Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Memilih kembali


__ADS_3

Azka tersentak kaget saat melihat wajah Zaira basah dengan air mata yang meluncur bebas di pipi mulusnya.


" Sayang kamu kenapa? apa mas melakukan kesalahan lagi, apa ada ucapan mas yang bikin kamu sedih hemm?" tanya Azka yang sudah menggeser duduknya mendekat ke Zaira.


" Hiks... Hikss.." Zaira malah sesenggukan dan Azka semakin panik dibuatnya.


" Loh kok kamu malah tambah nangis sih sayang, ayo dong cerita kamu kenapa , hemm?" tanya Azka yang sudah membawa Zaira ke dalam pelukannya.


Zaira mendorong pelan tubuh Azka setelah ia merasa sudah sedikit lebih tenang. Zaira mendongak menatap wajah tampan suaminya setelah mengurai pelukannya.


" Mas Azka jelek banget sih kayak orang gak ke urus, tua!" entah ada gerangan apa dengan seenaknya istri kecilnya itu bisa-bisanya mengatakan hal konyol seperti itu. ya walaupun penampilan Azka berantakan karena malas mengurus diri semenjak diabaikan oleh isteri tercintanya itu tapi dia masih terlihat tampan kok ya meskipun wajahnya sedikit berkumis tipis dan tumbuh bulu-bulu halus di sekitar dagunya. tapi Za dengan santainya mengatakan suaminya tua. ya ampun Za baru dua hari loh suami kamu gak diurus sudah dibilang tua.


" Untung istri!" batin Azka


" Duh yang kok ngomongnya gitu sih, ini juga kan gara-gara kamu ninggalin aku selama dua hari dari rumah, kamu harus tanggung jawab loh yang"


" Kok aku sih mas, ya salah mas sendiri dong kenapa gak mau merawat diri sendiri!" Zaira tidak terima disalahkan oleh sang suami.


" Tunggu dulu, jadi kamu tadi nangis hanya karena melihat wajah mas yang kamu bilang tua?" tanya Azka merasa tidak percaya dan sialnya dengan senyum manisnya Zaira mengangguk begitu saja.


" Ya ampun yang, bisa-bisanya kamu ya bikin mas panik hanya karena kamu bilang mas tua" Azka mengusap kasar rambutnya sendiri.


" Maaf mas, karena aku belum bisa menjadi isteri yang baik. gara-gara aku mas jadi kelihatan sedikit kurus dan nampak tu_" ucap Zaira terpotong karena Azka sudah mendelik tajam dengan seenaknya istri kecilnya ini hendak mengatainya kembali tua.


Zaira hanya cengir kuda merasa senang melihat wajah suaminya yang menahan kesal.


" Mas marah ya ?" tanya Zaira dengan menahan tawanya.


" Siapa yang marah, mas gak akan marah meskipun kamu bilang mas ini tua dan jelek sayang, asalkan kamu tidak akan membiarkan suami kamu ini menjadi semakin tua lagi jadi jangan pernah ninggalin mas lagi ya sayang" ucap Azka dengan menangkup wajah Zaira dengan kedua tangannya.


" Iya, asalkan mas janji tidak akan tergoda dan peluk-peluk lagi para pelakor diluaran sana. awas saja kalau mas Azka genit-genit apalagi selama disekolah. jangan bikin para siswi baper melihat senyum suamiku ini!" ucap Zaira mencubit pipi Azka gemas bercampur kesal pasalnya kalau suaminya sudah tersenyum pasti akan banyak para cewek-cewek yang kelepek-kelepek kayak ikan yang keluar dari air.


" Berarti kalau di luar sekolah boleh dong sayang!" goda Azka.


" Mas!" Zaira melotot.


" Iya gak mas cuma bercanda. mas gak berani lagi pula mas cuma mau di peluk sama isteri kecil mas ini" ucap Azka seraya menarik Zaira ke dalam pelukannya.


" Mas lepas ih, malu kalau nanti ada bi Minah" ucap Zaira yang meronta melepaskan pelukan sang suami.


" Yaudah kalau begitu kita peluk-peluknya di kamar aja, Ayuk!" tanpa menunggu jawaban Azka langsung mengangkat tubuh Zaira kedalam gendongannya dan dengan semangat Azka menggendong Zaira dengan ala bridal style ke kamar Zaira.


" Mas Azka turunkan aku!" teriak Zaira dengan terus meronta.


" Diam, nanti bibi dengar!"


" Ya makanya turunkan aku!"


" Gak mau kamu harus tanggung jawab sama mas!" ucap Azka


" Tanggung jawab apa?" Zaira bingung


" Tanggung jawab bikin suami kamu yang tua dan jelek ini kembali menjadi tampan." ucap Azka menaik turunkan alisnya.


" Maksudnya?" tanya Zaira semakin di buat bingung.


Azka tidak menjawab pertanyaan Zaira lagi, tapi ia terus melangkah membawa Zaira ke dalam kamarnya.


Sesampainya di kamar Azka langsung masuk ke dalam kamar mandi mencari alat yang bisa dipakainya. dengan senyum tipis di wajahnya Azka keluar dari kamar mandi dengan membawa alat cukur yang ada di tangannya.


" Nih!" ucap Azka seraya menyodorkan alat cukur


Zaira hanya diam dan menatap alat cukur itu bergantian dengan menatap wajah suaminya yang tengah senyum-senyum sendiri.


" Ini untuk apa mas?" tanya Zaira polos


Azka langsung menarik tangan Zaira dan mendudukkannya di sofa yang ada di dalam kamar Zaira.


setelah Zaira duduk dengan santai Azka pun duduk di samping Zaira dan yang membuat Zaira terkejut tatkala Azka merebahkan dirinya dan paha Zaira dijadikan bantalannya.


" Mas ihhh!" pekik Zaira yang kaget dengan reaksi suaminya itu.

__ADS_1


" ini cepat bersihkan!" pintanya


" Ber..bersihkan ?" tanya Zaira menatap bingung alat cukur yang kini sudah berada di tangannya.


" Mas yakin, aku yang bersihkan? mana bisa aku mas melakukannya, tidak mau ah!" ucap Zaira menolak sebab di takut nanti yang ada malah melukai wajah tampan suaminya itu.


" Kamu pasti bisa sayang, ayolah katanya suami kamu ini terlihat tidak terurus dan tu_"


Belum selesai bicara namun mulut Azka sudah disumpal lebih dulu oleh aksi Zaira yang entah keberanian dari mana malah mengecup sekilas bibir Azka dan sontak saja hal itu membuat Azka terperangah, berani-beraninya isteri kecilnya itu membangunkan belut listrik miliknya.


Azka langsung mengangkat kepalanya dan duduk dihadapan Zaira yang tengah senyam-senyum seakan tanpa dosa.


"Nih mas saja ya yang melakukannya, aku takut nanti malah melukai wajah suamiku yang tampan ini!" ucap Zaira seraya menyodorkan alat cukur yang ada di tangannya.


Azka mengulurkan tangannya namun bukan untuk mengambil alat cukur tersebut Azka malah meraih pinggang Zaira menarik kedalam dekapannya. mata mereka saling bertemu ada getaran-getaran yang bergejolak di antara keduanya.


" Ma..mas mau apa?" tanya Zaira gugup


" menurutmu?" tanya Azka balik dengan menaik turunkan alisnya.


" Ma.... mas lepas, ja.. jangan seperti ini!" ucap Zaira dengan kegugupannya.


" Bukan barusan kamu yang sudah memancing mas, Hem" ucap Azka menyentuh lembut bibir ranum Zaira.


" Ma.. maaf tapi" Zaira semakin gugup degup jantungnya berpacu semakin cepat.


" Ahhh .. jantungku" batin Zaira


" Aku sudah tidak tahan sayang, dua hari tidak bersamamu membuat suamimu ini tersiksa" rancu Azka " jadi bolehkan mas meminta " Azka menggantung ucapannya tubuhnya seemakin merapat ke Zaira namun Zaira semakin bereaksi memundurkan wajahnya sampai akhirnya pergerakannya terhenti membentur sandaran sofa hingga itu memudahkan Azka untuk semakin mendekat dan melancarkan aksinya. Azka menatap lekat bibir Zaira yang begitu menggoda Zaira yang tahu maksud dari tatapan suaminya langsung memejamkan mata dan disaat bibir mereka baru menempel kegiatan mereka dikejutkan dengan dibukanya pintu kamar Zaira dari luar.


Ceklekk


" Saya....ng!" teriak bunda Aryani saat masuk ke dalam kamar Zaira " upsss!" bunda Aryani langsung memutar kembali badannya " maaf sayang bunda ganggu!" ucap bunda Aryani lalu cepat-cepat keluar dari kamar Zaira dan menutup pintunya.


" Lain kali jangan lupa ditutup pintunya sayang!" teriak bunda Aryani dari luar setelah itu bergegas turun ke bawah sambil tertawa.


Sementara di dalam kamar kedua insan yang kepergok sang bunda jadi terlihat canggung dan salah tingkah.


Azka beranjak dari duduknya " emm... mas mau ke kamar mandi dulu ya, bersihin ini" ucap Azka mengelus bulu-bulu halus di wajahnya. " Mau ikut?" godanya.


" Mas!" pekik Zaira kesal


" Ha ... ha... " Azka tertawa ngacir masuk ke dalam kamar mandi.


Zaira mengerucutkan bibirnya lalu menarik napas panjang betapa malunya hari ini Zaira bila bertemu dengan Bundanya. rasanya enggan sekali ia turun dan bertemu dengan Bundanya.


Ceklekk


pintu kamar mandi terbuka Azka keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. wajahnya pun sudah bersih dari bulu-bulu yang membuat sang isteri mengatakan dirinya ini tua.


" Mas bisa gak kalau keluar tuh pakai baju dulu" ucap Zaira beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari pakaian.


Azka hanya tersenyum tipis lalu duduk di tepi tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


" Ini cepat pakai!" pinta Zaira dengan menyodorkan baju ganti untuk Azka


" Terima kasih isteriku" ucap Azka meraih baju dari tangan Zaira. " Apa istriku tidak mau membantu suamimu yang sudah tampan kembali ini memakai bajunya?" goda Azka.


" Suamiku memang sudah kembali tampan tapi kenapa aku jadi menyesal ya?" ucap Zaira seolah sambil berpikir.


" Menyesal?" tanya Azka mengerutkan keningnya


" Iya menyesal, kemarin saja Suamiku yang jelek dan terlihat tua saja banyak lalat-lalat yang ingin melahapnya, apalagi jika sudah tampan begini, oh ya tuhan ingin aku cakar-cakar saja wajah tampannya ini biar tidak tebar pesona terus" ucap Zaira memelas.


" Ha...ha..!" Azka malah tertawa menanggapi ocehan Zaira.


" Kalau wajah suami kamu jelek banyak bekas cakaran apa isteriku ini masih mau dan yakin tidak melirik ke yang lain?" sindir Azka dengan memberengut.


" Emmm.. sepertinya tidak, jika Suamiku ini berubah jelek aku mau mencari gantinya saja, ya sepertinya kak Irfan lumayan seumuran lagi tapi kak Ariel sepertinya lebih cocok" ucap Zaira dengan menahan tawanya dia yakin Azka pasti akan terbakar api cemburu jika mendengar dua nama itu dia sebut.


" Sayang kamu jahat banget, tapi mas tidak akan membiarkan hal itu terjadi sampai kapanpun Alzaira Kiana Putri hanyalah milik mas , istri kecilnya mas gak akan mas biarkan orang lain merebut kamu dari mas" ucap Azka dengan tegas.

__ADS_1


Zaira yang sedari tadi menahan tawanya akhirnya tidak kuat juga iapun tertawa ada rasa senang tatkala suaminya begitu takut kehilangan dirinya.


" Iya, aku tahu itu dan aku juga cuma bercanda asalkan mas setia maka akupun akan setia tapi jika mas sekali saja mengkhianati apa yang sudah kita sepakati maka dengan rasa sakit di hati aku akan memilih untuk pergi" ucap Zaira dengan sedikit mengancam.


" Iya sayang mas janji, mas tidak akan pernah membuat kamu kecewa lagi" sahut Azka meraih tangan Zaira.


" Yasudah mas ganti baju saja dulu gih, aku turun duluan ya jika lama-lama dikamar nanti bunda pikir yang macam-macam lagi" ucap Zaira seraya melepaskan tangannya yang digenggam Azka lalu mengusap pipi suaminya yang sudah bersih dari bulu-bulu halus. " Cepat Pakai bajunya!" titah Zaira lagi lalu beranjak pergi


" Memangnya kenapa kalau bunda berpikir yang macam-macam toh kita sudah halal ini" sahut Azka santai.


Zaira menggeleng-gelengkan kepalanya


" Dasar Omes!" ucap Zaira lalu kembali melangkah keluar.


" Omes? apa tuh?" tanya Azka ketika Zaira berada di ambang pintu.


Zaira membuka pintu dan keluar mengabaikan pertanyaan suaminya namun sebelum menutupnya kembali Zaira tersenyum jahil kepada Azka.


" Suamiku Omes, otak mesum!" teriaknya lalu menutup pintu sambil tertawa sementara Azka hanya menggeleng melihat tingkah istrinya. Azka pun ikut tertawa dengan tingkat konyol isteri kecilnya itu. rasanya begitu lega karena bisa melihat kembali tawa sang isteri. Azka sangat bersyukur istri kecilnya sudah mau memaafkan kesalahannya dan kebodohannya. diapun berjanji akan belajar untuk lebih peka lagi dengan istrinya dan memberi jarak kepada wanita lain agar tidak membuat kesalahpahaman lagi. Azka sudah sangat mencintai istri kecilnya dan takut akan kehilangan dirinya. dia sadar isteri kecilnya ini bak bunga yang baru saja mekar pasti banyaklah kumbang yang ingin datang mendekat. apalagi saat ini Azka tahu kalau Irfan salah satu muridnya juga terlihat menyukai istrinya belum lagi dengan kakak angkat Zaira yang dulu pernah memiliki rasa satu sama lain. Azka takut jika isteri kecilnya kembali ke cinta masa lalunya ahh.. membayangkannya saja hatinya begitu sakit


Azka memakai bajunya setelah selesai iapun pergi turun untuk menemui Zaira dan bundanya.


Azka menuruni anak tangga dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok pria yang ada ditengah-tengah istri dan mertuanya tengah duduk di ruang tamu. Zaira nampak asik tertawa begitu akrab dengan seorang laki-laki yang tidak asing dimatanya.


Azka yang melihat istrinya tertawa begitu lepas dan nampak begitu bahagia merasa hatinya tercubit dan begitu sesak di dadanya. Azka ingin menghampiri mereka namun entah kenapa kakinya begitu sulit untuk melangkah. ia tidak ingin mengganggu keakraban diantara mereka. Azka tersenyum tapi entah apa arti dari senyumnya itu.


Azka memilih untuk memutar kembali badannya dan menaiki anak tangga dengan langkah gontai. dia tidak ingin menjadi orang asing yang mengganggu momen bahagia mereka yang tengah melepas rindu.


Dan disaat Azka hendak melangkah menuju kamar Zaira, ketika itu juga Zaira yang hendak beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman menangkap bayangan Azka yang melintas masuk ke dalam kamar.


Deggg


Jantung Zaira memompa begitu cepat, dia hampir saja melupakan keberadaan suaminya diatas. Zaira memilih melanjutkan berjalan kembali ke dapur dan meminta bi Minah untuk membuatkan minuman setelah itu ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dimana suaminya kini tengah berada.


Zaira juga tidak mau bersikap egois dimana hubungannya dengan suaminya yang baru saja membaik tidak ingin kesalahpahaman pun muncul kembali diantara mereka. Zaira tahu Azka saat ini pasti sedang meredam rasa cemburunya didalam kamar, Zaira hanya tersenyum simpul menaiki anak tangga membayangkan wajah suaminya yang terbakar api cemburu.


Ceklekk


Zaira membuka pintu kamarnya dan saat matanya mengedarkan pandangan ia tidak melihat sosok yang dicarinya.


" Kemana dia?" gumam Zaira lalu melangkah ke kamar mandi namun ternyata kamar mandinya kosong.


Zaira melangkahkan kakinya ke arah balkon barulah matanya menangkap sosok pria yang dicarinya.


Zaira melangkah perlahan menghampiri Azka yang tengah berdiri di balkon kamar. pandangan Azka menatap lurus ke depan, Zaira mendengar Azka menghela nafas panjang seketika hati Zaira terenyuh ia kembali teringat dengan hatinya saat melihat Azka yang tengah berpelukan dengan Kelin.


" Apa dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan kemarin?" batin Zaira.


Perlahan langkah Zaira membawanya kedekat Azka berdiri. Betapa terkejutnya Azka saat melihat tangan mungil nan putih mulus melingkar di perutnya. ya saat ini Zaira tengah memeluk Azka dari belakang. Azka tersenyum tipis hatinya menghangat rasa kesal dan cemburunya kini melebur begitu saja.


" Sedang apa disini?" tanya Zaira yang masih menempelkan wajahnya dipunggung suaminya.


Azka berbalik badan dan kini mereka saling berhadapan.


" Kenapa kemari bukannya kamu sedang ad_"


Cup


Zaira mengecup sekilas bibir Azka lalu tersenyum tipis.


" Kenapa istri kecilku ini mulai berani sekarang?" goda Azka yang membawa Zaira ke dalam pelukannya.


" Aku hanya tidak ingin suamiku yang tampan ini salah paham dengan apa yang baru saja dilihatnya" ucap Zaira sambil memainkan jarinya didada bidang sang suami.


" Memangnya apa yang baru suamimu ini lihat?" tanya Azka pura-pura tidak tahu


" Entahlah!" sahut Zaira asal.


" Apa sebegitu takutnya suami kamu ini marah sampai istri kecilku ini berani menci_" ucapan Azka terhenti karena Zaira membekap mulut Azka sebelum melanjutkan ucapannya. tidak tahu apa Azka kalau saat ini Zaira sedang menahan rasa malunya. wajah Zaira sudah bersemu merah tak bisa lagi menyembunyikan rasa malunya kali ini. Zaira langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Azka dan memeluknya dengan erat.


Azka terkejut dengan tingkah Zaira namun hatinya begitu berbunga-bunga karena ternyata Zaira lebih memilih menemaninya di banding bersama seseorang yang mungkin bisa saja membuat hubungan mereka tidak baik-baik saja jika Zaira tidak memilih menghampiri dirinya.

__ADS_1


__ADS_2