
Selesai dengan ritual mandinya Khanza keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. ditatapnya ponsel yang tergeletak di atas nakas berharap benda pipih tersebut berdering dan panggilan dari seseorang yang sangat ia harapkan.
Khanza terkesiap saat pintu kamarnya di ketuk dari luar " Kak.... kak khanza dipanggil ibu untuk makan malam!" teriak Izan
Khanza menghela napasnya panjang sebelum menjawab panggilan Izan
" Iya dek, sebentar lagi kakak keluar"
" Yaudah, jangan lama-lama ya kak"
" Iya!" sahut Khanza
Dengan langkah gontai Khanza keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan.
" Loh kok den Aldy gak sekalian di ajak makan malam bersama neng Za!" tanya bi Ratna yang tidak tahu kalau Aldy sudah pulang lebih dulu.
" Mas Aldy sudah pulang bi" sahut Khanza sendu
" Loh kok pul_?" belum selesai dengan pertanyaannya bu Khodijah sudah lebih dulu menyenggol lengannya agar berhenti bicara.
" Sudah cepat dimakan nanti keburu dingin!" ucap bu Khodijah memotong pembicaraan bi Ratna
" Kak!" panggil Izan saat selesai makan dan Khanza hendak masuk kembali ke dalam kamarnya
" Iya ada apa dek?" tanya Khanza dengan tangan yang tengah menegang hendle pintu
" Apa kak Khanza dan kak Aldy bertengkar karena omongan Dodot tadi sore?" tanya Izan hati-hati.
" Kak Dodot hanya spontan mengatakan hal itu dan Izan rasa kak Aldy juga tidak tahu soal bu Siska mbaknya Dodot" ucap Izan berusaha memberi penjelasan.
" Sudahlah Zan jangan bahas itu lagi, kakak mau istirahat!"
" Tapi kak, kasihan kak Aldy!"
Khanza tidak menggubris ucapan Izan dan masuk begitu saja meninggalkan Izan yang masih setia berdiri di depan pintu kamarnya.
Di dalam kamar Khanza merenungi setiap apa yang telah diucapkan oleh ibu dan juga adiknya. tiba-tiba hatinya mencelos dan pikirannya tertuju pada sang suami yang tidak ada di sampingnya.
Khanza tiba-tiba merasa sedih menatap layar ponselnya yang tidak juga ada panggilan masuk dari sang suami. hingga pukul 23 malam Khanza masih belum bisa memejamkan matanya, rasa rindu kepada sang suami mencuat begitu saja sampai tidak sadar air matanya menetes begitu saja.
Khanza yang merasa kesal bercampur sedih akhirnya memutuskan untuk menelpon Aldy, panggilan pertama dan kedua tidak ada jawaban membuat Khanza semakin kesal dan bertambah sedih. pikirannya pun sudah berkelana ke mana-mana.
" Apa jangan-jangan mas Aldy sedang bersama bu Siska" batin Khanza
" ***kamu jahat banget sih mas, aku tidak mau di madu dari pada kamu menduakan aku lebih baik aku minta pisah mas"
" Kenapa panggilan ku tidak juga kamu angkat sih mas, jahat banget kamu mas***. "
Khanza akhirnya memutuskan untuk kembali menelpon Aldy dan semakin deras saja air mata Khanza karena lagi-lagi Aldy tidak menjawab panggilan teleponnya.
Khanza lempar benda pipih tersebut ke atas kasur dan tidak tahu kenapa ia merasakan kesedihan yang teramat dalam, rasa rindu terhadap suaminya tidak bisa dibendung lagi sampai akhirnya Khanza menangis sesenggukan sendiri di dalam kamar.
Izan yang baru saja habis dari dapur untuk mengambil minum dibuat terkejut saat melewati kamar Khanza sayup-sayup terdengar suara orang tengah terisak.
Izan yang merasa takut lebih memilih membangunkan ibunya dan memberitahu apa yang baru saja didengarnya
" Apa kamu yakin?" tanya Bu Khodijah
" Iya bu Izan yakin itu suara kak Za,"
" Kenapa kak Za menangis malam-malam ya Bu?" tanya Izan
" Sudah kamu sebaiknya kembali saja ke kamar biar ibu yang melihat keadaan kakak kamu!" ucap bu Khodijah
" Tapi Izan mau melihat keadaan kak Za Bu!"
Bu Khodijah dan Izan berjalan menuju kamar Khanza, benar saja terdengar suara Isak tangis Khanza yang begitu memilukan.
" Khanza buka pintunya sayang, ini ibu" ucap Bu Khodijah memanggil Khanza dari balik pintu
__ADS_1
" Kak Za!" kali ini Izan yang memanggil seraya mengetuk pintu kamar Khanza
Ceklekk
Ternyata pintu kamar tidak di kunci Izan dan ibu langsung masuk ke dalam kamar Khanza.
"Sayang!" panggil bu Khodijah saat melihat tubuh Khanza yang bergetar dibalik selimut tebalnya.
" Kak Za!" kali ini Izan yang memanggilnya.
" Ya ampun sayang kamu demam" bu Khodijah terkejut saat memegang kening sang putri terasa panas
" Bu, hikss..... hikss...." ucap Khanza dibalik Isak tangisnya
" Kamu ini kenapa Za kok sampai demam begini? masih nangisin suami kamu?" Khanza mengangguk pelan
" Sudah dihubungi?" Khanza kembali mengangguk
"Ta.. tapi enggak diangkat bu, pasti mas Aldy sedang bersama bu Siska!" Khanza kembali menangis
" Hiss... Kamu ini ngomong apa sih Za, ya enggak mungkinlah suami kamu seperti itu. ini kan sudah malam mungkin suami kamu sudah tidur" jelas bu Khodijah
Sementara Aldy yang sudah terlelap tiba-tiba terjaga dari tidurnya dan langsung beranjak dari tempat tidur berjalan gontai menuju kamar mandi.
Selesai dari kamar mandi Aldy melirik ponselnya yang berada di atas nakas, entah kenapa hatinya tergerak untuk meraih benda pipih tersebut.
Mata Aldy membelalak saat melihat panggilan tak terjawab begitu banyak dari nomor ponsel Khanza dan juga Izan.
Sebelum melanjutkan tidurnya Izan memang sempat mendial nomor ponsel Aldy hendak memberi tahu keadaan kakaknya yang sedari tadi nangis terus..
Aldy memilih menghubungi nomor Khanza balik.
" Sayang tuh nomor kamu bunyi!" tunjuk bu Khodijah saat mendengar suara ponsel Khanza yang berdering
" Biarkan saja Bu!" Khanza mengabaikan panggilan tersebut
" Jangan seperti itu, sebaiknya kamu angkat kasihan nak Aldy" Khanza menggeleng
" Iya Bu"
" Yaudah,ibu balik ke kamar ya kamu istirahat"
ponsel Khanza kembali berdering dan dengan malas Khanza meraih benda pipih tersebut lalu menggeser ikon hijau yang ada di layar ponselnya.
" Assalamu'alaikum!"
" Wa'alaikum salam!" jawab Khanza datar
" Ada apa kamu menelpon?" tanya Aldy
" Jadi aku enggak boleh gitu menelpon suamiku sendiri. jadi mas merasa terganggu iya?" Aldy terkejut bukan main tatkala mendengar Khanza yang Sedetik kemudian terisak-isak.
" Sayang bukan begitu maksud mas!"
"Sudahlah mas...Hikss....Hikss..., percuma saja kalau aku sedari tadi memikirkan mas dan merindukan mas...Hikss.... Hikss...!" ucap Khanza disela isak tangisnya
" Sayang, maafkan mas... tolong jangan menangis lagi!"
" Aku benci mas Aldy, mas jahat, Hikss.... hikss...!"'Khanza langsung mematikan sambungan teleponnya
" Say_"
Tut.... Tut...
Aldy mengusap wajahnya kasar karena merasa khawatir dengan keadaan Khanza dengan cepat ia menyambar kunci mobilnya dan langsung bergegas menemui isteri kecilnya yang tengah merajuk.
Aldy tidak peduli lagi dengan penampilannya yang hanya menggunakan celana pendek selutut dan kaos.
Sesampainya di depan rumah Khanza Aldy bingung sendiri, mau mengetuk pintu takut membangunkan ibu mertuanya, lama Aldy berpikir akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Izan.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum, kak!'"
" Wa'alaikum salam, Izan maaf kak Aldy ganggu tolong buka pintu ya, kakak ada di depan rumah"
"Ah iya kak, sebentar!'
Izan langsung beranjak dari tempat tidur dan langsung berjalan menuju pintu depan.
Ceklekk
" Kak" seru Izan saat melihat Aldy yang sudah berdiri di depan pintu
" Masuk kak, kak Za sedari tadi menangis terus. ibu sudah membujuknya tapi kak Za masih saja menangis" adu Izan
" Ya sudah kakak masuk dulu ya, kak Aldy mau melihat keadaan kakak kamu!"
" Iya kak!"
Aldy membuka pintu kamar Khanza dan dilihatnya sang isteri kecil bergulung selimut dengan tubuh yang bergetar
Dengan langkah pelan Aldy mendekati sang isteri lalu duduk di tepi kasur.
Aldy membelai lembut pipi Khanza yang basah dengan air mata, spontan Khanza terperanjat dan langsung beranjak dari tidurnya.
" Mas Aldy!"
" Mau apalagi mas Aldy datang kesini?" ketus Khanza
Aldy menghela napasnya panjang lalu tersenyum tipis " Mas datang ke sini karena tadi ada yang menangis sesenggukan, mas khawatir dan langsung datang kesini. mas takut isteri mas tidak bisa tidur dan masih saja menangis karena begitu merindukan suaminya ini" Aldy tersenyum seraya mengusap lembut pucuk kepala Khanza.
" Siapa yang menangis, aku tidak menangis" bibir mengatakan tidak menangis tapi air matanya masih meluncur begitu saja.
" Katanya enggak nangis terus ini apa hem?" Aldy menghapus air mata Khanza dengan ibu jarinya.
" Sayang, sudah ya jangan nangis lagi. mata mu sudah sembab begitu bagaimana besok mau sekolah kalau mata kamu besar begitu" Aldy menarik pekan tubuh Khanza ke dalam pelukannya
Khanza awalnya menolak tapi Aldy tidak peduli ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Diamlah seperti ini sebentar, tenangkan dulu dirimu hem!" Aldy mengelus punggung Khanza dengan lembut dan tidak dapat Khanza pungkiri berada di dalam pelukan Aldy membuat Khanza merasa begitu nyaman dan tenang.
" Katakan jika mas punya salah tapi jangan menghukum dirimu sendiri dengan menangis seperti ini. mas enggak tahu kesalahan mas tapi yang jelas jika kamu cemburu dengan bu Siska kamu salah besar sayang, karena isteriku itu hanya satu yaitu Khanza Az-Zahra dan tidak mungkin aku menikah lagi selama kamu masih status isteri ku"
" Oh jadi mas ada rencana untuk meninggalkan aku, berpisah dengan aku agar mas bisa menikah lagi begitu!" Khanza kembali tersulut emosi.
" Bukan seperti itu sayang, maksud mas tidak akan pernah menikah lagi karena satu-satunya wanita yang aku sayangi dan sangat aku cintai cuma kamu Khanza Az-Zahra"
Khanza menatap lekat wajah Aldy lalu berhambur memeluk tubuh tegap suaminya.
" Mas janji tidak akan meninggalkan aku!" pinta Khanza dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
" Iya, mas janji sayang!"
" Mas gak boleh dekat-dekat dengan bu Siska"
" Iya" Aldy mengulum senyumnya
" Pokoknya mas juga enggak boleh dekat-dekat dengan cewek-cewek yang kegenitan di sekolah"
"Iya sayang, rupanya isteri mas kalau lagi cemburu seperti ini sangat menggemaskan" Aldy mencubit hidung Khanza gemas
" Mas ih!" Khanza memegang hidungnya dan Aldy tertawa renyah.
" Sudah jangan nangis lagi, kalau kangen sama mas tuh bilang aja. jangan malu tapi sebenarnya mau!" goda Aldy
" Apaan sih, jangan ngarang deh ya!"
" Iya... iya.. mas gak ngarang karena itu memang nyatanya kan!"
" Tau ah!" Khanza memberengut lalu membuang pandangannya.
__ADS_1
Aldy yang gemas dengan sikap Khanza langsung menarik Khanza kembali ke dalam pelukannya dan benar saja setelah mendapat perlakuan lembut dari suaminya Khanza kembali merasakan kenyamanan tersendiri.
Bahkan Khanza tidak ingin berjauhan dengan Aldy walaupun hanya sebentar. membuat Aldy merasa heran apalagi disaat Aldy hendak pergi ke kamar mandi Khanza malah kembali menangis alhasil Aldy mengurungkan niatnya dan memilih kembali memeluk mesra isteri tercinta.