
Kata-kata ada pelangi setelah hujan sangatlah cocok bila ditujukan kepada Zaira dan para sahabatnya. Perjalanan cinta mereka yang diawali dengan berbagai macam cobaan dan aral rintangan yang menerpa membuat ikatan cinta mereka semakin kuat.
Air mata kesedihan karena sebuah kesalahpahaman, adanya cinta segitiga, terjerumus akan obsesi dan ambisi yang besar hingga membuat cinta menjadi buta, adanya pertumpahan darah, meninggalkan trauma yang cukup besar karena ***** yang berkedokan cinta, ada pula kebencian dan amarah yang berakhir dengan penyesalan tapi kini Zaira dan teman-temannya merasa sangat bersyukur meskipun perjalanan cinta mereka diawali dengan airmata kini mereka bisa menuai manisnya cinta yang sudah tumbuh berkembang bahkan berbuah kebahagiaan.
" Sayang!" Azka melingkarkan tangannya di pinggang sang isteri yang saat ini tengah membuat sarapan
Azka bermanja-manja dengan Zaira yang sedang sibuk memasak dan hal tentu saja membuat Zaira merasa kegelian dengan kejahilan tangan suaminya yang sesekali menyentuh area sensitifnya, Zaira yang merasa terganggu langsung menghentikan kegiatannya dan membalikkan badannya hingga mereka saling berhadapan.
" Mas aku ini sedang memasak untuk sarapan kita, jadi bisakan mas melepaskan tangannya dulu!" pinta Zaira dengan nada yang sangat lembut.
" Tidak usah membuat sarapan sayang, karena mas ingin sarapan yang lain!" ucap Azka dengan senyum jahilnya
" Maksudnya, mas ingin sarapan di luar?" tanya Zaira pura-pura tidak mengerti
" Masa sih kamu tidak mengerti sayang?" tanya Azka menaikan satu alisnya
" Ya katanya aku gak boleh membuat sarapan dan mas ingin sarapan yang lain, ya berarti itu beli diluar?" ucap Zaira dengan polosnya
" Bukan itu sayang karena sarapan yang mas inginkan gak ada diluar tapi adanya disi_!" ucapan Azka terpotong karena tiba-tiba terdengar suara orang memberi salam
" Assalamu'alaikum!" ucap dua insan yang baru saja datang dan langsung masuk membuat Azka terkejut dan mendengus kesal dengan kedatangan tamu yang tidak diundang itu.
" Wa'alaikum salam!" sahut Zaira
"Lepas mas!" Zaira menepuk lengan Azka setelah merasa kendor Zaira langsung melepaskan tangan Azka yang masih bertengger di pinggangnya.
" Wa'alaikum salam!" jawab Azka dengan wajah ditekuk
" Wihhhh, pagi-pagi udah mesra-mesraan aja!" goda Lia tamu yang tidak diundang itu
" Lebih baik mesra-mesraan dari pada pagi-pagi udah bertamu di rumah orang, ganggu kegiatan orang saja!" cetus Azka dan langsung menarik satu kursi meja makan dan mendudukkan dirinya dengan raut wajah kesalnya.
" Biarin wleee...!" sahut Lia cuek sementara Mario hanya tersenyum canggung karena merasa tidak enak hati
" Jangan diambil hati ucapan kakak iparmu yang satu itu Mario, dia kalau ngomong memang asal gak ada filternya!" ucap Zaira yang tahu kalau Mario pasti merasa tidak enak hati dengan ucapan suaminya.
" Iya kakak ipar santai aja gue paham kok, biasalah kalau laki-laki sudah on going bawaannya emosi!" ucap Mario seraya terkekeh.
" Jadi kamu kayak gitu juga pih kalau lagi on going?" tanya Lia melirik Mario
" Ya semua laki-laki sama sayang!" Mario mengacak-acak rambut Lia gemas
" Kalau mau mesra-mesraan di rumah aja ngapain kesini?" protes Azka membuat Lia mengerucutkan bibirnya
" Kakak pelit banget sih awas saja ya aku bilangin mamah kalau kakak tidak mengizinkan aku datang ke rumah kakak!" ucap Lia berpura-pura sedih
" Mas ngomong apalagi sih!" ucap Zaira yang baru saja datang dari arah dapur membawa dua piring masakan ditangannya lalu diletakkan di atas meja.
" Yaudah yuk yang kita pulang aja!" ucap Lia yang sudah berdiri dan memasang wajah sedih
" Loh Li mau kemana?" tanya Zaira saat melihat Lia sudah beranjak dari duduknya
" Mas ihhh, itu adiknya ngambek loh!" lanjut Zaira
" Adikmu itu sedang hamil mas dan ingin sarapan sama kamu. tadi dia memang sudah menelpon aku!" tutur Zaira
" Yaudah Za gak apa-apa, gue pulang aja!" ucap Lia yang langsung pergi namun baru saja hendak melangkah keluar tangannya sudah di tarik oleh Azka dan sedetik kemudian Azka membungkukkan badan di depan Lia.
" Jadi keponakan aku ingin sarapan bareng?" Azka mengusap lembut perut Lia
" Maafkan kakak ya Mel!" lanjut Azka mengusap pucuk kepala Lia dengan lembut
" Kakak cuma bercanda jangan dimasukkan ke dalam hati!" Azka memeluk adik kesayangannya itu
" Aku juga sama kok cuma bercanda!" sahut Lia seraya tertawa membuat Azka langsung mengurai pelukannya dan mengacak-acak rambut Lia dengan kasar
" Kakak ihhh!" kesal Lia
" Siapa suruh ngerjain kakak!" sahut Azka yang sudah kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
Zaira hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua kakak beradik itu sedangkan Mario hanya tersenyum tipis.
" Sudah jangan bercanda terus, ayok cepat kita sarapan!" ucap Zaira
" Za, baby Zia mana?" tanya Lia yang sudah duduk di samping Mario
" Ada masih di dalam kamarnya bersama bi Ningsih!" jawab Zaira
" Yaudah cepat kalian sarapan, sebentar lagi kalian akan berangkat ke sekolah kan!" Zaira mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk Azka dan Lia mengambilkan untuk Mario.
" Za loe kapan masuk lagi kesekolah?" tanya Lia disela sarapannya
" Awal pelajaran baru dan kebetulan baby Zia sudah bisa di tinggal jadi gue bisa lanjut sekolah, rasanya gue sudah gak sabar sih pingin cepat-cepat masuk sekolah!" sahut Zaira
" Loe masuk sekolah gue yang gantian homeschooling padahal sudah tanggung banget ya!" ucap Lia
" Sabar saja yang terpenting itu adalah untuk kebaikan kamu dan juga kandunganmu" tutur Azka
" Iya benar yang dikatakan kak Azka" timpal Mario.
" Tapi tetap saja tidak seru apalagi tidak bisa ikut ujian"
"Ujian sekolah kamu masih bisa ikut sayang, mengingat usia kandungan kamu sekarang sudah jalan 16 Minggu !" ucap Mario menimpali ucapan Lia
" Iya Li loe masih bisa ikut ujian sama-sama!" senyum pun mengembang di wajah cantik calon ibu muda tersebut.
" Iya ya, tapi apa gak masalah?" tanya Lia yang nampak sedikit khawatir
" Kamu ini seperti lupa saja siapa papah!" celetuk Azka
" Menantunya saja masih bisa masuk sekolah lagi apalagi putri kesayangannya!" lanjut Zaira yang ikut menimpali ucapan suaminya
" Iya juga sih!" sahut Lia cengengesan
" Sudahlah sayang, sekarang yang terpenting adalah menjaga kesehatan kamu dan juga bayi kita!" ucap Mario seraya mengusap lembut perut Lia yang sedikit membuncit.
" Yaudah, ayok kita berangkat ke sekolah !" ajak Mario
" Za terima kasih ya sarapannya, maaf gue jadi ngerepotin!" ucap Lia
" Lebay, kayak sama siapa aja. tenang aja buat sahabat yang merangkap adik ipar gue, apapun itu selagi gue bisa pasti gue usahain deh." sahut Zaira
" Duh kakak ipar gue yang satu ini memang the best deh!" Lia memeluk Zaira
" Oiya, ponakan gue yang comel mana nih aunty nya kangen tau?" Lia mengedarkan pandangannya
" Mungkin masih tidur, soalnya semalam agak rewel" Zaira merangkul bahu Lia mengajaknya ke kamar baby Zia
Ceklekk
" Bi!" sapa Lia saat masuk ke dalam kamar baby Zia menyapa bi Ningsih yang sedang memakaikan baby Zia baju selepas mandi.
" Eh non Lia!" bi Ningsih menjawab sapaan Lia
" Sudah mandi rupanya putri cantik mamah!" Zaira duduk di samping bi Ningsih lalu mengambil alih tugas bi Ningsih memakaikan baby Zia baju.
" Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu !" ucap bi Ningsih awalnya Zaira merasa tidak nyaman dipanggil ibu oleh orang yang usianya lebih tua darinya tapi karena bi Ningsih tetap saja memanggilnya ibu alasannya ia merasa kurang sopan jika memanggil Zaira hanya mbak sedangkan dengan Azka memanggilnya pak!"
Setelah mencium dan menjembil pipi bakpao baby Zia Lia pun pamit kepada Zaira untuk berangkat ke sekolah dan pada saat hendak keluar Lia berpapasan dengan sang kakak.
" Sudah mau berangkat sekarang?" tanya Azka
" Iya kak, kakak gak berangkat?" Lia balik bertanya
" Nanti agak siangan!" jawab Azka
"Hemm.... pasti mau melanjutkan yang tadi ya? ingat tuh ada baby Zia!" goda Lia yang langsung beranjak pergi
" Huh dasar adik gak ada akhlak!" oceh Azka yang langsung membuat Lia tertawa
__ADS_1
Azka sudah berangkat mengajar rencananya ingin meminta sarapan yang lain alhasil jadi gagal total karena kehadiran sang adik.
Di sekolah seperti biasa hanya tinggal pengambilan nilai anak-anak kelas 11 saja karena kelas 10 tugas guru olahraga yang lain.
Karena Lia tengah hamil jadi Lia tidak diikut sertakan dalam lomba lari maraton dan khusus untuk Lia penilaian diambil dari kegiatan yang lain. Tidak sedikit dari teman-teman Lia yang merasa iri dan juga merasa aneh karena Lia tidak ikut tapi tidak ada yang berani angkat bicara karena mereka tahu siapa Lia.
Lia hanya duduk sambil memperhatikan teman-temannya yang ikut lomba maraton dan disaat dia sedang menunggu tiba-tiba datang dua orang gadis menghampirinya dengan gaya angkuhnya.
" Jadi loe yang namanya Lia?" ucap salah satu gadis dengan angkuhnya. Lia yang mendengar ocehan receh seperti itu enggan menimpalinya dia meraih botol minum yang ada disampingnya lalu dengan santai meneguknya hingga tinggal setengahnya.
Merasa di acuhkan gadis yang tidak lain adalah Melati tidak terima lalu mengambil botol yang masih dipegang oleh Lia dan membuangnya.
Lia masih enggan menimpalinya dan dengan santai Lia beranjak dari duduknya lalu mengambil botol yang tadi dibuang oleh Melati dimasukkannya ke dalam tempat sampah.
Melati semakin geram dengan sikap santai Lia.
" Eh Loe tuli ya, gue sedang bicara sama loe !" sarkas Melati.
" Maaf ya gue gak kenal sama loe dan gue juga gak ada urusan sama loe jadi buat apa loe nanya-nanya gue ?" ucap Lia yang sudah merasa cukup menahan sabarnya.
" Gue tahu loe anak dari pemilik yayasan sekolah ini tapi tidak sepantasnya loe menjerat orang lain dengan kekuasaan bokap loe!" ucap Melati
Lia yang awalnya ingin pergi langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap lekat ke arah Melati.
" Coba loe ulang lagi ucapan loe barusan!" pinta Lia dengan tatapan tajam
" Gue tau loe itu orang kayak dan bokap loe yang punya yayasan sekolah ini tapi gak seharusnya loe menggunakan kekuasaan bokap loe agar loe bisa seenaknya di sekolah ini!" Lia menaikkan satu alisnya mendengar kata-kata Melati yang nampak lucu bagi Lia.
Lia tersenyum miring membuat Melati semakin kesal. " Loe tahu apa tentang gue?" tanya Lia dengan tatapan mata yang sulit di artikan
" Gue yakin sebenarnya kak Mario itu terpaksa menjadi pacar loe iyakan, dan kalau dia mutusin loe pasti bokap loe akan mengeluarkan dia dari sekolah " ucap Melati dengan percaya dirinya.
" Ah ternyata loe hanya orang yang tidak tahu apa-apa tapi sok tahu ya?" ucap Lia dengan santai
" Mendingan loe tanya deh sama teman-teman loe yang lain, tentang hubungan gue dengan Mario itu kayak apa!"
" Satu lagi apapun yang gue lakukan dan bagaimana pun hubungan gue dengan cowok gue, itu gak ada urusannya sama loe!" tegas Lia
" Tentu saja ada!" Lia yang hampir saja ingin meninggalkan gadis itu mengurungkan niatnya
" Maksud loe apa bicara begitu?" tanya Lia
" Karena gue suka sama kak Mario!" jawab Melati terus terang
Lia tersenyum miring mendengar pengakuan Melati. " Sebaiknya loe buang jauh-jauh perasaan loe itu sebelum loe menyesal dan sakit hati karena sampai kapan pun Mario tidak akan pernah bisa jadi pacar loe !" ucap Lia dengan nada suara yang dibuat pelan.
" Cih sombong banget loe, belum tentu juga kalian akan sampai menikah!" ucap Melati dengan ketus
" Terserah loe aja yang jelas gue sudah mengingatkan loe dan asal loe tau kalau Mario itu bucin abis sama gue jadi ya gak mungkinlah dia suka sama cewek lain apalagi sama cewek yang suka ngejar-ngejar cowok, itu bukan tipe Mario banget." tutur Lia membuat Melati nampak berpikir sejenak
" Alah loe aja kali yang terlalu percaya diri, gak mungkin Mario yang dingin kayak gitu bucin!" ucap Melati yang merasa tidak percaya
" Yaudah kalau loe gak percaya!" Lia baru saja hendak melangkah dan saat berbalik badan tubuhnya membentur dada bidang yang tentu sudah sangat dihapalnya.
Lia mendongak dan melihat Mario yang tengah menatap tajam ke arah Melati.
Melati nampak terkejut dengan kemunculan Mario yang secara tiba-tiba. " Hai kak Mario!" sapa Melati dengan sok akrab
" Apa yang mereka katakan, apa mereka menyakitimu?" tanya Mario yang langsung menoleh ke arah Lia dan memeriksa setiap inci tubuh istrinya itu.
" Aku gak apa-apa Io, kamu ini terlalu berlebihan. mereka hanya mengajak aku bicara tidak lebih kok!" sahut Lia
" Sudah ayok pulang!" ajak Mario
" Tapi aku_!"
" Aku sudah minta izin sama pak Bagaz!" jawab Mario yang langsung menggandeng Lia begitu posesif membuat Melati dan Bunga yang sedari tadi diam saja dibuat tercengang karena sikap Mario yang ternyata begitu posesif sampai-sampai menuruni anak tangga saja Mario begitu memperhatikan jalan untuk Lia.
" Gue gak salah lihat!" gumam Melati
__ADS_1