
" Aaaaaakhh... !" Teriak kesal dokter Ariel di sebuah taman menendang ke sembarang arah.
Saat ini dokter Ariel sedang berada di sebuah taman ibu kota, meluapkan semua emosi yang berkecamuk di dalam hatinya. Dia sudah berusaha untuk melepaskan Zaira namun entah kenapa setelah melihat Zaira kembali hatinya begitu sakit terlebih ketika Zaira dan Azka terlihat begitu mesra, rasanya ingin dia yang berada di posisi Azka saat itu
Dokter Ariel mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar ia hantamkan satu pukulan yang cukup keras ke sebuah pohon yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tapi malah menjadi sasaran pelampiasan emosi seorang dokter yang tengah patah hati ini.
Napas dokter Ariel tidak beraturan, emosi yang memuncak membuatnya tersengal-sengal dan disaat ia ingin kembali menghantam pohon yang ada di depannya tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang dokter Ariel, dan ternyata ucapannya mampu menghentikan emosi dokter Ariel yang membabi-buta.
" Apa salahnya pohon itu sampai-sampai seorang dokter yang ahli bedah dan selalu mengobati orang lain yang sakit begitu teganya memukulinya seperti itu?" ucapnya dengan lantang.
Dokter Ariel menoleh dan tatapan keduanya pun bertemu.
Deg
Deg
Deg
Dokter Ariel langsung membuang pandangannya ke sembarang arah, ia dengan langkah gontai ingin pergi meninggalkan taman tersebut namun suara itu membuat langkahnya terhenti.
" Yakinkanlah hati kecil anda dokter, jika anda memang benar-benar mencintainya maka lepaskanlah dia dengan ikhlas, jangan sakiti dia yang kini sudah hidup bahagia bersama orang yang dicintainya dengan cinta anda yang terbelenggu oleh nafsu belaka. jika anda terus memaksakan perasaan anda maka ingatlah bukan kebahagiaan yang akan anda berikan untuknya melainkan sebuah kematian.!" ucap gadis tersebut dengan tegas dan dokter Ariel langsung menghampiri gadis tersebut dan dengan kasar ia mencengkram rahangnya.
Sungguh gadis yang luar biasa dia sama sekali tidak takut dengan tatapan membunuh dari dokter Ariel bahkan saat rahangnya dicengkeram kuatpun ia bukan menunjukkan raut wajah menyesal, gadis tersebut malah tersenyum meremehkan. matanya saling menatap sampai tatapan tajam yang menghunus bagaikan pedang perlahan meredup dan cengkraman itu pun terlepas begitu saja.
" Apa maksud dari ucapanmu?" tanya dokter Ariel yang sudah melepaskan cengkeramannya. gadis tersebut mengusap rahangnya yang sedikit terasa nyeri.
" Duduklah!" pinta gadis tersebut dengan santai. Dan setelah dokter Ariel duduk gadis tersebut menyodorkan minuman untuknya.
Dokter Ariel mendorong kembali minuman tersebut menolaknya mentah-mentah.
namun gadis tersebut tidak mau menyerah begitu saja ia tetap menyodorkan minumannya walaupun mendapat tatapan tidak suka dari dokter Ariel.
" Minumlah jangan menatap saya seperti itu, awas nanti bisa-bisa anda jatuh cinta sama saya!" ucapnya santai lalu meminum minumannya.
Dokter Ariel hanya menatapnya jengah.
" Apa maksud ucapan mu tadi?" tanya dokter Ariel yang pandai menyembuhkan orang sakit tapi sangat bodoh menyembuhkan luka hatinya karena patah hati.
" Anda ini seorang dokter pandai mengobati orang sakit tapi kenapa soal percintaan anda begitu naif dokter!" sindirnya.
" Jangan sok tahu kamu!" kesal dokter Ariel dan tentu saja hal itu malah mampu membuat gadis tersebut tertawa
" Dokter anda ini seorang dokter bukan, anda tahu dengan jelas seseorang bisa saja kritis lalu mengalami kematian jika seorang pasien terus menerus jiwanya terguncang dan tertekan terus menerus?" tanya gadis tersebut membuat dokter Ariel mengerutkan keningnya.
" Jika anda dengan bersikeras memaksakan perasaan anda terhadapnya yang sebenarnya sudah hidup bahagia bersama orang yang dicintainya. apakah itu tidak membuatnya hidup tertekan?"
" Kebahagiaan yang anda rebut dengan paksa hanya akan membuatnya hidup menderita, hatinya akan hancur dan bisa saja karena merasa tertekan ia lalu jatuh sakit dan anda hanya mementingkan perasaan anda terhadapnya lupa akan kebahagiaannya. hawa nafsu yang berkedok cinta hanya akan membuat anda terobsesi ingin memilikinya seutuhnya. sampai-sampai anda melupakan kesedihannya, kebahagiaannya bahkan kesehatan jiwa dan raganya. dan tanpa anda sadari anda perlahan tapi pasti akan membawanya pada sebuah kematian. bukan kebahagiaan yang akan anda dapatkan tapi kebencian yang berakhir dengan kematian" tutur gadis tersebut dan seketika dokter Ariel dadanya terasa begitu sesak bayangannya terlintas pada Zaira adik kecilnya yang ia ingin bahagiakan.
Dokter Ariel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat. gadis yang kini duduk di sampingnya menepuk-nepuk pelan bahu sang dokter.
" Jika anda benar-benar ingin dia bahagia, maka lepaskanlah dokter. sikap anda keegoisan anda jangan sampai membuat anda menyesal.
__ADS_1
Anda adalah seorang dokter maka jangan biarkan dia terluka karena anda sembuhkanlah perasaannya yang kini merasa tidak nyaman setiap kali melihat anda. Saya yakin anda bisa melewati semua ini dokter. Tuhan itu tidak tidur Dia pasti sudah menentukan jodoh dan kebahagiaan anda tersendiri. jika dia bukanlah jodoh anda bukan berarti hidup ini berakhir kan ? bukan berarti hidup anda tidak akan bahagia kan? hanya mungkin belum saatnya."
" Kita punya rencana namun Tuhan yang menentukan segalanya, jadi bersabarlah dokter. ingat satu hal tujuan anda menjadi dokter itu apa? dan tugas seorang dokter itu apa? menyembuhkan yang sakit bukan? jika memang seperti itu jadi jangan biarkan yang hidup sehat sakit karena anda. itu sangat bertentangan dengan titel anda dokter!" ucap gadis tersebut lalu beranjak dari duduknya.
" Yakinlah dokter anda bisa hidup bahagia tanpa harus mengusik kebahagiaan orang lain!" setelah mengatakan itu gadis tersebut pergi meninggalkan dokter Ariel yang masih diam mematung.
Setelah gadis tersebut pergi dokter Ariel menghela napasnya panjang. ia lalu memutuskan untuk pergi dari taman tersebut karena masalah perasaannya yang tidak menentu dokter Ariel sudah beberapa hari sampai sedikit mengabaikan tugasnya sebagai dokter.
Dokter memutuskan untuk kembali ke rumah sakit ia merasa tidak enak dengan dokter Martin sahabat baiknya yang beberapa hari ini menggantikan tugasnya.
Ucapan gadis tersebut sedikitnya mampu membuat dokter Ariel berpikir secara logis. Karena ke egoisannya ia hampir di saja lepas dari tanggung jawabnya sebagai dokter.
Dokter Ariel tersenyum simpul mengingat gadis yang bersamanya di taman dan seketika jantungnya berdebar tatkala teringat ia sempat mencengkram kuat rahang gadis tersebut. dokter Ariel menatap nanar kedua tangannya lalu memukulnya ke setir mobil berulang-ulang.
" Dasar bodoh, dokter macam apa aku ini sampai tega-teganya melakukan hal itu terhadap seorang gadis dibawah umur. ahh... dasar bodoh. !" umpat dokter Ariel memaki dirinya sendiri.
Dokter Ariel menatap kembali tangannya yang digunakan untuk mencengkram gadis tersebut lalu ia mengacak-acak rambutnya kasar. merasa dirinya sangat bodoh saat ini ia yang lebih dewasa tapi pikirannya jauh lebih dewasa dari seorang gadis dibawah umur. jika dibilang malu tentu saja ia merasa teramat malu.
Dokter Ariel lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan tanpa sadar sedari tadi pikirannya terus tertuju pada gadis yang bertemu dengannya di taman dan sudut bibirnya pun sedikit tertarik keatas.
🍁
" Pak suami ayo cepat bangun!" Zaira mengguncang tubuh Azka yang masih terlelap.
Azka dengan berat membuka kedua matanya yang masih sangat mengantuk. " Yang ini masih jam berapa, kenapa jam segini bangunin mas sih?" Azka melihat jam yang masih pukul 2 dini hari.
" Mas ayo cepat bangun, kita pulang sekarang yuk!" pinta Zaira merengek seperti anak kecil mengguncang Azka berkali-kali.
Azka langsung terlonjat kaget mendengar sang isteri yang merengek minta pulang. Semalam mereka memang menginap di rumah papa dan mamanya itu karena Zaira yang nampak tidurnya begitu nyenyak jadi Azka mana mungkin tega membangunkan Zaira akhirnya ia memutuskan untuk menginap.
" Ya sudah kalau mas tidak mau biar aku pulang sendiri saja!" Zaira beranjak dari tempat tidur dan ingin pulang sendiri. Azka mendengus kesal dengan sikap keras kepala isterinya ini, untung saja cinta kalau tidak pasti sudah ditendang jauh-jauh.
" Iya iya yang kita pulang sekarang, tunggu mas cuci muka dulu!" ucap Azka buru-buru takut isterinya ngambeknya berlanjut dan nekat pulang sendiri.
Azka dengan gontai berjalan menuju kamar mandi Zaira menunggunya sambil duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
Azka keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Zaira. " Yakin mau pulang sekarang?" tanya Azka sekali lagi, mungkin saja isterinya sudah berubah pikiran.
Zaira mengangguk lalu tersenyum manja pada pak suami. " Maaf ya mas kalau aku sudah merepotkan mas, tapi aku juga gak tau mas bawaannya tuh pingin rebahan di kasur kita sendiri!" ucap Zaira memelas.
" Yaudah iya sayang, ayok kita pulang sekarang!" Azka merangkul Zaira dan mengajaknya pulang mungkin ini bawaan ibu hamil pikir Azka tidak mau ambil pusing karena jika sudah menyangkut keinginan Zaira sebisa mungkin Azka pasti penuhi.
" Yang pamit dulu ya ke mama!" ucap Azka saat menuruni anak tangga.
" Gak usah mas, gak enak bangunin mama jam segini. mending bilang bi Sum aja kayaknya tadi aku lihat bi Sum di dapur" cegah Zaira
" Ya sudah, kamu tunggu aja disini mas temui bi Sum dulu ya!" pinta Azka yang langsung diangguki oleh Zaira.
Azka pergi ke dapur untuk menemui bi Sum yang kebetulan sedang mengambil air minum.
" Bi!" pangil Azka yang hampir saja membuat bi Sum jantungan karena kaget.
__ADS_1
" Astaghfirullah den, ngagetin bibi aja!" bi Sum mengelus dadanya berkali-kali.
" Maaf bi!" Azka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Ada apa den malam-malam ke dapur, mau ngambil minum juga apa mau cari makanan buat non Zaira?" tanya bi Sum
" Emm, mau pamit pulang bi" jawab Azka
" Pulang, ini jam berapa den. kok pulang jam segini?" tanya bi Sum yang sedikit terkejut
" Makannya itu bi saya pamit sama bibi aja, gak enak bangunin mamanya. nanti kalau mama tanya bilang saja saya sudah pulang karena ibu hamil yang satu itu gak sabar minta pulang!" sahut Azka.
" Loh emang non Za kenapa den, kok jam segini minta pulang sih?" bi Sum sedikit cemas dengan Zaira.
" Gak kenapa-napa bi, maklum deh bi ibu hamil itu pinginnya pasti yang aneh-aneh kan. dia bilang pingin cepat pulang karena pingin rebahan di kasur sendiri katanya" jawab Azka membuat bi Sum terkekeh paham akan nasib majikannya yang pusing jika berdebat dengan isterinya yang sedang hamil.
" Iya den maklumin aja deh. wanita hamil memang sulit ditebak. den Azka yang sabar aja ya. den Azka pasti merasa berat jika meladeni isteri den Azka yang sedang ngidam ini itu tapi non Za pasti juga tersiksa den, dari perubahan bentuk pisik, emosi yang kadang naik turun sama perasaan bersalah karena sudah merepotkan den Azka. karena di luar kesadarannya itu mungkin bukan keinginannya non Za sepenuhnya den!" tutur bi Sum menjelaskan.
" Iya bi, terima kasih ya bi. yaudah saya pamit ya bi salam buat mama dan papa ya bi!" pamit Azka
" Siap den. hati-hati ya di jalan!" pesan bi Sum
Azka menghampiri Zaira yang tengah duduk di ruang TV. " Sudah mas!" tanya Zaira saat Azka datang menghampirinya.
" Sudah, yuk kita pulang sekarang!" ajak Azka yang langsung disambut antusias oleh Zaira.
Saat ini Zaira dan Azka sedang berada di dalam mobil. keduanya terdiam tidak ada yang bicara satu sama lain.
Azka melirik ke samping dan dilihatnya Zaira yang sudah terlelap. " Yang belum sampai rumah kamu sudah tidur lagi" gumam Azka menggelengkan kepalanya.
tidak lama mobil pun sampai di pekarangan rumah mereka. Azka perlahan menggendong Zaira yang masih tertidur lelap. untung mbok Iyem yang mendengar suara mobil Azka langsung bangun dan membukakan pintu sehingga Azka dengan mudah membawa Zaira masuk ke dalam rumah.
"Sekarang kamu berat ya yang" gumam Azka tertawa kecil saat menaiki anak tangga.
Setelah sampai di kamarnya Azka meletakkan Zaira dengan hati-hati ke atas tempat tidur.
baru Azka hendak beranjak dari tempat tidur tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh Zaira.
" Mas!" lirihnya dengan mata yang masih terpejam.
" Ada apa sayang?" tanya Azka kembali duduk di samping Zaira.
" Mas mau kemana, disini saja mas!" rengek Zaira manja.
" Iya mas disini. udah tidur lagi nanti ke buru subuh kamu gak jadi tidur" titah Azka
" Iya, tapi mas janji ya jangan kemana-mana!" pinta Zaira.
" Iya sayang, mas disini kok. yuk kita tidur lagi!" ajak Azka yang ikut rebahan di samping Zaira. Sebenarnya Azka tadi ingin ke kamar mandi tapi melihat isterinya yang merajuk ingin minta ditemeni Azka pun tidak tega dan menuruti keinginan isteri kecilnya itu.
" Tidur lagi ya yang!" Azka mengelus kepala Zaira dengan lembut setelah itu elusannya pindah ke perut Zaira yang sudah mulai terlihat membuncit. Azka menyingkap baju yang di gunakan Zaira terlihat perut buncit putih dan mulus Zaira.
__ADS_1
Azka beranjak dari posisinya dan mendekatkan wajahnya ke perut Zaira yang terlihat putih dan mulus.
Azka mencium berkali-kali perut Zaira, mengelus lalu menciumnya lagi dan lagi. karena tidak ada pergerakan dari sang isteri dengan jahil elusannya semakin naik ke atas dan memainkan bagian favoritnya sambil terkekeh kecil.