
Acara pesta perayaan keberhasilan Arta dan Mario berjalan lancar meskipun berlangsung secara sederhana bahkan sempat di guyur hujan dan acara terpaksa pindah ke aula, kemeriahan dan kebahagiaan jelas terpancar di wajah kedua peran utama malam itu siapa lagi kalau bukan Arta dan juga Mario.
Mario merasa begitu bahagia karena pada akhirnya rasa rindu yang beberapa hari menyiksa jiwa dan raganya kini bisa terobati juga setelah bertemu dengan sang penawar hati siapa lagi jika bukan isteri tercintanya yaitu Meliani alias Lily-nya Mario.
Sementara Arta jelas hatinya saat ini penuh dengan rasa syukur yang teramat besar karena penantiannya selama ini akhirnya membuahkan hasil, gadis kecil imutnya kakak tampan yang selama ini ia cari-cari dengan susah payah ternyata berada tidak jauh dari orang-orang terdekatnya.
Gadis imutnya tidaklah lain sahabat dari isteri adik sepupunya sendiri. Andaikan Arta tahu dari awal mungkin dia tidak akan sampai merasa begitu putus asa ketika pamannya memintanya untuk segera menikah dan menerima perjodohannya.
Takdir memang begitu misterius tidak ada yang dapat menebak bagaimana alur ceritanya. seperti kisah kehidupan seorang Arta disaat dirinya sudah hampir menyerah dan putus asa terhadap keadaan ternyata tuhan punya rencana lain gadis yang selama ini mengisi relung hatinya hingga tak menyisahkan ruang sedikitpun untuk wanita lain memasukinya, tiba-tiba gadis kecil itu muncul dengan sendirinya. tentu rasa bahagia yang Arta rasakan tidak dapat terukir dengan kata-kata sampai tanpa disadari Arta pun menitikkan air mata kebahagiaanya.
Semua yang ada disana pun turut merasa bahagia terutama kedua orang tua Mario yang sudah menganggap Arta sudah seperti anak kandungnya sendiri.
Arta yang merasa sangat bahagia sedari tadi tidak berhenti menyunggingkan senyumnya menatap Mita gadis imutnya. Alex yang melihat Arta terus tersenyum dan sesekali tertawa lepas merasa begitu lega, sudah sekian lama ia tidak melihat senyum dan tawa Arta yang sebegitu lepas dan sebahagia hari ini.
Setelah pindah ke Jerman di tambah kedua orang tua Arta yang meninggal secara bersamaan akibat kecelakaan Alex hanya melihat Arta seperti makhluk hidup namun tidak bernyawa. Alex sudah melakukan apa saja untuk Arta, berusaha untuk membuatnya hidup bahagia bahkan perlakuan Alex ke Arta jauh berbeda dengan sikap Alex ke Mario yang berkesan lebih cuek dan hanya memfasilitasi Mario dengan uang dan uang perhatiannya justru lebih terfokus kepada Arta yang merupakan putra dari adik kandungnya yaitu Alena.
Novi sempat protes dengan sikap Alex yang membeda-bedakan perlakuannya antara Mario dengan Arta namun sikap keras dan tegas Alex tidak bisa ia bantah.
Yang Alex tau Arta hidup tanpa adanya orang tua sementara Mario masih memiliki orang tua tapi Alex lupa yang Mario butuhkan saat itu adalah kasih sayang dan perhatian bukan statusnya yang masih memiliki orang tua lengkap tapi tidak merasakan kasih sayangnya.
Beruntung Mario bisa bertemu dengan Lia dan keluarganya yang begitu peduli dan tulus menyayangi dirinya hingga Mario yang terkenal arogan, pembuat onar bisa berubah 180 derajat.
Alex terus memperhatikan kedua putranya yang tengah tertawa penuh kebahagiaan disisi orang-orang tercintanya. Alex menyunggingkan senyumnya sadar di usianya yang sudah tidak muda lagi harus banyak bersyukur dengan kebahagiaan yang ada di depan matanya saat ini.
" Arta!" panggil Alex membuat Arta yang tengah menatap Mita menoleh ke arahnya.
" Iya pah" jawab Arta yang langsung berjalan menghampirinya
" Selamat ya nak, kamu memang luar biasa dan patut dibanggakan" ucap Alex bangga namun membuat Arta merasa sedikit tidak enak dengan Mario.
" Pah jangan bicara seperti itu, Arta tidak melakukan apa-apa pah, semua keberhasilan yang Arta dapat tidak akan bisa tercapai pah tanpa adanya usaha Mario yang begitu gigih dan penuh semangat itu pah" ucap Arta yang tidak ingin membuat Mario salah paham terhadapnya meskipun Mario yang sekarang sudah jauh berubah, lebih dewasa dan bijaksana dalam setiap menghadapi setiap masalah.
" Papa tahu kalian memang anak-anak papa yang patut papa banggakan" ucap Alex.
"Mario, kemarilah!" panggil Alex melambaikan tangannya kepada putranya itu.
Mario yang merasa dipanggil sang papa langsung menghampirinya dan meninggalkan Lia yang kini pindah berjalan ke arah Mita.
" Iya pa" ucap Mario saat sudah berada di hadapan Alex.
" Selamat ya, Papa bangga dengan usaha dan kerja keras kalian berdua, papa tidak menyangka walaupun kau ini masih berstatus pelajar SMA tapi bakat mu mengelola bisnis sungguh luar biasa, papa harap kalian terus seperti ini kompak dan selalu bisa bekerja sama dalam mengelola dan membesarkan perusahaan papa" Tutur Alex.
" Maafkan papa Rio karena selama ini selalu meremehkan kemampuan kamu dan ternyata kamu benar-benar anak papa yang luar biasa" ucap Alex lagi membuat Mario tak sanggup menahan rasa bahagianya yang memuncah atas sikap papanya yang terasa begitu hangat menurut Mario perlakuan yang tidak pernah Mario dapatkan selama ini.
Bukannya Alex tidak menyayangi Mario hanya saja cara Alex yang salah selama ini dalam mencurahkan kasih sayangnya.
" Pah" ucap Mario lirih dan langsung berhambur memeluk papanya begitu juga dengan Arta. haru biru memenuhi ruangan tersebut Mita dan Lia tidak sanggup menahan rasa harunya sampai menitikkan air mata begitu juga dengan Novi yang merasa adanya kehangatan di dalam keluarganya saat ini dan berharap akan selalu seperti itu.
" Nak Lia, nak Mita kemarilah!" panggil Alex setelah mengurai pelukannya terhadap kedua jagoannya.
Lia dan Mita dengan langkah perlahan menghampiri Alex.
" Iya pah" Lia
" Iya om" Mita
" Nak Lia terima kasih karena sudah setia berada di sisi putra papa, terima kasih karena sudah menerima Mario apa adanya dan mampu membuat si anak bandel itu akhirnya bertaubat!" ucap Alex menoleh ke arah Mario seraya tertawa kecil.
" pah!" ucap Mario mengerucutkan bibirnya
__ADS_1
" Tidak pah, justru Mel yang berterima kasih sama papa karena papa sudah memberi restu kepada kami berdua jika papa tidak memberi restu, kami mungkin tidak akan sebahagia ini pah. terima kasih pah" ucap Lia yang langsung memeluk papa mertuanya itu.
" Sama-sama sayang, papa harap kamu bisa segera memberi papa cucu" ucap Alex seraya tergelak sementara Lia menunduk malu.
" Pah!" seru Mario dan Novi bersamaan. membuat Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Lia masih sekolah pah, kami memang tidak menundanya tapi kami juga tidak ingin terlalu terburu-buru dan sekasihnya aja pah" ucap Mario memberi pengertian kepada Alex dan juga tidak ingin melihat Lia merasa terbebani dengan ucapan papanya.
" Iya, papa hanya bercanda. papa tidak menuntut kalian segera memberi papa cucu hanya ya berharap gak apa-apa dong" ucap Alex santai sambil terkekeh.
" Itu sih sama aja pa" ucap Mario geleng-geleng kepala. sementara Lia tersenyum yang sedikit dipaksakan.
" Nak Mita bagaimana?" tanya Alex beralih kepada Mita yang sedari tadi diam saja
" Bagaimana apanya ya om?" tanya Mita yang nampak bingung dengan pertanyaan Alex.
" Jangan om papa saja!" protes Alex
" Ya?" tanya Mita
" Papa tidak menyangka kalau gadis kecil yang sudah membuat dunia Arta jungkir balik dan selalu menolak berdekatan dengan seorang wanita bahkan papa hampir takut kalau Arta_" ucap Alex terpotong.
" Tidak normal maksud papa?" ucap Arta menyambar ucapan Alex dengan wajah memberengut.
" Ha..ha.. " Alex tertawa "Ya jangan salahkan papa kalau papa punya pemikiran ke arah situ, karena selama bertahun-tahun papa tidak pernah melihat mu dekat dengan wanita manapun dan papa kira tentang gadis kecilmu itu hanya alasan mu saja yang menolak perjodohan" jawab Alex.
" Mita!" panggil Alex yan gkembali beralih pada Mita
" Iya om emm... papa" jawab Mita gugup setelah mendapat tatapan protes dari Alex saat memanggilnya om.
" Kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kami, papa sangat berharap kamu bisa mendampingi putra papa Arta baik dalam keadaan senang maupun susah. Arta sudah waktunya untuk berumah tangga tapi dia selalu saja menolak semua wanita yang papa jodohkan dengannya dia selalu berkata tidak akan menikah jika tidak dengan gadis imutnya itu, sekarang gadis imut itukan sudah ada di depan mata yaitu kamu, lalu apakah kamu mau menikah dengan Arta?" tanya Alex membuat Mita seketika mendongak lalu menoleh ke arah Arta yang nampak tengah menunggu jawaban dari Mita.
Mita takut mengulang kesalahan untuk kedua kalinya, hatinya masih belum siap. tidak ada kata yang keluar dari bibir Mita, ia menundukkan wajahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. ia takut mengecewakan Arta dan juga keluarganya tapi untuk menjawab Mita pun butuh waktu.
Semua yang mendengar pertanyaan Alex ke Mita nampak tidak sabar menunggu jawaban Mita termasuk dengan Mona yang menatap penuh arti ke arah Mita.
" Ma...maaf... maafkan aku pah, untuk saat ini aku belum bisa menjawabnya, aku...aku_" ucap Mita menggantung lalu menundukkan wajahnya dan menitikkan air mata. Arta yang melihat Mita menundukkan pandangannya mengerti akan perasaan Mita saat ini yang tentu teramat cepat bila membahas akan sebuah pernikahan apalagi dia baru saja gagal untuk menikah jadi tidak mudah untuk Mita mengambil keputusan dengan cepat terlebih lagi mereka baru saja bertemu kembali setelah sekian tahun lamanya terpisah.
" Pah!" panggil Arta lirih
Arta memegang kedua bahu Mita membuat Mita langsung mendongak dan menoleh ke arahnya.
" Ma.. maafkan aku kak!" ucap Mita terisak dan Arta langsung menarik Mita ke dalam pelukannya.
" Tidak apa-apa, tenanglah!" ucap Arta membuat Alex mengerutkan keningnya.
" Arta sebaiknya ajak Mita untuk beristirahat ke kamarnya, dia pasti tidak enak badan dari tadi mama perhatikan wajahnya sangat pucat" ucap Novi menyuruh Arta untuk membawa pergi Mita yang dia tahu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan suaminya yang begitu terburu-buru menurutnya.
" Iya mah, ayok Mut!" ajak Arta dan Mita pun menurut karena saat ini dia memang butuh istirahat.
Setelah Arta membawa Mita pergi untuk beristirahat, Mario lalu menceritakan tentang Mita dan juga alasan kenapa mereka meminta Mita untuk tinggal di rumah itu, selain untuk menemani Lia, Mario juga tahu saat ini yang Mita butuhkan adalah sahabatnya dan Lia adalah teman yang terdekat dengan Mita selain Zaira. dan juga kondisi kesehatan Mita yang kurang stabil membuat Lia menahan Mita yang sudah beberapa kali ingin pulang tapi Lia selalu melarangnya dengan alasan dia merasa kesepian.
Setelah mendengar cerita Mario, Alex merasa iba dengan nasib Mita begitu juga dengan Novi. mereka akhirnya mengerti kenapa Mita tidak bisa menjawab pertanyaan Alex. Tapi disisi lain Alex dan juga Novi merasa bersyukur karena Mita tidak jadi menikah jika waktu itu Mita benar-benar menerima lamaran dan menikah dengan dokter Ariel entah bagaimana nasib keduanya terutama Arta.
" Sayang, kamu kenapa?" suara itu terdengar dari Azka yang melihat wajah Zaira yang nampak pucat.
Zaira hanya tersenyum tipis namun sedetik kemudian meringis menahan sakit.
" Sebaiknya kita pulang saja ya. kamu pasti kecapean" ajak Azka yang melihat Zaira diam saja dan sesekali meringis.
__ADS_1
" Mas!" ucap Zaira lirih
" Sayang kamu kenapa, apa ada yang sakit?" pertanyaan Azka yang keras membuat semua orang menoleh ke arahnya.
" Ka ada apa?" tanya mama Maria yang langsung menghampirinya.
" Ma Za ma" sahut Azka yang nampak panik melihat Zaira diam saja dan meremas lengan Azka sangat kuat
" Sayang kamu kenapa, bicaralah sayang jangan bikin aku panik" ucap Azka yang semakin dibuat panik karena wajah Za yang semakin pucat dan keningnya penuh bulir-bulir keringat dingin.
" Za , sayang kamu kenapa nak?" tanya mama Maria seraya mengusap lembut kepala Zaira.
" Ma... mama pe... perut Za sa.. sakit ma" ucap Za terbata menahan rasa sakitnya.
" Ya ampun jeng, nak Za sudah mau melahirkan!" ucap Novi yang tiba-tiba datang menghampiri Zaira dan melihat seperti air ketuban yang merembes di kaki Zaira.
" Ka isteri kamu mau melahirkan!" ucap mama Maria yang menoleh ke arah kaki Zaira dan langsung membuat semua yang ada di sana berubah tegang terutama Azka.
" Ka, cepat bawa isteri kamu ke rumah sakit!" bentak papa Sam yang melihat Azka malah bengong karena bingung harus berbuat apa.
" I... iya pa" ucap Azka gugup dengan tangan yang sedikit gemetar.
" Ayok sayang!" ajak Azka membantu Zaira berdiri, karena melihat Zaira berjalan dengan sesekali meringis kesakitan membuat Azka tidak tega dan langsung mengangkat tubuh gempal Za kedalam gendongannya.
" Ka, biar gue yang menyetir!" ucap Sendy yang langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
" Cepat Sen!" teriak Azka yang duduk di bangku belakang bersama Zaira dan mama Maria.
" Iya sabar Ka, ini juga sudah cepat" sahut Sendy
" Mah tolong beritahu Bunda kalau Za mau melahirkan!" ucap Azka kepada mama Maria
" Iya, tadi mama sudah bilang ke papa untuk memberitahunya" sahut mama Maria.
" Mas, sa..kit!" pekik Zaira yang meremas tangan Azka kuat.
" Sabar sayang, kamu harus kuat sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit" Azka berusaha untuk menenangkan Zaira.
" Sakit mas" Zaira semakin kuat meremas tangan Azka dan sesekali menggigit lengan Azka membuat Azka memekik kesakitan namun sebisa mungkin ia menahan rasa sakit itu karena dia tahu istrinya pasti jauh lebih merasakan sakit dibanding apa yang dirasakannya.
" Sabar nak, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan anak kamu" mama Maria mengusap lembut pucuk kepala Zaira yang bersandar di bahu sang suami.
" Sen, cepat Sen!" teriak Azka yang merasa mobil berjalan begitu lambat.
" Iya Ka, sabar cepat boleh tapi juga tetap harus hati-hati bukan!" sahut Sendy yang geram dengan sikap bos nya yang tidak sabaran.
" Betul itu Ka apa yang dikatakan Sendy" ucap Mama Maria yang setuju dengan ucapan Sendy.
Sendy yang mendengar pembelaan dari mama Maria menyunggingkan senyumnya.
Sekitar beberapa menit perjalanan akhirnya mobil yang Sendy kemudikan sampai juga di rumah sakit Darma Bangsa Medika, Azka langsung turun dari dalam mobil dan kembali menggendong Zaira masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah cepat.
Seorang perawat menghampiri Azka dan membantunya mengantarkan Zaira ke ruang bersalin.
Azka nampak panik semua orang sudah berada di depan pintu ruang bersalin menunggu Zaira yang akan segera melahirkan.
" Dokter bolehkah saya menemani isteri saya?" tanya Azka saat melihat dokter Dinda yang hendak masuk ke ruang bersalin.
" Boleh, silahkan masuk" jawab dokter Dinda dengan ramah.
__ADS_1
Di dalam ruang bersalin Azka ikut gugup dan tegang melihat Zaira yang tengah meringis menahan sakit.