Kaki gue sakit ngga, ini semua gara-gara dia. tadi dia udah dorong aku " ucap putri berbohong


" Cihh, dasar kunbi!" batin Lia memutar bola matanya jengah.


" Lia loe?" Rangga menatap nyalang ke arah Lia.


" Sorry kak, gue buru-buru" sahut Lia tersenyum miring. " Kak Putri cepat buru-buru kakinya diobatin kalau perlu bawa ketukang urut, kalau kelamaan dibiarkan hati-hati nanti kakinya diamputasi" ucap Lia sebelum pergi.


" Lia, jaga bicara loe!" bentak Rangga. Lia mendengus kesal lalu menarik napas panjang.


" Semoga kalian berjodoh!" ucap Lia langsung pergi meninggalkan Rangga begitu saja. Lia berjalan melewati tenda-tenda yang sedang dirobohkan dan siapa yang menyangka air mata Lia yang sedari tadi sudah di tahannya akhirnya meluncur begitu saja.


Lia berjalan perlahan namun sedetik kemudian ia percepat langkahnya sampai pada titik terakhir Lia berlari ke sembarang arah. setelah merasa sudah berada di tempat yang cukup sepi Lia berjongkok dan tangisnya pun pecah. Lia berjongkok memeluk lututnya erat. "apakah menyukai seseorang yang hanya bertepuk sebelah tangan sebegitu menyakitkan. rasanya sungguh menyesakkan" batin Lia bergemuruh.


Lia yang biasa tegar, kuat dan selalu ceria hari ini di luluh lantak kan oleh seorang Rangga.


hati Lia begitu sakit diperlakukan seperti itu oleh orang yang dia sukai.


" Lia loe cengeng banget sih, Lia... Lia... gak penting banget loe nangis disini sendirian hanya karena seorang cowok. dasar bodoh... bodoh.. bodoh.." umpat Lia meruntuki kebodohannya.


" Baru nyadar emang kalau loe itu bodoh?" ejek seseorang yang sedang duduk di atas pohon tepat diatas kepala Lia berjongkok.


Lia yang mendengar dirinya dikatai langsung mendongak lalu berdiri dan pandangannya mencari kesekeliling tapi tidak melihat siapa-siapa.


Tiba-tiba Lia dikejutkan dengan ranting pohon yang dilempar oleh Mario dari atas pohon dan tepat sekali ranting tersebut jatuh tepat di kepala Lia.


" Awww!" pekik Lia saat kepalanya terkena ranting pohon.


Lia yang polos hanya mengira itu hanyalah ranting yang jatuh sendiri tanpa curiga sedikitpun. padahal si pelaku sedang tersenyum diatas pohon. Sayang Lia tidak melihatnya jika Lia melihat senyum seorang Mario yang terkenal tampan tapi nyeremin itu pasti akan berpikir dua kali untuk bersama Rangga.


Mario yang memang kesehariannya sering memakai Hoodie back atau jaket yang dominan berwarna hitam sering membuat dia terkesan sedikit seram dan misterius. selain sikapnya yang dingin dan juga urakan pembuat onar di sekolah membuat Mario terkesan tampan tapi juga menyeramkan.


" Dasar laki-laki sama aja, semua berengsek!" ucap Lia mengumpat dan kakinya menendang ke udara seakan menendang Rangga dan juga Mario jika ada.


" Rangga dan Mario sama aja, coba kalau maeio tidak putus dengan si kunbi itu pasti tidak akan serumit ini. kenapa dia harus menyukai Za sih. gak tau aja kalau Za sudah punya orang!" ucap Lia menumpahkan unek-uneknya.


" Aahhh!" kesal Lia.


" Kak Rangga dasar pengecut gue benci sama loe gue benci!" Lia menarik napasnya yang tersengal memaki dan mengumpat itu butuh tenaga dan energi yang kuat.


" Mario juga sama aja, iiiiiih.. !" kesal Lia meremas-remas jaket Mario yang ada di tangannya


" Jaket itu gak salah apa-apa kenapa jadi pelampiasan amarah si gadis bodoh!" ucap Mario santai


gubrakkk


Mario loncat dari atas pohon tepat berdiri di hadapan Lia.


" Astaghfirullah haladzim, dasar black ghost muncul selalu aja ngagetin orang!" kesal Lia yang dengan gerakan refleks memukul-mukul Mario dengan jaket yang ada di tangannya.

__ADS_1


Mario menangkap jaket yang digunakan untuk memukul oleh Zaira sampai akhirnya mata mereka pun saling bertemu bahkan kali ini saling mengunci satu sama lain.


__ADS_2