
" Mungkinkah?" batin Mita
Deg
Deg
Deg
Jantung Mita semakin berdegup kencang ketika Novi menyebut kata gadis imutnya dan seketika Mita teringat dengan kejadian demi kejadian yang pernah ia alami beberapa hari ini.
Sup ayam kampung, es krim dan sikap perhatian Arta terhadapnya yang diam-diam. terlebih lagi setelah ia tahu tentang Arta yang ternyata laki-laki yang pernah menolongnya beberapa waktu lalu saat ia pingsan di tepi jalan melalui foto yang dilihatnya di ruang keluarga.
Satu persatu semua ingatan Mita seperti roll film yang tengah berputar di benaknya saat ini Mita terhuyung ke belakang hingga punggungnya membentur sandaran kursi.
" Mita kamu kenapa nak?" tanya Novi
Mita hanya diam tidak menjawab pertanyaan Novi karena masih berada dalam lamunan kenangan masa lalunya bersama kakak tampannya. Mita memegang dadanya terasa sesak karena degup jantungnya yang berdetak tidak karuan.
" Mita kamu kenapa nak, apa kamu sakit mukamu pucat?" tanya Novi yang cemas karena Mita nampak begitu pucat dan peluh keringat membasahi keningnya.
Mita tersentak dari lamunannya " Gak.. gak kenapa-napa kok tante" sahut Mita tersenyum yang dipaksakan.
" Yakin kamu tidak apa-apa, muka kamu pucat banget Mita?" ucap Novi lagi yang khawatir dengan keadaan Mita
" Ada apa mah?" tanya Lia yang baru saja datang menghampiri mereka
" Ini loh sayang, teman kamu Mita mukanya pucat banget" ucap Novi memberitahu menantunya
" Loe sakit Mit? kalau sakit sebaiknya loe istirahat aja gih!" pinta Lia
" Gue gak apa-apa Li!" sahut Mita. tiba-tiba pandangan mata Mita mengarah kepada selembar foto yang berada di tangan Lia.
" Lia itu apa?" tanya Mita menunjuk ke arah tangan Lia
" Oh ini foto milik kak Arta, foto ini jatuh tadi di taman dan Mona yang menemukannya" jawab Lia santai
" Apa itu foto Arta dengan gadis kecilnya dia sih bilangnya si gadis imut, ya memang sih gadis itu imut, cantik dan gemesin" ucap Novi mengatakan tentang foto yang dipegang Lia
Deg
" Gu.. gue bo... Leh melihatnya Li?" tanya Mita yang berubah gugup.
" Boleh ini!" Lia memberikan foto yang dipegangnya kepada Mita dan sedetik kemudian mata Mita membulat sempurna
" i...ini foto_" ucap Mita yang nampak terkejut
" Foto itu sudah menemani Arta bertahun-tahun, usia Arta kini sudah 28 tahun tapi sampai sekarang dia masih belum menikah karena selalu saja beralasan ingin memenuhi janjinya dengan gadis kecil yang ada di foto itu" ucap Novi
Deg
Deg
Deg
" Li.... Lia, di.. dimana kak Arta sekarang?" tanya Mita dengan terbata-bata dan jangan ditanya lagi air mata Mita sudah meluncur indah tanpa diminta.
" Kak Arta sedang main basket bersama Mario, kak Azka, kak Sendy dan juga Yoga" jawab Lia yang nampak bingung dengan sikap Mita
Tanpa banyak kata Mita langsung beranjak dari duduknya dan langsung berlari mencari keberadaan Arta
" Mita loe mau kemana?" teriak Lia yang terkejut dengan kepergian Mita yang berlalu begitu saja.
Novi pun mengerutkan keningnya melihat Mita yang tiba-tiba beranjak pergi begitu saja setelah melihat foto yang dibawa oleh Lia.
Lia yang khawatir dengan keadaan Mita langsung ikut menyusulnya begitu juga dengan Novi yang merasa penasaran dengan sikap aneh Mita.
" Apa jangan-jangan Mita adalah_" ucap Novi sebelum pergi menyusul Lia mengejar Mita.
Mita terus berlari mencari keberadaan Arta yang Lia bilang sedang bermain basket.
langit tiba-tiba berubah mendung acara barbeque dipindahkan ke aula belakang karena hujan mulai sedikit turun.
Mario dan yang lainnya menyudahi bermain basketnya karena cuaca berubah buruk.
Zaira dan yang lainnya pun sudah berteduh bersama Azka, Sendy dan juga Yoga
" Kak ayok!" ajak Mario
" Kau duluan saja" sahut Arta.
" Hujan semakin deras kak sebaiknya nanti saja main lagi!" ucap Mario cemas dengan keadaan sepupunya itu
__ADS_1
" Pergilah Rio kakak ingin sendiri!" bentak Arta yang masih menderibel bola basketnya
Jegeeeerrrr
Zaira, Mona, Mia , indah dan juga yang lainnya yang sedang berteduh terkejut dengan suara petir yang menggelegar.
Azka yang mengkhawatirkan keadaan Zaira langsung menghampiri Zaira dan memeluknya.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Azka cemas
" Tidak apa-apa kok mas, hanya kaget sedikit" jawab Zaira
" Bagaimana dengan anak kita?" tanya Azka seraya tangannya mengusap lembut perut Zaira
" Dia juga tidak apa-apa kok mas" jawab Zaira santai lalu Azka mengajak Zaira untuk duduk di kursi yang ada ditempat mereka berteduh.
Tiba-tiba pandangan mereka beralih ke arah Mita yang tengah berlari di bawah guyuran hujan yang cukup lebat, dan karena kurang hati-hati Mita sempat terjatuh dan membuat lututnya sedikit berdarah. Mita tidak menghiraukan luka pada lututnya dia kembali berlari mencari keberadaan Arta.
Zaira dan yang lainnya nampak bingung melihat Mita yang berlari dibawah guyuran hujan lebat.
" Kak hujan semakin lebat, nanti kakak bisa sakit. jika kalian berjodoh takdir pasti akan mempertemukan kalian kak" teriak Mario yang suaranya berbalapan dengan suara derasnya hujan
Jegeeeerrrr
Kilat makin menyambar suara petir semakin bergemuruh kencang membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan terperanjat kaget.
" Kak jangan bodoh, petirnya sangat kencang, bahaya kak" teriak Mario
" Dibawah hujan lebat disaksikan dengan suara petir yang menggelegar aku sudah berjanji akan segera kembali dan menikahinya tapi apa? sampai detik ini aku belum juga menemukan keberadaan gadis imutku Rio, bagaimana jika papa benar-benar akan menjodohkan aku dengan pilihannya, lalu bagaimana janjiku dengan gadis imutku Rio!" tangis Arta pecah. mereka yang menyaksikan drama menyedihkan itu ikut pilu mendengarnya.
Arta kembali mendribel bola dengan nafas yang memburu dan pada saat dia hendak memasukkan bola ke dalam ring tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke depan hingga membuat bola yang di pegangnya jatuh begitu saja.
Deg
Deg
Deg
Jantung keduanya berdegup begitu kencang Mario tersentak kaget dengan pemandangan yang ada di depan matanya begitu juga dengan yang lain yang menyaksikan Mita berlari dan langsung memeluk Arta dari belakang.
Sementara Lia dan Novi yang mengikuti Mita dari belakang bernafas lega melihat keduanya sudah bertemu.
Deg
Deg
Deg
Mita menangis sesenggukan dibalik punggung Arta " Ka...kak tam..pan" ucap Mita terbata-bata disela Isak tangisnya.
Jlepp
Arta yang mendengar suara lirih yang berasal dari balik punggungnya itu langsung membeku. Dia hafal siapa pemilik suara itu meskipun mereka hanya beberapa kali bertemu tapi entah kenapa suara gadis itulah yang selalu terniang -ngiang di telinganya
" Ga.. gadis kecilku, Im... imutnya kakak tampan?" tanya Arta yang menoleh ke samping dan Mita mengangguk dengan cepat dibalik punggungnya.
" Be.. benarkah?" tanya Arta yang masih merasa tidak percaya
" Aku pasti sedang bermimpi" ucapnya lagi " Seandainya ini mimpi aku berharap aku tidak akan bangun dari mimpi ini. aku sudah lelah mencarimu gadis imutku " ucap Arta terdengar begitu putus asa.
" Ma.. maafkan aku kakak tampannya imut" ucap Mita sesenggukan
Arta melerai pelukan Mita dan memutar badannya menghadap ke Mita.
" Benarkah kamu gadis imutku?" tanya Arta yang sudah menitikkan air mata dan Mita mengangguk lalu memberikan foto yang didapatnya dari Lia.
" Maafkan aku kak, karena aku sempat tidak meragukan kakak, aku pikir kakak tampan kesayangan imut sudah melupakan gadis imutnya dan tidak akan pernah kembali lagi. aku pikir mana mungkin seorang pria tampan menepati janjinya dengan gadis kecil seperti ku. aku... aku tidak berani banyak berharap kak apalagi setelah beberapa tahun aku sama sekali tidak pernah mendapat kabar dari kakak sampai akhirnya papa membawaku pergi dari kota B" ucap Mita disela Isak tangisnya.
" Maaf" Cicit Arta.
Semua yang berada tidak jauh dari mereka begitu terharu sampai menitikkan air mata.
Mia, Indah dan Zaira benar-benar tidak menyangka jika orang yang tadi mereka bicarakan adalah sahabatnya sendiri rasa haru pun menyeruak di dalam hati mereka. Lia tersenyum melihat kakak sepupu dari suaminya kini sudah menemukan gadis kecilnya dan ternyata dugaannya selama ini ternyata benar adanya kalau sahabatnya Mita adalah gadis yang kakaknya cari selama ini.
" Aku sebenarnya sudah curiga kalau kamu itu adalah gadis imutku, sewaktu aku membuatkan mu sup ayam kampung dan matamu berkaca-kaca. " ucap Arta
" Tapi aku takut salah dalam berharap" ucap Arta tersenyum tipis
" Aku pun sama kak, hanya saja aku berusaha untuk menepisnya. aku tidak berani lagi berharap pada siapa pun " ucap Mita lirih.
" Lalu bagaimana dengan ku?" tanya Arta
__ADS_1
" Entahlah kak,!" jawab Mita sendu
" Apa perlu aku menangis agar kamu mau menerimaku sebagai kekasih mu seperti yang kamu lakukan dulu terhadap ku, hem'?" tanya Arta membuat Mita mencibikkan bibirnya.
" Kak jangan membuat aku malu karena sudah memaksa seorang kakak berseragam SMA di tembak untuk menjadi pacar seorang anak SD" ucap Mita yang nampak memerah wajahnya.
" Dan anak SD itu berhasil membuat hidupku terasa jungkir balik" tutur Arta
" Aku tidak akan menikah dengan siapa pun jika kamu menolak ku " ucap Arta tegas.
" Benarkah?" tanya Mita meyakinkan
" Tentu saja!" jawab Arta
" Lalu bagaimana dengan perjodohan itu?" tanya Mita membuat Arta mengerutkan keningnya.
" Perjodohan?" tanya Arta
" Hem!" jawab Mita mengangguk
" Aku pasti akan menolaknya dan akan berlutut sampai kamu menyukai aku kembali dan mau menikah dengan ku" jawab Arta dengan entengnya.
" Dan aku rasa aku juga sudah kembali menyukai kakak tampanku." sahut Mita menunduk malu
" Benarkah?" tanya Arta dan Mita mengangguk lalu tersenyum.
Arta yang merasa gemas langsung mengacak-acak rambut Mita sambil tertawa merekapun lalu berpelukan di bawah guyuran air hujan yang sudah sedikit reda.
" Wah... wah... apa aku tidak salah lihat ini?" tanya Mario membuat keduanya menoleh ke arah Mario dan mengurai pelukannya dengan wajah yang sudah bersemu merah.
" Jadi gadis yang di cari kak Arta selama ini adalah Mita, sungguh tidak disangka-sangka ya!" ucap Mario lagi.
" Pantas saja sewaktu Mita memakan sup ayam kampung buatan kak Arta, Mita sampai menitikkan air mata dan langsung bertanya ke bi Tini siapa yang memasak sup nya. ternyata ya tanpa kalian sadari perasaan kalian itu sebenarnya sudah saling mengenali hanya kurang peka aja" ucap Lia yang membuat Mita tersipu malu dan Arta menatapnya lekat.
" Gadis imutku memang sejak dulu sangat menyukai sup ayam kampung buatan ku dan entah kenapa saat itu rasanya ingin sekali aku membuatkannya sup itu apalagi melihat keadaannya yang sungguh mengenaskan menangis di pinggir jalan di bawah hujan lebat sampai akhirnya pingsan." tutur Arta menceritakan pertemuannya yang pertama dengan Mita besar.
" Apa Mita pingsan dipinggir jalan? Mita gak pernah cerita" tanya Lia yang nampak terkejut
Mita hanya cengengesan merasa malu dengan Lia dan juga Novi yang tengah tersenyum ke arahnya.
" Sudah... sudah.. nanti di lanjutkan ceritanya sekarang ayo cepat kalian ganti baju nanti masuk angin!" ucap Novi
" Ayok Io!" ajak Lia dan Mario tersenyum lalu menggandeng tangan Lia
" Jangan dekat-dekat kamu basah" ucap Lia membuat Mario malah menjahilinya dan langsung menggendongnya.
" Aaaa... io, turunkan aku malu ih" teriak Lia yang berontak digendongan Mario.
" Jangan berontak atau mau aku cium di sini Hem?" ancam Mario membuat Lia langsung terdiam.
Arta tersenyum melihat tingkah adik sepupunya itu lalu menoleh ke arah Mita.
" Apa mau seperti mereka?" goda Arta membuat Mita memincingkan alisnya.
" Mereka sudah halal wajar kalau melakukan hal itu" ucap Mita yang langsung beranjak pergi menghampiri Novi yang tengah geleng-geleng kepala melihat tingkah anak-anaknya.
" Ayok!" ajak Novi dan Mita tersenyum hangat kepadanya.
Beruntung hujan sudah reda Azka pun dengan hati-hati menuntun isterinya berjalan masuk ke dalam rumah menyusul Mario dan yang lainnya. Zaira merasa senang karena kini Mita sudah tidak galau lagi dan berharap Arta bisa memberikan Mita kebahagiaan dan cinta yang tulus.
Sementara Mia dan Indah nampak terharu dengan pertemuan Mita dan Arta. sungguh diluar dugaan mereka sedangkan Mona hanya terdiam entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
" Ayok masuk!" ucap Yoga yang menghampiri mereka bersama dengan Sendy.
" Ayok!" timpal Mia
" Mona!" panggil Indah karena melihat Mona diam saja.
" Jodoh tidak akan ada yang tahu, mungkin itu cara tuhan mempertemukan Mita dan kak Arta dengan menguak tentang dokter Ariel yang ternyata sudah beristeri. jangan terlalu banyak berharap!" ucap Yoga setelah itu berlalu pergi menyusul Mia dan indah yang sudah pergi lebih dulu bersama Sendy.
" Kenapa lagi-lagi Mita? Setiap orang yang gue suka kenapa selalu menyukai dia?" gumam Mona setelah semua orang pergi meninggalkan dirinya sendiri.
Mona dengan langkah gontai masuk ke dalam rumah dan semua orang sedang berada di aula.
" Mona ayok!' ajak Mia dan Indah seraya tersenyum
" Loe yang sabar ya Mon, jodoh loe pasti akan datang kok kita tunggu aja sampai Tuhan mempertemukan kita dengan mereka Mon. gak usah di buat galau tidak selamanya jomblo itu mengenaskan. kita bisa bahagia kok Mon walaupun status kita sebagai jomblo , yang terpenting saat ini adalah tetap bersyukur terhadap apa yang kita miliki Mon!" ucap Mia
" Persahabatan kita lebih berharga dari apapun Mon, kita pernah hampir mati tapi dengan adanya persahabatan kita bisa menghadapi semuanya bersama-sama bukan, jangan karena perasaan yang salah membuat ego kita menang dan malah menghancurkan apa yang sudah kita miliki Mon" lanjut Mia seraya tersenyum.
" Kita adalah sahabat , itu juga sudah menjadi takdir dari Tuhan begitu juga dengan jodoh kita semua sudah ada takdir Tuhan yang tidak bisa kita paksakan Mon" Mona terdiam mencerna setiap ucapan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
Mona menghela napasnya berat " Berbicara terkadang memang mudah Mi, tapi faktanya gak semudah itu" sahut Mona membuat Mia dan Indah nampak tak percaya dengan ucapan Mona