
Di sebuah kamar yang berukuran cukup besar seorang wanita hamil tengah duduk di tepi tempat tidur sambil menghela napasnya berat, pikirannya saat ini tertuju pada sahabat baiknya yaitu Mita Paramita.
" Sayang kamu kenapa hem, kok murung gitu mukanya?" tanya Azka yang ikut duduk di samping Zaira.
" Gak apa-apa kok mas" Jawab Zaira tersenyum namun sedikit dipaksakan
" Kamu itu isteri mas, jelas mas tahu kamu itu sedang berbohong atau tidak, kamu pasti lagi memikirkan sesuatu iya kan?" tebak Azka
" Mas, bagaimana kabar Mita sekarang ya mas, aku khawatir sama dia" ucap Zaira sendu dan menundukkan wajahnya.
" Mita pasti akan baik-baik saja sayang, kamu tahukan dia itu gadis yang kuat dan tegar jadi kamu tidak usah terlalu khawatir apalagi sementara ini Mita katanya menginap di rumah mertuanya Meli" ucap Azka yang sempat berbicara dengan Mario di telpon sebelum berangkat ke Jerman saat Azka menanyakan tentang Lia, Mario mengatakan kalau Lia sedang bersama Mita di rumahnya.
" Mita berada di rumah orang tua Mario, yang benar mas?" tanya Zaira yang berubah bersemangat setelah mendengar Mita kini berada bersama Lia
" Iya sayang" sahut Azka
" Bagaimana kalau nanti siang aku kesana boleh ya mas?" tanya Zaira meminta izin kepada suaminya
" Boleh sayang, biar nanti mas minta Lia yang menjemput kamu karena kata Mario hari ini Lia izin tidak masuk sekolah " sahut Azka
" Loh kenapa mas, apa Lia sakit?" tanya Zaira yang berubah menjadi khawatir dengan keadaan adik iparnya itu.
" Bukan Lia yang sakit tapi Mita" sahut Azka
" Mita?" tanya Zaira memastikan
" Iya, semalam katanya dia sempat pingsan tapi sekarang sudah baikkan" jawab Azka
" Mita pingsan?" tanya Zaira dan Azka mengangguk
" Mita pasti sakit hati dan kecewa banget mas dengan kak Ariel" ucap Zaira sendu.
" Kenapa kak Ariel bisa setega itu ya mas? aku benar-benar gak menyangka mas kalau sebenarnya kak Ariel itu sudah menikah bahkan isterinya tengah hamil" lanjutnya lagi
" Kita tidak bisa menghakimi seseorang tanpa kita tahu cerita yang sebenarnya sayang, mungkin dokter Ariel punya alasan tersendiri kenapa dia menikah dan menyembunyikan tentang pernikahannya itu!" ucap Azka
" Tetap saja salah mas, apapun alasannya jika dia tidak jujur itu tetaplah sebuah kesalahan yang bisa berakibat fatal. untung saja Mita dan kak Ariel belum sampai menikah dan Mita bisa mengetahui semuanya lebih awal" ucap Zaira
" Iya kamu ada benarnya, untungnya Mita bisa tahu lebih awal jadi walaupun saat ini Mita merasa sangat kecewa tapi setidaknya lebih baik kecewa sekarang dari pada kecewa setelah menikah" ucap Azka menimpali
"Iya mas betul, tapi tetap saja mas aku juga ikut kecewa dengan apa yang telah dilakukan kak Ariel terhadap Mita" Zaira berdiri setelah Azka beranjak dari duduknya.
" Kecewa boleh tapi ingat jangan terlalu terbawa pikiran, kamu ini tengah hamil sayang jadi jangan terlalu banyak pikiran" ucap Azka mengingatkan
" Iya mas" Zaira serata membenarkan kemeja Azka.
"Yaudah mas berangkat sekarang, ingat jangan terlalu banyak pikiran dan nanti tunggu Meli datang menjemput ya!" Azka mencium kening Zaira
" Iya mas, terima kasih ya mas" ucap Zaira tersenyum manja membuat Azka menjadi gemas.
" Iya sayang" Azka menarik Zaira ke dalam pelukannya
" Yaudah yuk kita sarapan!" ajak Azka merangkul pinggang Zaira dan Zaira mengangguk.
Setelah selesai sarapan seperti biasa Zaira mengantarkan Azka sampai di depan pintu rumah, dan sebelum berangkat Azka selalu menyempatkan diri untuk mengelus perut sang isteri yang sudah semakin besar dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
" Baik-baik di rumah ya sayang, ingat jangan capek-capek dan istirahat yang cukup" pesan Azka
" Iya mas" sahut Zaira
" Nanti mas usahakan pulang cepat, kalau Meli sudah datang menjemput kamu telpon mas ya!"
__ADS_1
" Iya mas, apa mas gak ke kantor hari ini?" tanya Zaira
" Tidak, mas sudah ambil cuti di kantor semua akan mas kerjakan dari rumah. mas hanya ke kantor jika memang keadaan penting saja" ucap Azka.
" Mas nanti akan menjemput kamu selepas mas pulang mengajar" lanjutnya
"Iya mas, yaudah kalau begitu mas hati-hati ya di jalan dan jangan genit-genit disekolah!" pesan Zaira yang memang akhir-akhir ini sangat cemburuan.
" Iya sayang, gak akan" sahut Azka yang mendaratkan kecupan di kening sang isteri.
" Yaudah mas berangkat dulu ya!" pamit Azka .
" Iya mas, hati-hati"
"Assalamu'alaikum" ucap Azka setelah Zaira mencium punggung tangan Azka
" Wa'alaikum salam" sahut Zaira
Setelah Azka berangkat mengajar, Zaira mempersiapkan diri untuk kegiatan homeschooling karena sebentar lagi guru yang akan mengajarnya akan segera datang.
...☄️☄️☄️...
Usai sarapan Lia mengajak Mita mencari udara segar ke taman belakang rumah.Di belakang rumah Mario terdapat sebuah taman yang cukup luas dan ternyata di sana selain ada arena untuk bermain basket disana juga ada sebuah taman yang ternyata hampir menyerupai dengan bentuk taman yang ada di area rumah Mita dan Arta sewaktu kecil, taman tersebut di buat atas permintaan Arta pada saat Arta sudah lulus kuliah dan memutuskan untuk kembali ke tanah air dan tinggal di rumah keluarga Alexander tepatnya rumah pamannya yang sudah dianggap papanya sendiri. Arta meminta izin kepada Alex yang sudah dianggap papanya sendiri itu untuk membuat sebuah taman dibelakang rumahnya sesuai dengan apa yang dia inginkan untung saja mamanya Mario sangat mendukung keinginan Arta dan Alex pun sangat menyayangi putra dari mendiang adik kesayangannya itu jadi dengan mudah Arta mendapat izin dari pamannya itu apalagi Arta mengatakan ingin mengenang saat-saat bersama keluarganya sewaktu masih tinggal di kota B.
" Li taman ini kok gue merasa gak asing ya" ucap Mita yang merasa heran dan tercengang saat melihat sekeliling bentuk taman tersebut apalagi saat melihat ada sebuah ayunan dibawah pohon.
Dengan langkah yang entah kenapa terasa begitu berat Mita berjalan ke arah ayunan tersebut.
" Kenapa bentuk taman ini sangat mirip dengan taman yang ada di rumah di kota B?" batin Mita
" Mit loe kenapa?" tanya Lia yang merasa aneh dengan sikap Mita
" Loe kenapa sih Mit, dari kemarin senang banget ngelamun?" tanya Lia yang sedikit cemas dengan keadaan sahabatnya itu
" Gue gak Kenapa-napa kok Li, gue hanya takjub aja dengan taman ini rasanya tuh menenangkan banget " jawab Mita jujur
" Taman ini kak Arta loh yang merancangnya, kata Mario dulu kak Arta itu punya kenangan dengan taman dekat rumahnya sewaktu remaja tepatnya sebelum kedua orang tuanya membawanya pindah ke Jerman" ucap Lia
" Pindah ke Jerman?" ucap Mita yang nampak sedikit terkejut.
" Iya, dulu kak Arta pernah tinggal di kota B sebelum akhirnya papanya mengirim kak Arta untuk tinggal di Jerman." jawab Lia.
" Tapi malangnya setelah sampai di Jerman kedua orang tua kak Arta meninggal dunia" lanjutnya
" Kedua orang tua kak Arta sudah meninggal?" tanya Mita yang sedikit terkejut dengan meninggalnya kedua orang tua Arta yang dalam benaknya tiba-tiba terlintas tentang kakak tampannya.
" Iya, baru seminggu tinggal di Jerman orang tua kak Arta mengalami kecelakaan dan menyebabkan mereka meninggal dunia." tutur Lia
" Dan sejak saat itulah kak Arta tinggal bersama Mario dan sudah dianggap anak sendiri oleh kedua orang tua Mario. setelah 5 tahun tinggal di Jerman akhirnya keluarga Mario memutuskan untuk kembali ke tanah air dan membawa turut serta kak Arta. setelah beberapa hari tinggal di rumah ini kak Arta merasa sedikit jenuh dan pada saat itulah kak Arta mengusulkan untuk membuat taman ini kepada papanya Mario mengisi waktu senggangnya" ucap Lia yang kembali bercerita.
" Dan baru tinggal di sini kira-kira satu tahun kak Arta sudah harus kembali lagi menetap tinggal di Jerman karena kak Arta masih harus menyelesaikan pendidikannya disana sekaligus membantu mengurus perusahaan papanya Mario yang berada di Jerman selama papanya Mario tinggal di sini" lanjut Lia
Lia bisa menceritakan tentang Arta kepada Mita karena Mario sempat menceritakan kepadanya saat mereka selesai mengisi pasokan energi semalam, karena rasa penasaran yang besar Lia ingin tahu lebih lanjut tentang kakak sepupunya Mario itu dan mendesak Mario untuk bercerita apalagi Mario mengatakan kalau Arta itu tidak mudah dekat dengan wanita manapun tapi dengan sahabatnya justru begitu perhatian.
Mita berjalan menghampiri ayunan yang ada di taman tersebut Mita langsung naik ke atas ayunan dan Lia duduk di bangku yang tidak jauh dari ayunan itu berada.
"Mungkinkah kak Arta itu adalah kakak tampan? " Batin Mita.
"Aku jadi penasaran dengan yang namanya kak Arta itu?" ucap Mita membuat Lia tersenyum Lia berharap Mita bisa melupakan dokter Ariel dan bisa dekat dengan kakak sepupu suaminya itu.
" Semoga saja kalian bisa dekat ya apalagi sampai berjodoh" ucap Lia sambil terkekeh
__ADS_1
" Kau ini, tidak mudah dekat dengan laki-laki lain setelah apa yang aku alami belakangan ini Li" ucap Mita.
" Ya berharap itu tidak ada salahnya bukan, siapa tahu dengan Loe dekat dengan kak Arta loe bisa dengan mudah move on dari yang namanya dokter Ariel" sahut Lia.
"Tidak bisa semudah itu Li?" ucap Mita
" Siapa tahu" sahut Lia
" Gak akan mudah Li, sudah begitu banyak kenangan bahkan rangkaian masa depan yang kami rancang selama ini Li, namun sayang semua kini hanyalah tinggal angan-angan yang harus segera di hilangkan dari ingatan" ucap Mita sambil berayun dengan wajah muram dan sendu.
" Gue selama ini ternyata jahat banget ya Li karena sudah memisahkan anak dengan ayahnya?" tanya Mita dengan tersenyum getir
" Loe gak jahat Mit, loe juga kan gak tahu apa-apa selama ini. loe itu cuma korban dari keegoisan dokter Ariel" jawab Lia
" Tapi dia juga gak salah sepenuhnya juga sih Mit, karena dia menikahi wanita itu hanya karena ingin berbalas budi dan juga memenuhi permintaan terakhir dari sahabatnya itu. dia juga termasuk korban karena tidak bisa memilih orang yang dia cintai bukan?" lanjut Lia
" Iya tetap saja Li, bagaimana pun juga dia harus mempertanggung jawabkan semuanya, apalagi isterinya sedang hamil darah dagingnya sendiri ya meskipun mereka melakukannya bukan atas dasar suka sama suka, melainkan dalam keadaan mas Ariel yang tidak sadar karena pengaruh alkohol tetap saja tidak bisa dibenarkan Li, andai saja mas Ariel bisa menguasai dirinya untuk tidak mabuk mungkin tidak akan terjadi hal seperti itu bukan, namun sekarang nasi sudah menjadi bubur jadi mau tidak mau mas Ariel harus menerima kenyataan bahwa isterinya tengah hamil anaknya yang tidak tahu apa-apa." tutur Mita.
" Iya loe benar Mit, walau bagaimanapun dokter Ariel tetap harus bertanggung jawab atas perbuatannya itu." ucap Lia yang setuju dengan ucapan Mita.
" Yaudah yuk Mit masuk loe itu harus banyak istirahat nanti gue lagi yang kena marah sama kak Arta karena loe gak istirahat" goda Lia
" Apaan sih loe Li, gak lucu tau" ucap Mita mendengus kesal dan Lia malah tergelak.
" Udah jangan marah, gue cuma bercanda " bujuk Lia seraya merangkul Mita yang sudah berdiri dan turun dari ayunan.
" Tapi bercanda loe gak lucu" ucap Mita yang mencubit pipi Lia
" Iya ampun.. ampun kakak ipar!" teriak Lia sambil tertawa membuat Mita melotot dan mengejar Lia yang berlari masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di dalam rumah Lia dan Mita tertawa-tawa sejenak Mita bisa melupakan dengan rasa sakit hatinya terhadap dokter Ariel.
" Mit loe istirahat aja gih, gue mau jemput Zaira dulu ya. gak apa-apakan loe gue tinggal sendiri?" ucap Lia memberitahu Mita kalau dia ingin menjemput Zaira
" Za mau kesini?" tanya Mita berbinar
" Iya, tadi kak Azka nelpon gue katanya Za murung terus nanyain kabar loe terus dan pas kak Azka bilang kalau loe ada di sini Za antusias banget pingin kesini" jawab Lia
" Yaudah sana jemput!" pinta Mita yang senang akan kedatangan sahabatnya itu
" Emmmm... bagaimana kalau yang lain juga ajak ngumpul di sini ?" usul Lia " Gue bosan jawabnya saat anak-anak pada nanyain kabar loe" lanjut Lia
" Ye bege memangnya mereka gak sekolah?" tanya Mita mengingatkan
" Iya juga ya" ucap Lia yang menepuk jidatnya sendiri
" Tapi gue kasih kabar aja deh sama mereka kalau loe untuk sementara nemenin gue disini jadi kalau nanti mau kesini mereka bisa langsung kesini." tutur Lia
" Ya terserah loe aja deh bagaimana baiknya, udah cepat sana jemput Za!" ucap Mita
" Iya, gue ambil kunci mobil gue dulu dan loe sana istirahat gih!" ucap Lia
" Iya bawel" Mita mengerucutkan bibirnya sendiri. setelah Lia naik ke atas menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil Mario Mita pun masuk ke dalam kamar tamu yang kini menjadi kamarnya.
Lia kini sudah berada di dalam mobil dan mengemudikan mobilnya menuju rumah Zaira. Dan saat berada di perjalanan tanpa sengaja pandangan Lia tiba-tiba tertuju pada seseorang yang berada di pinggir jalan dan nampak tengah bertengkar hebat. Lia yang dengan jiwa ke kepoannya akhirnya memilih untuk menepikan mobilnya.
Pandangan mata Lia terus mengamati dua insan manusia yang tengah bertengkar hebat di tepi jalan bahkan apa yang mereka lakukan sempat menjadi pusat perhatian khalayak ramai.
Lia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap tajam ke arah sosok yang kini menjadi pusat perhatiannya.
" Dasar gak ada akhlak!" umpat Lia dari dalam mobil.
__ADS_1