Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Kebersamaan Mario dan Lia


__ADS_3

Taman kota yang banyak menjadi tempat para pasangan muda mudi menghabiskan waktu bersama. Selain para pasangan muda-mudi disana juga ada sepasang suami istri yang sudah tua renta tapi tetap memperlihatkan kemesraan mereka.


Pandangan mata Lia tertuju kepada sepasang pasutri kakek dan nenek yang duduk tidak jauh dari mereka. Mario mengikuti arah pandangan mata Lia yang fokus mengamati kemesraan pasangan lansia tersebut.


Setelah dari pasar malam Mario sengaja mengajak Lia pergi ke taman kota selain ingin menghabiskan waktu bersama Mario juga merasa rindu karena seharian tidak bertegur sapa dengan sang kekasih hati.


" Kenapa, iri dengan mereka?" tanya Mario yang langsung membuyarkan lamunan Lia.


" Apa?" tanya Lia yang tidak fokus dengan pertanyaan Mario.


" Apa kamu ingin seperti mereka?"


" Siapa sih yang tidak ingin menua bersama dengan orang yang kita cintai?" Lia balik bertanya


" Semoga saja kita bisa sampai seperti mereka" sahut Mario.


" Amin!" ucap Lia merespon ucapan Mario


Mario menarik tubuh Lia memeluknya dari samping. " Apa kamu bahagia bersamaku?" tanya Mario membuat Lia mendongak menatap wajah Mario.


" Apa menurutmu aku ada alasan untuk tidak bahagia?" lagi-lagi Lia balik bertanya.


" Apa kamu mempercayai ku?" Mario bertanya kembali membuat Lia teringat dengan sikapnya yang mudah terhasut dan meragukan kesetiaan Mario.


" Maafkan aku!" ucap Lia menunduk


" Maaf untuk apa lagi sayang?" tanya Mario yang merasa sangat gemas dengan sikap Lia.


" Ya maaf karena aku hampir meragukan kamu!"


" Wajar jika kamu masih meragukan aku, tidak mudah memang seseorang yang memiliki banyak catatan hitam bisa dengan mudah diterima begitu saja" tutur Mario


" Aku_"


Mario menggeser duduknya dan menghadap ke arah Lia meraih tangan Lia dan menggenggamnya. Mario tersenyum lalu mengecup punggung tangan Lia.


" Sudahlah sayang jangan bahas sesuatu yang sudah berlalu. Pada intinya sekarang bagaimana kita menjalani hubungan ini didasari dengan rasa saling mempercayai dan menghargai satu sama lain." Mario menatap lekat mata Lia. " My Lily Aku mencintaimu apa adanya jadi mari kita lengkapi hubungan kita ini dengan rasa saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dan kita perkuat hubungan ini dengan rasa saling mempercayai!" ungkap Mario


" Io!" cicit Lia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi, dan belajar untuk mengendalikan diriku agar tidak mudah percaya dengan sesuatu yang belum tentu kebenarannya " ucap Lia.


" Iya mari kita sama-sama belajar ya!" ucap Mario dengan senyum yang mengembang.


Malam semakin larut Mario mengantarkan Lia untuk pulang, sesampainya di rumah Lia terkejut dengan mobil yang sudah berada di parkiran rumah.


Lia turun dari motor Mario " Kau mau mampir atau mau langsung pulang?" tanya Lia


" Sebaiknya aku pulang saja ya, ini sudah terlalu larut malam tidak enak jika dilihat orang aku bertamu malam-malam" ucap Mario


" Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati ya dijalan!" pesan Lia yang diangguki oleh Mario.


" Besok aku jemput!" ucap Mario sebelum berangkat.


" Iya" sahut Lia


" Emmmm...!" Mario ingin mengatakan sesuatu tapi ragu membuat Lia akhirnya bertanya.


" Ada apa?" tanya Lia


" Maaf sayang, emm..." Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Ada apa, ngomong aja!" pinta Lia


" Tapi jangan marah ya!"


" Iya, ada apa sih?" Lia penasaran.


" Itu.. anu" ucap Mario ragu-ragu


" Itu anu apa?bicara yang jelas!" Lia geregetan.


" Emmmm... bisakah kamu pakai rok yang dibawah lutut? aku rasa itu terlalu pendek sayang. aku tidak suka mata-mata kotor itu memandangi mu !" ucap Mario yang begitu monohok membuat Lia tercengang. ia kira Mario menginginkan sesuatu tetapi kenyataannya justru sebaliknya. ah.. malu rasanya Lia saat ini ingin sekali ia bersembunyi di lubang semut.


" Hei!" Mario melambaikan tangan di depan wajah Lia.


" Ah iya maaf, iya !" ucap Lia sedikit salah tingkah.


Mario tersenyum senang lalu memakai helmnya dan pamit pulang kepada Lia.


Setelah motor Mario hilang dari pandangan mata,barulah Lia melangkah masuk ke dalam rumah. saat Lia memijakkan kaki di ruang tamu Lia mendengar suara bariton dari arah ruang keluarga dengan emosi yang sedikit tinggi.


" Jangan biarkan dia sampai lolos, berani-beraninya bocah tengik itu bermain-main dengan keluarga Dinata. pastikan anak itu segera di temukan aku tidak mau menanggung resiko jika sampai dia berani mengusik menantuku lagi!"


(......)


" Aku percaya kepada mu Bram, suruh Sendy untuk mengerahkan seluruh anak buahnya. jangan sampai anak itu melarikan diri keluar negeri dan perketat juga keamanan rumah sakit aku khawatir orang dibalik penyembunyiannya bergerak di saat kita fokus mencari anak itu!"


" Satu lagi Bram, beritahu pihak sekolah besok adakan rapat untuk membahas tentang anak itu dan perbuatannya terhadap menantuku!" ucap papa Sam sebelum mematikan sambungan teleponnya


Dibalik dinding Lia yang tengah menguping pembicaraan seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah papa Sam nampak terkejut.


" melarikan diri? jadi Irfan melarikan diri?" gumam Lia dalam hati.


" Apa Mario tahu akan hal ini? jika sampai anak itu melarikan diri berarti Zaira bisa saja dalam keadaan tidak aman" batinnya.


Lia berpura-pura tidak mendengar ucapan papanya ia masuk dengan sikap biasa.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum, papa sudah pulang?" tanya Lia yang langsung menghampiri papa Sam yang baru saja mematikan sambungan teleponnya.


" Wa'alaikum salam, iya papa mendengar kakak ipar kamu masuk rumah sakit jadi papa langsung pulang tapi karena papa baru sampai jadi mungkin besok saja papa menjenguknya" ucap papa Sam.


" Bagaimana keadaan kakak ipar kamu sayang ?" tanya papa Sam.


" Alhamdulillah Za baik-baik saja pa, dia sudah bisa mengendalikan emosinya jadi keadaannya tidak terlalu buruk. meskipun dia sempat histeris tapi untuk saat ini Mel rasa kondisi Za sudah jauh lebih baik." jawab Lia.


" Syukurlah!" papa Sam merasa sedikit lega


" Pa, apa mama tidak ikut pulang?" tanya Lia


papa tersenyum sebelum menjawab lalu mengelus pucuk kepala Lia " Sayang untuk saat ini mama kamu sama Bundanya Zaira belum tahu perihal kejadian ini. papa sengaja pulang dan mengatakan ada sedikit masalah di kantor. kasihan jika sampai bunda sama kamu tahu apalagi keadaan kakek Za saat ini dalam kondisi kurang sehat" ucap papa Sam dengan lembut.


" Iya pah"


" Apa kamu sudah makan sayang?" tanya papa Sam.


" Sudah pah tadi sama Mario"


" Anak itu lagi-lagi sudah banyak membantu keluarga kita" ucap papa Sam seraya memeluk putrinya.


" Iya pah, Mario memang malaikat penolong" ucap Lia dengan senyum yang mengembang


" Dasar bucin" ledek papa Sam


" Dih !" Lia menyipitkan matanya


" Ha.. ha .!" papa Sam tertawa membuat Lia merasa senang memiliki papa seperti papa Sam


" Yaudah sekarang kamu istirahat sana!" ucap papa Sam menyuruh Lia untuk pergi ke kamarnya beristirahat.


" Siap papaku sayang" ucap Lia mencium pipi papa Sam lalu pergi ke kamarnya.


☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️


Pagi ini Lia nampak sibuk di depan cermin mengingat permintaan sang kekasih yang ingin Lia memakai rok dibawah lutut. karena menurutnya rok yang Lia kenakan selama ini terlalu pendek dan memancing mata-mata jelalatan memandangnya.


Lia sudah mengacak-acak semua isi lemarinya tapi rok yang ia punya hampir semuanya sama malah ada yang diatas dengkul. Lia mendengus kesal pasalnya sudah hampir 30 menit tapi ia masih belum juga bersiap-siap.


Lia sudah putus asa dengan terpaksa ia hanya bisa memakai rok yang ada. " Kenapa gue gak punya rok yang rada panjang sih?" gumam Lia kesal dengan dirinya sendiri.


Tokk


tokk


tokk


Pintu kamar Lia diketuk dari luar " Non Mel!" panggil bi Sum.


Ceklekk


" Ada apa bi?" tanya Lia


" ini non!" bi Sum memberikan paper bag yang dibawanya.


" Apa ini bi?" tanya Lia bingung


" Bibi juga kurang tau non apa isinya"


" Memangnya dari siapa bi?" tanya Lia yang penasaran.


" Dari si Aden ganteng" jawab bi Sum senyam-senyum.


" Den ganteng?" Lia menaikkan alisnya ke atas


" Iya non, itu pacarnya non Lia" sahut bi Sum


" itu den gantengnya lagi nungguin non Meli di luar" terang bi Sum.


" Di luar ?"


" Iya non"


" Yaudah aku siap-siap dulu ya bi, suruh masuk aja bi!" pinta Lia


" Baik non" bi Sum pun pergi ke bawah untuk menemui Mario sementara Lia masuk kembali ke dalam kamarnya dan membuka paper bag yang diberikan bi Sum.


Mata Lia membola saat melihat isi di dalam paper bag tersebut dan sedetik kemudian senyum di wajahnya pun mengembang.


Lia turun dan langsung menemui Mario yang sudah menunggunya sedari tadi.


" Io!" sapa Lia


Mario menyunggingkan senyumnya saat melihat penampilan Lia pagi ini yang nampak berbeda dan bahkan jauh lebih cantik menurut Mario.


" Bi papa mana?" tanya Lia pada bi Sum.


" Tuan besar sudah berangkat dari pagi non" sahut bi Sum.


" Yaudah kalau begitu aku berangkat dulu ya bi, assalamu'alaikum !" ucap Lia seraya mengajak Mario pergi


" Wa'alaikum salam" sahut bibi sambil tersenyum


Mario masih saja mengulum senyumnya membuat Lia menjadi risih sendiri.


" Kenapa sih ada yang aneh?" tanya Lia

__ADS_1


Mario menggeleng " Kamu cantik" jawab Mario santai


" Gombal!" Lia mengerucutkan bibirnya.


" Serius" Mario lalu memakaikan Lia helm


" Dengan begini tidak akan ada lagi yang berani menatap My Lily" ucap Mario sedikit menggombal.


" Iya, sampai aku malu sendiri karena malah kamu yang memberikan ini!' ucap Lia sendu.


" Memangnya kenapa, kamu berkeberatan?" tanya Mario Seraya membantu Lia naik ke atas motornya.


" Tidak, hanya aku malu Io"


" Malu kenapa?"


" Ya malu aja"


" Gak usah malu, malunya kamu simpan saja dulu sampai kita_" Mario sengaja menjeda ucapannya.


" Sampai kita apa?" tanya Lia penasaran


Mario menyalakan mesin motornya dan Lia melingkarkan tangannya di pinggang Mario.


" Sampai malam pertama kita!" jawab Mario sambil tertawa


" Io " pekik Lia yang langsung memberi cubitan kecil di pinggang Mario.


" Aww..ampun iya ampun!" Mario meringis kesakitan.


" Makanya jangan Omes deh kamu, belum waktunya " ucap Lia


Mario tergelak mendengar ucapan Lia lalu menyalakan mesin motornya dan langsung tancap gas berangkat membelah jalanan ibu kota pagi ini yang cukup ramai dengan aktivitas masyarakat.


Hanya butuh waktu 15 menit untuk Mario dan Lia sampai disekolah. saat mereka tiba suasana sekolah saat itu sudah terbilang ramai sehingga tidak sedikit dari mereka yang memandang ke arah Mario dan Lia. ada yang menatap sinis, ada yang meremehkan, ada yang mencibir dan ada pula yang menatap aneh. pasalnya pemandangan ini benar-benar diluar dugaan mereka apalagi penampilan Lia yang tidak biasanya.


Kedatangan Mario bersama dengan Lia yang mereka juga tahu siapa Lia. apalagi Lia dan Zaira itu adalah sahabat baik dan yang mereka tahu Mario itu sangat menyukai Zaira membuat salah satu di antara mereka berpikiran jika Mario sebenarnya mendekati Lia hanya bertujuan untuk mendekati Zaira.


Mario dan Lia tidak memperdulikan pandangan orang-orang disekitarnya. mereka lebih memilih untuk bersikap cuek dan diam tak menggubris ucapan-ucapan yang bikin panas telinga yang mendengarnya.


Mario menggandeng tangan Lia membuat suasana semakin riuh. ini adalah pemandangan yang benar-benar langka karena setahu Mereka Mario tidak pernah memperlakukan pacarnya dengan baik tapi tidak dengan kali ini. Mario terlihat begitu lembut memperlakukan Lia sehingga tidak sedikit yang merasa iri dengan Lia.


Mario sengaja mengajak Lia ke kantin karena dia tahu hari ini Lia pasti tidak sempat untuk sarapan karena sibuk mencari rok untuk ia kenakan hari ini.


" Io kok kita malah ke kantin sih?" tanya Lia


" kita sarapan dulu ya!" ajak Mario


" Kamu belum sarapan?" tanya Lia


" Memangnya kamu sudah?" Mario malah balik bertanya. dan Lia menggeleng sambil cengengesan.


" Yaudah gak usah banyak protes!" pinta Mario


" Iya my Io!" Lia tersenyum tipis hatinya begitu menghangat mendapatkan perhatian yang begitu besar dari seorang Mario yang dulu terkenal angkuh, cuek, arogan dan bersikap dingin. tapi bersama Lia Mario sudah berubah 180 derajat, Mario bahkan sangat peka terhadap lingkungannya dan begitu perhatian dari hal sekecil apapun.


Setibanya di kantin Mario memesankan Lia seporsi nasi uduk dan teh manis. pada saat mereka tengah menikmati sarapannya Lia memberanikan diri bertanya kepada Mario.


" Io!" tanya Lia disela sarapannya


" Hemm!" jawab singkat Mario


" Io, apa kamu tahu tentang Irfan?" tanya Lia sedikit ragu-ragu


" Ada apa memangnya?" tanya Mario menghentikan suapannya.


" Apa kamu tahu kalau Irfan menghilang?" tanya Lia


" Apa menghilang?" tanya Mario terkejut dan Lia mengangguk.


" Iya dia menghilang bahkan om Bram saja tidak tahu dimana Irfan berada" sahut Lia


" Dari mana kamu tahu?" tanya Mario


" Semalam saat baru pulang aku tanpa sengaja mendengar papa berbicara di telepon dengan om Bram." sahut Lia


" Kamu menguping?" Mario menggeleng dan menatap tajam Lia


" Ishh, aku bukannya sengaja menguping tapi kebetulan dengar aja" Sahut Lia membela diri.


" Itu sama saja!" Mario menyentil hidung Lia membuat Lia memberengut.


" Lalu bagaimana dengan orangtuanya?" tanya Mario Seraya meminum minumannya.


" Entahlah!"Lia menggidikan bahu " Tapi kata papa sepertinya ada yang memang sengaja menyembunyikan keberadaan Irfan."


" Menyembunyikan?" tanya Mario


" Iya, aku jadi khawatir dengan keselamatan Za" ucap Lia lirih


" Kamu tidak perlu khawatir, papa dan kakakmu pasti akan menjaga dan melindungi Zaira "


"semoga saja!"


Lia dan Mario melanjutkan makannya dan pada saat mereka tengah asik menyantap makanannya tiba-tiba ada yang duduk di hadapan mereka.


Deg

__ADS_1


__ADS_2