Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Alifa dan Aliya


__ADS_3

Pagi ini kediaman Keluarga DINATA dibikin heboh dengan ulah sang menantu kesayangan, pasalnya di pagi yang masih buta ini tepatnya jam dinding masih menunjukkan pukul 3 pagi tiba-tiba saja Zaira merengek meminta dibelikan bubur ayam kepada sang suami yang masih mengucek matanya mengumpulkan jiwa dan raganya menjadi satu. padahal sewaktu hamil muda Zaira bisa dikatakan tidak pernah minta yang aneh-aneh kecuali mangga muda yang ada di belakang sekolah dan itupun harus Azka sendiri yang memetiknya.


" Mas ayok bangun!" Zaira menggoyang-goyangkan bahu Azka yang masih mengantuk dan setengah nyawa.


" Ada apa sayang?" tanya Azka sambil mengucek matanya.


" Mas aku lapar" ucap Zaira sedikit merengek


" Yaudah, aku bilang bibi dulu ya untuk buatin kamu makanan" ucap Azka yang masih setengah mangantuk.


" Tapi aku maunya bubur ayam mas!"


" Iya nanti mas suruh bi Sum untuk buatin kamu bubur ayam ya"


" Ih gak mau mas, aku maunya makan bubur ayam gerobak yang ada di pinggir jalan" rengek Zaira membuat Azka mendengus. ah untung cinta batin Azka.


" Tapi jam segini mana ada sayang, tidur lagi aja ya, nanti pagi-pagi baru mas carikan ya!" ucap Azka membujuk sang isteri tercinta


" Mas tega, aku maunya sekarang tapi disuruh nunggu sampai pagi" Zaira beranjak dari tempat tidurnya.


" Kalau mas gak mau membelikannya yaudah, aku pergi cari sendiri saja!" ucap Zaira berjalan menuju lemarinya lalu meraih jaketnya.


Azka yang sempat kembali berbaring langsung terperanjat karena isterinya yang tengah merajuk.


" Sayang, iya mas akan carikan kamu tunggu di rumah aja ya!" ucap Azka turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Zaira yang tengah memberengut.


"Gak mau, aku mau ikut!"


" Tapi sayang ini masih terlalu gelap, udaranya juga pasti sangat dingin tidak baik untuk kamu sayang" ucap Azka selembut mungkin.


" Mas!" ucap Zaira merengek memperlihatkan puppy eyes nya. kalau Zaira sudah seperti itu Azka tidak akan bisa menolaknya.


" Yasudah, pakai jaketnya" Azka meraih dompet dan kunci mobilnya yang ada diatas nakas.


Zaira dan Azka kini tengah berada di jalan tidak jauh dari area perumahan kedua orang tuanya. sudah berkeliling tapi tetap saja belum terlihat ada penjual bubur ayam yang isterinya inginkan. hingga hari menjelang subuh mereka masih saja berkeliling. Azka menepikan mobilnya disalah satu masjid untuk melaksanakan shalat subuh bersama Zaira sebelum melanjutkan mencari bubur ayamnya.


matahari sudah menampakkan diri akhirnya yang dicari pun membuahkan hasil, Azka langsung memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dekat penjual bubur ayam.


Azka segera turun dari mobil lalu memutari mobilnya membukakan pintu untuk Zaira.


Azka berjalan menghampiri Abang tukang bubur ayam lalu memesan dua mangkok bubur ayam dengan toping sate telor puyuh, ati ampela dan usus.


Zaira duduk di samping Azka lalu tiba-tiba moodnya berubah. Zaira memasang wajah sendu Azka yang melihatnya langsung bertanya.


" Kamu kenapa sayang?" tanya Azka dengan raut wajah cemas.


Zaira menggeleng dengan sedikit senyum yang dipaksakan." Kamu kenapa hem, bilang aja sayang!" tanya Azka lagi seraya mengusap rambut Zaira.


" Mas aku mau ketoprak aja!" ucap Zaira Seraya menunjuk ke arah tukang ketoprak dengan ekor matanya.


" Sayang, bukannya kamu tadi mau makan bubur ayam ya?" tanya Azka dengan nada selembut mungkin.


" Iya itukan tadi mas, sekarang sudah gak kepingin" rengek Zaira dan Azka hanya bisa menghela nafasnya berat.


" Ya udah tunggu sini, biar mas pesankan dulu" ucap Azka beranjak dari duduk lalu menghampiri penjual ketoprak.


" Neng ini buburnya!" ucap si Abang penjual bubur meletakkan dua mangkok bubur ayam dengan sepiring sate yang berisi ati ampela, telur puyuh, usus dan ceker ayam.


Zaira melihat sate telur dan ati ampela merasa tergugah untuk mencicipinya, akhirnya Zaira memakan satu tusuk sate telur puyuh dan sate ati ampela merasa pas di lidahnya Zaira lalu kembali memakan sate tersebut dengan lahap.


Azka kembali dengan membawa seporsi ketoprak. " Ini sayang!" Azka meletakkan sepiring ketoprak didepan Zaira.


" Sudah kenyang mas!" ucap Zaira dengan tanpa berdosa membuat Azka lagi-lagi menghela napasnya panjang.


" Kamu kenyang makan apa sayang?" tanya Azka dengan suara menahan kekesalannya.


" Tuh!" tunjuk Zaira dengan dagunya ke piring sate yang sudah ludes isinya.


" Makan sate?" tanya Azka dan Zaira mengangguk Pelan.


" Iya mas, satenya enak banget apalagi makannya pakai sambel. maaf ya mas satenya aku habiskan" ucap Zaira membuat Azka lagi-lagi harus bersikap sabar.


" Iya sayang, gak apa-apa. tapi ini ketopraknya?"


" mas aja ya yang makan." Jawab Zaira santai


" Terus dua mangkok bubur ini?" tanya Azka yang sudah merasa kenyang duluan padahal belum menyentuhnya.


"Ya mas juga yang memakannya" jawab Zaira dengan senyum seperti tak berdosa


" Sayang mana bisa aku memakan ini semua, gak muat diperut aku sayang!"


" Ya terus?"


" Kamu makan ya, kamu kan baru makan sate aja"


" gak mau mas kenyang". rengek Zaira menggelengkan kepalanya.


" Yaudah, mas kasih mereka saja ya?" Azka menunjuk ke arah dua anak pelajar yang satu berseragam SD dan yang satunya lagi memakai seragam SMP yang hendak memesan bubur.


" terserah mas aja!"

__ADS_1


" Dek!" panggil Azka kepada kedua pelajar tersebut


Kedua anak tersebut yang sepertinya kakak beradik itu pun menoleh. "bapak panggil kami?" tanya salah satu anak tersebut


" Iya, kesini sebentar!" pinta Azka melambaikan tangannya memanggil kedua anak tersebut.


Kedua anak tersebut pun berjalan menghampiri meja Azka dan Zaira " Ada apa ya pak?" tanya salah satu anak tersebut.


" Maaf dek, adek berdua mau beli bubur ya?" tanya Azka


" Iya pak" jawab keduanya bersamaan.


" Maaf sebelumnya ya dek, bapak harap adek berdua tidak tersinggung ya." ucap Azka membuat kedua anak tersebut saling melempar pandang lalu mengangguk pelan.


" Begini dek, tadi bapak beli bubur dan juga ketoprak memenuhi keinginan isteri bapak yang tengah hamil tapi setelah dipesan isteri bapak sudah tidak kepingin lagi, dari pada mubajir kan sayang, ini belum disentuh sama sekali dek, apa adik berdua mau?" tanya Azka hati-hati takut kedua anak tersebut tersinggung.


" Maksud bapak ini buat kami?" tanya salah satu anak yang berseragam SMP


" Iya, itupun kalau adiknya mau!" ucap Azka


" Mau pak mau kebetulan kami memang lapar" ucap anak Yang berseragam SD.


" Alhamdulillah, Terima kasih ya pak, Bu!" ucap kedua anak tersebut.


" Jangan panggil saya ibu, panggil kak Zaira atau kak Za aja ya dek!" ucap Zaira sambil tersenyum ramah.


" Dan ini suami kakak namanya pak Bagaz" ucap Zaira memperkenalkan sang suami.


" iya kak Za, terima kasih ya kak!" ucap kedua anak tersebut bersamaan.


" Iya, sama-sama" ucap Zaira


" Sini duduk!" Zaira menepuk bangku disebelahnya.


Kedua anak tersebut pun duduk.


" silahkan dek dimakan, mau bubur atau ketoprak, mau keduanya juga boleh!" tawar Zaira dengan lembut.


" Emmm.... bubur saja kak!" ucap pelajar berseragam SMP


" Saya boleh ketoprak gak kak!" tanya si anak berseragam SD.


" Boleh dong sayang, ini!" Zaira memberikan sepiring ketoprak tersebut kepada anak tersebut.


" Emm, apa kakak boleh bertanya?" tanya Zaira dengan ramah


" Boleh kak, kakak mau tanya apa?" tanya anak pelajar SMP.


" Apa kalian ini kakak beradik?" tanya Zaira yang diangguki oleh kedua anak tersebut.


" Kalian kelas berapa?" kali ini Azka yang bertanya


" Saya kelas 7 pak" jawab Alifa


" Kalau saya kelas 3 SD pak" Jawab Aliya


" Kalian sekolah dimana?" tanya Zaira


" kami sekolah di SD dan SMP Darma Bangsa pak!" jawab Alifa.


" Sekolah Darma Bangsa?" tanya Azka dan kedua anak tersebut mengangguk.


" Kalian sekolah naik apa?" tanya Zaira


Kedua anak tersebut menunduk dan menghentikan makannya. " Kami jalan kaki kak" jawab Alifa


" Ya ampun kak, kita hampir terlambat, bagaimana ini?" tanya Aliya yang teringat jam sudah menunjukkan pukul 6:30


Azka melihat jam tangannya, "Astaghfirullah ini sudah hampir jam 7 jika kalian jalan itu lumayan jauh tidak akan keburu" ucap Azka membuat Zaira sedikit mencemaskan kedua anak tersebut.


" Mas kita antar mereka dulu ya!" pinta Zaira sedikit memohon. Azka tersenyum melihat kebaikan sang isteri yang memikirkan keadaan kedua anak tersebut.


" Iya sayang!" jawab Azka


" Ayok dek, maaf ya karena kakak banyak nanya-nanya sampai lupa waktu" ucap Zaira sedikit merasa bersalah.


" Tidak apa-apa kak, terima kasih sarapannya" ucap Alifa


" Sama-sama dek, ayok kita berangkat!" ajak Zaira.


...☄️☄️☄️...


Mereka kini tengah berada di dalam mobil, dimana kedua anak tersebut duduk di kursi belakang.


"Alifa, Aliya kalian di rumah tinggal sama siapa?" tanya Zaira menggeser duduknya menoleh ke belakang.


" Kami tinggal bersama ibu kami kak" jawab Alifa .


" Memang kalian tinggal dimana kok berangkat sekolahnya jalan kaki, apa gak kejauhan?" tanya Zaira


" Kami tinggal di sebuah kontrakan yang tidak jauh dari kedai bubur ayam tadi kak, kami jalan kaki karena ibu bilang tidak punya uang kak untuk ongkos naik angkutan umum hanya cukup untuk makan aja" jawab Aliya dengan polos membuat Zaira merasa terenyuh hatinya.

__ADS_1


" kalau Ayah gak tau kemana, ibu hanya bilang ayah pergi cari uang tapi sampai sekarang gak pernah pulang-pulang" ucap Aliya lirih


" Dek, " tegur Alifa yang tidak suka adiknya menceritakan tentang keluarganya.


" Iya emang benarkan kak, ayah jahat dan udah gak sayang kita lagi" ucap Aliya sedikit emosi membuat Zaira merasa bersalah karena sudah banyak bertanya.


" Aliya sayang, maafin kak Za ya. gara-gara kak Za banyak nanya Aliya jadi sedih ya" ucap Zaira dengan nada selembut mungkin.


" Gak apa-apa kak, Aliya senang bisa kenal dengan kak Za dan pak Bagaz yang baik hati" ucap Aliya sambil tersenyum


Tanpa terasa mobil mereka pun sampai di depan gerbang sekolah SD/SMP Darma Bangsa dan tidak jauh dari sekolah tersebut adalah SMA Darma Bangsa, sekolah milik Yayasan Dinata Darma Bangsa.


" Kak terima kasih ya!" ucap Alifa dan Aliya


" Iya sayang sama-sama" sahut Zaira yang juga ikut turun.


Alifa dan Aliya menyalami punggung tangan Zaira dan Azka, hati Zaira menghangat merasa seperti menjadi ibu yang sesungguhnya mengantarkan anak-anaknya berangkat ke sekolah.


Azka tersenyum tipis melihat raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah Zaira, ada aura keibuan yang keluar dari seorang Zaira.


" Kak, pak kami pamit dulu ya!" pamit Alifa


" Assalamu'alaikum!" ucap kedua anak tersebut


" Wa'alaikum salam" jawab Zaira dan juga Azka bersamaan.


" Alifa, Aliya tunggu sebentar!" panggil Zaira yang meraih sesuatu dari dalam dompetnya.


" Iya kak ada apa?" tanya Alifa


" Ini buat jajan kalian!" Zaira meraih tangan Alifa dan memberikan beberapa lembar uang.


" Tidak kak, kami tidak bisa menerimanya. kakak sudah terlalu baik sama kami dan itu semua sudah jauh lebih dari cukup kak untuk kami" ucap Alifa.


" Sayang ini anggap saja kakak ini kakak kalian yang ingin memberikan uang saku untuk kalian adik-adik kakak, jangan menolak ya sayang. simpan ini sebagai tabungan dan bisa kalian gunakan disaat kalian nanti membutuhkannya. kalian jangan menolak kalau tidak ingin membuat kakak sedih" ucap Zaira yang berpura-pura sedih.


" Baiklah kak, terima kasih banyak semoga kak Za dan pak Bagaz selalu diberi kesehatan dan selalu bersama hingga menua." ucap Alifa


" Amin" ucap Zaira dan Azka bersamaan.


" Yaudah kami pamit ya kak!" ucap Alifa.


" Iya sayang!" sahut Zaira


" Kak Za , pak Bagaz!" panggil Aliya menatap keduanya bergantian


" Iya ada apa sayang?" tanya Azka membungkukkan sedikit badannya?"


" Kak apa boleh Aliya memeluk kalian?" tanya Aliya takut-takut.


" Aliya gak boleh bicara seperti itu, ayo kita masuk!" ucap Alifa merasa tidak enak kepada Zaira dan Azka atas permintaan adiknya.


" Tentu boleh sayang!" Azka langsung memeluk tubuh mungil Aliya dan Zaira memeluk Alifa dan mereka pun nampak begitu senang.


Kini Aliya dan Alifa sudah masuk ke dalam sekolah mereka masing-masing, Zaira dan Azka pun sudah masuk ke dalam mobil.


Azka melirik ke sang isteri yang terlihat tengah menatap lurus ke depan dengan sedikit bibir tertarik keatas.


terlihat dengan jelas ada raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah sang ibu hamil muda tersebut, dan Azka pun turut merasakan bahagia bisa melihat isteri tercintanya nampak bahagia dari sesuatu yang terlihat begitu sederhana.


" Sayang!" panggil Azka disela-sela ia mengemudikan mobilnya dengan tangan kiri mengusap pucuk kepala Zaira dengan lembut


Zaira menoleh " Iya mas ada apa?" tanya Zaira


" Mas lihat sepertinya kamu senang banget sayang" tutur Azka


" Masa sih mas?"


" Iya sayang, hari ini kamu terlihat seperti ibu yang sesungguhnya, aura keibuan kamu mas sangat menyukainya sayang. mas Memang tidak salah menerima perjodohan itu sayang. kamu memang pantas menjadi ini dari anak-anak mas sayang." ucap Azka meraih tangan Zaira dan mencium punggung tangan Zaira dengan penuh cinta.


" Duh mas Azka jangan bikin aku ge'er deh" Zaira terlihat merona


" Mas berkata jujur sayang, mas jadi tambah sayang tambah cinta sama kamu!" ucap Azka membuat Zaira semakin merona merah.


" Mas udah ih, gombalnya!"


" Kok gombal sih yang, mas benaran cinta sama kamu dan calon anak kita " ucap Azka mengusap perut Zaira dengan lembut.


" Iya suamiku tercinta, kami juga sayang dan cinta sama daddy!" ucap Zaira sambil tertawa bahagia.


" Duuuhhh sayang jadi kepingin cepat-cepat sampai di rumah ih!" ucap Azka membuat Zaira mengerutkan keningnya


" Memangnya kenapa, kok pingin cepat sampai rumah mas?"


" Emmm... mas jadi gak sabar untuk nengokin anak daddy!" ucap Azka yang langsung mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya.


" Aww, sakit yang!" ucap Azka memberengut


" Siapa suruh pagi-pagi udah mesum!" sahut Zaira


" Ya mesum sama isteri gak apa-apa dong sayang, yang terpenting gak mesum ke yang lain" tutur Azka sambil mengusap pinggangnya yang dicubit.

__ADS_1


Tidak lama mobil yang mereka tumpangi pun sampai di depan pekarangan rumah Dinata, Azka benar-benar membuktikan ucapannya. setelah turun dari dalam mobil Azka langsung menggendong Zaira dengan perut yang sudah membuncit. Zaira sempat terperanjat kaget atas aksi suaminya yang tidak tahu malu tersebut. untung saja suasana rumah sudah sepi Lia sudah berangkat ke sekolah, papa Sam juga sudah berangkat ke kantor dan mama Maria pergi belanja bersama bi Sum.


Azka merebahkan Zaira di atas kasur dengan sangat hati-hati. tanpa banyak tanya dan izin dari isteri kecilnya Azka benar-benar melakukan aksi nengok calon baby kata Azka sih dan Zaira tidak bisa menolak lagi jika sang suami sudah melancarkan aksinya itu, Zaira hanya bisa pasrah disaat Azka ingin menjenguk calon bayi mereka meskipun di pagi-pagi hari.


__ADS_2