
Khanza kembali menceritakan tentang Miska kepada Nana dan Hana. mungkin dia terlalu ceroboh karena bercerita tanpa izin terlebih dahulu kepada Miska tapi walau bagaimana pun Khanza harus menjelaskan semuanya sebelum Nana tau dari orang lain.
Miska mungkin akan berat mengatakan semuanya kepada Nana karena itu Khanza berinisiatif untuk membantu Miska dengan menjelaskannya semuanya kepada kedua sahabatnya itu terutama pada Nana
" Kalian tahu tidak sebenarnya Miska sangat syok setelah dia tahu kalau dirinya ternyata sudah dijodohkan oleh kedua orangtuanya dan bahkan dia semakin syok lagi saat tahu siapa laki-laki yang akan di jodohkan dengannya" tutur Khanza menceritakan
"Miska sudah berusaha untuk menolak perjodohan itu tapi papanya tidak menerima penolakan. Miska dilema stress memikirkan nasibnya, masa depannya dan juga cita-citanya yang harus ia korbankan, apalagi setelah tahu dia dijodohkan dengan laki-laki yang sangat dia benci"
" Miska juga merasa tertekan memikirkan tentang perasaan loe Na sahabatnya, dia takut loe akan membencinya saat tahu kenyataan ini, sementara menolak perjodohan itu pun dia tidak bisa, papanya begitu keras dan tidak terima bantahan, apalagi saat calon mertuanya sampai memintanya secara langsung dan menaruh harapan besar pada Miska agar dia mau menerima putranya itu." ungkap Khanza menceritakan semuanya tentang Miska tidak ada satupun yang terlewat.
" Miska menangis dan bingung Na, dia berada diposisi yang sangat sulit, menikah dengan Roni merupakan bencana untuk dia, loe tahu sendiri kan bagaimana sikap Roni dan semua perilaku buruknya? jika masih pacaran memutuskan untuk berpisah atau putus pun tidak akan jadi masalah dan tidak akan ada embel-embel status baru tapi jika sudah menikah dan Miska tidak sanggup melanjutkan hubungannya dengan Roni, jika mereka berpisah maka akan ada gelar baru untuknya yaitu JANDA" ucap Khanza penuh penekanan
Jlep
Nana terdiam mencerna kata-kata yang Khanza ucapkan
" Sebelum Miska pergi ke kota x untuk melangsungkan acara pernikahannya dia menangis dan terlihat begitu tertekan, nampak berat beban hidup yang harus dia hadapi, Miska ingin menyerah tapi dia masih memikirkan nasib kedua orang tuanya, dia takut mengecewakan mereka tapi meneruskan perjodohan itu pun dia harus memiliki mental yang kuat dalam menghadapi makhluk jadi-jadian itu, dia enggak boleh lemah dan tidak boleh melibatkan perasaannya tapi pertanyaannya apakah dia mampu?."
" Miska butuh kita, butuh sahabat-sahabatnya untuk memberi dukungan dan penyemangat untuknya. Miska cuma gadis biasa yang dengan status isteri tapi harus menghadapi suami yang masih suka main perempuan. seandainya gue diposisi Miska pun gue belum tentu sanggup"
" Na, mungkin ini berat buat loe terima tapi Miska itu sahabat kita, apa loe tega melihat dia menghadapi ini sendirian? ini bukan kemauan dia tapi seberat dan sesulit apapun nantinya Miska tetap harus menghadapi semua itu dia tidak punya pilihan?" lanjut Khanza dan Nana masih terdiam
"Gue berharap loe mau mengerti posisi Miska dan memaafkannya Na karena ini murni bukan kemauannya" Nana menghela nafasnya berat
" Gue mengerti Za, gue juga enggak mungkin sekejam itu membenci Miska. Ya semoga aja Miska bisa mempertahankan pernikahannya dan Roni segera sadar dan mau berubah."
" Alhamdulillah, kalau loe mau mengerti Na. gue lega mendengarnya" ucap Khanza
" Terima kasih ya Za atas penjelasan yang Loe berikan kalau loe enggak cerita mungkin gue enggak akan tahu hal yang sebenarnya dan bisa saja terjadi kesalahpahaman antara gue dan Miska!" ucap Nana
" Karena itulah gue cerita, gue enggak mau terjadi kesalahpahaman antara loe dan Miska, kalian adalah sahabat-sahabat gue dan gue sayang sama kalian berdua" terang Khanza
" Terus loe enggak sayang sama gue? cuma sayang Nana dan Miska doang?" keluh Hana dengan wajah memberengut
" Ya ampun enggak gitu juga kali Han, gue juga sayang sama elo. tenang aja!" Khanza merangkul pinggang Hana
" Emmmm... bagaimana kalau Miska nanti sudah masuk sekolah kita buat kejutan buat dia!" usul Hana
" Kejutan apa?" tanya Nana
" Ya apa gitu!"
" Setuju gue" timpal Khanza
" Iya tapi apa?" tanya Nana lagi
" Kita pikirkan nanti" sahut Khanza
__ADS_1
" Huh.. dasar kirain sudah ada ide gitu" ucap Nana
" Ya yang terpenting saat ini adalah loe udah bisa menerima itu semua sudah lebih dari cukup untuk hari. untuk rencana berikutnya ya kita pikirkan nanti" ucap Khanza dengan senyum bahagianya.
Tring
Tiba-tiba ponsel Khanza berdering, dan dia pun langsung meraih ponselnya yang ada di saku bajunya.
" Laki gue wa" ucap Khanza setelah melihat nama pesan si pengirim
" Pasti di suruh pulang ya?" tebak Hana
" Enggak, cuma sudah nunggu di depan" jawab Khanza
" Duh enaknya ya kalau udah nikah, ada yang jemput" ucap Hana
" Yaudah loe kawin aja sono!" ucap Nana menoyor kepala Hana
" Kawin.. kawin.. nikah dulu cuy" timpal Khanza
" Nah itu yang bener" Hana menunjuk Khanza
" Udah ah, gue cabut dulu ya kasihan ayang embeb nungguin lama" Khanza beranjak dari duduknya
" Oke Za, thanks ya!" ucap Nana dan Khanza hanya mengacungkan ibu jarinya seraya tersenyum
Khanza keluar dari kedai bakso cinta tersebut dan Aldy sudah berdiri di samping mobilnya
" Wa'alaikum salam" jawabnya seraya membuka pintu mobil untuk Khanza
" Bagaimana?" tanya Aldy saat keduanya sudah berada di dalam mobil yang tengah membelah jalanan ibu kota.
" Bagaimana apanya?" bukan menjawab gadis yang sudah bukan gadis lagi ini malah balik bertanya.
" Nana" jawab Aldy menoleh sekilas ke arah Khanza
" Oh itu, Alhamdulillah Nana tadi sih Nana mau mengerti dan semoga saja dia benar-benar bisa menerimanya dengan ikhlas dan tidak membenci Miska" sahut Khanza penuh harap
" Lagian tuh ya mas Nana tuh seharusnya bersyukur kalau bisa lepas dari tuh makhluk jadi-jadian, enggak rugi dan malah beruntung iya, kalau dia masih mau bertahan bodoh itu namanya mas. masih banyak cowok yang jauh lebih baik dari si Laron buat apa coba bertahan kayak gak akan laku aja" tutur Khanza bercerita dengan sedikit emosi.
" Kamu jangan emosi gitu dong bunda kasihan loh dedeknya" Aldy mengulurkan tangan kirinya lalu dengan lembut mengelus perut Khanza yang nampak membuncit
" Sabar Yank!" ucapnya lagi
" Iya maaf ya yah, terbawa emosi!" sahut Khanza cengengesan
Sementara di kedai bakso tersebut Nana tidak kuasa lagi menahan tangisnya.
__ADS_1
" Na loe harus bisa ikhlas, Roni itu bukan cowok yang baik buat loe, sudah berkali-kali dia nyakitin loe dan hanya memanfaatkan loe aja jadi buat apa loe tangisi dia Na" ucap Hana mengusap bahu Nana
" Kasihan Miska Na, dia pasti akan merasa sulit melewati hari-harinya setelah sah menjadi isteri Roni" lanjut Hana
" Roni adalah cowok yang paling Miska benci Na loe juga tau itukan dan sekarang dengan terpaksa dia harus hidup bersamanya seumur hidup, apa Miska bisa bertahan selama itu Na? dia bahkan harus mengorbankan dirinya, masa depannya dan juga cita-citanya demi kebahagiaan orang tuanya dan juga orang tua Roni"
" Kita harus menghormati keputusan Miska Na dan setidaknya beri dia dukungan. mungkin kalau gue jadi Miska gue bisa kabur dari rumah atau bisa juga bunuh diri"
" Menurut gue ini beban yang sangat berat Na, menikah disaat kita masih sekolah" lanjut Hana membuat Nana menghentikan tangisannya dan memikirkan kembali ucapan Hana.
" Bunuh diri? bagaimana jika Miska tidak kuat dan berpikiran sempit. tidak... tidak boleh, Miska tidak boleh bunuh diri" batin Nana berkecamuk
" Hana menurut loe gue harus bagaimana?" tanya Nana seraya menghapus air matanya kasar
" Lupain Roni, dia bukan cowok yang baik buat loe, suatu hari nanti loe pasti akan mendapatkan yang lebih dari dia!"
" Amin, semoga aja ya Han!" ucap Nana penuh harap
"Insyaallah Na, loe harus berpikir positif. selama loe berbuat baik maka kelak suatu hari nanti loe pun akan menuai kebaikannya, seperti halnya jodoh, mungkin Roni memang bukan ditakdirkan untuk loe karena dia bukan laki-laki yang baik untuk seorang Nana yang merupakan gadis baik-baik" ucap Hana membuat Nana terkekeh
" Loe tuh bisa aja ya Han, bikin gue terbang aja!" Hana pun tertawa
" Gue bicara serius gini juga!"
" Iya gue tahu, terus bagaimana dengan Miska?"
" Mungkin Allah memang sengaja mengirimkan Miska untuk Roni, agar laki-laki itu sadar dan bertaubat" sahut Hana
" Ya walaupun kasihan juga dengan nasib Miska" lanjutnya
" Ya semoga aja Miska bisa merubah Roni" harap Nana
" Iya, kalau tidak bisa maka kasihan nasib Miska yang akan mempunyai gelar janda di usia muda" ucap Hana sendu
" Jangan bicara seperti itu Han, kita do'a kan yang terbaik untuk Miska"
" Loe serius bicara seperti itu Na?"
" Ya iyalah serius, emangnya gue wanita sekejam itukah?" Nana mengapit leher Hana membuat gadis tersebut tertawa bahagia
" Ya Allah akhirnya, gue sayang loe Na!" Hana mengecup pipi Hana membuat Nana langsung menoyor kepalanya kesal
" Hana woy sadar loe, wah parah nih anak!" Ucap Nana geleng-geleng kepala
" Yaelah Na gue masih waras kali, cuma ekspresi bahagia gue doang itu" Hana mencibikkan bibirnya dan Nana tertawa
" Gue kirain loe belok" tawa Nana
__ADS_1
"Sia**N loe kumprit!" Hana memiting leher Nana
Kegaduhan mereka berdua menjadi pusat perhatian para pelanggan yang lain bahkan ada salah seseorang yang tersenyum menatap tingkah keduanya.