
" Sebaiknya jangan berbuat lebih pak, sebelum terlanjur jauh berhentilah memperhatikan seseorang yang sudah ada pemiliknya!" Ucap salah satu murid yang sejak tadi memperhatikan mereka.
" Apa urusannya dengan mu?" tanya pak Aldy ketus
" Tentu saja ada, karena yang bapak usik adalah salah satu teman baik saya, dan apapun yang mengusik kebahagiaannya maka saya tidak akan tinggal diam begitu saja!" tegas siswa yang tidak lain adalah Yoga.
" Oh begitu? atau jangan-jangan kamu juga suka dengan Alzaira?" curiga pak Aldy dan Yoga tersenyum miring
" Siapa yang gak suka dengan Zaira pak, cantik , pintar , baik hati dan juga lembut" sahut Yoga tertawa mengejek
" Tapi saya masih normal pak selain Zaira yang sudah ada pemiliknya masih ada wanita lain yang hidup di dunia ini bukan cuma Zaira seorang pak!" ucap Yoga seraya tertawa
" Apa maksudmu?"
" Pak, walaupun Zaira itu punya segudang pesona tapi karena statusnya yang sudah sah menjadi milik orang lain buat apa saya menyia-nyiakan waktu hanya untuk merusak kebahagiaan orang belum tentu saya sendiri bisa berakhir bahagia yang ada justru sebaliknya, Zaira bisa kehilangan kebahagiaannya dan saya bisa mendapatkan kebencian seumur hidup dari Zaira dan kebahagiaan pun sudah tidak ada harapan lagi." tutur Yoga.
" Saya sudah hampir kehilangan nyawa, jadi saya lebih memilih untuk memberi kebahagiaan orang-orang yang ada di sekitar saya karena itu lebih indah dari apapun. dari pada saya merusak kebahagiaan yang sudah jelas-jelas mereka miliki"
" Hidup itu cuma sekali pak, kesempatan hidup pun belum tentu datang dua kali. saran saya jangan pernah mengusik kebahagiaan keluarga Dinata, bapak tahu kan keluarga Dinata? sudah berapa murid disini yang mencoba memisahkan mereka dan berakhir sangat tragis. saya cuma mengingatkan jangan sampai bapak yang terhormat dan memiliki kinerja mengajar yang cukup bagus berakhir mengenaskan juga pak!" pesan Yoga
" Satu lagi jika Zaira tahu orang terdekat pak Aldy yang sudah menghilangkan nyawa bundanya saya tidak jamin Zaira mau melihat bapak. jadi sadarlah sebelum semuanya terlambat dan karir bapak hancur begitu saja, karena keluarga Dinata tidak akan tinggal diam begitu saja jika menantu kesayangannya terusik" lanjutnya
" Menantu kesayangan keluarga Dinata?" tanya pak Aldy memperjelas
" Jadi benar mereka sudah menikah?" Yoga mengangguk
" Semua murid dan staf guru juga sudah tahu pak kalau Zaira dan pak Bagaz itu sudah menikah, kecuali murid dan guru baru tapi saya rasa dengan cepat berita itupun mudah tersebar dan tidak mungkin mereka tidak tahu hubungan Zaira dan pak Bagaz" jawab Yoga membuat pak Aldy limbung dan hampir terjatuh
" Bagaimana bisa, Zaira bahkan masih sekolah?" tanya pak Aldy
Yoga pun menceritakan semuanya dengan begitu ia berharap guru baru tersebut sadar dan tidak mengusik Zaira lagi.
pak Aldy terkejut mendengar cerita Yoga ada rasa iba dan juga prihatin dengan perjalanan hidup seorang Zaira. ia tidak menyangka dibalik wajah teduh Zaira menyimpan luka trauma yang mendalam.
" Jika pak Aldy memang sayang dengan Zaira apa bapak tega membuat Zaira sedih dan terluka lagi. cukup sudah pak Zaira menderita. kepergian bundanya merupakan pukulan terbesar dalam hidup Zaira, kami semua sudah berusaha keras untuk mengembalikan senyum diwajahnya dan menutupi semuanya pada Zaira hanya untuk menjaga agar Zaira tidak syok dan kembali terguncang jiwanya. " tutur Yoga
" Saya harap setelah ini pak Aldy berpikir lebih matang dan bisa membedakan mana cinta mana obsesi!" setelah mengucapkan itu yoga pergi meninggalkan sang guru yang masih diam mematung.
Pak Aldy mencerna semua kata-kata Yoga dan akan mencari tahu kebenarannya.
🖤
Jam pulang sekolah Zaira seperti biasa pulang bersama Azka, tapi karena ada yang masih harus diselesaikan Zaira menunggu suaminya itu di ruangannya.
Saat hendak pergi ke ruangan Azka tanpa sengaja Zaira bertemu dengan pak Aldy.
" Alza!" panggilnya
Zaira yang merasa namanya dipanggil mau tidak mau terpaksa menghentikan langkahnya dan berharap sang guru tidak berbuat macam-macam.
" Ada apa ya pak manggil saya?" tanya Zaira basa-basi
" Kamu kok belum pulang?" tanya pak Aldy
" Saya masih ada urusan pak!" Jawab Zaira
" Urusan apa?" Pak Aldy kepo
" Maaf pak saya tidak harus menjawab pertanyaan bapak kan?" sahut Zaira yang enggan menjawab pertanyaan sang guru
" Maaf pak saya duluan ya!' ucap Zaira yang langsung berjalan setengah berlari menuju ke lantai atas yang merupakan ruangan khusus milik Azka.
" Jadi benar mereka sudah menikah?" batin pak Aldy
Azka keluar dari ruangannya dan bertemu dengan Zaira saat melangkah turun.
" Loh mas sudah selesai?" tanya Zaira
" Sudah, sebagian ngerjain di rumah saja. kalau disini kamu pasti kelamaan nunggunya nanti" jawab Azka seraya merangkul pinggang Zaira
" Ih mas jangan begini ah ini masih area sekolah gak enak kalau sampai di lihat murid-murid yang lain" Zaira melepaskan tangan Azka
" Iya ... iya maaf, habis kalau lihat kamu bawaannya ingin nempel terus kayak perangko" jawab Azka yang langsung mendapat cubitan kecil dari Zaira
" Dasar gombal!"
" Aww, sakit sayang, siapa yang gombal sih orang serius"ucap Azka lalu tertawa dan Zaira pun ikut tertawa dan disepanjang jalan menuju parkiran mereka tertawa dan saling melempar canda.
Dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan keduanya.
" Mas, sore nanti kita pergi ke taman yuk mas. sudah lama kita gak pernah keluar!" ajak Zaira
Azka yang tengah menyetir menoleh sekilas
" iya boleh, kita ajak baby Zia"
" Iya mas" Zaira mengangguk
sekitar 20 Menit perjalanan merekapun sudah sampai di rumah mereka.
" Hai anak mamah?" sapa Zaira saat melihat baby Zia tengah bermain dengan bi Ningsih di ruang TV.
" Sayang, bersih-bersih dulu sebelum memegang baby!" ucap Azka melarang sang isteri mendekati baby Zia
" Iya mas, bi aku keatas dulu ya!" ucap Zaira
" Iya mbak Za" sahut bi Ningsih
Zaira masuk ke dalam kamar disusul oleh Azka, setelah selesai bersih-bersih Zaira bergegas menemui putri kecilnya.
" Neng Za mau makan sekarang? biar saya hangatkan makanannya.?" tanya mbok Iyem yang menghampiri Zaira di ruang TV bersama baby Zia dan bi Ningsih
" Loh mbok Iyem sudah datang, kapan datangnya mbok?" tanya Zaira yang terkejut dengan keberadaan mbok Iyem
__ADS_1
" Tadi pagi, neng Za sama den Azka sudah berangkat ke sekolah" sahut mbok Iyem
" Tadi pagi? kenapa gak istirahat saja dulu mbok?"
" Gak apa-apa neng, tadi sudah istirahat" sahut mbok Iyem
" Yaudah, gak usah di hangatin mbok gak apa-apa!" ucap mbok Iyem
" Mbok!" sapa Azka yang melihat mbok Iyem tengah mengobrol dengan Zaira
" Den, bagaimana kabarnya?" tanya mbok Iyem
" Alhamdulillah baik mbok, bagaimana kabar mbok sendiri?"
"Alhamdulillah baik den."
" Saya turut berdukacita ya non, den!" ucap mbok Iyem
" Iya mbok terima kasih" ucap Zaira seraya tersenyum.
" Mas mau makan sekarang?" tanya Zaira
" Boleh!" sahut Azka seraya mengambil alih baby Zia
Setelah makan siang Zaira mengajak baby Zia untuk tidur siang sementara Azka pergi ke ruang kerjanya mengerjakan tugas-tugas yang sempat ditunda
Saat hari sudah menunjukkan pukul 4 sore Zaira dan Azka sudah bersiap-siap untuk pergi ke taman.
"Mbok, bi kami pergi dulu ya!" pamit Zaira
" Iya neng, hati-hati dijalan!" ucap mbok Iyem
Zaira masuk ke dalam mobil dan sudah ada Azka didalamnya. Azka menghidupkan mesin mobilnya lalu mengendarainya dengan kecepatan sedang menuju taman kota.
Dret... Dret ...
Ponsel Zaira berdering, Zaira langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas selempangnya.
" Hallo, assalamu'alaikum!" ucap Zaira
" Wa'alaikum salam"
" Siapa?" tanya Azka yang menoleh sekilas ke arah Zaira
" Lia!" sahut Zaira
" Kenapa Li?"
" Loe dimana?"
" Lagi dijalan"
" Mau kemana?"
" Taman kota"
Tuttt...
" Ishh, dasar ini anak" gumam Zaira
" Kenapa?" tanya Azka yang menoleh ke arah Zaira seraya tangannya mengusap lembut pipi baby Zia yang berada di pangkuan Zaira
" Tau nih anak main putus aja" kesal Zaira
" Emangnya dia ngomong apa?" tanya Azka
" Cuma nanya lagi dimana, terus aku bilang di jalan mau ke taman kota terus di matiin telponnya, kayaknya dia mau nyusul" jawab Zaira
" Emang dasar itu anak" Azka geleng-geleng kepala mendengar cerita Zaira
Tidak berasa mobil mereka pun sudah sampai di tempat yang dituju.
Zaira turun dari mobil tidak lama Azka menyusul. mereka mencari tempat untuk duduk.
Ditaman tersebut banyak orang-orang yang datang bersama keluarga, teman dan bahkan pacar.
suasana taman cukup ramai, Zaira dan Azka menikmati hari senggang mereka dengan berjalan-jalan di sekitar taman.
" Zaaaaaa....!" teriak seseorang memanggil Zaira
" Siapa yang? kayak ada yang memanggil kamu?" tanya Azka
"Seperti suara Mita" sahut Zaira
Setelah mengedarkan pandangannya kesekeliling nampak Mita, Arta, Mia, Sendy, Mona dan juga Yoga berjalan ke arah mereka.
" Kalian?" Zaira terkejut dengan keberadaan sahabat-sahabatnya.
" Kok kalian bisa kumpul disini?" tanya Zaira saat mereka sudah dekat
" Iya kita disini karena permintaan bumil, tuh!" Sahut Mita seraya menunjuk kearah Lia yang tengah berjalan kearah mereka bersama Mario, Indah dan juga Dion
" Komplit" ucap Zaira tertawa senang
Baby Zia yang melihat kedatangan Mario sudah tidak bisa diam ingin digendong.
" Hai baby kangen ya sama uncle?" ucap Mario seraya mengambil baby Zia dari gendongan Azka
Zaira dan teman-temannya mengobrol sesekali tertawa-tawa begitu juga Azka dan yang lainnya. mereka sungguh menikmati sore ini dengan penuh kebersamaan yang begitu membahagiakan dan tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang tengah menatap sendu ke arah mereka.
" Ternyata kebersamaan kalian begitu kuat" batinnya
Yoga yang tengah memperhatikan keadaan sekeliling tanpa sengaja melihat keberadaan pak Aldy yang berdiri di balik pohon.
__ADS_1
" Sebentar ya!" ucap Yoga
Semua pandangan mata menoleh ke arah Yoga " Mau kemana?" tanya Mona
" Sebentar" ucap Yoga mengusap kepala Mona
Yoga berjalan ke arah pak Aldy dan dengan bergegas pak Aldy meninggalkan tempat tersebut namun baru beberapa langkah yoga memanggilnya
" Pak Aldy!" teriak Yoga
mendengar namanya dipanggil mau tidak mau pak Aldy pun menoleh dan seketika pandangan mata semua tertuju kearahnya yang letaknya tidak jauh dari Zaira dan teman-temannya berada.
" Ikutan gabung pak!" ajak Yoga
" Tidak usah terima kasih!" tolak pak Aldy dengan sopan.
" Gabung saja pak, mari!" tiba-tiba terdengar suara Azka yang ternyata sudah berdiri di belakang Yoga.
" Tidak terima kasih, aku harus pergi" jawabnya
" Apa salahnya gabung bersama kami pak, agar pak Aldy tahu dengan jelas bagaimana seorang Zaira dan hubungannya dengan kami." tutur Yoga
" Yang dikatakan Yoga benar, setidaknya jangan biarkan semua menjadi tidak nyaman dengan rasa yang seharusnya tidak perlu diteruskan" ucap Azka
" Emmmm... baiklah!" ucap pak Aldy seraya berjalan mengikuti langkah Azka dan Yoga.
Zaira merasa risih saat pak Aldy sudah berada di antara mereka. " Sayang, sini baby biar aku yang gendong" ucap Azka saat baby sudah berada di pangkuan Zaira
" Pak Aldy ini kenalkan baby Kenzia Cyara Bagazkara, dia adalah putri kami!" ucap Azka yang tengah duduk di samping Zaira membuat pak Aldy terperangah mendengar kata putri kami
" Putri kalian?" tanya pak Aldy dibalik rasa keterkejutannya
"Iya, baby Zia saat ini usianya baru menginjak 7bulan dan isteri ku baru saja masuk ke sekolah kembali setelah mengikuti home schooling selama kehamilannya." tutur Azka
" Jadi beneran kalian sudah menikah?" tanya pak Aldy lagi.
" Iya, kami sudah menikah hampir satu setengah tahun. Beruntungnya aku menikah dengan pak Bagaz yang ternyata adalah guruku sendiri. Ini mungkin hikmah dari perjodohan yang awalnya dengan keterpaksaan akhirnya menjadi sumber kebahagiaan. jika ayah tidak menikahkan aku dengan suamiku mungkin Alzaira tidak akan ada ditengah-tengah kalian saat ini." tutur Zaira membuat pak Aldy tidak dapat bicara apa-apa.
" Terima kasih semuanya, terima kasih suamiku. Tanpa kalian entah bagaimana aku saat ini, saat aku berada di titik terendah kalian memberiku semangat dan kekuatan untuk bangkit terutama baby Zia" Zaira meraih tangan mungil putrinya lalu mengecupnya dengan lembut. " Kalian adalah sumber kekuatan ku sampai aku bisa kembali bangkit dan tersenyum kembali " Zaira menatap lekat wajah Azka.
" Kamu juga adalah kekuatan dan semangat hidupku sayang" Ucap Azka lembut membuat Zaira menitikkan airmatanya.
" Duhhh... baper gue baper kalau begini ceritanya." Celetuk Mona membuat suasana yang tadinya penuh haru jadi pecah
" Ih Mona merusak suasana aja loe!" protes Indah
" Tau nih, kalau loe baper makanya minta halalin buruan tuh sama babang Yoga" Mia ikut menyahut
" Yang halal lebih Indah dan aman loh Mon, ya gak sayang?" Lia ikut bicara
" Gue sih ayok aja kalau Mona ngajak sekarang juga" Yoga tiba-tiba menyahut membuat Mona mengerucutkan bibirnya
" Biar bisa nyusul Mon" Mita yang duduk di dekat Lia mengusap perut Lia lembut.
" Wah kalau yang itu loe dulu deh Mit, secara kak Arta sudah lebih matang dan siap lahir batin Mit, kalau gue sama Yoga nanti nunggu lulus lah" sahut Mona
" Iya betul tuh, secara mereka masih sekolah kalau kak Arta dan kak Sendy sudah bisalah maju lebih dalu. bukan begitu saudara Mia?" tanya Indah membuat Mia tersipu malu apalagi saat sendiri tersenyum dan menarik turunkan alisnya sengaja menggoda.
" Apaan sih kak?" Mia merasa salah tingkah sendiri
" Wah Mia salting gitu, udah kebelet kawin nih kayaknya ?" ledek Mona
" Sialan loe Mon," Mia melemparkan kacang yang dipegangnya ke arah Mona.
Suasana yang harus kini berubah menjadi canda tawa diantara mereka semua namun diantara mereka hanya pak Aldy yang terlihat memaksakan tawanya.
Pak Aldy terus memperhatikan Lia dan Mario yang nampak begitu mesra apalagi Mario yang sesekali mengelus perut Lia yang terlihat membuncit karena saat ini Lia memakai baju yang sedikit ngepres ke badan jadi bentuk perut Lia yang sudah besar bisa terlihat dengan jelas.
" Tidak usah bingung pak, mereka pasangan halal ya walaupun rada sedikit aneh. masih sekolah tapi udah punya anak. ya dimaklum saja pak namanya juga anak sultan. Sultan mah bebas pak, mereka bisa sekolah ya karena mereka anak pemilik sekolah. tapi dijamin kok pak mereka punya anak dalam keadaan halal.
itulah makanya mereka di nikahkan biar tidak terjadi sesuatu diluar batas" tutur Arta yang sedari tadi memperhatikan pak Aldy yang terlihat bingung dan pasti berpikir yang tidak-tidak.
" Benarkah?" tanya pak Aldy seakan tak percaya
" Saya bisa memperlihatkan buku nikah kami kok pak" sahut Lia
" Kenapa saya merasa tidak nyaman ya" ucap Pak Aldy
" Kenapa memangnya pak?' tanya indah polos
" Menurut kamu?" pak Aldy balik bertanya
" Apa ya?" Indah nampak berpikir
" Semua sudah ada yang mengatur pak, gak usah khawatir. perjalanan kami pun tidak semulus yang bapak lihat saat ini. kami punya cerita masing-masing dalam mempersatukan hubungan kami dan itu tidak mudah. saya rasa dari pengalaman bapak yang satu ini dan dari cerita hidup yang bapak jalani asalkan pak Aldy ikhlas dan yakin, saya percaya kok pak akan ada seseorang yang sedang menunggu kedatangan bapak, siapa dia? untuk saat ini hanya tuhan saja yang tahu" tutur Mita panjang lebar membuat Arta menatapnya tak berkedip.
" Jika pak Aldy yakin dan berserah diri kepada tuhan yang maha esa, kesakitan bapak hari ini akan dibalas dengan kebahagiaan yang sempurna nantinya" lanjut Mita
" Benarkah?" Mita mengangguk.
" Kami disini bisa bersatu setelah melewati berbagai macam rintangan. karena kami percaya kebahagiaan itu pasti ada jika kita bersabar untuk menunggunya. mencari kebahagiaan dengan memaksakan kehendak yang ada bukan kebahagiaan yang kita dapat melainkan kehancuran semuanya" ucap Mita lagi.
Pak Aldy nampak berpikir kemudian ia tersenyum.
" Terima kasih ya kalian sudah mau menerima saya disini. dan terima kasih juga sudah mengingatkan saya banyak hal" sahut pak Aldy
" Sama-sama pak" Sahut Mita
" Alzaira, maafkan saya ya, karena saya sudah membuat kamu tidak nyaman selama ini" ucap pak Aldy tulus
" Iya pak saya sudah maafkan, dan maaf juga kalau sikap saya juga selama ini kurang sopan sama bapak" ucap Zaira
" Tidak apa-apa, karena semua juga ulah saya sendiri yang membuat kamu merasa kesal dan tidak nyaman" ucap pak Aldy
__ADS_1
Akhirnya rasa canggung dan juga tidak enak hati bisa lebur begitu saja dengan adanya keterbukaan dan kebersamaan para sahabat yang selalu setia mendukung dan menyayangi Zaira.
Mereka menghabiskan waktu di taman kota dengan ceria seraya mengajak baby Zia bermain dan bercanda.