Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Pulang sekolah Miska dan Khanza berjalan bersama menuju kantin.Mereka saling melempar canda dan tawa mengiringi derap langkah keduanya.


" Kita kenapa jadi kayak gini ya Za?"


"Kayak gini gimana?"


" Enggak ada sedikitpun terlintas dalam pikiran gue hidup kayak gini, menikah disaat kita masih sekolah bahkan sekarang udah hamil dan yang lebih parahnya lagi harus kucing-kucingan kayak gini" curhat Miska terkekeh sendiri mentertawakan nasibnya


" Terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan realita yang ada tapi terlepas dari itu kita tetap harus bersyukur karena apa yang sudah tuhan berikan pasti itu adalah yang terbaik untuk kita" tutur Khanza


" Ya loe benar Za"


" Sekarang loe tinggal di mana Ka?"


" Di rumah kedua orangtuanya, daddy dan mommy nya sangat baik dan begitu perhatian mereka bahkan sudah seperti orang tua gue sendiri. terkadang lucunya Roni suka iri melihat perhatian lebih orang tuanya terhadap gue" jawab Miska


" Enak dong ya, loe beruntung mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari kedua orang tuanya, jika isterinya bukan loe mungkin orang tuanya juga belum tentu bersikap seperti itu" ucap Khanza menimpali


" Ya enggak tau juga, dulu saat kasus yang menimpa pak Aldy daddy terlihat begitu menyeramkan terlihat arogan dan juga angkuh tapi setelah mengenalnya dan sekarang malah jadi mertua gue dia itu sosok orang tua yang tegas tapi juga sangat perhatian kepada keluarganya hanya saja cara mendidik anaknya dulu itu salah, dia terlalu memanjakan Roni dengan harta dan membelanya ketika berbuat salah" tutur Miska.


" Iya loe benar dan beruntungnya Roni di jodohkan sama loe" tunjuk Khanza pada sahabatnya


" Dan bersyukurnya Roni mau berubah" timpal Miska


Tidak terasa mereka kini sudah sampai di parkiran mobil SMP Darma Bangsa dan netra mereka pun langsung tertuju pada dua sosok laki-laki tampan yang berbeda generasi itu tengah berdiri bersandar pada mobil mereka masing-masing yang ternyata berdekatan.


" Tuh lihat gaya mereka, bisa sesantai itu tapi kita_" Keluh Miska menyorot ke arah Roni


" Sabar, ya begitulah laki-laki, tapi jauh di lubuk hati mereka gue yakin mereka juga sebenarnya selalu di landa kecemasan apalagi posisi kita yang tengah hamil seperti ini"


" Za, loe masih merasa nyaman dengan tampilan loe yang sekarang?" tanya Miska tiba-tiba


" Kenapa memangnya, culun ya?" Khanza geli sendiri dengan penampilannya sendiri yang menggunakan seragam kebesaran terlihat sedikit kampungan


Untungnya dari dulu penampilan Khanza memang selalu menggunakan baju yang kendor tidak terlalu ngetat kesan kampungan memang sudah melekat pada dirinya, karena Khanza bukanlah dari kalangan keluarga mampu jadi penampilannya yang kampungan tidaklah masalah.


" Kalau gue pakai baju kayak loe gitu apa enggak terlihat aneh ya, mereka pasti berpikir yang bukan-bukan"


Khanza tertawa membayangkan Miska menggunakan baju longgar seperti dirinya.


" Kalau loe nya sedikit gemuk gue rasa enggak aneh ah, sekarang loe masih aman bahkan sampai lulus juga gue rasa amanlah." tutur Khanza


" Iya juga sih"


" Udah enggak usah dipikirin tapi nikmati aja" pesan Khanza


" Assalamualaikum!" ucap Khanza dan Miska bersamaan


Khanza menghampiri Aldy lalu salam takzim begitu juga dengan Miska yang menghampiri Roni lalu menyalami tangannya dengan takzim.


" Wa'alaikum salam!" jawab Roni dan Aldy seraya mengembangkan senyumnya


Roni membukakan pintu mobil untuk Miska begitu juga dengan Aldy.


Miska dan Khanza saling melempar pandangan yang kemudian menggeleng pelan seraya tersenyum.


Miska masuk ke dalam mobil Roni dan Khanza masuk ke dalam mobil Aldy keduanya berpisah di area parkir.


Mobil Roni sudah lebih dulu melesat meninggalkan area sekolah disusul oleh mobil milik Aldy.


" Bagaimana hari ini, apa melelahkan?" tanya Roni menoleh sekilas melihat Miska yang tengah menyandarkan punggungnya pada jok mobil


" Lumayan, tapi kalau boleh jujur aku jadi merasa kurang bebas bergerak ini seperti bukan dunia ku saja" ucap Miska jujur


" Apa kamu merasa tidak nyaman dengan hubungan kita?" Roni bertanya tanpa menoleh


" Aku bukan merasa tidak nyaman dengan hubungan kita hanya kurang nyaman dengan keadaannya" sahut Miska membuat Roni mengerutkan keningnya


" Maksudnya?"


Miska menghela nafasnya panjang lalu menatap Roni lekat " Jika dibilang tidak nyaman jujur sekarang aku sekarang sudah merasa nyaman dengan hubungan ini tapi aku merasa tidak nyaman dengan keadaan yang mengharuskan kita selalu kucing-kucingan saat bertemu" jawab Miska jujur dan Roni mengembangkan senyumnya penuh rasa bahagia


" Kenapa kamu malah tersenyum kayak gitu?" kesal Miska melirik ke arah Roni


" Apa isteriku ini ingin selalu dekat-dekat dengan ku hem?" tanya Roni sedikit menggoda


" Ih kepedean siapa juga yang mau dekat-dekat kamu?" sahut Miska mencibik


" Itu tadi katanya merasa enggak nyaman karena main kucing-kucingan" ledek Roni membuat Miska memutar bola matanya malas


" Siapa yang bilang, aku sih biasa aja" Miska mengelak


" Yang bener?" godanya lagi


" Apaan sih ih nyebelin banget" kesal Miska menutupi rona merah di pipinya


" Kita bisa saja mengumumkan hubungan kita jika kamu mau?" ucap Roni


" Jangan!" ucap Miska cepat membuat Roni langsung menoleh dan menaikkan satu alisnya


" Kenapa? bukannya tadi kamu bilang _"


" Tidak aku tidak bilang apa-apa"sahut Miska cepat memotong kata-kata Roni

__ADS_1


" Tapi jika kita umumkan kalau kau adalah kekasihku bukankah itu akan jauh lebih baik untuk kebersamaan kita kedepannya tanpa harus sembunyi-sembunyi!" Roni menunggu respon dari Miska


" Lalu bagaimana dengan mantan-mantan kamu?" tanya Miska dengan perasaan yang tidak nyaman setiap kali mengingat Roni yang banyak mantan pacarnya.


" Mereka adalah masa lalu aku dan kamu masa depan aku sayang!" Roni mengulur tangannya dan meraih tangan Miska membawanya ke dada bidangnya.


" Tapi masa depan akan terganggu dengan adanya masa lalu yang belum selesai"


Roni menepikan mobilnya lalu menatap lekat wajah sendu wanita yang ada di sampingnya.


" Lalu kamu maunya bagaimana hem? aku akan lakukan apapun agar kamu bahagia!" ucap Roni dengan sangat lembut


" Masa lalu aku memang sangat buruk dan aku tahu kamu pasti merasa sangat tidak nyaman dengan itu lalu aku harus bagaimana agar kamu tidak terganggu dengan masa laluku dan bisa nyaman dimana pun kamu berada" lanjutnya


Miska menundukkan pandangannya sejenak lalu menoleh ke arah Roni dan menatapnya lekat " Aku juga tidak tahu, mungkin aku terlalu egois karena terlalu banyak menuntut dengan hubungan ini, aku juga tidak tahu kenapa rasanya tuh sakit setiap kali melihat mu tapi tidak bisa mendekat, anakmu sangat keterlaluan membuatku seperti bukan diriku saja" Keluhnya


" Jangan bicara seperti itu, anak kita hanya kangen dengan papinya dan itu hal yang wajar dan tidak keterlaluan menurutku"


" Keterlaluan jika hal itu dirasakan saat berada di sekolah, jika di rumah aku tak masalah"


" Kita pacaran saja bagaimana dan jika setelah kita pacaran kamu merasa tidak nyaman ada banyak yang mengganggu kamu, kita pura-pura saja putus" jawab Roni mengusulkan


" Ide yang bagus juga sih tapi apa tidak apa-apa seperti itu, kenapa aku merasa khawatir ya?"


" Jika kamu merasa khawatir ya tidak usah saja? kita tetap seperti ini" Roni membelai rambut Miska


" Entahlah aku bingung, biar aku pikirkan lagi"


Roni tersenyum " Terserah kamu aja sayang bagaimana baiknya"


" Kenapa dia jadi manis seperti ini" gumam Miska pelan tapi masih bisa Roni dengar


" Karena aku mencintaimu..."


Deg


Seketika wajah Miska bersemu merah, pernyataan cinta Roni membuat jantungnya berdegup kencang.


" Aku sangat menyukai wajah kamu yang bersemu merah seperti ini, sungguh menggemaskan" Roni mengikis jarak dan tiba-tiba


Cup


Miska membola saat merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya.


" Dasar mesum yang tak pernah tahu tempat" kesal Miska


Roni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" Apa kebiasaan mu ini tidak bisa berubah?" ketus Miska


Roni menghembuskan napasnya kasar sebelum menjawab pertanyaan Miska yang membuatnya merasa bersalah


" Aku tau aku salah karena gaya pacaran ku dulu terbilang diluar batas tapi aku berani bersumpah setelah kita melakukan ijab qobul aku tidak pernah lagi dekat dengan cewek mana pun" jawab Roni namun Miska malah tersenyum mengejek


" Loly, Luna , Ica, Dila dan masih banyak lagi cewek-cewek yang aku enggak kenal namanya yang datang ke kantin bersama kamu dengan sangat mesra, apa mereka bukan cewek?" Miska tersenyum kecut


Roni mengembangkan senyumnya " Aku melakukan hal itu sengaja ingin mengujimu!" jawab Roni seraya menyalakan mesin mobilnya kembali


" Mengujiku, maksudmu?" Miska menatap tajam menunggu jawaban sang suami


" Aku hanya ingin tau bagaimana reaksi mu saat melihat aku bermesraan dengan cewek lain" jawab Roni


" Hasilnya?" Miska tersenyum menyeringai


" Kamu bersikap biasa saja membuat aku geram sendiri" jawab Roni pasrah tapi berhasil mengundang gelak tawa Miska


" Kamu itu musuhku lalu kenapa ingin mengetahui reaksi ku melihat mu dengan cewek lain? apa kamu berharap aku cemburu, hem?" Miska sedikit mengejek


" Aku ini suamimu bukan musuhmu, ingat itu!"


Miska memutar bola matanya malas


" Ya.. ya.. ya.. " Miska lebih memilih mengiyakan saja ucapan Roni.


" Lalu sekarang? apa mereka masih berambisi ingin menjadi pacarmu? jika mereka tahu aku adalah pacarmu apa mereka akan diam saja? aku rasa tidak, oh astaga kenapa semua terasa rumit sekali" Miska menghempaskan tubuhnya pada sandaran jok mobil


" Tidak ada yang rumit jika kita menghadapinya bersama-sama dan yang lebih terpenting adalah kita saling percaya satu sama lain, paham?" ungkap Roni, Miska mengangguk membenarkan ucapannya.


" Bagaimana, apa sekarang kita pacaran?" tanya Roni mengerlingkan matanya


" Kita sudah menikah" jawab Miska seraya tertawa gemas sendiri dengan sikap Roni


" Pacaran setelah menikah itu jauh lebih baik bukan? sudah halal kalau mau_" Miska menepuk bahu Roni saat melihat tatapan genit Roni kepadanya


" Dasar mesum!"


" Mesum dengan pacar sendiri itu tidak masalah sayang, apalagi pacar yang sudah halal begini, rasanya ingin aku terkam setiap hari" canda Roni


" Roni ihhh, mesum... mesum... mesum!" Miska berkali-kali memukul lengan Roni bukannya merasa kesakitan Roni malah semakin terbahak.


" Sudah sayang sudah, aku sedang menyetir. bahaya untuk keselamatan kita berdua apalagi kamu sedang hamil. aku tidak mau membahayakan kalian berdua" Miska menghentikan aksinya dan memasang wajah cemberut tapi sedetik kemudian ia tersenyum merasa nyaman saat Roni mengelus perutnya dengan lembut.


" Sebelum sampai di rumah apa ada yang ingin kamu beli?" tanya Roni

__ADS_1


Miska nampak berpikir dan sedetik kemudian ia ingin memakan bakso cinta di kedai bakso milik Mario dan Lia


" Aku mau makan bakso cinta yang ada di dekat taman kota, boleh?" tanya Miska


" Apapun yang kamu mau boleh sayang" jawab Roni


" Kalau aku min_"


" Apapun boleh asal tidak meminta berpisah dari ku, karena aku tidak akan mengabulkannya sampai kapanpun." jawab Roni memotong ucapan Miska


" Kau takut sekali aku pergi meninggalkan mu, apa sebegitu cintanya ya kamu sama aku?" tanya Miska percaya diri


" Aku tidak takut kau pergi meninggalkan ku, kenapa juga aku harus takut?" sanggah Roni


" Benarkah? jadi kau tidak benar-benar mencintai ku?" Roni tersenyum menyeringai melihat wajah cemberut Miska yang menurutnya sungguh menggemaskan


" Tentu saja benar, kenapa juga aku harus takut kamu meninggalkan ku hem? aku yakin cinta yang aku miliki akan mengikatmu dengan kuat sehingga tidak akan ada celah untuk kamu pergi meninggalkan ku sayang" jawab Roni dengan penuh keyakinan


" Percaya diri sekali" timpal Miska


" Itu harus, karena Miska Maheswari hanya milik Roni Aryandra seorang" ucap Roni tegas


" Bagaimana kekasihku? kita sudah sampai tujuan, apa mau makan disini atau dibungkus aja?" tanya Roni setelah memarkirkan mobilnya


" Sudah sampai ya?"


" Hem!" Roni mengangguk


" Makan di sini aja ya?"


" Terserah nyonya Roni Aryandra aja!"


" Ya udah kalau gitu kita makan di sini aja!"


" Baik nyonya" Roni tertawa kecil


" Ishh..." Miska mencibik


Roni turun dari mobil begitu juga dengan Miska. suasana kedai bakso yang cukup ramai membuat Roni seketika bersikap posesif. Ia menautkan jarinya ke jari Miska seraya melangkah masuk ke dalam kedai bakso tersebut


Miska menatap ke arah tangannya yang berada dalam genggaman tangan Roni " Apa harus seperti ini?" tanya Miska menatap kearah tangannya


" Harus, kedai ini sangat ramai aku tidak mau kekasih halal ku sampai berdesakan dengan laki-laki lain" ucap Roni tegas membuat Miska tidak habis pikir Roni ternyata bisa seposesif itu.


" Kamu terlalu berlebihan" protes Miska yang langsung mendapat tatapan tegas dari Roni


" Aku tidak ingin kamu berdesakan apalagi sampai bersentuhan dengan laki-laki lain, selain itu aku juga takut kamu terjatuh jika tersenggol, aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada isteri dan calon bayiku. apa sikapku itu terlalu berlebihan?" Miska menundukkan wajahnya tak sanggup menatap mata Roni yang terlihat tegas dan tajam


" Maaf!" ucap Miska lirih namun Roni tidak mempedulikannya, ia kembali melangkah masuk ke dalam dan membimbing Miska untuk duduk di salah satu bangku yang kosong dan kebetulan mereka mendapat tempat di area luar yang dihiasi oleh bunga-bunga yang sangat indah dan juga lampion berwarna warni yang cukup memanjakan mata dibawah nya ada kolam ikan yang berisi berbagai macam ikan hias


" Duduklah!" titah Roni


Miska duduk tepat di hadapan Roni, tidak lama seorang pelayan datang dan menanyakan menu bakso yang ingin dipesan


" 2 porsi bakso cinta spesial dan minumnya 2 gelas jeruk peras hangat !" pesan Roni yang langsung ditulis oleh pelayan tersebut


" 2 porsi bakso cinta spesial dan 2 gelas jeruk peras hangat?" ulang pelayan menyebutkan pesanan Roni


" Iya" jawab Roni


" Apa ada yang lain?" tanya pelayan


Roni menoleh kearah Miska seakan bertanya dan Miska menjawab dengan gelengan


" Udah itu aja mba!" sahut Roni


"Baiklah, kalau begitu ditunggu ya kak pesanannya!" ucap pelayan sebelum pergi


" Iya!"


Roni dan Miska sama-sama diam dan sibuk dengan ponselnya masing-masing sampai pada akhirnya Miska kesal sendiri dan menatap ke arah Roni


" Kamu marah?" tanya Miska yang sudah tidak tahan dengan sikap Roni yang berubah dingin


" Aku tidak akan pernah bisa marah pada ibu dari calon anakku " jawab Roni datar


" Kalau tidak marah kenapa kamu bersikap dingin seperti itu?" Miska tiba-tiba merasa sangat sedih bahkan sampai menitikkan air mata


Roni tercengang melihat Miska yang tiba-tiba menangis sampai sesenggukan


" Hei... kenapa kamu menangis hem, aku sudah bilang kan aku tidak marah" bujuk Roni berusaha mendiamkan Miska yang berubah cengeng


" Ayolah jangan menangis terus!" bujuknya lagi namun tidak berhasil


" Ishhh... Hikss.. hikss... aku kenapa jadi cengeng begini sih?ini bukan aku banget!" kesal Miska karena air matanya masih saja mengalir tak bisa ia bendung meskipun berkali-kali ia usap dengan kasar


" Tenangkan diri mu sayang, sudah jangan menangis lagi ya papi minta maaf!" Roni bergeser mendekati kursi Miska lalu dengan pelan tangannya sudah masuk ke dalam baju Miska dan mengelus perutnya dengan sangat lembut.


Seketika tangis Miska pun terhenti dan menatap lekat wajah Roni yang tengah tersenyum manis


" Jangan menangis lagi ya, papi minta maaf karena sudah bicara dengan nada tinggi" ucap Roni dengan nada selembut mungkin.


Tanpa mereka sadari tidak jauh dari tempat mereka duduk ada sepasang mata yang menatapnya tajam

__ADS_1


__ADS_2